Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Penyerangan 2


__ADS_3

Nadhira, Vano dan salah satu anggota geng Rifki segera bergegas dari tempat itu, mereka naik angkutan umum untuk lebih cepat sampainya ditempat tujuan mereka.


"Pak berhenti". Vano segera menghentikan angkutan umum yang lewat didepannya.


Sopir angkot tersebut segera menghentikan laju kendaraannya, dan mempersilahkan ketiga orang itu masuk kedalam angkotnya. Ketiganya segera masuk kedalam angkot dan mencari lokasi yang tepat untuk duduk didalamnya.


Setelah ketiga duduk didalam angkot tersebut, sopir tersebut segera melajukan kendaraannya kembali, tak sengaja para penumpang angkot tersebut sekilas melihat sebuah senjata yang tertutup oleh kain dari balik baju kedua anak laki laki itu.


Nadhira merasa gelisah dan gugup ketika berada didalam angkot tersebut, Fikirannya selalu memikirkan tentang penyerangan itu dan juga keselamatan dari Rifki, bagaimana penyerangan itu tidak memakan korban, sementara dari kedua pemuda yang bersamanya saja ada yang membawa senjata tajam.


"Nadhira jangan khawatir, maaf aku telah melibatkanmu dalam masalah kali ini". Ucap Vano yang melihat Nadhira begitu tidak tenangnya.


"Apakah tempat itu jauh dari sini? berapa lama lagi kita harus sampai disana?".


"Kurang lebih setengah jam kita akan baru sampai disaana".


Nadhira ingin sekali menangis saat ini, ia begitu bingung apa yang harus ia lakukan untuk saat ini, ia tidak berhenti memikirkan keadaan Rifki.


Vano dan temannya tersebut sama khawatirnya dengan Nadhira, tetapi mereka lebih memilih untuk terlihat biasa agar Nadhira tidak bertambah kekhawatirannya mengenai hal yang akan terjadi kepada Rifki.


"Siapa mereka?". Bisik ibu A kepada ibu B.


"Ngak tau juga, dilihat dari penampilannya mereka bukanlah orang yang baik baik, apalagi lihatlah dipinggang pemuda itu seperti sebuah senjata tajam". Bisik balik ibu B.


"Iya kamu benar, seperti gadis itu dalam bahaya, lihat saja, wajahnya begitu terlihat sangat khawatir".


"Iya, mungkinkah dia adalah sandera, tetapi kenapa ia tidak berteriak minta tolong".


"Mungkin saja dia terpaksa harus seperti itu, agar kedua pemuda itu tidak curiga kepadanya"


Didalam angkutan tersebut banyak sekali yang menatap kearah ketiganya, mereka merasa khawatir dengan sosok gadis yang berada diantara kedua lelaki yang begitu menyeramkan apalagi keduanya membawa senjata yang disamarkan.


Karena fokusnya memikirkan keselamatan Rifki sehingga Nadhira tidak menyadari bahwa seluruh penumpang sedang membicarakan dirinya yang ada difikirannya saat ini hanyalah ingin segera sampai dilokasi tujuan mereka.


"Dek, apa kamu dalam bahaya". Bisik seorang ibu ibu yang duduk didekat Nadhira.


Nadhira segera menoleh kearah ibu ibu yang sudah berbisik kepadanya, ia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh si ibu yang berada disebelahnya tersebut. pandangannya kini terpenuhi oleh sebuah pertanyaan yang besar, sebelumnya sempat Nadhira bertanya kembali pandangan Nadhira tertuju kepada Vano dan temannya.


"Ngak kok bu, mereka berdua tidak jahat, ibu ngak perlu cemas mengenai hal itu". Jawab Nadhira kepada seorang ibu yang berbisik kepadanya.


Mendengar jawaban Nadhira bukannya membuat mereka merasa begitu lega, tetapi kekhawatiran mereka makin bertambah. mereka berfikir bahwa Nadhira menjawabnya seperti itu hanya karena terpaksa, karena ia merasa ketakutan diantara keduanya.


"Tapi dek, kenapa mereka membawa senjata seperti itu? Apa kamu yakin bahwa mereka bukan orang jahat?".


Mendengar pernyataan itu Nadhira segera menoleh kearah pinggang Vano yang memperlihatkan sesuatu dibalik sebuah kain yang berada di pinggangnya, Nadhira menggerakan tangan dan menyentuh pinggang Vano.


Vano yang disentuh dengan tiba tiba membuatnya begitu terkejut dan segera memegang tangan Nadhira, melihat tangannya dipegang oleh Vano Nadhira segera melepaskan pegangan tersebut, kini pandangan Vano juga tertuju kepada senjata tajam tersebut.


"Ah.. mungkin karena ini mereka membicarakan tentang kami saat ini dengan ketakutan, sebenarnya senjata ini hanya untuk membawa Nadhira pergi, tapi ya sudahlah semuanya juga sudah terjadi". Batin Vano yang mengerti arti tatapan Nadhira.


"Ah iya aku lupa, pantas saja ibu ibu disini pada merasa cemas melihat kedua orang ini". Batin Nadhira yang mulai mengerti mengenai pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang ibu ibu yang berada didekatnya. "Yakin bu, kami sudah saling kenal".


"Iya sudah kalo seperti itu, ibu harap kamu baik baik saja".


"Terima kasih bu".

__ADS_1


Ibu ibu yang berada disampingnya hanya diam mendengar jawaban dari Nadhira, ia berfikir bahwa gadis yang ada disampingnya adalah bagian dari kedua orang pemuda itu sehingga mereka tidak melanjutkan apa yang hendak ia katakan, mereka tidak ingin berurusan dengan sosok pemuda yang berada di angkutan umum itu.


Tiba tiba terdengar suara telpon dari hp milik Vano, Vano segera memeriksa layar hp tersebut yang bertuliskan nama Bayu, Vano segera mengangkat telpon tersebut.


"Halo..."


"Sudah, kami akan segera sampai, tolong tahan dia sebentar lagi".


"Ini masih berada didalam angkot, apakah kalian sudah sampai ditujuan?".


"Kalo begitu kita akan bertemu disana, kamu jaga disana, jangan sampai ada korban lagi"


"Baiklah nanti aku telpon lagi".


Vano segera memutuskan sambungan telpon tersebut, ia mengambil nafas dalam dalam karena ucapan dari Bayu sebelumnya yang mengatakan bahwa mereka hampir sampai dimarkas.


"Apa yang dikatakan oleh Bayu?".


"Mereka sudah berjalan menuju markas saat ini". Ucap Vano sambil memejamkan matanya.


Mendengar adanya korban yang dikatakan oleh Vano, membuat penumpang yang ada diangkot tersebut bergidik ngeri dan sebagian ada yang khusuk berdoa demi keselamatan masing masing.


Mereka menduga bahwa ketiga orang itu adalah anggota sebuah kelompok atau sebuah anggota geng, sehingga mereka membicarakan mengenai markas yang akan mereka tuju.


"Pak bisa lebih cepat sedikit? Aku akan membayar berapapun asalkan bapak bisa menyupir angkotnya lebih cepat". Ucap Vano kepada sopir angkot.


"Iya mas". Dengan cepatnya sang sopir menjawab ucapan Vano.


Mobil yang mereka naiki sekarang bertambah kecepatannya sesuai dengan keinginan Vano, para penumpang merasa begitu paniknya, mereka tidak tau lagi apa yang harus mereka lakukan untuk turun dari angkot tersebut.


Tangan Vano terasa bergetar karena kegelisahannya, sehingga ia menyuruh sang sopir untuk menambah kecepatan laju angkutan umum tersebut.


"Mereka belum sampai Dhir, tapi akan segera sampai ditempat itu, kita harus bergegas untuk menghentikannya". Jawab Vano.


"Aku ngak tau lagi harus berbuat seperti apa, kenapa sih dia bertindak semaunya, kenapa tidak memikirkan keselamatannya, apa sih yang sebenarnya ia fikirkan".


"Nanti saja dibahas, pak lebih cepat sedikit".


Mobil angkutan umum tersebut segera menambah kecepatannya dengan tiba tiba, sehingga membuat teman Vano ikut terbentur kaca yang ada diangkot tersebut, karena temannya begitu dekat dengan kaca belakang mobil.


Daun daun yang berada disekitar jalanan tersebut ikut berterbangan ketika angkot tersebut melaju melewati mereka, seluruh penumpang hanya bisa pasrah dan berpegang dengan erat agar mereka tidak terbentur satu sama lain.


Mobil itu melaju dengan kencangnya, sementara penumpang yang ada didalamnya merasa mual mual seperti mabuk kendaraan, penumpang yang berdesakan sehingga membuat mereka merinding ketakutan apabila mobil itu mengalami kecelakaan karena lajunya yang begitu cepat.


"Pak!! Apakah mobil ini aman untuk melaju dengan cepat?". Teriak Nadhira karena mendengar beberapa besi yang saling berbenturan.


"Aman mbak, mungkin hanya mengalami keruusakakan kecil". Jawab sopir yang terburu buru karena ucapan Vano yang menyuruhnya untuk melaju dengan cepatnya.


"Pak sebaiknya kecepatan dikurangi, kasihan penumpang yang lainnya".


"Tapi mbak....."


"Ikuti saja kemauan gadis ini, atau nyawaku akan dalam bahaya jika sampai seseorang mengetahui bahwa aku telah mencelakainya". Ucap Vano memotong perkataan sang sopir.


Sopir itu tidak berani membantah bila hal itu berkaitan dengan nyawa seseorang, ia mulai mengurangi kecepatan laju angkot yang ia kemudi tersebut.

__ADS_1


"Darimana asal mereka ini, kenapa setiap kali mereka membahas pasti masalah nyawa".


"Ya Tuhan, tolong selamatkan kami dari ketiga orang ini".


"Ibu... Apakah ini yang terakhir kita akan bertemu".


"Aaa... Aku tidak mau mati dengan secepat ini, aku masih ingin merasakan enaknya makanan yang ada dikota ini".


"Emakkk.... Tolong anakmu ini".


Penumpang angkutan umum tersebut menjerit dalam batin mereka masing masing, mereka tidak berani mengeluarkan suara mereka, mereka takut dengan sosok pemuda yang sedang berada didalam angkutan tersebut.


Keheningan tercipta didalam angkutan tersebut, hanya terdengar helaan nafas Nadhira berkali kali, Nadhira berharap mereka sampai sesegera mungkin sebelum geng Rifki sampai.


"Coba hubungi Bayu, apakah mereka sudah sampai atau belum". Ucap Nadhira memberi perintah kepada Vano.


Vano segera mengirim pesan kepada Bayu mengenai situasi yang berada dimarkas milik Theo, dengan secepat kilat Bayu kembali membalas pesan dari Vano yang mengatakan bahwa mereka belum sampai dilokasi.


Vano segera memberikan hp miliknya kepada Nadhira untuk dibaca pesan yang telah disampaikan oleh Bayu, setelah membaca pesan tersebut Nadhira merasa sedikit lega karena kelompok Rifki belum sampai.


"Pak setelah ini belok kanan ya pak, untuk soal biaya bapak ngak perlu khawatir, dan untuk penumpang seluruhnya maaf menganggu waktu kalian sejenak".


"Iya mas ngak papa". Jawab mereka serempak.


Sopir itu segera mengarahkan mobil angkutannya kearah dimana Vano menunjukkan, ia tidak sedikitpun membantah ucapan tersebut karena ia juga menyadari bahwa kedua orang pemuda itu sedang membawa senjata tajam walaupun hal itu keduanya telah samarkan.


Tak lama kemudian Vano mendapatkan pesan dari Bayu yang mengatakan bahwa mereka telah sampai dilokasi yang mereka tuju, Bayu begitu panik ketika belum ada tanda tanda kedatangan Nadhira.


Setelah mendapatkan pesan tersebut, Vano dan yang lainnya sudah berjarak sekitar setengah kilo meter dari lokasi yang mereka tuju, dengan cepatnya sang sopir segera melajukan mobilnya.


Hingga Vano berteriak untuk menghentikan mobil tersebut, dan artinya mereka telah sampai ditujuan mereka. Nadhira dan lainnya segera keluar dari dalam angkot, setelah itu Vano memberikan beberapa lembar uang lima puluhan kepada sang sopir.


"Terima kasih mas".


"Iya sama sama pak".


Ketika ketiganya turun dari angkot tersebut, seluruh penumpang merasa begitu lega, sang sopir segera melajukan angkot tersebut untuk menjauhi tempat itu dan kembali kejalur awal.


"Akhirnya orang aneh aneh itu sudah turun dari angkot ini". Ucap Ibu A.


"Benar, rasanya jantungku hampir berhenti". Tambah Ibu B


Sementara itu Nadhira dan lainnya segera berjalan mendekat kearah markas tersebut, sebenarnya mereka tidak mengetahui lokasi markas tersebut, tetapi setelah mendapatkan sherlock dari Bayu mereka segera mengetahuinya.


****


Ketika mereka akan berangkat menuju kelokasi markas milik Theo, Bayu segera mengirim pesan kepada Vano tentang Nadhira, Bayu mendapatkan pesan dari Vano bahwa mereka belum menemukan keberadaan Nadhira.


"Nadhira dimana kamu". Guman Bayu.


Sebelum berangkat menuju markas milik Theo, Bayu meminta izin untuk kekamar mandi lebih dahulu untuk mengulur waktu agar Vano segera menemukan Nadhira.


Setelah selesai dari kamar mandi, mereka segera berangkat menuju kelokasi dimana tujuan mereka, Rifki dan lainnya segera mengendarai motor mereka masing masing, Bayu juga mengendarai motornya sendiri dengan salah satu anak buah Rifki yang menjadi pengemudi, Bayu memakai hengset bluetooth untuk bisa berhubungan dengan Vano.


Bayu begitu khawatir kalo kedua orang itu tidak segera menemukan dimana Nadhira berada saat ini, Bayu tidak ingin akan adanya korban karena penyerang ini, seluruh anggotanya sudah membawa perlengkapan untuk menyerang markas lain.

__ADS_1


"Kenapa tidak ada tanda tanda Nadhira akan ditemukan". Guman Bayu.


Beberapa motor yang digunakan oleh anggota Rifki melaju dengan Rifki sebagai pemimpin yang berada dipaling depan, untuk membimbing kemana mereka akan mencapai tujuan.


__ADS_2