Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Pembulian


__ADS_3

Yogi mengajak Hafis untuk duduk disebuah bangku yang ada ditaman terdekat dari sekolah yang Hafis tempati, agar Hafis mampu dengan leluasa menceritakan keluh kesahnya kepada dirinya.


Perlahan lahan Hafis mulai merasa sedikit tenang dan berhenti untuk menangis, Yogi segera menyodorkan air mineral yang ia beli sebelumnya kepada Hafis untuk diminum, Hafis menerima itu dan segera meminumnya untuk menghilangkan tangis yang ada diwajahnya saat ini.


"Mereka jahat Kak hiks.. hiks.. hiks". Setelah mengatakan hal itu, Hafis mulai kembali menangis, entah apa sebabnya sehingga membuatnya menangis dengan sangat memilukan seperti itu.


"Jangan dipaksakan, kalo Adek ngak mau cerita juga ngak papa kok, jangan nangis lagi ya".


Ucapan itu bukannya membuat Hafis merasa lega dan tenang akan tetapi mampu menimbulkan rasa sesak didada Hafis yang dapat membuatnya menangis tanpa bisa berhenti dengan waktu yang cukup lama, isak tangis keluar dari mulut kecilnya dan dapat terdengar oleh Yogi yang ada disampingnya.


"Aduh... Aku harus bagaimana lagi? Kalau Tuan Muda sampai tau Hafis nangis, bisa bisa tamat riwayatku, mak... Tolong lah anakmu ini". Jerit Yogi pelan dan berdoa memohon agar hal ini tidak akan menjadi masalah yang besar untuknya.


Dibalik tangisannya dapat terpancarkan sebuah ketakutan yang mendalam dibaliknya, seakan akan trauma yang ia alami mulai menghantuinya lagi.


"Mereka bilang.... Aku tidak punya orang tua Kak... Huaa". Seketika tangis Hafis yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar juga dengan sendirinya.


Hafis menceritakan pengalamannya dihari pertama masuk sekolah, awalnya keadaan kelasnya baik baik saja sehingga Hafis bisa menjalani beberapa jam pertama dikelas tersebut dengan lancar.


Akan tetapi setelah beberapa lama berada dikelas tersebut, teman temannya bertanya kepadanya mengenai asal usulnya dan bagaimana orang tuanya.


Hafis dengan polosnya mengatakan bahwa kedua orang tuanya telah tiada untuk selamanya, tak beberapa lama kemudian terjadilah keributan dikelas tersebut.


Teman temannya mengatakan hal hal yang buruk mengenai dirinya, seperti Hafis adalah anak pungut, Hafis tidak punya orang tua, ada yang mengatakan bahwa Hafis adalah gembel dan banyak lagi.


Hal itu membuat Hafis dijauhi oleh teman teman sekelasnya, tidak ada yang mau berteman dengannya sementara ini adalah hari pertamanya masuk kesekolah tersebut.


Kejadian itu membuat trauma Hafis mulai timbul kembali, dirinya merasa minder ditempat itu karena hanya dirinya yang tidak punya orang tua atau bahkan saudara lagi.


Dikelas tersebut Hafis hanya bisa menyendiri dan berharap jam pulang sekolah segera tiba, ia tidak ingin masuk kekelas ini lagi karena adanya pembulian yang dilakukan oleh anak anak seusia dibawahnya karena sebentar lagi Hafis akan memasuki usia ke 11 tahunnya.


"Siapa yang mengatakan itu pada Hafis? Bilang kepada Kakak, Kakak akan marahi dia sekarang".


"Mereka... tidak mau berteman denganku Kak".


"Sudah jangan nangis lagi, biar Kakak adukan kepada gurumu sekarang".


"Tapi Kak".


"Ayo ikut Kakak sekarang!".


Tanpa menunggu jawaban dari Hafis, Yogi segera menarik tangan Hafis untuk masuk kedalam sekolahan tersebut dan keduanya berjalan menuju kekantor sekolahan.


Hafis yang ditarik oleh Yogi hanya bisa pasrah mengikuti langkah Yogi yang menurutnya sedikit cepat daripada langkahnya sehingga Hafis sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Yogi.


"Ada apa Mas? Ada yang bisa saya bantu?". Ucap salah satu guru yang ada dikantor tersebut.


"Siapa wali kelas 3 disini?". Tanya Yogi yang sedikit meninggikan suaranya.


Salah satu guru wanita yang berusia 35 tahunan dengan badan yang sedikit gemuk berjalan mendekat kearah dimana Yogi dan Hafis berdiri saat ini.


Yogi memperhatikan wanita tersebut dari atas kebawa dengan seksama, akan tetapi ekspresi wajah yang setengah marah tidak luntur dari wajahnya, Yogi menatap tajam kearah wanita tersebut.


"Ada apa Mas? Saya wali kelasnya". Ucap wanita itu.


"Oh jadi wali kelasnya anda, dikelas anda terjadi pembulian tapi anda diam saja, guru macam apa anda! Apa anda ingin dipecat dari sekolah ini sekarang juga? Saya bisa langsung memberikan surat peringatan kepada anda sekarang jika saya mau".

__ADS_1


"Maaf sebelumnya Mas, Saya benar benar tidak tau dengan masalah yang terjadi dikelas hari, karena saya tidak mengajar dikelas saat ini karena tidak ada jam pelajaran saya waktu ini".


"Meskipun tidak ada pelajaran dikelas saat ini, anda sebagai wali kelas seharusnya tau bagaimana kondisi kelas, apa gunanya wali kelas jika masalah dikelas anda sendiri, anda tidak mengetahuinya!".


Mendengar adanya keributan diruang guru, membuat kepala sekolah disekolah itu segera keluar dari ruangannya untuk memeriksa apa yang terjadi diluar sehingga adanya keributan.


Kepala sekolah itu begitu terkejut dengan seseorang yang membuat keributan ditempat itu, orang itu tidak lain adalah bawahan dari gengcobra yang dipimpin oleh Aryabima sebelumnya.


"Ada apa ini Mas?". Tanya kepala sekolah sambil berjalan menuju ketempat dimana Yogi berdiri saat ini dengan wajah yang sangat bingung dengan situasi yang terjadi.


"Pak, mohon dibilangin anggota Bapak yang ini". Ucap Yogi sambil menunjuk kewali kelas 3 tersebut. "Jika tidak maka jangan salahkan saya jika saya akan melaporkannya kepada Tuan Muda saya".


"Iya Mas saya akan berusaha untuk menasehatinya, sebenarnya ada apa ini Mas? Kesalahan apa yang telah ia perbuat?".


"Pak! Bukankah sebelumnya saya telah mengatakan kepada Bapak, bahwa anak ini tengah mengalami trauma, apabila pembulian itu tetap berlanjut disekolah ini bagaimana dengan mentalnya? Sedangkan wanita ini sama sekali tidak mengetahui apapun yang terjadi dikelasnya, apa kesalahan seperti ini bisa dimaafkan oleh atasan saya? Jika atasan saya sampai tau Pak, Bapak juga bisa bisa dipecat oleh dinas pendidikan karena hal ini". Ucap Yogi dengan tegasnya kepada para guru yang ada ditempat itu.


Gengcobra memang begitu dihormati ditempat pendidikan, karena dibidang pendidikan berada ruang lingkup Abriyanta Groub, sementara Abriyanta Groub sekarang dipimpin oleh Rifki, Rifki juga adalah pemimpin dari Gengcobra aset rahasia milik negara dan juga Abriyanta Groub.


Keberadaan Gengcobra tidak banyak diketahui oleh seluruh masyarakat, karena seleksi untuk dapat masuk kedalam geng tersebut tidak semua orang dapat melewatinya.


Anggota Gengcobra tidak hanya ahli dalam beladiri, akan tetapi mereka lebih mengutamakan akhlak dan juga prinsip saling tolong menolong, jujur, disiplin, bekerja keras, dan mampu merahasiakan identitas mereka sebagai anggota dari Gengcobra.


Abriyanta Groub sendiri adalah sebuah perusahaan yang cukup besar dinegara itu, bisa dikatakan Abriyanta Groub telah masuk kedalam daftar 10 perusahaan terbesar dinegara tersebut.


"Iya Mas, kami minta maaf atas ketidak nyamanan yang terjadi dihari pertama anak ini sekolah, kami akan usahakan yang terbaik nantinya dan menegur siswa siswa yang telah membulinya".


"Saya butuh bukti nyata Pak, bukan hanya ucapan diusahakan saja yang mampu Bapak lontarkan! Saya tidak terima Pak jika anak ini diperlakukan seperti itu dikelas, sementara para guru disini hanya bisa berdiam diri".


"Iya Mas kami mengerti, ini adalah kelalaian dari pihak kami, dan para murid jauh lebih banyak dari pada guru Mas, jadi kami tidak bisa mengawasi mereka satu persatu".


Pihak sekolah hanya mampu berdiam diri, berurusan dengan pihak Gengcobra adalah hal yang tidak mungkin dapat berujung dengan baik pada akhirnya dan juga orang yang berada didalam Gengcobra adalah orang orang yang memiliki kedudukan tinggi.


Anggota Gengcobra dididik untuk tidak takut kepada siapapun selama dirinya tidak bersalah, bahkan rasa sakit telah menjadi sebuah candu bagi mereka, mereka tidak akan takut untuk terluka apalagi kehilangan nyawanya.


Sejak Rifki dipilih menjadi ketua Gengcobra oleh Aryabima, Gengcobra semakin berjaya seiring berjalannya waktu, bukan hanya karena hal itu saja tetapi Gengcobra telah membiayai anak anak yang terlantar untuk bisa bersekolah sampai mereka mampu menempuh pendidikan sampai di jenjang pendidikan SMA/SMK selama ini.


Hal itu membuat Gengcobra dikenal dalam dunia pendidikan, bukan tanpa alasan Gengcobra mau membiayai mereka, menurut Aryabima anak anak yang terlantar berhak untuk mendapatkan pendidikan, jika hanya mengandalkan pemerintah saja Aryabima yakin tidak semua anak akan bisa mendapatkan hal itu.


Jadi selama ini gaji yang ia terima dari perusahaan tersebut ia gunakan untuk membantu anak anak terlantar untuk bisa kembali bersekolah, dengan atas nama Gengcobra, karena Gengcobra adalah geng yang tersembunyi sehingga tidak ada yang tau siapa pemimpin mereka.


"Saya minta maaf Mas, atas kelalaian saya, saya janji tidak akan mengulanginya lagi". Ucap guru wanita itu dengan ketakutan karena ancaman dari Yogi.


"Lalu bagaimana dengan anak anak yang lainnya selama ini? Apakah kalian selalu diam saja ketika ada anak yang dibuli oleh teman teman yang lainnya?".


"Tidak Mas, hanya saat ini saja saya lalai dalam menjalankan tugas saya, untuk selanjutnya saya akan berhati hati dalam bertindak".


"Seharusnya anda sadar, anda adalah seorang guru, guru adalah orang tua kedua bagi murid muridnya, jika hal ini anda sepelekan begitu saja lantas apa gunanya anda menjadi guru disini? Anda diperkerjakan disini untuk membimbing anak anak dan memberi ilmu bagi mereka, tapi kalau anda membiarkan murid anda melakukan hal seperti itu yang ada bukannya malah membimbing Buk, tapi itu akan berujung dengan salah satu mental anak yang menjadi bahan bulian apalagi anak ini telah mengalami trauma".


"Iya Mas saya paham dengan kesalahan saya, lain kali saya tidak akan menyepelekan hal seperti ini lagi, saya akan berusaha menjadi orang tua kedua yang baik seperti yang Mas katakan".


"Baiklah saya maafkan untuk saat ini, tapi tidak dengan SPnya, anda akan tetap mendapatkannya sebagai peringatan pertama bagi anda dari saya".


"Tapi Mas".


"Apa anda ingin dipecat sekarang juga? Jika hal ini diketahui oleh anggota yang lainnya, saya tidak yakin bahwa anda bisa bekerja lagi diesok hari".

__ADS_1


Para guru hanya bisa berdiam diri tanpa ada yang mampu membela guru wali kelas 3 tersebut, begitupun dengan kepala sekolah yang terus diam karena tidak ingin orang yang ada dihadapannya sampai melaporkan kepada atasannya.


Karena hubungan antara Gengcobra dengan dunia pendidikan itu begitu rapat dan erat selama ini, sehingga para guru tidak mampu membantah ucapan dari anggota Gengcobra, karena memang yang salah adalah mereka sendiri yang tidak mampu menjalankan tugas mereka.


"Anda menghukum murid karena kesalahannya, saya tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena memang mereka berhak untuk menerima hukuman, tapi soal pembulian, kekerasan, ataupun sebagainya yang mampu merusak mental seorang anak, atau menyebabkan kematian hal itu tidak bisa ditoleransi lagi, Pak! Buk! Saya juga anak yatim piatu, saya bisa merasa apa yang dirasakan oleh anak ini saat ini, kalau bukan karena Bos saya, saya juga tidak akan bisa bersekolah dan jadi seperti sekarang ini".


Yogi adalah anak yatim piatu sejak ia berusia 7 tahun, setelah kematian dari Ayahnya, Yogi diusir dari kontrakannya karena tidak mampu untuk membayar sewa, akhirnya ia tidur dijalanan dan menjadi pemulung diusia seperti itu.


Dan beruntungnya pada saat itu ketika Yogi telah menginjak usia 9 tahun, Yogi bertemu dengan Aryabima disebuah taman ketika Yogi sedang meminta minta agar dirinya mampu untuk mengisi perutnya, Aryabima langsung membawanya kesebuah tempat untuk dapat merawat anak tersebut dan juga untuk melanjutkan pendidikan anak kecil itu, tempat itu adalah tempat yang jauh dari markas Gengcobra.


Karena Gengcobra adalah sebuah tempat yang sangat tersembunyi dari dunia luar, tidak semua orang tau dimana letak keberadaan markasnya sampai saat ini maupun mengenal nama Gengcobra, yang mereka tau adalah Surya Jayantara tempat dimana anak anak yang dibiayai oleh ketua Gengcobra tersebut itu tinggal.


Jika menyangkut Surya Jayantara seluruh masyarakat tau dan mengenalinya bahwa itu adalah tempat penampungan sementara anak anak terlantar agar mereka mampu bersekolah lagi, akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa Surya Jayantara adalah bawahan dari Gengcobra yang mereka tau tempat itu didirikan oleh pemerintah untuk menanggulangi masalah anak terlantar.


Dan tidak semua anak anak yang berada didalam Surya Jayantara dapat masuk kedalam Gengcobra, Yogi begitu beruntung karena dirinya mampu mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan oleh Gengcobra pada saat itu.


Rifki yang selaku cucu kandung dari Aryabima sendiri tidak suka mempublikasikan identitasnya sendiri, dan jika identitasnya sudah terbuka dipublik, yang Rifki takutkan hanyalah dirinya yang tidak akan bisa lepas dari sorotan orang orang kepadanya.


Apalagi Rifki belum mengetahui tentang tujuan dari Papa dan Kakeknya pergi begitu saja meninggalkannya tanpa adanya alasan yang pasti tentang kepergian keduanya.


"Iya Mas, lain kali saya akan lebih memperhatikan kegiatan siswa saya, dan saya akan memberikan teguran kepada mereka karena telah melakukan pembulian dikelas".


"Saya harap juga begitu, jangan sampai anggota yang lainnya mengetahuinya, kalau mereka tau mereka akan melaporkannya kepada Tuan Muda dan anda bisa di pecat karena itu".


"Iya Mas".


Yogi segera mengajak Hafis pulang kemarkas, setelah selesai menelfon seseorang untuk memberikan Sp pertama untuk guru tersebut, bukan hanya karena perlakuan guru tersebut akan tetapi karena yang jadi korban pembulian adalah Adik angkat Rifki sendiri.


"Sudah, Adek jangan nangis lagi, nanti Kakak akan dimarahi sama Kak Rifki, apa Adek mau melihat Kakak dihajar olehnya?". Ucap Yogi dikala berada ditempat ia memarkirkan sepeda motornya sambil melihat kedua mata Hafis sedang membanjir.


"Maafin aku Kak, dihari pertama sudah membuat Kakak marah marah".


"Kakak marah karena mereka salah Dek, kalo Adek nangis terus bisa bisa Kakak modar Dek, dipukulin sama Kak Rifki, emang Adek mau melihat wajah Kakak yang bonyok ketika habis dipukuli?".


"Emang Kak Rifki suka mukul orang Kak?". Tanya Hafis sambil menatap kearah Yogi dengan lekatnya sambil menunggu jawaban dari Yogi.


"Bukankah Kak Rifki pernah bilang kepada Adek, kalau ada yang membuat Adek menangis dia akan memukul orang itu?".


"Tapi bukan Kakak yang membuatku menangis".


"Tapi kan Kakak yang bertanggung jawab terhadap Adek saat ini, ya jelas Kakak yang jadi sasaran kemarahannya, Dek".


"Maaf Kak". Ucap Hafis sambil mengusap air matanya yang telah menetes dipipinya.


"Ya sudah ayo pulang, Adek mau makan apa siang ini? Biar Kakak belikan".


"Terserah Kakak aja".


Hafis segera naik kesepedah motor Yogi, Yogi segera menjalankan sepedanya menjauhi sekolah tersebut dan berhenti sebentar untuk membelikan makanan untuk Hafis, setelah itu mereka segera menuju kemarkas milik Rifki.


Yogi takut Rifki akan marah kepadanya karena tidak berhasil untuk menjaga Anak kecil yang telah menjadi tanggung jawabnya ataupun tugasnya saat ini.


Rifki telah berjanji kepada arwah Rahel untuk menjaga Adiknya dengan baik, jadi Rifki tidak ingin mengingkari janjinya, mungkin suatu saat nanti anak itu akan menjadi penolongnya kelak dikala ia kesusahan.


Apalagi ketika Rifki mendengar bahwa Rahel telah mengatakan sesuatu kepada Nadhira sehingga membuat Rifki merasa yakin bahwa Rahel beserta keluarganya memiliki hubungan yang erat kepada Nadhira sekeluarga.

__ADS_1


__ADS_2