Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Jalan jalan


__ADS_3

Kedua wanita itu hanya bisa pasrah dengan nasib mereka, biar bagaimanapun ini adalah pekerjaan baru mereka, bukan hal baru jika tidak ada yang namanya kegagalan dan penderitaan.


Akan tetapi hal itu akan hilang seiring berjalannya waktu, karena untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar membutuhkan waktu yang cukup lama agar mereka mulai merasa terbiasa dengan semua hal yang baru.


Setelah kejadian siang hari ini, Rifki dan Nadhira hanya duduk duduk digazebo dengan diamnya sambil ditemani oleh beberapa cemilan yang telah Rifki beli dan juga minuman yang telah disediakan oleh Vano, Vano dan Reno juga ikut duduk ditempat itu menemani Rifki dan Nadhira.


"Sudah dong keselnya, bosen nih". Bujuk Nadhira sambil memanyunkan bibirnya.


"Idih... Siapa juga yang kesel, yuk ikut aku". Ajak Rifki sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Kemana?". Tanya Nadhira ketika tangannya mulai ditarik oleh Rifki.


"Bagaimana kalo kepucuk monas yang ada emasnya itu? Atau gantung diri dibawah pohon cabe".


"Ngak ah, lagian itu kan tinggi, aku takut ketinggian, emang cabe punya pohon?".


"Is Dhira mah bercandalah, maksud aku jalan jalan Nadhira Novaliana Putri yang cantik kek bidadari yang turun kebumi dan nyangkut diatas genting, katanya tadi kamu bosan ya udah aku ajak jalan jalan gimana?". Rifki menyebutkan nama panjang Nadhira dengan satu tarikan nafas.


"Ups lengkap kali haha...". Nadhira tertawa mendengar ucapan Rifki yang terlalu cepat menurutnya. "Baiklah ayo berangkat!".


Kalau masalah jalan jalan Nadhira nomer satu orangnya, karena Nadhira tidak bisa diam disatu tempat dengan waktu yang sangat lama, tanpa aba aba Nadhira langsung menarik tangan Rifki masuk kedalam bangunan markas tersebut.


"Bentar aku mau mandi dulu". Ucap Rifki menghentikan langkah kaki mereka.


Rifki masuk kedalam kamarnya diikuti oleh Nadhira dari belakang, Nadhira lebih memilih untuk membaca buku ditempat duduk yang ada dikamar Rifki, sambil menunggu Rifki yang tengah mandi, tak beberapa lama kemudian akhirnya Rifki keluar juga dari kamar mandi dengan pakaian yang begitu rapi.


"Eh kenapa begitu rapi, kayak mau kencan aja". Sapa Nadhira dari kursi tempat dia duduk.


"Iya ya lah, masak iya sih cewek cantik mau jalan dengan cowok yang acak acakan pakaiannya kan ngak bagus juga kalo dilihat".


Setelah itu mereka keluar dari pintu depan, Rifki segera bergegas menuju garasinya untuk mengambil sepedah motor kesayangannya, tak lama kemudian keduanya meluncur menjauh dari tempat itu dengan senangnya.


Rifki melajukan montornya kejalanan, Nadhira mengetahui bahwa itu adalah jalan menuju rumahnya, entah mengapa Rifki pergi kearah itu.


"Kenapa ke rumahku?". Tanya Nadhira yang tiba tiba.


"Kenapa? Tidak mau pulang?". Tanya Rifki balik.


"Bukan begitu, kan tadi kamu bilang mau ajak jalan jalan lalu kenapa malah jadi nganterin aku pulang?".


"Nadhira ini kan sudah sore, apa kamu ngak mau mandi mandi dulu, bersih bersih badan, masak iya sih kamu mau jalan jalan dengan pakaian yang sama seperti tadi pagi?".


"Ah iya,, janji ya setelah aku mandi nanti jalan jalan".


"Iya".


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga dirumah Nadhira, Nadhira segera masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, sementara Rifki lebih memilih untuk menemani Bi Ira yang tengah sibuk didapur.


Tak beberapa lama adzan ashar berkumandang, hal itu membuat Rifki meminta izin kepada Bi Ira untuk menumpang sholat ashar dikamar Bi Ira.


Setelah sholat ashar Rifki menunggu Nadhira ditempat duduk yang ada didepan kamar Bi Ira, cukup lama ia berada disana tetapi Nadhira tak kunjung selesai juga dalam berdandan.


Tak beberapa lama Amanda datang untuk menghampiri Rifki yang tengah duduk didalam rumahnya.


"Eh Rifki ya? Sejak kapan disini?". Tanya Amanda.


"Satu jam yang lalu". Jawab Rifki singkat tanpa menoleh kearah Amanda.


Amanda dengan tiba tiba duduk disamping Rifki, hal itu membuat Rifki sedikit bergeser menjauh dari Amanda, ada rasa sedikit kecewa dihati Amanda karena itu.


"Awas aja ya, aku akan memisahkan kalian bedua". Batin Amanda menjerit.


Tanpa sepengetahuan Amanda Rifki tengah menggunakan telepatinya sehingga ia bisa mendengar apa yang diucapan oleh Amanda melalui batinnya.


Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama sebelum Rifki merasakan energinya terkuras bergitu drastis jika digunakan untuk mendengar isi batin seseorang terlalu lama.


Dengan segera Amanda hendak menyentuh tangan Rifki, tetapi Rifki yang mengetahui pergerakannya itu segera mengalihkan letak tangannya agar tidak disentuh oleh Amanda.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Rif". Tanya Amanda dengan kesalnya.


"Tidak seharusnya kamu menyentuhku seperti itu".


Tak beberapa lama kemudian Nadhira akhirnya keluar dari kamarnya, dengan pakaian yang begitu cocok dengan kulitnya, meskipun tanpa memakai make up Nadhira terlihat begitu menawan dan menarik perhatian.


Rifki segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah Nadhira, Nadhira yang baru saja keluar dari kamarnya ia begitu terkejut ketika Amanda sudah duduk didekat Rifki entah sejak kapan.


"Kenapa lama sekali?".


"Maaf, susah milih model baju yang cocok".


Setelah masuk kedalam kamarnya Nadhira segera mandi setelah ia keluar dari kamar mandi sambil menggunakan handuk yang melilit ditubuhnya Nadhira memilih milih pakaian yang cocok untuknya, begitu lama sampai akhirnya ia menemukan pakaian yang pas untuknya.


Ketika Nadhira hendak keluar, ia teringat bahwa dirinya belum melakukan sholat ashar, ia segera berwudhu dan menunaikan ibadahnya, setelah selesai Nadhira akan keluar dari dalam kamarnya.


Ia menghadap kearah cermin untuk melihat pakaiannya, akan tetapi tiba tiba Nadhira merasa begitu tidak cocok dengan pakaian tersebut, akhirnya Nadhira memilih milih pakaian yang akan ia gunakan untuk jalan jalan.


"Astaga Dhira, pantesan lama bener".


"Jadi jalan?".


"Ngak, tinggal beberapa menit lagi udah adzan magrib".


"Habis sholat jadi jalan?".


"Ngak juga, dirumah saja".


"Aaa... Rifki ngak asik deh, yaudah aku mau ganti baju lagi".


Mendengar ucapan itu membuat Rifki seketika tertawa, sementara Amanda yang melihat keakraban keduanya merasa kesal sendiri dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


Melihat Rifki yang tertawa membuat Nadhira menjadi merasa malu sendiri, karena ia menghabiskan banyak waktu untuk memilih pakaiannya, banyak sekali pakaian yang tidak cocok menurutnya sehingga ia mencoba satu persatu bajunya.


Mereka pun duduk duduk didepan kamar Bi Ira dan sesekali bercanda tawa bersama untuk menunggu adzan magrib berkumandang, karena setelah adzan mereka bedua akan pergi jalan jalan.


"Om, bolehkah saya membawa Nadhira jalan jalan?". Tanya Rifki kepada Rendi.


"Pa, boleh ya, kan Dhira ngak pernah jalan jalan".


"Iya, pulangnya jangan sampe larut malam ya, ingat jaga anak Om baik baik, awas aja sampe ada yang lecet sedikitpun". Rendi menghela nafas panjang untuk mengizinkan keduanya jalan.


"Beres Om, Om tidak perlu khawatir kalau masalah itu, saya akan menjaga Nadhira dengan baik".


Keduanya langsung berpamitan kepada Rendi dan bergegas meninggalkan tempat itu, sementara Amanda perlahan lahan mulai mendekat kearah Rendi.


"Pa, kenapa papa mengizinkan mereka sih, aku kan ngak suka lihat Dhira dekat dengan Rifki".


"Apa yang kamu bilang Nak? Dhira adalah Kakak kamu, jadi panggil dia Kakak, apa salahnya sih Nak? Rifki kan temen dia dari dulu".


"Ah Papa mah, ngak pernah ngertiin perasaanku".


"Manda!!".


Amanda begitu kecewa kepada Rendi, sehingga Amanda segera bergegas menuju kekamarnya dan menutup pintu dengan kerasnya karena ia begitu marah ketika Nadhira selalu saja menang darinya, bukan hanya mendapatkan Rifki tetapi ia juga mendapatkan Ayahnya.


*****


Rifki dan Nadhira melajukan motornya keluar dari rumah Nadhira, Nadhira merasa ini adalah kali pertamanya keluar rumah dengan Rifki dimalam hari, tidak seperti biasanya mereka keluar malam hanya karena Nimas yang berbuat ulah.


Dimalam itu Nadhira begitu senang, entah kemana Rifki akan mengajaknya pergi kali ini, Nadhira menikmati disetiap perjalanan yang ia tempuh bersama dengan Rifki.


"Mau kemana Rif?". Tanya Nadhira yang ada dibelakang Rifki.


"Ke alun alun kota, pasti disana ramai".


"Baiklah".

__ADS_1


Rifki segera melajukan motornya menuju kearah alun alun kota, Nadhira bahkan tidak pernah pergi hanya sekedar untuk mengunjungi tempat tersebut selama ini jadi dirinya tidak mengetahui keramaian ditempat tersebut, bahkan jalan menuju kealun alun kota membuat Nadhira sedikit bingung karena keramaian.


Rifki berhenti disebuah tempat untuk memarkirkan sepedahnya, setelah itu Rifki mengajak Nadhira untuk jalan jalan mengelilingi luasnya alun alun kota tersebut dengan senangnya.


Dengan riangnya Nadhira berlari kecil sambil menarik tangan Rifki untuk melihat indahnya gemerlapan lampu lampu dialun alun itu yang menyala dengan terangnya.


"Rif ayo pergi kesana". Ajak Nadhira dengan antusias.


Hal yang menarik perhatian Nadhira adalah sebuah lapak yang menjual ikan hias, Nadhira segera mengajak Rifki untuk pergi kelapak tersebut.


Akan tetapi penjual itu tidak menjual ikannya dengan bebas melainkan ada rintangan untuk bisa mendapatkan ikan tersebut, ia menjual jaring yang terbuat dari bahan kertas untuk menangkap ikan di aquarium.


Jika jaring tersebut robek lebih dulu maka pembeli dinyatakan gagal dan tidak mendapatkan ikan sama sekali, Rifki membelikan Nadhira 3 jaring untuk mendapatkan ikan tersebut.


Nadhira merasa kesulitan dengan hal itu, karena ketika jaring itu digerakkannya sedikit saja sudah sobek, alangkah disayangkannya jaring kedua yang Nadhira miliki sudah robek terlebih dahulu sebelum ia mendapatkan ikan.


"Kamu harus fokus Nadhira, jangan terburu buru untuk bisa mendapatkan ikan itu, atau jaringan yang ada ditanganmu akan robek, begitu juga manusia yang harus melakukan proses untuk mendapatkan hasilnya, jika terburu buru dengan hasil yang memuaskan maka akan mustahil untuk bisa mendapatkannya". Jelas Rifki kepada Nadhira.


"Lalu aku harus bagaimana?".


Rifki memegangi tangan Nadhira yang sedang memegang jaring ketiganya, dengan lembutnya Rifki menggerakkan jaring tersebut, karena kelembutan itu membuat jaring yang ada ditangannya Nadhira masih kuat dan belum sobek.


"Jika dirimu menginginkan sesuatu jangan terburu buru untuk mendapatkannya, nikmati saja prosesnya semua akan indah pada waktunya". Jelas Rifki sambil terus menggerakkan tangan Nadhira untuk menangkap ikan tersebut.


Gerakan itu membuahkan hasil yang memuaskan, Rifki mampu menangkap dua ikan dengan jaring itu tanpa sobek sedikitpun, hal itu membuat senyum diwajah Nadhira mengembang begitu indahnya.


Rifki juga ikut tersenyum melihat Nadhira yang sedang tersenyum setelah dua ekor ikan sudah mereka tangkap, Nadhira memberikan ikan itu kepada sang penjual untuk dimasukkan kedalam plastik.


Penjual tersebut segera memasukkan ikan yang berhasil mereka tangkap kedalam kantung plastik, dengan senang hati Nadhira menerima ikan tersebut dengan perasaan yang begitu bahagia.


"Dhira, ayo beli cilok". Tanya menunggu jawaban Nadhira, Rifki segera menarik tangan Nadhira.


Rifki segera memesan cilok yang ia maksud, entah mengapa cilok tersebut membuat perutnya terasa lapar ketika melihat cilok goreng terpajang ditepi jalanan itu.


Penjual tersebut segera menghidangkan cilok goreng itu kepada Rifki dan Nadhira, Nadhira dengan seseorang mencomotnya dan memasukkannya kedalam mulutnya.


Tak beberapa lama kemudian, Nadhira mendesis kepanasan karena cilok tersebut yang baru saja keluar dari minyak panas, Rifki yang melihat itu hanya bisa tertawa dan menjitak pelan kepala Nadhira.


"Wah wah wah, ngak sabaran sama sekali sih Dedek ini, ini masih panas tau Dek".


Rifki mengambil cilok tersebut dan menaruhnya kembali kedalam piring, setelah itu ia memotongnya dan menjadi beberapa bagian agar cilok tersebut dingin dengan sendirinya.


Setelah itu Rifki memasukkannya kedalam mulut Nadhira, Nadhira dengan senang hati membuka mulutnya dan mengunyahnya dengan perlahan lahan sambil menikmati enaknya makanan tersebut.


"Enak ya? Makan aja sendiri, enak saja minta di suapin terus kayak anak kecil aja". Ucap Rifki sambil menyodorkan garpu kepada Nadhira.


"Ya kali, aku juga ngak minta disuapin kok, aku bisa sendiri, wek...". Ucap Nadhira sambil menjulurkan lidahnya kepada Rifki dan mengambil garpu tersebut.


Keduanya menikmati rasa enak cilok goreng bumbu kacang yang mereka beli dengan lahapnya, karena setiap gigitan yang mereka lakukan membuat mereka kecanduan dalam menikmati rasa enak dari cilok goreng tersebut.


Cilok goreng yang masih hangat tersebut memang cocok dinikmati disaat malam hari yang dingin seperti saat ini, apalagi disaat hujan gerimis yang mengundang selera makan seseorang karena cita rasanya yang tiada duanya.


Tanpa sengaja Nadhira menambah sambal kedalam piringnya yang berisikan cilok goreng, Nadhira pikir itu adalah saos pedas yang pedasnya biasa saja tetapi setelah ia memakannya ternyata saos itu begitu pedasnya.


Wajah Nadhira mulai memerah dan keringatnya mulai bercucuran dengan derasnya, Rifki segera menyodorkan es jeruk manis kepada Nadhira, dengan segera Nadhira meminumnya untuk menghilangkan rasa pedas yang ia rasakan.


"Tuh kan, udah tau ngak suka pedas masih saja pake sambal juga, banyak gaya sih, tau rasa kan sekarang kalo sudah kepedesan kayak gini". Guman Rifki.


"Mana ku tau kalo itu pedas, kalo tau pedas ngak akan aku tambahin sambel". Gerutu Nadhira.


"Ya sudah jangan dimakan lagi, nih makan punyaku aja yang belum ada sambalnya, kasihan tuh muka udah kayak pantat panci pula". Lalu Rifki menukar piring cilok miliknya dengan milik Nadhira.


Dengan kesalnya Nadhira memakan cilok milik Rifki tersebut dengan lahapnya, sementara Rifki memakan cilok milik Nadhira dalam diam karena Rifki adalah seseorang yang menyukai rasa pedas.


Keduanya menikmati rasa enak cilok goreng tersebut hingga tandas tak tersisa sedikit pun dipiring itu.


....Terima kasih atas dukungannya....

__ADS_1


__ADS_2