
Nadhira dan Rifki segera melanjutkan perjalanannya kerumah Nadhira untuk mengantarnya pulang, tak lama kemudian mereka sampailah dirumah Nadhira, setelah menurunkan Nadhira, Rifki segera bergegas kembali kemarkasnya. sesampainya ia dimarkas, ia segera disambut oleh beberapa anak buah kakeknya.
"Ada apa?". tanya Rifki.
"Bos menunggu bos kecil diruangan nya sekarang".
"Kakek ada didalam?".
"Iya bos kecil".
Rifki segera bergegas masuk kedalam ruangan dimana kakeknya berada, ketika didepan ruangan tersebut Rifki menghentikan langkahnya, ia tau bahwa ia telah melakukan kesalahan yang akan membuat kakeknya begitu sangat marah.
Biar bagaimanapun ini semua adalah kesalahannya, sebagai seorang lelaki sejati ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Rifki membuka pintu ruangan tersebut dan menampakkan sosok kakeknya yang tengah duduk membelakanginya.
"Maaf kek, aku salah". Ucap Rifki sambil menundukkan kepalanya.
"Kakek sangat kecewa dengan mu Rif, bisa bisanya kau menyuruh mereka untuk membuka pintu itu, apalagi gadis itu sampai masuk kedalamnya, apa yang sedang kau fikirkan ha?".
"Rifki telah salah kakek, Rifki siap menanggung semua hukuman yang akan kakek berikan".
"Kau tau, mengapa ruangan itu hanya bisa dimasuki oleh orang tertentu? karena ruangan itu adalah ruangan sakral hanya orang yang berhati baik yang bisa memasukinya entah kekuatan macam apa yang digunakan oleh gadis itu, sehingga membuat pagar gaib diruang tersebut semakin melemah".
"Maksud kakek apa?".
"Karena kecerobohanmu, bahaya akan segera datang, permata itu telah muncul kembali, dan kunci itu akan segera muncul, aku tidak tau apakah aku bisa mencegahnya".
"Kakek maafkan aku, aku salah".
Aryabima memejamkan matanya dan menghela nafas panjang, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan setelah ini semua, masalah ini tidak semua disebabkan oleh cucu kesayangannya, ia berfikir mungkin in ia adalah takdir, apa yang diucapkan oleh kakeknya dahulu, sekarang benar benar akan terjadi.
Dahulu kakeknya pernah menceritakan sebuah kisah kepadanya, mengenai sebuah adanya permata dan sebuah kunci, permata itu akan muncul ketika seorang gadis yang memiliki tanda lahir berupa simbol telah lahir didunia ini.
Awalnya ia hanya menganggap kisah tersebut adalah sebuah dongeng pengantar tidur baginya, tetapi sekarang ia telah berada disebuah kisah tersebut. Ketika ia berusia dewasa, Kakeknya membangunkannya sebuah gedung dengan satu ruangan kusus yang ia buat, gedung tersebut adalah markas Rifki saat ini.
"Jangan biarkan pagar gaib ini menipis, selama tidak ada yang mengetahui tempat ini, maka keturunanku akan aman, pagar ini hanya bisa dilemahkan oleh sebuah permata iblis yang memiliki warna hitam yang sangat pekat". pesan terakhir kakeknya, kepadanya.
Aryabima merasa bingung apa langkah yang akan diambil untuk selanjutnya, Rifki terdiam membisu melihat kakeknya juga membisu dihadapannya. terlihat sebuah kesedihan dimata Aryabima.
"Kakek, apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan maaf dari kakek?".
"Kita tidak bisa berbuat apa apa, sebagai hukuman yang aku berikan, kamu harus mempelajari ilmu dalam hal gaib, untuk meningkatkan kemampuan mu".
__ADS_1
"Tapi kek...... Baiklah".
Rifki mendapatkan tatapan yang tidak bersahabat dari kakeknya, membuatnya harus pasrah tentang keputusan yang telah kakeknya berikan kepadanya.
****
Sesampainya dirumah Nadhira, Rifki segera meminta izin untuk pamit kepada Nadhira, setelah kepergian Rifki Nadhira segera memasuki gerbang rumahnya, dengan riang Nadhira berlari melewati bunga bunga yang sedang bermekaran. Tanpa ia sadari bahwa dirinya telah menjadi pusat perhatian keluarga, karena ia datang diantara oleh seorang lelaki.
Hal itu membuat Amanda merasa sangat marah, bagaimana tidak, karena Amanda telah sangat lama memendam sebuah perasaan yang mendalam kepada sosok Rifki. Ingin sekali ia menghajar Nadhira menggunakan kedua tangannya sendiri sangking kesalnya kepada Nadhira.
Ketika Nadhira hendak membuka pintu rumahnya, ia berhenti karena tanpa ia sadari bahwa mobil papanya telah terparkir disamping rumahnya, ia menjadi ragu untuk masuk kedalam rumah itu, tak lama kemudian akhirnya ia memutuskan untuk masuk.
Dari balik pintu ruang tamu itu, dapat Nadhira lihat papa mama, dan adik tirinya tengah duduk didalam ruangan tersebut, Nadhira menghela nafasnya dan hendak bergegas menuju kamarnya.
"Dari mana saja kamu". Teriak papanya.
Mendengar teriakan itu membuat Nadhira segera menghentikan langkahnya, ia menoleh kearah papanya berada, wajah kemarahan dapat dilihat dari pelupuk matanya. Nadhira menghela nafasnya, ia yakin bahwa papanya saat ini sangat marah kepadanya,
"Dari mana saja ha?". Rendi mengulangi kembali pertanyaan yang sebelumnya ia lontarkan kepada Nadhira, tetapi Nadhira tidak meresponnya.
"Pulang sekolah pa". Jawab Nadhira.
"Emang papa pikir kami sama? Pa, kami berbeda!! Aku bukan dia, dan dia juga bukan aku, yang setiap hari antar jemput pakai mobil".
Plak
Rendi menamparnya dengan keras hingga tercipta bekas merah diwajahnya, disudut bibirnya terdapat setetes darah segar yang keluar. Nadhira memejamkan matanya karena tamparan itu, rasa sakit menjalar keningnya.
"Mulai berani kamu ya!!!".
"kak, seharusnya kakak tidak berkata seperti itu kepada papa". Ucap Amanda.
"Aku tidak butuh nasehatmu". Nadhira menatap Amanda dengan tajam.
"Kau!!! untung saja aku masih mau menasehatimu, sebenarnya aku sangat malas berbicara kepadamu".
"kalau gitu, ngak usah bicara, aku sama sekali tidak membutuhkanmu".
Rendi mengangkat tangannya hendak memukul Nadhira kembali, disudut bibirnya terlihat Nadhira sedang tersenyum, Nadhira mengangkat tangannya dan mengusap darah yang ada dibibirnya. Pandangan yang semulanya menghadap kelantai sekarang ia menghadap kearah papanya.
"Papa kira aku akan takut karena hanya sebuah pukulan? Papa salah, pukulan itu sama sekali tidak berpengaruh kepadaku".
__ADS_1
Nadhira memposisikan tubuhnya agar tetap berdiri tegak dihadapan papanya, ketika pukulan itu hendak menyentuh kulit wajahnya, Nadhira segera menangkap tangan papanya untuk melindungi wajahnya dari luka memar yang parah yang akan diciptakan oleh pukulan tersebut.
"Kenapa papa hanya memukulku? kenapa tidak sekalian saja membunuhku, meskipun hari ini aku mati, aku tidak akan pernah menyesalinya pa".
mendengar ucapan Nadhira membuat Sena merasa gemetaran, ia teringat ucapan sosok yang telah merasuki ketubuh Nadhira, yang memperingatkannya agar tidak membuat Nadhira merada tidak nyaman, sehingga membuat Nadhira nekat untuk melakukan bunuh diri sebelum tujuan mereka tercapai.
"Sudah mas susah, jangan dilanjutkan lagi". Sena segera memegangi tangan suaminya agar tidak memukul Nadhira kembali.
"Mulai sekarang, papa tidak akan memberimu uang jajan".
"Mas sudah!! Kasihan kan Nadhira, jangan kasar kasar, dia kan anak perempuan, kata kasar dikit pasti membuat hatinya terluka". Sena menghentikan Rendi yang sedang memarahi Nadhira.
Nadhira memegangi dadanya dan merasakan detak jantungnya bertambah cepat, terlihat sebuah senyuman tipis dari bibirnya, luka memar tersebut membuat senyumannya terasa begitu memilukan.
Didalam hatinya ia menangis, tetapi diwajahnya ia dipaksa untuk tetap tersenyum dan tertawa. darah yang ada dibibirnya mulai mengering, dan noda merah diwajahnya terlihat begitu jelas.
"Bagaimana hatiku? Bagaimana orang lain bisa mengetahuinya sedangkan aku sendiri tidak mengetahuinya, haha, lelucon macam apa ini". Nadhira tertawa.
"NADHIRA!!!" Teriak Rendi dihadapan Nadhira.
Nadhira berhenti tertawa, ia mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju kamarnya secara perlahan, Rendi begitu marah kepadanya. jika bukan karena Sena yang menghentikannya mungkin ia akan mengatakan kata kata yang sangat menyakitkan bagi Nadhira.
"Aku tidak mau berdebat lagi dengan papa!".
Setelah mengucapkan itu, Nadhira langsung memasuki kamarnya, dan menutupnya dengan keras. Dibalik pintu tersebut Nadhira menjatuhkan dirinya dan memegangi dadanya yang terasa begitu sakit, ia tidak menduga akan mengatakan hal itu kepada papanya.
Dapat terdengar suara isak tangis Nadhira diruang kamarnya, tidak ada seorang pun yang dapat mendengarnya, karena ruangan tersebut memang sengaja dibuat menjadi kedap suara.
sementara diluar kamar Nadhira, Rendi segera memasuki kamarnya dam disusul oleh Sena, sedangkan Amanda ia memilih untuk pergi kedapur dan memakan cemilan yang telah ia beli ketika sekolah.
"Mas aku tau kamu sangat marah kepadanya, tapi jangan sampai kamu mengucapkan sesuatu yang kasar kepadanya". Ucap Sena sambil menenangkan hati Rendi.
"Kenapa kamu sangat membela anak itu, anak itu bukanlah anakku untuk apa kamu membelanya". Bantah Rendi.
"Meskipun dia bukan anakmu mas, tapi selama ini ia sudah tinggal bersama mu, coba fikirkan juga perasaannya, apa kamu tega membuatnya depresi diusianya yang masih begitu muda?".
"Baiklah kamu benar, mulai sekarang kamu urus anak itu, aku tidak ingin anak itu membuat masalah lagi".
"Iya mas, sekarang mas tenangkan diri dulu". Sena menepuk pundak Rendi. "sabarlah, tunggu giliran mu menderita, dan penyebabnya adalah Nadhira". batin Sena, tanpa Rendi sadari bahwa Sena sedang tersenyum.
Sejak Rendi mengetahui mengenai Tes DNA milik Nadhira waktu itu, membuatnya semakin membenci Nadhira, bahkan sampai sampai ia tidak mengakui bahwa Nadhira adalah anaknya, Nadhira tidak mengetahui apa penyebab papanya berubah, yang ia ketahui bahwa papanya telah masuk kedalam hasutan mama tirinya.
__ADS_1