
Tanpa berpikir panjang, pelayan tersebut segera memilihkan pakaian yang terbagus yang ada ditoko itu, dan segera membawanya menuju ketempat kasir untuk melakukan pembiayaan.
Setelah pakaian itu dibawa pergi oleh orang itu, Nadhira segera bergegas mendatangi dimana tepat Rifki yang sedang memilih pakaian pakaiannya berada, disini justru Rifki lah yang begitu antusias untuk memilih pakaian daripada Nadhira.
Nadhira memang tidak terlalu menyukai pergi berbelanja pakaian dan tidak seperti kebanyakan wanita pada umumnya, Nadhira lebih menyukai hal hal yang berbau beladiri dan yang lain sebagainya kalau soal belanja pakaian ataupun make up hal itu tidak terlalu mengugah minat Nadhira.
"Kau sudah selesai memilih pakaian yang cocok untukmu Dhira?". Tanya Rifki ketika melihat Nadhira yang tengah berjalan kearahnya.
"Sudah". Jawab Nadhira dengan singkatnya.
"Baguslah kalau begitu".
Rifki segera melanjutkan untuk mencari pakaian yang cocok untuk dia gunakan setelah bermain air dipantai, setelah menemukannya Rifki mengajak Nadhira untuk berjalan menuju ketempat kasir.
Rifki segera berjalan kearah kasir untuk melakukan pembayaran kepada pakaian pakaian yang telah ia pilih sebelumnya, sementara Nadhira mengikutinya dari belakang, Rifki sangat penasaran pakaian apa yang telah dibeli oleh Nadhira saat ini, akan tetapi Nadhira tidak mempedulikan pakaian itu.
"Mbak saya mau lihat pakaian apa yang dibeli oleh teman saya". Ucap Rifki kepada pelayan toko itu.
"Baik Tuan". Ucapnya sambil menyerahkan pakaian itu kepada Rifki.
Rifki mengeluarkan pakaian yang telah diserahkan oleh pelayan toko tersebut dari kantong plastik, Rifki tau bahwa itu bukanlah pakaian pilihan dari Nadhira akan tetapi itu adalah pakaian yang telah dipilihkan oleh pekerja ditoko itu untuk Nadhira.
"Ternyata kau juga penyuka warna pink ya Dhira". Ucap Rifki sambil tersenyum.
Jika dilihat lihat Nadhira meniliki sikap yang sedikit tomboy, akan tetapi sikap tomboynya tidak terlalu kelihatan, Rifki tidak menyangka bahwa pakaian yang dipilihkan itu berwarna pink.
Pink adalah warna yang paling disukai oleh perempuan pada umumnya karena warna pink itu sendiri melambangkan sikap wanita.
Arti warna dalam psikolog merah, warna merah kerap berkonotasi dengan kekuatan, adrenalin, serta semangat. Dunia psikologi sering kali mengaitkan arti warna merah dengan energi, kekuatan, kegembiraan, cinta, enerjik, kemewahan, nafsu dan peringatan. Selain itu, warna merah juga identik dengan kekerasan, kecemasan, bahkan agresivitas.
Sedangkan warna merah muda atau campuran merah dengan putih atau kita kenal dengan warna pink dianggap melambangkan cinta dan romantisme. Itu sebabnya, merah muda populer dengan warna “cinta”, berhubungan dengan perempuan, dan kesan feminim.
Psikologi warna memberikan makna menyenangkan pada warna pink. Hal ini terkait dengan perasaan gembira dan bahagia. Warna pink juga diketahui memiliki pengaruh emosional yang cukup kuat untuk mendatangkan nuansa menyenangkan.
Warna pink identik dengan feminitas sehingga kerap dikaitkan dengan perempuan, warna pink mampu memberikan kesan feminim dan bersemangat sehingga tidak jarang diasosiasikan dalam berbagai pernak-pernik perempuan seperti halnya lipstik, fashion item, aksesori dan lain sebagainya.
Siapa sangka bahwa warna pink ternyata juga bisa merepresentasikan sesuatu yang kekanak-kanakan. Hal ini tampaknya memang cukup bisa diterima karena warna pink kerap diasosiasikan dengan kesukaan anak-anak perempuan. Mulai dari mainan, pakaian hingga aksesori anak perempuan tidak jarang ditemukan warna pink.
Hal ini semakin melekat, kala orang tua turut mengambil peran untuk memilihkan warna pada anak. Tidak jarang, orang tua yang memiliki anak perempuan memilih untuk memakaikan warna pink dalam setiap item fashion anak mereka. Bahkan sejak lahir pun, bayi perempuan banyak yang sudah diberi penanda dengan pernak pernik warna pink.
Rifki ingin sekali tertawa ketika melihat Nadhira yang memang sengaja dipilihkan warna pink oleh pelayan yang ada ditoko tersebut, dari sikap Nadhira sehari hari, warna pink tidaklah sesuai dengan Nadhira.
"Pink?". Beo Nadhira.
"Aku tidak menyangka kau benar benar seorang wanita Dhira". Ucap Rifki terkagum kagum.
"Emang selama ini aku bukan wanita?". Tanya Nadhira dengan bengongnya.
"Bukan begitu maksudku, aku tidak menyangka kau juga menyukai warna pink, kau bahkan menyukai perkelahian dan tidak pernah memakai riasan wajah".
"Bagaimana kau tau kalau aku menyukai perkelahian, kau sendiri bahkan tidak pernah melihatku berkelahi".
"Emang kau fikir aku tidak tau Dhira? Malam malam kau menelfonku hanya untuk menyuruhku kekantor polisi dengan para perampok itu, jika bukan perbuatanmu, perbuatan siapa lagi itu?". Jawab Rifki sambil mengingatkan Nadhira tentang malam itu.
"Kan hanya sekali". Ucap Nadhira sambil mengigit bibir bawahnya sendiri karena malu kepada Rifki.
"Lalu bagaimana dengan pencopet itu yang kau temui dipasar? Jangan bilang ada orang lain yang dengan sengaja memukulinya".
"Kenapa kau masih mengingat hal itu sih Rif, bagaimana kau bisa tau tentang hal itu?". Tanya Nadhira dengan memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Apa kau lupa dengan anggota rahasia dari Surya Jayantara? Bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya Nadhira?". Tanya Rifki balik kepada Nadhira.
"Apa kau memerintahkan mereka untuk mengawasiku? Kenapa kau lakukan itu?".
"Sebenarnya aku tidak meminta mereka untuk mengawasimu Dhira, mereka hanya kebetulan saja ada disitu, sebenarnya aku juga menugaskan mereka untuk menangkap para pencopet yang meresahkan pasar itu, eh ngak taunya kau yang sudah membuat mereka babak belur".
*Flash back on*
Pada suatu hari, Rifki sedang berkunjung ke tempat dimana Surya Jayantara berada dengan diam diam bersama dengan Kakeknya dan hanya orang orang tertentu saja yang mengenali sosok Rifki yang ikut serta dalam berkunjung ketempat itu.
Rifki dan Kakeknya tengah duduk disebuah ruangan yang kedap akan suara, saat itu Rifki masih belajar bagaimana caranya untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dengan bimbingan dari Kakeknya.
Tiba tiba datanglah beberapa anak buah Rifki masuk kedalam ruangan itu dengan membawa dua orang anak yang wajahnya sudah terlihat babak belur, hal itu membuat Rifki segera berdiri dari tempat duduknya dan mendatangi mereka.
"Apa yang terjadi?". Tanya Rifki kepada mereka.
Mereka adalah anak anak dari pelatihan Gengcobra yang dididik oleh Aryabima, bisa dikatakan mereka masih pemula dan belum mendalami ilmu beladiri akan tetapi mereka digiring masuk ketempat itu dengan wajah yang sudah terlihat memarnya.
"Maaf Tuan, ada beberapa pereman yang telah memukuli kami tanpa ampun, untung saja kami masih bisa untuk melarikan diri dari kejaran mereka". Jawab anak itu yang tertunduk dihadapan Aryabima.
"Pereman apa yang kalian maksud itu?". Tanya Aryabima dengan keheranan.
"Kami tadi berniat untuk menolong seorang ibu ibu yang sedang kecopetan, tapi tidak disangka pereman itu begitu kuatnya dan dia sama sekali tidak memiliki keraguan untuk dapat melukai lawannya, beruntung sekali kami bertemu dengan mereka". Anak itu menunjuk kearah anak buah Rifki.
"Kakek bukankah itu sangat berbahaya jika dibiarkan terus menerus seperti ini? Dan anak buah kita juga bisa menjadi korbannya apalagi penghuni di Surya Jayantara kebanyakan adalah seorang wanita". Ucap Rifki dengan khawatirnya.
"Kau benar Nak, lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?". Tanya Aryabima.
"Aku akan menyuruh anak buahku yang begitu ahli beladiri untuk menjaga tempat itu". Saran Rifki.
"Dan kalian berdua tunjukkan kepadaku tempat dimana kalian dihajar sebelumnya". Ucap Rifki sambil menunjuk kearah kedua orang yang tengah babak belur itu.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu Nak?". Tanya Aryabima kepada keyakinan Rifki.
"Iya Kakek, aku sangat yakin untuk hal itu".
"Baiklah kau begitu, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan".
"Terima kasih Kakek".
Rifki segera memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi tempat yang telah ditunjukkan itu, Rifki terus menunggu perkembangan dari usaha yang ia lakukan itu, beberapa hari kemudian pencopet itu mulai beraksi dan salah satu anak buah Rifki memberitahukan hal itu kepada Rifki.
"Bos, pencopet itu telah berulah kembali". Ucap anak buah Rifki melalui ponselnya.
"Baiklah tangkap mereka". Perintah Rifki.
Rifki yang mendengar kabar itu segera bergegas menuju ketempat itu menggunakan sepeda motor kesayangannya, akan tetapi ketika baru setengah perjalanan anak buah Rifki mulai menghubungi Rifki kembali sehingga nembuat Rifki menghentikan sepedah motornya itu.
"Ada apa?". Ucap Rifki dalam telfonnya.
"Ada seorang gadis yang berhasil membuat copet itu jatuh tersungkur, dan sekarang beberapa anak buah yang lainnya sudah menangkapnya dan membawa mereka kekantor polisis".
Entah gadis mana yang mampu bertindak gegabah seperti itu, biar bagaimanapun dia adalah seorang wanita jika dirinya seorang diri melawan seorang pria yang tidak memiliki perasaan dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang pria itu inginkan seperti itu mungkin saja gadis itu nantinya akan dilecehkan oleh mereka terlebih dahulu sebelum dibunuh.
Gadis mana yang akan berbuat sesembrono itu, apakah orang tuanya tidak mencegahnya telebih dahulu atau bagaimana, hal itu membuat Rifki berdecak kesal karena tindakan gadis itu yang mampu membahayakan nyawanya sendiri meskipun Rifki sama sekali tidak mengenali gadis yang dimaksud oleh anak buahnya itu.
"Apa? Bagaimana bisa seorang gadis mengalahkan mereka, sementara yang ahli beladiri tidak mampu melakukan itu". Ucap Rifki dengan terkejutnya.
"Saya juga tidak tau Bos, gadis itu seakan akan sedang kerasukan sesuatu sehingga membuatnya begitu agresif untuk menyerang pencopet itu".
__ADS_1
"Kerasukan? Apakah gadis itu memiliki khodam pelindung atau bagaimana?".
"Menurut saya, gadis itu bukanlah gadis biasa Bos, bagaimana bisa seorang gadis biasa mampu melawan pencopet yang tidak punya perasaan seperti itu, apalagi gadis itu sudah terluka saat ini".
"Apa kau memiliki foto gadis itu?". Tanya Rifki.
Rifki merasa sangat penasaran dengan gadis yang dimaksud oleh anak buahnya itu, entah gadis mana yang mampu mengalahkan para pencopet itu dalam keadaan kerasukan seperti itu.
"Sebelum gadis itu pergi, saya sempat memotretnya Bos, saya akan kirim foto tersebut kepada anda".
"Baiklah saya tunggu".
Tut.. tut.. klunting...
Rifki segera mematikan telfon itu, tak beberapa lama kemudian sebuah pesan terkirim dihpnya, Rifki segera melihat pesan itu dan terlihat bahwa anak bauhnya telah mengirim foto gadis yang membuatnya penasaran itu.
Rifki segera membuka file itu, ia tidak menyangka bahwa gadis yang ada didalam foto itu adalah sahabatnya sendiri yakni Nadhira yang baru saja keluar dari rumah sakit karena luka tusukan yang ada didalam perutnya itu.
"Hah! Gadis itu adalah Nadhira, bagaimana bisa gadis ini bertindak sembrono seperti itu? Nadhira bahkan masih terluka saat ini". Ucap Rifki dengan terkejutnya.
Rifki begitu terkejut ketika foto Nadhira yang tergambar difile yang ada dihpnya itu, apalagi dengan adanya noda darah diwajah cantik Nadhira yang membuatnya semakin panik.
Pada saat itu, Nadhira masih memiliki luka jahitan karena luka tusukan yang ada diperutnya, Rifki segera memerintahkan anak buahnya untuk melihat kondisi Nadhira, dan ia merasa lega ketika mengetahui bahwa Nadhira baik baik saja.
"Anak ini, bagaimana bisa dia bertarung dalam keadaan seperti ini, nekat sekali dirinya, bagaimana kalau luka jahitannya robek lagi". Ucap Rifki dengan geramnya atas hal yang telah dilakukan oleh Nadhira.
Rifki segera melajukan kembali sepedah motornya kearah pasar untuk melihat langsung keadaan Nadhira, akan tetapi ketika dirinya sampai dipasar itu, Nadhira sudah pergi dari tempat itu entah kemana, anak buahnya juga tidak melihat hal itu.
"Maaf Bos gadis itu sudah pergi beberapa menit yang lalu, dengan seorang wanita, mungkin wanita itu adalah Ibunya". Ucap anak buah rahasia Rifki.
"Kemana perginya mereka?". Tanya Rifki ketika sampai ditempat tujuannya.
"Saya juga tidak tau Bos, tadinya gadis itu juga bersilisih dengan pemilik warung itu". Anak buahnya menunjuk kearah sebuah warung yang tidak jauh darinya.
"Kenapa lagi?"
"Karena dirinya membela seorang pengemis kecil yang meminta makan kepada penjual yang ada diwarung itu, apa Bos mengenali gadis itu?".
"Iya aku nengenalinya, gadis ini benar benar bermain main dengan nyawanya sendiri, apakah dia tidak bisa berpikir bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan dirinya sendiri, ceroboh sekali dia". Ucap Rifki dengan kesalnya.
Rifki segera bergegas meninggalkan tempat itu, tidak ada gunanya lagi dirinya masih tetap disitu, lagian Nadhira sudah pergi dari tempat itu, entah pergi kemana dirinya saat ini.
*Flash back off*
Nadhira merasa malu dihadapan Rifki ketika Rifki menceritakan hal itu kepada Nadhira, karena dirinya ketahuan oleh Rifki bahwa dirinya sangat menyukai perkelahian daripada bersikap seolah olah seperti seorang wanita pada umumnya.
"Kau tau, ketika aku mengetahui bahwa kau telah bertarung dengan pencopet itu, rasanya aku ingin mengurung dirimu Dhira". Ucap Rifki setelah bercerita kepada Nadhira.
"Aku tidak tau kenapa aku begitu emosional waktu itu Rif, tanpa berpikir panjang aku segera mengejarnya untuk mendapatkan tas itu kembali".
"Aku tau Dhira, tapi apa kau Juga tau bahwa tindakanmu yang ceroboh itu, bisa saja merenggut nyawamu dengan mudahnya". Ucap Rifki dengan gemasnya kepada Nadhira.
"Kenapa kau jadi marah kepadaku saat ini? Bukankah kau telah melihatnya sendiri bahwa aku telah baik baik saja saat ini?".
"Jangan lakukan hal itu lagi, apapun yang terjadi nantinya jangan bertindak bodoh seperti ini, yang dapat membahayakan dirimu sendiri, aku tidak ingin kau kenapa kenapa selama aku tidak ada disampingmu". Ucap Rifki dengan seriusnya.
"Kau tidak perlu cemas, aku tidak akan mati dengan mudahnya, aku bisa menjaga diriku sendiri".
"Meskipun begitu Nadhira, perlu kau ketahui bahwa malaikat maut selalu mencabut nyawa manusia tanpa berpikir ataupun bernegosiasi dulu".
__ADS_1
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...