Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Harga dirimu begitu rendah


__ADS_3

Nadhira menjelaskan kepada kedua temannya bahwa memang tidak mudah jadi orang yang memiliki indra keenam yang telah terbuka, bukan hanya dapat melihat sosok sosok gaib, mereka juga sering kali berkomunikasi dengan mahluk gaib.


"Dhira apa kamu pernah melihat sosok gaib seperti yang kamu ceritakan?". Tanya Rahma penasaran.


"Pernah".


"Lalu apakah mereka dapat hidup berdampingan dengan manusia?".


"Selama tidak saling menganggu mereka tidak akan menganggu terlebih dahulu".


Nadhira mengatakan hal tersebut dengan ragunya, karena apa yang ia alami berbeda dari apa yang ia katakan, selama ini ia tidak pernah menganggu makhluk gaib tetapi mahluk gaib sering kali mengganggunya dan bahkan merasuki tubuhnya.


"Maafkan atas kesalahanku, aku terlalu memiliki ambisi waktu itu".


Melihat Nadhira yang merasa bimbang membuat Nimas merasa bersalah kepadanya, ia segera meminta maaf kepada Nadhira, mendengar ucapan itu Nadhira hanya tersenyum entah menghadap kemana karena sosok Nimas tak mampu ia lihat.


"Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu disesali, aku tau itu Nimas".


"Kau benar"


Nadhira tersenyum entah kepada siapa, tetapi senyum itu seakan akan mengandung sebuah kesedihan, dapat tergambarkan begitu jelas diwajah cantik Nadhira.


"Apakah sosok yang dipanggil Nimas itu ada disini sekarang? Kenapa kamu berbicara sendirian saat ini?". Tanya Rahma yang kebingungan melihat ekspresi wajah Nadhira.


"Iya, dia memang ada disini".


Mendengar ucapan Nadhira membuat Rahma dan Fajar merasa merinding karena itu, ia sama sekali tidak mendengar apapun ataupun melihat apapun ditempat itu.


Bulu kuduk keduanya segera berdiri ketika Nimas mulai mendekati keduanya, terasa seperti angin sejuk yang begitu dingin menyelimuti kulit keduanya, hal itu sontak membuat keduanya terkejut dan menjerit karena kagetnya.


"Aaa...". Jeritan keduanya.


"Kalian kenapa?". Tanya Nadhira yang terkejut karena dirinya sama sekali tidak merasakan apa yang keduanya rasakan saat ini.


Jeritan itu membuat seluruh siswa yang ada disitu segera menoleh kearahnya, begitupun dengan Dinda yang tiba tiba mendatangi keduanya, untuk menghentikan jeritan keduanya.


"Kalian ini kenapa sih ha? Bisa diam ngak". Bentak Dinda. "Ilmu gaib apa lagi yang kau gunakan ha? Membuat orang susah aja". Omelnya sambil mendorong bahu Nadhira dengan kerasnya.


Nadhira memegangi bahunya yang telah didorong oleh Dinda, Nadhira tersenyum sambil mengibaskan tangannya membersihkan bahunya dari tangan Dinda telah menyentuhnya dengan sengaja oleh Dinda.


Dinda yang melihat itu hanya merasa terhina karenanya, dan hendak menampar Nadhira, tetapi tangan Nadhira lebih cepat untuk menangkapnya sebelum tangan tersebut menyentuh pipinya.


"Kenapa? Mau berkelahi? Maaf aku tidak punya waktu untuk meladenimu". Ucap Nadhira sambil membuang tangan Dinda.


"Hei teman teman apa kalian tau, ternyata Nadhira mempelajari ilmu gaib lo, sehingga ia mudah dirasuki dan pandai dalam beladiri karena mengandalkan makhluk gaib". Teriak Dinda kepada teman sekelasnya.


Teriakan itu membuat seluruh siswa dikelas itu meneriaki Nadhira, dan menuduh Nadhira yang macam macam.


"Pantes saja, Rifki begitu terpikat kepadanya, ternyata dia juga pandai mempelajari ilmu gaib, mungkin saja Rifki sudah dipelet olehnya".


"Aku sama sekali tidak menduganya, bahkan anj*ng lebih mulia daripada dirimu".


"Jangan dekat dekat dengannya bisa bisa kalian disantet olehnya".


"Wajah polosnya hanya cuma topeng belaka saja rupanya".


"Jangan tertipu dengan wajah polosnya".


Banyak sekali cacian dan hinaan yang ia dapat ditempat itu, tetapi Nadhira masih tetap tersenyum menanggapinya, hinaan dari mereka sama sekali tidak berpengaruh kepada Nadhira.


Melihat rencananya berhasil untuk membuat orang lain membenci Nadhira, Dinda begitu bahagia karena itu, ia merasa menang dari Nadhira dan sebentar lagi reputasi Nadhira akan dianggap jelek oleh seluruh anak disekolah itu.


"Ck... ck... ck... Aku benar benar tidak menyangka, kau begitu licik Nadhira, pantas saja Rifki begitu tergoda kepadamu". Ucap Dinda sambil melipat tangannya didepan dadanya dan berdecak kearah Nadhira.


"Apa maksudmu Din? Nadhira tidak seperti itu orangnya". Bela Rahma.

__ADS_1


"Ayolah Ma, buka matamu dari kebenaran ini, apa kau pikir ada yang menarik dari dirinya sehingga Rifki begitu terpikat kepadanya, aku rasa sih tanpa pelet dia tidak akan bisa melakukan hal seperti itu".


Rahma membuang muka dari wajah Dinda yang begitu menyebalkan menurutnya, ia tidak ingin melihat wajah itu lagi dihadapannya saat ini, wajah itu membuat Rahma ingin sekali memukulnya dengan keras agar ia tau bahwa perkataan lebih menyakitkan daripada pukulan.


Tetapi Rahma begitu tidak berdaya saat ini, ucapannya mampu dengan mudah diputar balikkan oleh sosok perempuan yang ada disebelahnya saat ini, karena kebenaran membutuhkan bukti yang kuat daripada kebohongan.


"Cukup Dinda!! Apa yang kau ucapkan itu tidak benar, aku sangat tau bagaimana sosok Nadhira!!". Bentak Fajar.


Dinda yang dibentak seperti itu bukannya takut melainkan malah menjadi jadi, bentakan yang dilontarkan oleh Fajar justru menjadi bahan bakar api yang telah ia nyalakan saat ini untuk membakar Nadhira didalamnya.


"Kalian lihat? Bahkan Fajar pun takluk didepan Nadhira dengan mudahnya, butuh bukti apalagi untuk kalian percaya bahwa Nadhira tidak melakukan pelet". Teriak Dinda memprovokasi teman temannya.


"Iya benar!! Aku setuju denganmu Din".


"Benar apa yang kau katakan Din, mana mungkin tanpa adanya pelet ada seorang lelaki yang membela gadis itu mati matian".


Suasana dikelas itu kembali ricuh, karena jauhnya ruangan itu dari kantor guru sehingga para guru tidak dapat mendengarnya, ruangan itu juga sedikit kedap suara sehingga tidak dapat terdengar dengan jelas dari luar kelas.


Beberapa anak mengiyakan apa yang dikatakan oleh Dinda, mereka pun mulai terhasut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Dinda, sehingga menganggap Nadhira adalah gadis yang buruk akhlaknya.


Seketika itu juga banyak sekali yang membenci Nadhira dikelas itu, hanya Rahma, Fajar, dan Raihan lah yang percaya kepada Nadhira bahwa Nadhira tidak seperti apa yang mereka bicarakan saat ini.


Ketiganya segera berdiri disamping Nadhira, bersama sama menghadapi hinaan itu, Nadhira memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya yang hampir saja meledak kali ini.


"Tidak bisa menghadapinya sendiri, malah mengajak orang lain untuk membenci, rendah sekali harga anda kali ini, seribu rupiah pun sangat sanggup untuk membeli harga dirimu itu". Ucap Nadhira dengan tegasnya sambil bertepuk tangan dihadapan Dinda, dapat terlihat sebuah senyuman diwajah Nadhira kepada hinaan itu.


"Ingat!! Nyamuk pun akan mati karena tepuk tangan". Tambahannya.


Ucapan Nadhira itu bagaikan sebuah pisau yang mampu menyayat nyayat hatinya, Dinda sangat marah ketika Nadhira berhasil membuatnya tidak bisa berkata kata lagi.


Rahma melihat sosok Nadhira yang begitu tegar dihadapan saat ini, siapapun tidak akan mampu bersikap demikian ketika menghadapi sebuah masalah, bahkan dirinya sendiri pun berpikir kalau semisal dirinya yang berada diposisi Nadhira mungkin dirinya akan menangis karena ini.


Walaupun beberapa tahun terakhir ini Rahma baru mengenal Nadhira, tetapi Rahma sangat percaya kepada Nadhira bahwa apa yang dikatakan oleh teman sekelasnya itu adalah suatu kesalah pahaman kepada Nadhira.


"Ingat!! mulut itu berbisa, dan kau bisa mati juga karenanya". Nadhira tertawa.


Tawa itu begitu menyeramkan bagi seluruh penghuni dikelas itu, Rahma yang melihat tawa itu seketika merinding apabila Nadhira kembali kerasukan diwaktu itu, Rifki yang sedari tadi izin kekamar mandi pun tak kunjung kembali kekelas.


"Sudah jangan dipikirkan Dhira, aku tau, tuduhan mereka itu salah". Rahma berbisik kepada Nadhira agar Nadhira menenangkan pikirannya.


"Aku ngak apa apa kok, tenang saja". Jawab Nadhira singkat.


"Sangat sulit untuk memberitahu lalat bahwa bunga lebih indah daripada sampah". Fajar menepuk pundak Nadhira beberapa kali.


Nimas menatap tajam kearah mereka yang sedang merendahkan Nadhira dihadapan saat ini, Nimas mengepalkan tangannya kuat kuat, dapat terasa hawa dingin yang mencengkeram dikelas itu karena kekuatan Nimas dan juga kekuatan dari permata itu.


"Apa perlu aku harus memberi mereka sedikit pelajaran karena hinaan ini?". Ucap Nimas.


"Jangan Nimas, aku tidak mau mereka kenapa napa biarkan mereka berkata apapun agar mereka puas". Ucap Nadhira menghentikan Nimas.


Situasi dikelas itu perlahan lahan memanas karena hinaan yang mereka lontarkan kepada Nadhira, yang dihina justru menghentikan langkah Nimas untuk tidak memberi mereka pelajaran hanya karena masalah yang Nadhira hadapi saat ini.


Menurut Nadhira hal ini tidak diperluhkan kekerasan dalam menghadapinya, justru kekerasan disaat seperti ini hanya akan menambah masalahnya saja. Menjelaskan pada mereka juga tidak diperlukan biar bagaimanapun mereka tidak akan mudah mempercayai tanpa adanya bukti yang kuat.


Ketika mereka sudah kelelahan untuk mengatakan hal hal yang buruk mengenai Nadhira, mereka sendirilah yang menghentikan perkataan mereka karena rasa lelah untuk berbicara.


"Sepertinya mereka sudah berhenti". Guman Rahma.


"Ayo kita duduk lagi". Ajak Nadhira.


Nadhira dan yang lainnya segera duduk kembali dibangku tersebut dan melanjutkan perbincangan mereka tanpa mempedulikan lingkungan disekitar mereka, Nimas hanya memperhatikan pergerakan dan perkataan Nadhira kepada teman temannya.


Situasi dikelas itu perlahan lahan mulai mendingin tidak ada lagi perkataan yang dapat membuat Nadhira marah, tetapi kebencian mereka kepada Nadhira masih membara dihati mereka masing masing.


"Kenapa aku tiba tiba merasakan energi dari Pangeran Kian ditempat ini".

__ADS_1


"Apa yang kau katakan Nimas?". Tanya Nadhira yang mendengarkan ucapan Nimas.


"Aku hanya merasakan kehadiran sebuah energi yang aku kenali yakni energi dari Pangeran Kian, berada disekitar sini".


"Dhira apa yang kau bicarakan? Apakah sosok Nimas yang kau maksud ada disini saat ini? Apa dia juga tau tentang situasi saat ini?". Tanya Rahma dengan herannya.


"Dia benar benar ada disini saat ini? Lalu apa yang harus kita lakukan agar dirimu tidak kerasukan lagi?". Fajar juga ikut bertanya kepada Nadhira.


"Kalian tenang saja, jangan khawatirkan soal itu, aku akan baik baik saja". Ucap Nadhira untuk menenangkan teman temannya.


"Aku harus memeriksanya".


Srekkk


Tiba tiba pintu ruang kelas Nadhira dibuka oleh seseorang dari luar, hal itu menghentikan Nimas untuk meninggalkan Nadhira, dari balik pintu itu berdisi seorang laki laki dengan pakaian yang rapi dan tubuhnya sedikit kekar, laki laki itu memandang kearah dimana Nadhira berada.


Laki laki itu segera mendekat kearah Nadhira, dengan sigap lelaki itu memeluk Nadhira dengan eratnya, Nadhira juga membalas pelukan lelaki itu, melihat hal itu membuat Fajar dan Rahma segera berdiri dari duduknya dan menghadap kearah Nadhira.


"Kenapa yang datang kekelas justru lelaki ini, tapi aku tidak merasakan sebuah energi Pangeran Kian dari tubuh lelaki ini".


Lelaki itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nadhira lekat lekat sambil menyentuh kedua pipi Nadhira dan mengusapnya pelan.


"Kau tidak apa apa kan nak? Apa ada yang sakit? Bagaimana keadaanmu sekarang?".


Lelaki itu terus menghujani Nadhira dengan pertanyaan pertanyaan yang bahkan Nadhira tidak mampu untuk menjawabnya karena sepersekian detik pertanyaan itu akan segera berbuah menjadi pertanyaan yang lainnya.


"Aku ngak apa apa kok pa, papa ngak perlu khawatir berlebihan seperti itu, papa bisa lihat sendiri kan kalo aku baik baik saja saat ini".


Ya laki laki yang baru saja datang itu adalah Rendi, karena Nadhira yang kerasukan disekolahan itu membuat pihak sekolah segera menelfon orang tua Nadhira untuk mengabarkan mengenai hal yang dialami oleh Nadhira disekolahan itu, ketika mendengar telfon tersebut, Rendi segera bergegas ke sekolahan Nadhira dan meninggalkan pekerjaannya demi Nadhira.


Rendi begitu khawatir karena Nadhira tidak pernah mengalami hal seperti ini sepengetahuannya, tanpa Rendi ketahui bahwa Nadhira sering dirasuki oleh roh Nimas untuk bisa mengendalikan tubuhnya.


"Bagaimana papa bisa tidak khawatir dengan dirimu? Bagaimana ini bisa terjadi nak?".


"Aku ngak tau pa, aku sama sekali ngak ingat apapun tentang kejadian ini".


"Ya sudah, ayo pulang".


"Pulang? Tapi ini belum waktunya untuk pulang pa".


"Papa sudah minta izin kepada gurumu untuk membawamu pulang, dan istirahat dirumah".


Nadhira terkejut ketika tiba tiba papanya mengajaknya pulang padahal jam menunjukkan bahwa belum boleh pulang, tetapi bagaimanapun Rendi sudah meminta izin kepada pihak sekolah untuk membawanya pulang.


Nadhira segera membereskan buku bukunya dan memasukkannya kedalam tas miliknya, setelah selesai Rendi segera mengajaknya untuk pulang, tetapi Nadhira terlebih dahulu mendatangi Rahma yang sekarang sudah berada dibangkunya.


"Ma, nanti kalo Rifki sudah kembali, tolong bilang kepadanya kalo papa sudah minta izin kepada pihak sekolah untuk membawaku pulang, nanti sampaikan kepada Rifki juga, maaf tidak bisa pulang bareng hari ini,


oh iya, jangan beritahu kejadian hari ini kepadanya, aku tidak ingin terjadi sesuatu dikelas ini tanpa adanya diriku yang bisa menenangkannya". Ucap Nadhira kepada Rahma.


"Iya Dhira aku paham kok, aku janji tidak akan mengatakan hal itu kepadanya, kamu ngak usah khawatir nanti akan aku sampaikan kepadanya, setelah pulang langsung istirahat ya, jangan pikirkan soal ini lagi".


"Iya.. terima kasih, aku pulang dulu".


"Iya Dhira, hati hati dijalan".


Nadhira mengangguk kepada Rahma, setelah itu Nadhira segera menghampiri papanya, keduanya segera berjalan meninggalkan ruang kelas Nadhira, mereka menuju keruang guru untuk berpamitan, setelah itu Rendi menyuruh Nadhira untuk masuk kedalam mobilnya.


Mobil yang Nadhira naiki segera melaju meninggalkan sekolah tersebut dengan cepatnya, perlahan lahan mobil itu menghilang dibalik kejauhan.


***


Mampir yuk kak dinovel keduaku, tentang seorang gadis desa dan anak dari seorang pembantu


#Child of a maid

__ADS_1


__ADS_2