Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Bisa mendengar


__ADS_3

Nadhira terbangun dari tidurnya, badannya terasah begitu sakit ketika ia bangun dari tidurnya seakan akan ia habis dipukuli oleh banyak orang, Nadhira segera pergi kekamar mandi untuk bersiap siap berangkat sekolah pagi itu.


Setelah dari kamar mandi dan berganti pakaian seragam sekolah, Nadhira segera keluar dari kamarnya untuk mengisi perutnya yang terasa lapar, tanpa Nadhira sadari bahwa Nimas telah mengikutinya dari belakang.


Nadhira berjalan menuju kearah dapurnya, sementara Nimas memperhatikan Nadhira dengan seksama, mulai dari senyumannya, kelopak matanya yang indah, bulu mata yang lentik, Nimas begitu terpana karena kecantikan Nadhira yang selama ini tidak pernah ia lihat dengan teliti.


"Kenapa aku baru sadar, bahwa gadis ini begitu cantik". Ucap Nimas.


Nadhira yang berjalan tiba tiba dapat mendengar ucapan tersebut, segera mungkin ia menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang untuk mencari sumber suara tersebut, tetapi tidak ada siapapun dibelakangnya, Nimas yang memperhatikan itu hanya merasa bahwa gadis yang ada dihadapannya dapat mendengarnya.


"Siapa?".


Nimas melambaikan tangannya dihadapan Nadhira, tetapi Nadhira sama sekali tidak meresponnya itu artinya Nadhira tidak dapat melihatnya tetapi mampu untuk mendengarkannya, Nadhira terus menoleh kesana kemari untuk mencari sumber suara tersebut tetapi ia tak kunjung menemukannya.


"Aneh, aku tadi mendengar seseorang dibelakangku memujiku, ah mungkin hanya halusinasiku saja".


Nadhira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, setelah itu ia kembali bergegas menuju kedapur untuk membantu ibu angkatnya dan juga belajar untuk memasak darinya.


"Apa dia bisa mendengar suaraku? Ngak salah lagi, dia pasti bisa mendengar suaraku".


Seketika pertanyaan itu membuat Nadhira berhenti kembali dan menoleh kesana kemari untuk mencari sumber suara tersebut, Nimas memperhatikan gerakan Nadhira dengan lekatnya seperti seseorang yang tengah mencari sesuatu yang ada didekatnya.


Nadhira sama sekali tidak menemukan keberadaan seseorang yang ada dibelakangnya, tetapi suara itu mampu didengar Nadhira dengan begitu jelasnya, seakan akan suara itu berada begitu dekat dengannya saat ini.


Nimas juga merasa bingung karena hal itu sama seperti Nadhira, tidak biasanya Nadhira dapat mendengar ucapannya, tetapi kali ini Nadhira seakan akan bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Nimas kepadanya.


"Kenapa aku jadi merinding seperti ini".


Nadhira mengusap telapak tangannya yang mulai dingin karena hal itu, ia juga merasakan bulu kuduknya berdiri pertanda ada mahluk halus yang berada disampingnya, Nadhira segera bergegas menemui ibu angkatnya.


Nadhira berjalan dengan cepatnya karena ia begitu merasa ketakutan ketika ia mendengar suara seseorang yang ada dibelakangnya tetapi ia sama sekali tidak bisa melihat orang itu, Nimas bisa menampakkan dirinya dihadapan Nadhira ketika ia ingin melakukan itu, tetapi kali ini tanpa keinginannya Nadhira dapat mendengar suaranya.


Nimas masih tetap mengikuti Nadhira dari bekalang dan mengawasi apa yang dilakukan oleh Nadhira dipagi itu, ia melihat Nadhira dapat tersenyum cerah ketika ia bersama seorang wanita yang ia panggil sebagai ibunya.


Setelah lama berada didapur, bi Ira pergi keruang tengah untuk mengambil beberapa sayuran yang akan ia masak untuk hari ini meninggalkan Nadhira seorang diri berada didapur tersebut.


Uhuk uhuk


Lagi lagi Nadhira mendengar suara seseorang yang tengah terbatuk batuk disampingnya, ia menoleh kearah dimana suara itu berasal tetapi ia tidak menemukan siapa siapa disana.


"Masakan apa ini? Mengapa baunya begitu menyengat". Guman Nimas.


Nadhira sedang menggoreng cabe, bawang dan tomat untuk membuat sambal dipagi itu, sehingga baunya begitu menyengat, hal itu membuat Nimas tanpa sengaja terbatuk batuk karena aroma yang dihasilkan dari bawang merah dan putih.


Nimas hanya bisa menggosok hidungnya beberapa kali karena aroma bawang putih dan merah yang tidak ia sukai, sesekali dapat terdengar keluhan dari mulutnya yang membuat Nadhira hanya bisa bergidik ngeri mendengarnya.


Mendengar suara batuk tersebut membuat Nadhira menoleh lagi dan lagi lagi mencari darimana asal sumber suara itu, tetapi Nadhira sama sekali tidak menemukan sosok tersebut hal itu membuat Nadhira mengangkat spatula yang ia buat menggoreng untuk berjaga jaga.


"Siapa disana??". Ucap Nadhira dengan herannya.


"Ada apa nak?". Tanya bi Ira yang datang kearah Nadhira.


Melihat ibunya yang datang tiba tiba membuat Nadhira menurunkan kembali spatula yang ada ditangannya dan kembali melanjutkan menggorengnya, ia merasa begitu lega ketika ibunya datang ditempat itu.


"Apa ibu yang batuk batuk tadi? Dan mengomel".


"Batuk?? Ibu tidak batuk, ibu juga ngak dengar apa apa tuh nak, mungkin kamu salah dengar kali".


Bi Ira merasa terkejut mendengar pertanyaan dari Nadhira, ia sama sekali tidak mendengar apapun dan bahkan suara batuk sekali pun ia tidak mendengarnya apalagi orang yang sedang mengomel seperti yang diucapkan oleh Nadhira.

__ADS_1


"Aneh". Ucap Nadhira sambil memegang dagunya dan mengingat ingat kembali apa yang tadi ia dengar sebelumnya.


Bi Ira merasa heran karena tingkah anak angkatnya tersebut yang tiba tiba menanyakan hal itu kepadanya ketika ia baru saja datang setelah mengambil beberapa sayuran dikulkas yang berada diruang tengah.


"Kenapa dia bisa mendengarku? Pangeran apa yang kau lakukan pada diriku!!!". Teriak Nimas.


"Aaa....".


"Eh copot, eh copot, ada apa nak". Suara bi Ira yang latah karena refleksnya.


Mendengar suara itu lagi membuat Nadhira berteriak dan bersembunyi dibalik punggung ibu angkatnya, tubunnya bergemetaran karena hal itu, bi Ira yang tiba tiba dipegangi dengan begitu eratnya ikut berteriak dengan terkejut dan refleknya.


Teriakan keduanya segera membuat Rendi bergegas mendatangi keduanya, Rendi menemukan Nadhira yang tengah bersembunyi dibalik punggung pembantunya dengan anehnya, Nadhira yang menyadari kedatangan papanya segera melepaskan pegangan itu dan tersenyum canggung.


"Ada apa Nadhira? Kenapa berteriak seperti itu?". Tanya Rendi kepada Nadhira.


"Ngak papa pa, hanya saja tadi terkejut ada tikus, ah iya tikus". Jawab Nadhira beralasan.


"Dimana?".


"Disana". Nadhira menunjuk kearah bawah meja yang tidak jauh darinya, membuat Rendi segera memeriksanya untuk mencari dimana tikus itu.


Nadhira melihat papanya yang tengah menundukkan kepalanya untuk melihat sesuatu yang berada dibawah meja yang ditunjuk oleh Nadhira sebelumnya, Rendi sama sekali tidak menemukan apa yang dimaksud oleh Nadhira sehingga ia kembali berdiri dan mengatakan kepada Nadhira bahwa tidak ada tikud dibawah sana.


"Mungkin sudah kabur kali pa". Ucap Nadhira dengan ketakutan.


"Tikus? Apa benar". Ucap Nimas ketika mendengar alasan Nadhira berteriak tiba tiba itu.


"Ya sudah kalau be..." Belum selesai Rendi berkata Nadhira terlebih dahulu berteriak.


"Aaa....".


Nimas terus memandangi wajah Nadhira yang ketakutan dengan tiba tiba, ia tidak tau hal apa yang membuat Nadhira berteriak seperti itu seakan akan ada sesuatu yang membuat Nadhira ketakutan, Nimas segera menoleh kesana kemari untuk mencari sesuatu yang ditakuti oleh seorang gadis seperti tikus, ulat, kecoa dan sebagainya.


Tetapi Nimas sama sekali tidak menemukan hal itu dirumah tersebut, karena seringnya dibersihkan hingga tidak ada hewan hewan kecil berada disitu kecuali semut dan cicak yang ada ditembok.


"Ngak ada yang mencurigakan".


"Aaa...".


Karena teriakkan Nadhira kali ini membuat Nimas mengetahui apa yang menyebabkan Nadhira berteriak, melihat Nadhira yang berteriak setelah Nimas berkata, membuat Nimas memutuskan untuk tidak berbicara ketika berada dekat dengan Nadhira, ia tidak ingin Nadhira berteriak lagi karenanya.


"Ada apa nak?". Tanya Rendi sambil memegangi tangan Nadhira yang gemetaran.


"Masakannya gosong!!!". Ucap Nadhira segera mungkin ketika melihat bawang yang ia goreng sebelumnya.


"Eh... Ya Allah". Ucap bi Ira dengan refleknya dan langsung menoleh kearah kompor gas tersebut.


Mendengar ucapan Nadhira membuat Rendi segera mematikan kompor gas tersebut agar tidak terjadi kebakaran karena itu, hal itu membuat bi Ira juga terkejut dengan itu, ketika Rendi mematikan kompor gas tersebut membuat Nadhira bernapas lega.


"Ada apa sebenarnya?". Tanya Rendi.


"Ngak ada apa apa pa, papa bisa kembali, aku akan membereskannya". Ucap Nadhira.


"Baiklah kalo begitu". Pasrah Rendi.


Rendi segera kembali ke aktivitasnya semula, bi Ira segera membersihkan masakan yang gosong tersebut, keduanya segera memasak lagi untuk sarapan pagi bagi penghuni rumah tersebut.


"Sebenarnya ada apa nak?". Tanya bi Ira dengan pelannya.

__ADS_1


"Apa ibu tidak mendengar suara seseorang berbicara tanpa wujud?". Nadhira kembali bertanya kepada ibu angkatnya itu.


"Tidak itu nak, emang ada apa? Apa yang ia bicarakan?".


Mendengar ucapan dari ibu angkatnya membuat Nadhira semakin yakin bahwa hanya dirinya yang bisa mendengar suara itu, dan bahkan orang yang ada disampingnya sama sekali tidak mendengarnya sedikitpun apa yang dikatakan oleh suara itu.


"Ngak papa bu, mungkin aku hanya berhalusinasi".


Hal yang dialami oleh Nadhira begitu wajar untuk membuat Nadhira berteriak, karena adanya suara tanpa rupa lebih menakutkan daripada rupa tanpa suara, Nadhira memang sering bertemu dengan Nimas tetapi karena hanya suara saja yang mampu ia dengar membuatnya begitu ketakutan.


Setelah selesai masak Nadhira bergegas untuk mengisi perutnya, setelah itu ia kembali kekamarnya untuk mengambil tas sekolahnya dan bergegas menuju gerbang untuk menghampiri Rifki yang sudah berada disana setelah berpamitan dengan papanya.


"Siapa kamu??". Tanya Rifki yang tiba tiba.


"Aku Nadhira". Jawab Nadhira bingung.


"Sudah tau kalo kamu itu Nadhira, maksudku sosok yang ada dibelakangmu".


Mendengar ucapan Rifki membuat Nadhira merinding ketakutan dan perlahan lahan berbalik untuk memeriksa apa yang ada dibelakangnya, tetapi ia sama sekali tidak menemukan sosok apapun yang ada dibelakangnya.


Ketika Rifki menoleh kearah Nadhira berada, ia dapat melihat sosok seorang gadis cantik yang berpakaian serba merah tengah mengikuti Nadhira dari belakang, ketika jarak Nadhira dengan Rifki sudah dekat, Rifki segera menanyakan hal itu kepada sosok yang terus mengikuti kemana Nadhira pergi.


"Kamu bisa melihatku?". Ucap Nimas yang berada dibelakang Nadhira.


Mendengar ucapan itu membuat Nadhira merinding ketakutan dan bersembunyi dibalik punggung Rifki sambil berpegangan erat kepada lengan Rifki, Nadhira tidak mampu melihatnya tetapi ia bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Nimas.


Merasakan tangannya yang dipegang erat oleh Nadhira membuat Rifki menoleh kearah dimana Nadhira berada, dan tersenyum melihat ketakutan Nadhira, Rifki tidak menduga bahwa Nadhira masih tetap saja takut kepada hal gaib meskipun ia sering kali bertemu dengan mereka.


"Iya, aku bisa melihatmu, apa yang kau inginkan!!".


"Aku hanya ingin melaksanakan tugasku, menjaga gadis itu".


"Menjagaku? Untuk apa?". Tanya Nadhira tiba tiba.


Pertanyaan itu membuat Rifki segera menolehkan kembali kepalanya kepada Nadhira, Rifki merasa terkejut ketika Nadhira bisa mendengar apa yang diucapkan oleh makhluk yang ada dihadapan mereka saat ini, Rifki merasa bahwa Nadhira bisa melihat makhluk itu sehingga membuatnya bersembunyi dibalik punggungnya.


Rifki menyodorkan telapak tangannya kepada sosok yang ada dihadapannya sambil membacakan sebuah doa yang sama sekali tidak dapat didengar oleh siapapun, tetapi doa itu mampu membuat Nimas termundur beberapa langkah.


"Atas perintah dari Pangeran, karena kesalahan yang telah aku lakukan, aku tidak akan berbuat jahat kepadamu, tolong jangan usir aku".


"Kamu bisa melihatnya?". Sangking penasarannya membuat Rifki melontarkan sebuah pertanyaan kepada Nadhira.


"Tidak, aku hanya bisa mendengar suaranya saja". Jawab Nadhira yang masih menggenggam erat tangan Rifki. "Siapa sosok itu?".


"Aku adalah Nimas si Ratu iblis, yang selama ini merasuki tubuh Nadhira karena dendamku, aku dibutakan oleh ambisi untuk menghabisi nyawa seluruh keturunan Darma tanpa sadar hal itu justru menjerumuskanku dalam masalah".


Mendengar ucapan Nimas yang begitu tulus kepada Nadhira, membuat Nadhira dan Rifki berpikir sesaat karena tiba tiba Ratu iblis merubah tujuannya begitu saja, mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Lantas bagaimana caranya untuk mengeluarkan permata itu dari tubuh Nadhira?". Tanya Rifki tiba tiba membuat Nimas begitu terkejut.


Dan bahkan Nimas sendiri tidak mengetahui bagaimana caranya untuk mengeluarkannya, yang ia tau bahwa orang yang telah menelannya tidak akan pernah bisa mengeluarkannya karena permata itu akan larut dengan darah sehingga jika dikeluarkan dengan paksa akan sama seperti mengelupas kulit diri sendiri, resikonya nyawa juga ikut melayang karenanya.


Melihat Nimas hanya berdiam diri membuat Rifki mengerutkan dahinya menunggu jawaban dari Nimas, sementara Nadhira yang tidak mendengar jawaban itu perlahan lahan melepaskan pegangannya dan berjalan kesamping Rifki.


"Sebenarnya Pangeran Kian tidak memberitahukan hal itu kepadaku, tetapi jika permata itu hancur otomatis pemilik tubuh juga ikut hancur, begitupun dengan diriku".


"Apakah tidak ada cara lain untuk mengatasinya? Bagaimana aku bisa membiarkan Nadhira hancur, kau pasti berbohong kepadaku kan?".


Rifki mengepalkan tangannya dengan erat mendengar ucapan Nimas, sebenarnya Nadhira juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Rifki saat ini, bagaimana Rifki bisa hidup jika tanpa adanya Nadhira disampingnya.

__ADS_1


__ADS_2