
Dapat dilihat darah yang ada didompet tersebut sudah kering, itu artinya darah itu menetes ketika ia sedang berkelahi dengan copet tersebut. Untuk menghilangkannya noda tersebut juga tidak mudah, noda itu tidak akan hilang meskipun dibasuh air kecuali dompet itu dicuci dengan sabun.
Nadhira bingung harus berjalan kearah mana, karena ini pertama kalinya ia pergi kepasar dan ia belum mengetahui jalanan yang ada dipasar tersebut, ia hanya memutuskan untuk terus melangkah mencari dimana ibu angkatnya berada saat ini.
Dari orang orang yang ada disitu Nadhira mengetahui bahwa jalanan yang ia lewati sebelumnya akan banyak orang yang berlari menyaksikannya dari kejauhan, beberapa puluh menit kemudian Nadhira masih berjalan menyusuri jalan itu.
"Nak kau baik baik saja?". Tanya seorang laki laki yang tiba tiba menghampirinya.
"Aku tidak papa pak, aku tersesat dan terpisah dari ibuku, apa bapak bisa membantuku mencarinya? Aku ingat ibuku berada disekitar ibu ibu yang tadi kecopetan".
laki laki tersebut merasa kaget ketika mengetahui bahwa anak yang ada didepannya yang telah mengalahkan sang copet ternyata belum pernah sama sekali datang kepasar tersebut, anak yang ada dihadapannya bahkan belum mengetahui bahwa copet yang telah Nadhira lawan adalah copet yang ahli dalam bela diri.
Memang mereka tidak melihat bagaimana cara Nadhira melawan copet tersebut, tetapi mereka yakin bahwa gadis kecil yang dihadapannya juga ahli dalam bela diri. Jangankan mereka yang tidak melihat perkelahian itu, Nadhira sendiri pun tidak mengetahui apa yang telah terjadi kepada dirinya.
"Apa kamu belum pernah kepasar ini sebelumnya?"
"Belum pernah pak, baru kali ini ibu mengajakku kepasar".
"Iya udah kalo seperti itu, mari bapak antar"
"Terima kasih pak".
Nadhira berjalan mengikuti sosok lelaki yang menunjukkan jalan kepadanya, banyak sekali mata yang memandang kearahnya, ini membuat Nadhira sedikit risih dan ingin segera meninggalkan tempat itu.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya ia sampai juga ditempat dimana ibu yang dicopet dan juga ibu angkatnya berada, Nadhira segera mendatangi keduanya yang tengah duduk termenung diantara orang orang yang memutarinya.
"Permisi pak!buk!".
Nadhira berjalan ditengah tengah gerumbulan orang yang mengitari Ibu angkatnya, dengan susah payah ia berjalan mendekati kedua orang ia cari sebelumnya.
"Bu ini dompetnya".
Nadhira menyodorkan dompet yang ada ditangannya tepat dihadapan sang ibu tersebut, dengan susah payah Nadhira mendekat kearahnya. Wanita itu sebelumnya tengah menundukkan kepalanya, ketika melihat dompet miliknya berada didepan matanya dan melihat tangan seseorang yang tengah berdarah membuatnya segera menegakkan kepalanya.
"Maaf bu, dompet ibu kotor karena terkena darahku". Ucap Nadhira sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Nadhira!!". Panggil bi Ira.
Bi Ira segera berdiri dihadapan Nadhira dan langsung memeluknya dengan erat, pelukan itu begitu hangat bagi Nadhira, bi Ira memeluk Nadhira seolah olah takut akan kehilangannya. Nadhira yang tiba tiba dipeluknya hanya mampu memejamkan mata dan tersenyum tipis, sampai bi Ira melepaskan pelukannya.
Keduanya sangat terkejut melihat bekas darah dibibir Nadhira, bi Ira menyentuh perut Nadhira, ia khawatir luka lamanya cidera kembali, ketika ia melihat baju Nadhira, ia merasa lega karena tidak menemukan bercak darah diperut Nadhira.
"Astaga nak, bibirmu berdarah".
"Makasih ya nak, Nak kamu terluka, biar ibu obati dulu ya, nanti infeksi". Ucap ibu itu sambil mengusap ujung bibir Nadhira.
"Auhh".
Ketika ibu itu mengusap ujung jarinya, tiba tiba Nadhira merasa kesakitan, ia baru menyadari bahwa ujung bibirnya sobek dan mengeluarkan darah segar, Nadhira menghentikan tangan ibu tersebut.
"Aku ngak papa bu, hanya luka kecil, nanti juga akan sembuh sendiri". Ucap Nadhira sambil tersenyum.
Nadhira mengusap ujung bibirnya menggunakan tangannya, ia juga bertanya letak toilet terdekat dari lokasinya berdiri saat ini. Beberapa orang menuntunnya kearah dimana Nadhira inginkan, sesampainya ditoilet itu Nadhira segera membasuh wajahnya dan menghilang bekas darah diwajahnya.
Ia juga membersihkan darah yang ada ditangannya, didalam toilet tersebut Nadhira memeriksa luka yang ada diperutnya dengan hati hati. Sudah beberapa minggu luka itu sudah tidak menjadi masalah baginya, luka jahitannya juga sudah mengering.
Setelah semuanya sudah dibersihkan oleh Nadhira, Nadhira keluar dari dalam toilet umum itu, ia sangat terkejut ketika banyak orang yang sedang berkumpul didepan toilet itu. Ibu itu dan juga bi Ira segera menariknya keluar dari toilet itu dan mengajaknya untuk duduk dan mengobati lukanya.
Bi Ira berusaha membubarkan orang yang ada disitu, ia merasa begitu risih ketika selalu dikelilingi seperti ini. Ibu itu menuangkan betadin kepada kapas yang ada ditangannya dan memberikannya kepada luka dibibir Nadhira.
"Ibu ngak perlu repot repot seperti ini, sudah kewajibanku sebagai anak muda untuk menolong".
"Ini ngak repot sama sekali kok nak, kamu sudah sangat berjasa bagi ibu karena telah menyelamatkan harta ibu".
Ibu itu juga memasang perban ditangan Nadhira, Nadhira memejamkan matanya menahan sakitnya ketika kapas yang sudah diberi betadin ditempelkan kepada luka ditangannya. Melihat Nadhira memejamkan matanya membuat ibu itu dengan pelan menempelkan kapas itu ditangan Nadhira, ibu itu juga merekatkannya menggunakan plester.
"Kalau boleh ibu tau, siapa namamu nak?".
"Namaku Nadhira, tetapi ibu bisa memanggil Dhira saja".
"Cantik ya bu anaknya, pemberani juga, bertapa beruntungnya memiliki anak seperti ini".
__ADS_1
"Iya bu, Nadhira anak yang sangat baik". Sahut bi Ira.
Setelah selesai mengobati luka ditangan Nadhira, ibu itu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang satu lembarnya bernilai 50.000 dari dalam dompetnya dan menyodorkannya kepada Nadhira.
"Ini sebagai ucapan terimakasih dari ibu, tolong diterima ya nak".
"Tidak usah bu, aku iklas membantu ibu". Nadhira menolak menerima uang tersebut.
"Tolong nak terima ya, supaya ibu merasa senang". Paksanya.
Nadhira memandang ibu angkatnya untuk meminta saran darinya, ibu angkatnya hanya mengangguk atas semua keputusan dari Nadhira. akhirnya Nadhira dengan terpaksa menerima hanya selembar dari uang tersebut, agar ibu itu merasa senang.
"Karena ibu memaksa, baiklah".
"Kenapa hanya satu?".
"Ini lebih dari cukup bagiku bu, ibu juga sudah mengobati lukaku, terima kasih".
Setelah selesai memberikan uang itu kepada Nadhira, ibu itu berpamitan untuk pulang, ia segera bergegas meninggalkan Nadhira dan bi Ira. Bi Ira dan juga Nadhira melanjutkan belanjanya karena belum semuanya terbeli olehnya.
Nadhira meminta kembali tas yang tadi ia bawa kepada bi Ira, dengan terpaksa dan berat hati bi Ira memberikannya kepada Nadhira, bi Ira khawatir Nadhira kesakitan karena luka ditangannya juga.
Ketika mereka keluar dari pasar, Nadhira melihat penjual ikan hias yang menarik minatnya. Nadhira menarik tangan bi Ira untuk mendekat kepada penjual tersebut dan melihat satu persatu ikan yang terpajang disana.
"Bu aku mau beli ikan itu".
Pandangannya jatuh kepada sang penjual yang tengah terduduk dibawah rimbunnya pepohonan, penjual itu adalah seorang kakek kakek yang sudah tak layak untuk terus berkerja, tubunnya hanya tinggal tulang dan daging, wajahnya keriput.
Nadhira merasa kasihan terhadap penjual tersebut, Nadhira memandang uang lima puluh ribu yang ada ditangannya. Nadhira tersenyum melihat hal itu, mungkin ini adalah rezeki orang yang dititipkan kepadanya.
"Wah lucu sekali bu, aku mau yang ini pak, berapa ya pak?". Tanya Nadhira.
"Ini satunya sepuluh ribu neng".
"Kalo gitu dua ya pak, biar satunya ngak kesepian".
__ADS_1
*biar ngak kayak author ya, selalu sendiri :)*