
Panji segera menghentikan kepegian dari Galih, ia tidak ingin anak yang selama ini ia besarkan dan ia anggap begitu berarti itu pergi begitu saja dari dalam hidupnya, Panji telah menganggap bahwa Galih adalah anaknya sendiri sehingga Panji tidak ingin berpisah dengan anaknya.
"Kau salah paham Nak, bukan itu yang Ayah maksud, keris itu memang ada tapi bukan ditubuh Abiyoga melainkan disebuah goa yang tidak dapat dimasuki oleh seseorang yang bukan keturunan dari Kuswanto, akan tetapi Abiyoga telah tanpa sengaja berusaha untuk masuk kedalamnya sehingga energi keris itu menyerangnya". Bohong Panji kepada Galih.
"Apa yang Ayah ucapkan itu benar adanya? Dimana letak goa itu Ayah?". Ucap Galih yang mulai melunak.
"Kenapa Ayah berbohong kepadamu Nak? Kau adalah anakku tidak mungkin aku membohongimu". Ucap Panji dengan sangat meyakinkan Galih.
Akan tetapi didalam batinnya masih ada rasa iri dengki yang begitu mendalam kepada Abiyoga, meskipun keris itu ada didalam goa akan tetapi seharusnya dirinyalah yang mendapatkan kekuatan itu bukan Abiyoga begitulah pikirnya.
Panji menjelaskan letak letaknya kepada Galih, meskipun Galih mengetahuinya ia tidak akan mampu untuk masuk kedalamnya karena goa itu telah dilindungi oleh kekuatan Ayahnya sehingga Panji begitu santai untuk memberitahukan lokasi itu kepada Galih.
Panji tidak menyangka bahwa ambisi Galih untuk dapat memiliki kekuatan itu begitu besar, ia juga tidak mengetahui bahwa adanya rasa iri dan dengki dihati Galih untuk anaknya.
Panji terus mencari cara agar dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh Abiyoga, Panji dengan diam diam membawa Abiyoga untuk masuk kedalam goa tersebut untuk menyalurkan kekuatannya agar Abiyoga tidak lagi merasakan sakit.
Saat ini Abiyoga dan Panji tengah berada didalam goa tempat dimana Ayah dan Ibu Panji dimakamkan sebelumnya, Panji meminta kepada anaknya untuk segera duduk disebuah batu yang ada didalam goa tersebut.
"Ayah, tempat apa ini?". Tanya Abiyoga kepada Ayahnya dengan menahan rasa sakit didadanya.
"Ini adalah tempat dimana Kakekmu istirahat Nak, lihatlah dua nisan itu". Panji menunjuk kearah dimana adanya dua nisan yang ia maksudkan. "Itu adalah makam kedua orang tuaku".
Panji menceritakan segalanya kepada Abiyoga karena Abiyoga berhak untuk mengetahui asal usulnya disaat ini karena usianya sudah mencapai 17 tahun sehingga Abiyoga berhak untuk mengetahui tentang penyebab kematian dari kedua orang tua Panji, tentang siapa pelaku yang telah membunuh kedua orang tua Panji dan misinya untuk membalaskan dendamnya kepada orang yang telah membunuh kedua orang tuanya.
"Jadi Kakek dibunuh oleh orang tua dari Kak Galih?". Tanya Abiyoga dengan begitu sangat terkejutnya.
"Danuarta melakukan itu hanya karena dendamnya atas kematian dari Ayahnya Birawa, Birawa adalah orang yang begitu setia kepada Pangeran Kian sehingga dia rela mengorbankan nyawanya hanya untuk Pangeran Kian, akan tetap Danuarta tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dirinya hanya berusaha untuk dapat membalaskan dendamnya untuk menghilangkan rasa sakit dihatinya". Jelas Panji.
"Ayah, apakah Kak Galih akan melakukan hal yang sama setelah mengetahui semuanya?". Tanya Abiyoga kepada Panji.
"Ayah juga tidak tau Nak, jangan katakan kepada siapapun bahwa keris pusaka xingsi ada didalam tubuhmu saat ini Nak, tidak ada yang mengetahui tentang hal itu, sakit yang kau rasakan itu adalah karena perpindahan dari keris pusaka itu".
"Maksud Ayah apa? Aku sama sekali tidak mengerti tentang itu".
"Kau adalah keturunan dari Kuswanto, ketika kau lahir keris pusaka itu akan berpindah kepada dirimu, begitupun nantinya ketika anakmu lahir maka keris itu akan masuk kedalam tubuh anakmu".
"Kenapa begitu Ayah? Apakah selamanya akan seperti ini?".
"Tidak Nak, sebelum Kakekmu meninggal, ia pernah bilang kepada Ayah, bahwa keris itu nantinya akan menjadi penyebab kehancuran dari sebuah permata, dan kelemahan dari permata itu".
Panji juga menceritakan tentang keris pusaka xingsi dan juga permata iblis yang telah dibawa oleh Nimas, kedua benda pusaka itu saling berhubungan satu sama lain, kelemahan dari keris pusaka itu adalah permata begitupun juga sebaliknya akan tetapi kekuatan yang ditimbulkan oleh keduanya begitu berbeda, keris pusaka xingsi jauh lebih kuat daripada permata iblis yang ada bersama Nimas.
Keris pusaka xingsi adalah satu satunya cara untuk menghancurkan permata iblis yang ada bersama Nimas, ketika permata iblis itu telah hancur maka keris tersebut juga akan ikut hancur bersama dengannya karena keduanya adalah benda yang memiliki sikap yang berlawanan.
Keris pusaka xingsi begitu ditakuti dan dihindari oleh sebangsa jin dan lain sebagainya, akan tetapi permata itu adalah sebuah benda yang mampu membuat para jin dan lain sebagainya patuh dan tunduk kepadanya.
__ADS_1
"Jadi keris pusaka xingsi tidak bisa bersatu dengan permata iblis, jika keduanya bersatu maka keduanya akan hancur, bukan begitu Ayah?". Tanya Abiyoga yang menyimpulkan pendapatnya.
"Iya Nak, jika keduanya bersatu maka akan ada bencana besar yang terjadi, dan pemiliknya bisa bisa ikut hancur".
"Lalu bagaimana caraku untuk dapat mengetahui siapa pemilik dari permata itu Ayah?".
"Untuk saat ini tidak ada yang memiliki permata itu, karena sosok gadis yang akan ditakdirkan untuk menghancurkan permata itu belum lahir kedunia ini, disaat gadis itu lahir maka kebinasaan permata dan juga keris pusaka xingsi telah tiba, hanya orang yang memiliki keris itulah yang akan merasakan keberadaan dari permata iblis itu".
"Itu artinya keturunanku kelak akan ikut hancur bersama dengan keris itu Ayah? Tidak Ayah, aku tidak mau hal itu terjadi". Ucap Abiyoga dengan sedihnya.
"Takdir tidak akan ada yang dapat mengetahuinya Nak, Ayah juga takut ketika hari itu tiba, tapi Kakekmu hanya mengatakan hal itu kepadaku, dia bilang bahwa aku harus mengatakan hal seperti ini kepada keturunanku kelak".
Panji terlihat begitu sedih ketika mengatakan hal itu kepada anaknya, Panji tidak pernah menceritakan hal seperti ini kepada Indah, ia tidak tega jika Indah merasakan kesedihan yang mendalam karena takdir yang dimiliki oleh anak anaknya itu.
Selama ini Panji hanya memendamnya seorang diri tanpa pernah bercerita dengan istrinya soal takdir yang telah dimiliki oleh keturunannya itu, ia tidak akan sanggup untuk melihat Indah yang begitu sedih ketika mendengarnya.
"Ayah, apakah tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan untuk menghentikan saat saat itu, aku tidak ingin hal itu terjadi Ayah". Ucap Panji dengan meneteskan air matanya.
"Hanya ada satu cara Nak, tapi Ayah tidak bisa menjamin bahwa cara tersebut mampu untuk mengatasi hal ini". Ucap Panji.
"Cara apa itu Yah?".
"Jangan sampai keturunanmu menyatuh dengan gadis yang akan menjadi pemilik dari permata itu, jika mereka bersatu maka keduanya tidak akan selamat".
"Aku akan berusaha untuk hal itu Ayah".
Ketika tenaga dalam itu mulai mengalir kedalam tubuh Abiyoga, Abiyoga merasakan sebuah kehangatan yang mengalir keseluruh tubuhnya, rasa hangat itu begitu menenangkan dan membuatnya merasa begitu nyaman.
Berbeda jauh dari Panji, tubuh Panji terlihat semakin melemah ketika tenaga dalamnya ia alirkan kepada anaknya, akan tetapi hal itu tidak dapat membuat Panji menyerah begitu saja, ia terus mengalir tenaga dalamnya kepada Abiyoga.
"Ayah, sakitnya sudah tidak terasa lagi, lebih baik Ayah menghentikan hal ini". Ucap Abiyoga yang dapat merasakan bahwa tenaga dalam yang mengalir kedalam tubuhnya semakin melemah.
"Tidak Nak, proses ini belum selesai". Ucap Panji yang tetap fokus untuk mengalirkan tenaga dalamnya.
Panji tidak ingin proses mengalirkan tenaga dalam itu berhenti ditengah tengah dan akan menyebabkan cidera kepada keduanya karena proses itu dihentikan begitu saja, sehingga Panji tidak ingin mengambil resiko untuk hal itu.
Akan tetapi tiba tiba tubuh Panji merasakan bahwa adanya energi yang mengalir masuk kedalam tubuhnya tanpa ia sadari asal usulnya, Panji dapat merasakan kehadiran dari energi lain yang ikut serta membantunya untuk mengurangi rasa sakit yang dialami oleh Abiyoga.
"Ayah apakah kau juga hadir disini". Ucap Panji yang sedang memejamkan matanya.
Panji dapat merasakan kehadiran Kuswanto ditempat itu melalui sebuah energi yang telah masuk kedalam tubuhnya saat ini, hanya saja dirinya yang tidak mampu untuk melihat sosok yang berada didalam goa tersebut.
Mendengar Ayahnya yang memanggil Kakeknya membuat Abiyoga hanya mampu berdiam diri dan terus berusaha untuk fokus dengan apa yang ia lakukan sekarang ini, dirinya tidak mampu merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Panji.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya proses itu selesai, Panji merasa begitu bahagia ketika dirinya merasakan energi yang ada didalam tubuh Abiyoga mulai mengalir dengan stabilnya.
__ADS_1
Abiyoga merasakan tubuhnya lebih ringan daripada sebelumnya, dirinya begitu bahagia ketika proses itu telah selesai, keduanya bergegas untuk kembali kerumah mereka, akan tetapi ketika mereka keluar dari goa itu mereka segera dihadang oleh Galih yang sedang berada disekitar goa itu.
"Ayah telah berbohong kepadaku?". Ucap Galih yang tidak menyangka dengan apa yang dia lihat saat ini..
"Nak, kau sudah kembali". Ucap Panji dengan bahagianya ketika melihat Galih dihadapan saat ini.
"Apa yang telah Ayah sembunyikan dariku selama ini? Kenapa Ayah tega berbohong kepadaku? Kenapa Ayah kenapa?".
"Tidak ada yang membohongimu Nak, Ayah telah mengatakan hal yang sesungguhnya".
"Apakah Ayah adalah keturunan dari Pangeran Kian? Atau bisa jadi aku bukanlah anak Ayah sehingga hanya aku yang tidak dapat masuk kedalam goa ini".
Galih tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan Ayah dan saudaranya ditempat itu, Panji pernah bilang kepada Galih bahwa hanya orang tertentu yang dapat masuk kedalam goa itu akan tetapi apa yang ia lihat saat ini benar benar membuatnya seakan akan seperti disambar oleh petir.
Galih sudah lama mencoba untuk dapat masuk kedalam goa tersebut, akan tetapi dirinya merasakan bahwa digoa itu ada sebuah dinding yang tak kasat mata yang telah menghalanginya untuk dapat masuk kedalam goa tersebut begitu saja.
Ketika melihat Panji dan Abiyoga yang mampu keluar masuk kedalam goa itu membuat Galih berpikir bahwa ada yang tengah disembunyikan oleh Ayah dan adiknya didalam goa tersebut.
"Aku tidak menyangka bahwa Ayah dari orang yang aku panggil sebagai Kakak selama ini adalah orang yang telah membunuh Kakek dan Nenekku, hubungan apa ini? kenapa begitu rumit seperti ini, Ayahku juga telah membunuh Ayah dan Ibunya, bagaimana kalau dia mengetahui hal ini". Batin Abiyoga menjerit.
"Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dariku, kenapa hanya mereka berdua yang mampu untuk keluar masuk dari goa ini, kenapa aku tidak, padahal aku adalah anak pertama mereka, kenapa justru Abiyoga yang mendapatkan semuanya". Batin Galih.
"Semoga tidak ada dendam diantara mereka, sudah cukup perdendaman ini berlangsung begitu lama, aku tidak akan sanggup untuk melihatnya, aku telah berusaha semampu dan sebisaku untuk membuat keduanya melupakan dendam dendam itu, jika takdir berkata lain maka aku serahkan kepada-Mu Ya Allah". Batin Panji yang tengah melihat kedua anaknya bertatapan dengan penuh misteri.
Panji menoleh kearah Ayahnya dan Kakaknya bergantian. "Ayahku pasti akan terluka kalau aku bertengkar dengan Kakak, apalagi selama ini Ayah terlihat begitu menyayangi Kakak, lantas apa yang harus aku lakukan agar Ayah dan Kakak kembali seperti dahulu". Batin Abiyoga.
"Ayah bilang hanya keturunan dari Pangeran Kian yang dapat masuk kedalam goa ini, lantas kenapa Ayah dan Abiyoga bisa dengan mudahnya untuk keluar masuk dari dalam goa ini?". Tanya Galih yang to the point kepada Panji dan Abiyoga.
"Apa yang Kakak katakan? Kakak pasti salah melihatnya, kita tidak masuk kedalam goa, kita hanya kebetulan lewat disini saja". Ucap Abiyoga beralasan.
"Bagaimana bisa hanya lewat disini jelas jelas tadi aku melihat kalian keluar dari goa ini". Bantah Galih.
"Nak mungkin kau salah melihat, kami tidak masuk kedalam goa ini, kami dari samping goa ini". Sela Panji.
"Kenapa Ayah harus berbohong kepadaku! Siapa sebenarnya diriku dihadapan Ayah? Kenapa Ayah memperlakukan Abiyoga seakan akan dirinya berbeda dariku". Ucap Galih dengan nada sedikit tinggi kepada Panji.
Melihat anak yang ia besarkan selama ini bernada begitu tinggi kepadanya membuat Panji merasakan sesak didadanya, selama ini Galih maupun Abiyoga tidak pernah berkata seperti itu kepada dirinya, Panji merasakan bahwa ucapan itu begitu menyakitkan baginya karena anaknya telah bernada tinggi kepadanya.
Mendengar ucapan itu membuat Panji sampai meneteskan air matanya, ia tidak menyangka bahwa Galih akan berkata sedemikian rupanya kepada dirinya, memang setelah Galih pergi dari kehidupan mereka Galih tidak pernah menampakkan diri dihadapan mereka sekeluarga.
Setelah kepergian dari Galih, Galih terus berusaha untuk mencari tau tentang keris pusaka xingsi yang dimaksud oleh Panji, ia menemukan bahwa digoa itulah tempat dimana keris pusaka xingsi itu disembunyikan sampai sekarang dan tidak ada yang dapat masuk kedalamnya karena adanya energi gaib yang tengah menjaga tempat itu begitu eratnya sehingga tidak ada yang mampu untuk masuk kedalamnya.
Goa itu terletak cukup jauh dari rumah Panji sehingga perjalanan mereka menuju kegoa itu menyita banyak waktu, akan tetapi jarak antara goa itu dari desa Mawar Merah begitu dekat sehingga desa Mawar Merah sering dikunjungi.
Setelah pembantaian terjadi didesa itu yang disebabkan oleh Nimas, desa itu menjadi begitu sepi, desa itu hanya didatangi oleh beberapa orang untuk menguji hal mistis yang ada didesa itu.
__ADS_1
......Jangan lupa like dan dukungannya 🥰......