Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Sosok misterius


__ADS_3

Sejak kecil Nadhira tidak pernah berbuat seperti ini sebelumnya, Nadhira sudah bisa membedakan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan seperti apa yang diajarkan oleh Lia kepadanya ketika Nadhira masih berusia anak anak.


Akan tetapi kali ini Rendi begitu terkejut ketika mengetahui bahwa anaknya melakukan sebuah kesalahan dan bahkan Nadhira sendiri pasti sudah mengetahuinya bahwa apa yang dia lakukan adalah tidak baik untuk dilakukan.


"Maafkan Papa, Papa telah gagal untuk mendidikmu Nak, maafkan Papa karena Papa telah gagal mendidik anak perempuan sepertimu, maafkan Papa, ini semua adalah salah Papa Nak karena tidak bisa mendidikmu dengan benar selama ini" Ucap Rendi sambil berlutut didepan Nadhira dengan deraian air matanya.


"Papa tidak salah, Nadhira yang salah, tidak seharusnya Nadhira melakukan itu Pa, Nadhira benar benar menyesalinya Pa".


"Katakan kepada Papa, Pantaskah jika Papa marah saat ini kepada Dhira?"


"Dhira pantas menerima kemarahan dari Papa, bahkan Papa berhak untuk menghukumnya".


Melihat Rendi yang berlutut didepannnya dengan deraian air mata membuat Nadhira ikut berlutut didepan Ayahnya, Nadhira merasa begitu bersalah kepada Rendi saat ini.


Menurut Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam kitab Minhajul Muslim, hukuman peminum khamar adalah dengan dicambuk 80 kali pada bagian punggungnya. Hal ini sesuai dengan yang dicontohkan Nabi Muhammad bagi para pelanggar larangan minum khamer.


Rendi menatap wajah Nadhira dengan lekat lekatnya, Rendi mengarahkan kedua tangannya dan menyentuh kedua pipi Nadhira dan menghapus air mata Nadhira yang sedang berjatuhan.


"Dhira sudah umur berapa tahun? Dhira bukan anak anak lagi sekarang dan sudah mengetahui mana yang benar dan mana yang salah bukan? Dhira adalah seorang gadis remaja saat ini, apakah pantas bagi seorang gadis bermain main ditempat seperti itu Nak apalagi dengan mabuk mabukan seperti itu? Papa merasa telah gagal mendidikmu Nak, maafkan Papa, Papa minta maaf kepada Dhira karena Papa tidak bisa mendidik Nadhira dengan benar " Ucap Rendi dengan sedihnya.


Rendi merasa telah gagal untuk menjadi seorang Ayah yang baik untuk anak anaknya, Rendi harus mempertanggung jawabkan apa yang telah diperbuat oleh anak anaknya dihadapan Tuhannya kelak karena Rendi adalah kepala rumah tangga dan imam untuk keluarganya.


Ketika seorang lelaki menangis, mereka menyembunyikan tangisannya didalam kekuatan akalnya itulah mengapa Tuhan menyebutkan pada pria terdapat dua kali lipat akal wanita dan itulah sebabnya mengapa tiada terlihat air mata selain ketegarannya.


Pria menangis karna tanggung jawabnya kepada Tuhan, dia menjadi tonggak penyangga rumah tangga, menjadi pengawal tunggal bagi ibu, saudara dan anak perempuan. Maka tangisnya tak pernah tampak di bening matanya, tangis pria adalah keringat yang bercucuran karna menafkahi keluarganya.


Tak tampak dilihat tangisnya dikeluh kesahnya


Pria menangis dalam letih dan lelahnya menjaga belahan jiwanya dari sengsara, tak tampak dilihat tangisnya pada omelan omelan dibibirnya.


Pria menangis dalam tegak dan teguhnya dalam melindungi belahan jiwanya dari sinar matahari dan rasa sakit, hujan dan angin malam. Tak tampak tangisnya pada peristiwa peristiwa kecil dan sepele,


pria menangis dalam kemarahannya jika kehormatan diri dan belahan jiwanya digugat.


Namun pria pun sungguh sungguh menangis dengan menjaga dan melindungi belahan jiwanya dengan tenaga dan darahnya. Namun pria pun menangis dengan air matanya dikala kesendirian, menyadari tanggung jawab yang besar dihadapan Tuhannya.


Hal itulah yang dialami oleh Rendi, Rendi menangis karena tanggung jawabnya kepada anak anaknya yang telah Allah titipkan kepada dirinya untuk dididik dan dirawat dengan benar.


"Apa yang harus Papa pertanggung jawabankan dihadapan Allah nantinya jika Dhira tidak bisa menjaga diri sendiri" Ucap Rendi dengan sedihnya.


"Pa, maafkan Dhira, Dhira benar benar merasa salah, Dhira tidak akan mengulanginya lagi Pa, Dhira minta maaf" Ucap Nadhira sambil menghapus air mata Rendi yang hampir menetes.


"Semalam kamu pergi kemana dengan lelaki itu? Dari semalam Papa sangat menghawatirkan dirimu Dhira, Papa tidak bisa tidur karena memikirkan dirimu, apa yang kau lakukan dengan pemuda itu?"


"Aku tidak tau Pa, tiba tiba aku terbangun dari tidurku sudah berada didalam sebuah ruangan, dan pemilik dari bangunan itu adalah teman sekelasku dulu".


"Apa pemuda itu bernama Rifki? Kau sering menyebut nama Rifki".


Rendi tidak mengetahui bahwa Rifki telah pergi keluar negeri meninggalkan Nadhira sejak lama sehingga Nadhira tidak lagi dapat bertemu dengan Rifki dan bercanda gurau dengannya.


Kepergian dari Rifki yang begitu tiba tiba membuat tiada yang mengetahui tentang hal itu dan bahkan teman teman sekolahnya pun tidak mengetahuinya, hanya anggota Gengcobra, Surya Jayantara, dan Nadhira saja yang mengetahui tentang kepergiannya.


Meskipun beberapa kali Nadhira dibawa pulang kemarkas Rifki dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti itu akan tetapi Rendi tidak pernah mencurigai hal itu, dan jika Rendi sampai mengetahuinya mungkin Rendi akan sangat membenci Rifki karena telah berani membawa Nadhira pulang kemarkasnya.


"Tidak Pa, Rifki tidak seperti itu, dia temanku yang lain, tapi aku tidak mengenalinya begitu jelas, aku sama sekali tidak mengingatnya Pa dan aku tidak melakukan apapun dengan pemuda itu".


"Jangan berbohong, Papa tidak suka dibohongi".


"Dhira tidak bisa berbohong kepada Papa, Dhira mengatakan hal yang sebenarnya terjadi Pa".

__ADS_1


"Papa tidak mau hal ini terulang lagi Dhira, apalagi mendengar bahwa anak gadis Papa melakukan sebuah hubungan suami istri diluar pernikahan, Papa tidak mau mendengar bahwa anak anak Papa hamil diluar nikah".


Rendi tidak ingin kesalahannya yang sangat fatal dahulu berujung karma bagi anak anaknya, Rendi pernah menyakiti hati seorang wanita pada waktu itu dan dirinya tidak ingin ada lelaki lain yang dengan beraninya menyakiti hati anak anaknya.


Rendi telah menyakiti hati seorang wanita sebelumnya sehingga ia tidak ingin anak anaknya disakiti hatinya oleh lelaki lain, Rendi tidak ingin Nadhira merasakan apa yang pernah dirasakan oleh wanita yang pernah ia sakiti hatinya.


"Iya Pa, Nadhira mengerti, Nadhira tidak akan melakukan hal itu lagi".


"Masuk kekamarmu sekarang dan renungkan semuanya didalam kamarmu, jangan keluar dari kamar sebelum Papa menyuruhmu untuk keluar". Ucap Rendi dengan nada yang dibuat tegas dihadapan Nadhira.


"Iya Pa".


Nadhira segera berdiri dan bergegas untuk masuk kedalam kamarnya sesuai hukuman yang diberikan olehnya dari Rendi, baginya hukuman itu tidaklah terlalu parah daripada kesalahan yang telah ia lakukan sebelumnya.


Nadhira segera mengunci dirinya didalam kamarnya, Nadhira menangis dibalik pintu kamarnya karena dirinya sendiri tidak menyangka bahwa dirinya telah melakukan sebuah kesalahan yang sama sekali tidak pantas untuk dimaafkan kali ini.


Didalam tangisannya tiba tiba sebuah anak panah melesat masuk kedalam kamar Nadhira melalui sebuah jendela yang ada dikamarnya, anak panah itu melesat tepat dihadapan Nadhira dan menancap pada almari kayu milik Nadhira.


"Siapa!!" Nadhira segera bangkit dan berlari kearah jendelanya.


Ketika sampai dijendela itu Nadhira tidak melihat siapapun ataupun hal hal yang mencurigakan diluar kamarnya, Nadhira merasa ada yang aneh. Nadhira segera berjalan kearah almarinya untuk memeriksa anak panah itu, diujung panah tersebut terdapat gulungan kecil yang Nadhira tidak mengetahui apa isinya.


Nadhira segera membuka gulungan itu dan menemukan selembar kertas, dengan rasa penasarannya Nadhira segera membuka kertas tersebut.


"Sebuah surat".


Sebuah surat itu bertuliskan


*Dia adalah pelaku yang jahat dan pemain yang licik, berhati hatilah dengan dia, akan ada pertumpahan darah malam ini, selamatkanlah nyawa orang yang kau sayangi atau semuanya akan terlambat untuk disesali* isi surat.


Nadhira membaca kalimat itu berulang ulang kali, ia sama sekali tidak mengetahui apa maksud dari isi kertas yang ada ditangannya saat ini, siapa yang telah mengirimkan surat ini kepadanya dan apa tujuan orang ini melakukan hal seperti ini.


Nadhira tertegun sesaat setelah membaca isi surat tersebut, jika sampai Nadhira terlambat untuk bertindak maka dirinya akan kehilangan seseorang yang ia sayangi akan tetapi Nadhira tidak mengetahui siapa yang akan menjadi incarannya malam ini.


Nimas tiba tiba muncul didekat Nadhira yang sedang fokus dengan tulisan yang ada dikertas tersebut, Nadhira begitu terkejut dengan kedatangan dari Nimas yang tiba tiba sudah berada didekat Nadhira sambil ikut membaca tulisan tersebut.


"Aaa...." Teriak Nadhira.


Nadhira reflek berteriak kerika melihat Nimas yang seperti penampakan monster yang menyeramkan, tidak ada salahnya sih Nadhira berteriak, Nimas memanglah sebuah penampakan mahluk astral yang mampu dilihat oleh Nadhira.


"Maaf telah membuatmu terkejut hihihi..."


"Bisa ngak sih kalau mau muncul itu jangan bikin orang jantungan! Untung ngak lepas nih jantung"


"Iya iya, kamu sih terlalu fokus sama kertas itu".


"Bagaimana ngak fokus, ada seseorang yang melontarkan sebuah anak panah dan ada kertas ini di anak panah itu" Ucap Nadhira sambil menunjukkan isi kertas itu kepada Nimas.


Nimas melihat dengan seksama isi kertas itu, raut wajahnya berubah ubah seakan akan sedang mencerna maksud dari tulisan tersebut dengan begitu telitinya.


"Bagaimana?"


"Ini sangat rumit untuk diselesaikan, karena aku sama sekali tidak bisa membacanya".


"Astaga Nimas!"


Nadhira menepuk jidatnya sendiri dan beberapa kali menghela nafas panjang karena perkataan Nimas, melihat Nimas yang begitu serius Nadhira berpikir bawah Nimas mengerti maksud dari isi surat itu akan tetapi keseriusan Nimas itu karena Nimas yang berusaha untuk mengeja huruf huruf itu.


"Percayalah belajar membaca itu sangat sulit ketika aku masih hidup dulu, untuk membeli beras saja susah apalagi untuk bersekolah, jaman sekarang mah enak, serba ada tapi akhlaknya minus, orang yang memuji dianggap sahabat sendiri sementara orang yang menasehati malah dibenci"

__ADS_1


"Hiks.. hiks.. hiks.. sedih aku mendengar kisahmu, siapa yang naruh bawang disini".


"Ngak usah bercanda deh Dhira! Ngak lucu tau".


"Siapa juga yang bercanda, orang aku serius".


"Ya sudah bacakanlah! Semakin kau menunda bisa jadi kau akan kehilangan segalanya, kesempatan tidak selalu datang dua kali".


"Ya sudah biar aku bacakan".


Nadhira membacakan isi dari surat itu dengan pelan pelan dan sangat jelas kepada Nimas, hingga Nimas benar benar mengerti maksud dari tulisan itu. Nimas terdiam cukup lama sambil terus berpikir maksud dari tulisan itu, Nimas terus menatap kearah Nadhira dan kertas itu secara bergantian.


"Itu artinya bisa jadi orang terdekatmu berada dalam bahaya Dhira, akan ada pertumpahan darah mungkin saja itu artinya pelakunya mungkin saja menggunakan senjata tajam atau sebagainya untuk membunuh sang korban".


"Itu tidak bisa dibiarkan terjadi Nimas, lalu siapa orang terdekatku yang dimaksudkan itu? Apa mungkin Papa ataukah Mama yang dalam bahaya Nimas? Secara kan yang aku miliki hanya Papa dan Mama seorang".


"Tidak tidak, aku yakin yang dalam bahaya itu adalah Papamu Dhira, kita harus melindunginya".


Nimas merasa bahwa Rendi lah yang dalam bahaya saat ini, karena Nimas mengetahui bagaimana sikap Sena selama ini terhadap keluarga Nadhira, Sena adalah pemain yang sangat licik dan tidak ada yang menyadari akan hal itu.


*****


Menjelang malam hari, Nadhira duduk dikasurnya untuk menunggu malam tiba, sementara Nimas terus berputar putar untuk mengelilingi rumah Nadhira dan berjaga jaga untuk memastikan bahwa pertumpahan darah itu tidak terjadi.


Tidak ada hal yang mencurigakan apapun disekitar rumah Nadhira, semakin malam semakin membuat Nadhira tidak tenang sehingga dirinya memutuskan untuk pergi keluar dari kamarnya dan melanggar hukuman yang telah diberikan oleh Papanya kepada dirinya itu.


Suara burung gagak yang mengerikan berbunyi dengan kerasnya dan dapat terdengar dengan jelas dari dalam rumah Nadhira, hal itu membuat Nadhira semakin takut karena tidak biasanya ada suara burung gagak terdengar dari dirumah itu.


Ketika tepat jam dinding menunjukkan pukul 12 malam, Nadhira keluar dari kamarnya untuk memeriksa keadaan didalam rumahnya, namun dirinya sama sekali tidak menemukan hal hal yang mencurigakan.


"Apa jangan jangan aku salah menebak, dan justru yang dalam bahaya adalah orang terdekatku yang berada jauh diluar sana, tapi siapa?".


Tiba tiba insting Nadhira memintanya untuk bersembunyi didalam gelapnya ruangan yang ada dirumah Nadhira, karena penghuni rumah sudah tertidur sehingga rumah itu nampak begitu gelap karena lampu lampunya sudah dimatikan.


Nadhira bersembunyi dibalik sebuah sofa panjang yang terdapat diruang keluarga, tiba tiba dirinya melihat seseorang yang tengah berjalan dengan santainya diantara kegelapan ruangan tersebut dan Nadhira seperti mengenali orang itu.


Dapat dilihat sepertinya orang itu tengah berjalan kearah dapur rumah Nadhira, Nadhira melihatnya dengan sangat jelas ketika orang tersebut menyalakan lampu yang ada didapur, dan orang itu adalah Papanya yang tengah mengambil minum dimalam hari seperti ini.


Nadhira merasa lega bahwa orang yang ia takuti tadi adalah Papanya sendiri, tetapi kelegaannya itu seketika berganti ketika melihat sebuah bayangan yang lainnya ada ditembok tidak jauh dari dirinya berada, bayangan itu seperti seseorang yang tengah membawa sebuah pisau yang sangat tajam.


"Apa apaan ini" Ucap Nadhira lirih.


Dengan perlahan lahan Nadhira mencoba mendekat kearah orang yang tengah membawa pisau itu tanpa sepengetahuan dari orang tersebut, orang itu tengah mendekat kearah Rendi secara perlahan sambil mengarahkan ujung pisau itu kearah Rendi.


"Papa!"


Dhuk.. bukh..


"Akh...".


"Dhira!"


Melihat orang itu mengayunkan sebuah pisau kepada Rendi membuat Nadhira secara reflek menendang tangan orang tersebut dan kejadian itu benar benar sangat cepat, karena refleknya itu membuat orang yang tengah membawa pisau merasa sangat terkejut dan belum sempat untuk kembali membalas serangan Nadhira yang tiba tiba.


Setelah berhasil menendang tangan orang itu, kaki Nadhira kembali merasa sakit sehingga dirinya berteriak kesakitan, akan tetapi Nadhira tidak tinggal diam begitu saja dirinya terus mencoba untuk menghalangi orang misterius yang ingin membunuh Ayahnya itu.


Ketika orang itu hendak mengayunkan pisau lagi kearah Nadhira dengan reflek Nadhira mengibaskan tangannya dan mencoba untuk merebut pisau itu dari tangan orang misterius, ditangah tengah kegelapan Nadhira berhasil melulai lengan orang tersebut dengan usaha yang sangat keras.


...Jangan lupa like, coment, dan dukungannya 🥰...

__ADS_1


...Terima kasih ...


__ADS_2