
Suatu haris seorang gadis sedang berjalan jalan sendirian, gadis itu berlari kecil dengan riangnya seakan akan tiada beban yang ia pikul, tanpa ia sadari banyak mata yang telah tertuju kepadanya.
Tanpa gadis itu sadari ada sekumpulan orang yang tengah menatapnya dan sambil mengawasi setiap gerakan yang dilakukan oleh sang gadis, sekumpulan itu dipimpin oleh satu orang gadis yang usianya masih sama dengan gadis yang berjalan dengan sendirinya.
"Bos, menurut pengamatan kami, gadis itu adalah adik dari musuh bos". Ucap seseorang yang tengah berada disebelah gadis yang menjadi pemimpin itu.
"Oh jadi itu orangnya". Dapat telihat sebuah senyuman tercipta diwajahnya.
Gadis yang menjadi pemimpin itu segera mendekat kearah gadis yang tengah berjalan sendiri itu, ia juga memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengepung agar gadis yang mereka maksud tidak berani kabur.
"Siapa kalian!!!". Teriak gadis yang dikepung.
"Perkenalkan namaku Clara". Dengan mudahnya gadis yang menjadi pemimpin itu menyebutkan namanya.
"Aku ngak kenal sama kamu!! Lepaskan aku, aku mau pulang!!".
"Kau tidak kenal aku, tetapi aku adalah musuh dari kakakmu, Nadhira!!".
"Nadhira musuhmu? Baguslah".
Gadis itu tidak lain adalah Amanda yang sedang bosan dirumah dan memutuskan untuk jalan jalan seorang diri mencari suasana, setelah mendengar bahwa gadis yang menyebutkan namanya sebagai Clara dan memiliki dendam kepada Nadhira, membuatnya senang, biar bagaimanapun Amanda begitu sangat membenci Nadhira.
Setelah Clara menyebutkan bahwa Nadhira adalah musuhnya kepada Amanda, ia dapat melihat ekspresi wajah acuh tak acuh yang tercipta diwajah Amanda, Amanda tidak mempedulikan apa yang Clara katakan, karena apapun yang akan Clara lakukan ia tidak akan merasa keberatan dengan itu.
Clara tersenyum kearah Amanda. "Sepertinya aku lihat hubungan kalian berdua memang tidak begitu baik, emm cukup menarik... Bagaimana kalo kamu masuk kedalam gengku? Dan bekerja sama untuk menghancurkan Nadhira".
"Tidak, apa keuntungannya bagiku?". Jawab Amanda dengan cueknya sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Tentu saja ada, anak buahku akan selalu melindungimu, dan kita akan bersenang senang, melihat Nadhira menderita".
"Em... Kedengarannya menarik, biar aku pikir pikir dulu mengenai itu, tapi kalian harus melakukan sesuatu dulu untukku".
"Apa itu?".
"Memisahkan Nadhira dari orang yang ia cintai, yakni Rifki, aku tidak suka melihat Nadhira bahagia dengan lelaki itu".
"Ah.. Rifki, sudah lama aku juga menginginkan hal itu, baiklah aku akan berusaha untuk melakukannya".
Melihat Clara menyetujui apa yang Amanda inginkan, Amanda juga menyetujui bahwa ia akan bergabung dalam geng milik Clara untuk menghancurkan hidup Nadhira, didalam hatinya hanya ada kebencian terhadap Nadhira seorang.
Bukan hanya Nadhira yang telah merebut kasih sayang ayahnya tetapi Nadhira juga telah berani bersekongkol untuk menculiknya waktu itu, meskipun Nadhira telah menjelaskan bahwa bukan dirinya lah yang menculik Amanda tetapi Amanda sama sekali tidak mempercayainya.
Bukan hanya hal itu, tetapi Amanda sangat tidak menyukai bahwa Nadhira selalu dilindungi oleh Rifki, biar bagaimanapun Amanda masih memiliki perasaan kepada Rifki yang begitu dalam, ia tidak rela apabila Nadhira lah yang akan mendapatkan kasih sayang sebesar itu dari Rifki.
Ini adalah kesempatan yang bagus untuk membuat Nadhira menderita pikirnya, dan bergabung dalam geng Clara agar mampu menarik perhatian Rifki bahwa Amanda lebih baik daripada Nadhira.
"Malam ini datanglah kemarkas ku ......". Clara menjelaskan kepada Amanda tentang dimana markasnya berada dan menyuruh Amanda untuk datang kemarkas itu.
"Baiklah".
*****
Malam pun tiba, Amanda segera bersiap untuk bertemu dengan Clara dimarkasnya, setelah semuanya rapi Amanda segera bergegas pergi dari rumah dengan diam diam tanpa sepengetahuan dari kedua orang tuanya.
Alangkah disayangkannya ketika ia hendak melewati gerbang rumahnya, ia bertemu dengan Nadhira yang sedang berada disana, melihat pakaian Amanda yang begitu rapinya membuat Nadhira bergegas mendatanginya.
"Kamu mau kemana Manda? ini sudah malam, ngak baik kalo anak gadis keluar malam malam dijam seperti ini, apalagi sendirian seperti itu". Tegur Nadhira.
__ADS_1
"Bukan urusanmu!!". Bentak Amanda.
"Emang kamu mau kemana? Biar aku antar".
"Dhira!!!". Amanda menambah folume suaranya kepada Nadhira. "Urus saja urusanmu sendiri!! jangan urusi hidup orang!!".
"Ya Allah Manda, aku hanya menghawatirkanmu, bagaimana kalo kamu digangguin orang dijalan?".
"BERISIK!!!".
Suara Manda masih meninggi didepan Nadhira, ia sama sekali tidak mempedulikan kekhawatiran Nadhira, ketika Nadhira menghalangi langkah Amanda dengan segera Amanda mendorong Nadhira hingga terjatuh ditanah.
"Akh... Apa yang kau lakukan Manda!!". Nadhira dengan sesegera mungkin berdiri dan mengibas ngibaskan bajunya yang telah belepotan dengan tanah.
Amanda segera berlari menjauhi Nadhira, dan ia segera bersembunyi untuk menghindari kejaran Nadhira, ketika Nadhira mulai kehilangan jejaknya, Amanda segera pergi dari tempat itu dan masuk kedalam sebuah angkutan umum, didalam angkutan umum tersebut terdapat 3 orang pria dewasa yang tengah duduk didalam dan satu orang yang misterius duduk dipaling belakang, orang itu masuk bersama dengan Amanda tetapi Amanda sama sekali tidak merasakan kehadirannya.
Para pria itu menatap kearah Amanda dengan tatapan yang berbeda beda, mereka begitu tertarik kepada penampilan Amanda saat ini, yang menurut mereka begitu menggoda, karena dijam seperti ini jarang ada seorang gadis yang berani naik keangkot dengan sendirinya.
"Hay neng, mau kemana?". Goda salah satu pria itu.
"Bukan urusanmu!!". Jawab Amanda dengan ketusnya.
"Aihh... Cantik cantik galak juga nih cewek, main sama om yuk, kamu pasti suka". Ucap pria itu sambil menjilat bibirnya.
"Eh Jon bagi bagi dong". Tegur salah satu dari mereka.
"Enak aja ini bagian gua". Ucap pria yang dipanggil Jon tersebut.
Ketiga Pria itu segera menggoda Amanda, dan sesekali memegang tangan Amanda, yang membuat Amanda terus berusaha melepaskan pegangan itu sambil berteria, sementara sopir angkot itu tidak bisa berbuat apa apa, karena salah satu dari mereka menyodorkan pisau dileher sang sopir.
"Lepaskan!! akan ku laporkan kalian kepolisi!!".
Seseorang yang misterius itu menutup kepalanya dengan masker dan topi, tetapi orang itu menatap tajam kearah Amanda yang tengah digoda oleh ketiga pria hidung belang itu, situasi didalam angkot itu tidak menguntungkannya sama sekali, jika untuk bertarung didalamnya ia tidak akan mampu melakukan itu.
Orang misterius itu tetap diam meskipun Amanda berteriak, ia tidak akan bertindak gegabah apalagi untuk menghadapi ketiga pria itu seorang diri, apalagi itu akan membahayakan sopir angkot itu, karena adanya pisau yang berada disebelah leher sang sopir.
"Jangan!!! Jangan kurang ajar kau ya!!".
Ketika salah satu dari ketiga orang itu hendak menarik baju Amanda, orang misterius itu segera bangkit dan memegang tangan pria itu dengan eratnya, orang misterius itu memberikan tatapan yang begitu tajam kepada pria itu.
"Jika berani melakukan itu, hadapi aku terlebih dahulu!!!". Ucap orang misterius itu dengan suara yang dibuat berat seakan akan seperti seorang pria.
Jon yang merasakan tangannya dipegang seseorang segera menoleh kearah orang itu, dari tangannya saja Jon dapat mengetahui bahwa itu adalah tangan seorang gadis, dan juga lembutnya tangan itu dapat Jon ketahui bahwa gadis itu begitu cantik dan lebih menarik daripada gadis yang ingin ia mainkan.
"Siapa kau?". Tanya Jon kepada orang misterius itu yang tengah memegang tangannya saat ini.
"Hentikan mobilnya, ayo kita bermain diluar, siapa yang menang akan membawa gadis ini". Tawar orang misterius itu.
"Ah... Aku paling tidak suka dengan kekerasan, bagaimana kalo kau ikut kami untuk menikmati gadis ini hingga puas? Bagaimana?". Bujuk Jon. "Atau kau juga ikut bermain bersama kami?".
Orang misterius itu tertawa dibalik maskernya tetapi masih dapat dilihat dari kedua matanya bahwa orang itu tengah tersenyum kearah pria itu, mata yang indah dapat terlihat dengan jelas oleh mereka, sementara Amanda masih menunduk dan merangkul tubuhnya sendiri karena ia begitu ketakutan.
Tanpa aba aba tangan dari orang misterius itu segera menarik tangan Jon, hingga Jon terjatuh keluar dari angkot tersebut, jatuhnya Jon dari dalam angkot membuat kedua temannya begiti terkejut, dan segera menoleh kearah dimana sosok misterius itu tengah duduk saat ini.
Melihat temannya yang terjatuh, salah satu pria segera menarik pisaunya dari leher sang sopir kearah dimana orang misterius itu berada, ia juga meminta sopir itu untuk menghentikan angkutan umum tersebut.
"Gimana? masih mau bermain?". Tanya orang misterius itu.
__ADS_1
Salah satu dari mereka mendorong tubuh orang misterius itu keluar dari angkot dan segera menyusul, tetapi orang yang masih memegang pisau itu masih tetap menjadikan Amanda sebagai tawanannya.
Sosok misterius itu menatap kearah Jon yang tengah bangkit dan berlari dengan pincang kearahnya dengan noda darah yang ada dipipinya karena terjatuh dari angkot cukup keras, tanpa orang misterius itu sangka orang yang tadi telah menjatuhkannya dari angkot segera menyerangnya dengan tiba tiba.
Tetapi tanpa disangka orang misterius itu telah mengeluarkan benda yang berbentuk silinder seperti tabung yang kecil dari balik jaketnya, ia segera menekan tombol yang ada di silinder itu hingga menciptakan sebuah tongkat yang cukup panjang untuk menghadapi mereka.
"Haha.. hanya itu senjatamu? lihatlah senjata yang ku punya". Orang itu segera mungkin menarik goloknya yang tersarung rapi dipinggang dan mengarahkannya kepada sosok misterius itu.
"Bagiku ini sudah cukup untuk menghadapi kalian berdua".
Tanpa aba aba sosok misterius itu segera menyerang kearah keduanya hingga membuat keduanya kewalahan karena dengan cepat sosok itu mampu menahan setiap serangan yang mereka lontarkan.
Tongkat yang ada ditangannya begitu kuat karena terbuat dari besi pilihan yang telah diberikan oleh seseorang kepadanya, tongkat itu begitu berharga bagi sosok tersebut, setelah beberapa lama perkelahian itu, akhirnya kedua pria itu kalah karena senjatanya terlempar jauh setelah sosok tersebut menggerakkan tongkatnya untuk menangkis setiap serangan.
Melihat kedua temannya kalah, sosok yang ada didalam tersebut segera menggerakkan Amanda untuk berjalan keluar dari angkot itu, dan menjadikan Amanda sebagai sandera, ia juga menodongkan senjatanya kepada Amanda.
"Menyerahlah, atau gadis ini akan ku bunuh!!". Ancam dari pria itu kepada sosok misterius tersebut.
"Emang aku peduli?".
Pernyataan itu membuat sang pria gelagapan, karena hanya dirinyalah yang memiliki ilmu beladiri paling rendah daripada kedua temannya itu, ia tidak punya pilihan lain selain mengancam sosok misterius itu dengan mempertaruhkan nyawa dari gadis yang ada ditangannya saat ini.
Tetapi pernyataan yang dilontarkannya itu membuatnya pupus harapan, biar bagaimanapun ia tidak akan bisa selamat dari orang orang seperti sosok misterius itu yang begitu ahli dalam dunia beladiri.
"Tolong aku". Ucap Amanda dengan lirihnya.
"Urus saja urusanmu sendiri, aku tidak mau ikut campur dalam urusan orang lain". Tegas sosok misterius itu kepada Amanda.
Amanda seketika teringat ucapannya kepada Nadhira karena sosok misterius itu mengatakan hal seperti itu kepadanya, bukannya menolongnya justru sosok itu begitu tidak peduli dengan nyawanya, dia bahkan tega mengatakan hal itu kepada Amanda.
Sang sopir tersebut segera membantu sosok misterius itu untuk mengikat kedua orang yang berhasil ia kalahkan setelah mengetahui isyarat yang diberikan kepadanya oleh sosok misterius itu, dan memasukkannya kedalam angkotnya untuk dibawa kekantor polisi.
"Jadi gimana? Menyerah atau melanjutkan perkelahian? Karena aku lebih suka berkelahi bagaimana kalo kamu menyerah saja?". Tawar orang misterius itu kepada pria yang tengah menyandera Amanda.
"Cih.. pilihan macam apa itu".
"Ow.. jadi kau masih mau berkelahi denganku, baiklah akan ku ladeni dirimu".
Sosok misterius itu berjalan mendekatinya dengan langkah yang terlihat begitu menyeramkan menurut pria itu, ia pun tidak ada pilihan lain, ia segera membawa Amanda mundur secara perlahan bersama dengannya, sosok misterius itu sama sekali tidak mempedulikan Amanda yang tengah ketakutan.
"Ah lucu sekali, boleh aku bantu? biar sedikit ada suasana mencengkeramnya juga.. haha....". Tawa sosok yang berada didekat orang misterius itu.
"Lakukanlah". Ucap sosok tersebut dengan santainya.
Tiba tiba pria itu merasakan ada seseorang yang tengah memegangi tangan dengan begitu eratnya, tetapi pria itu sama sekali tidak bisa melihatnya, hal itu membuat pria itu segera melepaskan pegangan tangannya dari tubuh Amanda, melihat adanya peluang membuat Amanda segera berlari dari tepat itu menuju kearah rumahnya tanpa berterima kasih kepada sosok misterius itu yang diam diam membantunya.
Melihat Amanda yang berlari ketakutan seperti itu, membuat sosok tersebut segera melumpuhkan pria tersebut dengan beberapa serangan kepada pria itu, setelah itu sosok misterius itu memasukkan kedalam angkot tak lupa dirinya juga telah mengikatkannya dengan kuat.
"Terima kasih dek sudah menolongku". Ucap sang sopir dengan kagumnya.
Sosok misterius itu segera membuka maskernya dan topinya, dari balik masker tersebut terlihat wajah seorang gadis yang tengah menyamar ia juga melepaskan kuncir rambutnya hingga terlihat memiliki rambut yang panjangnya sepinggang.
Gadis itu begitu cantiknya, setelah itu ia mengikat rambutnya seperti biasa, terlihat wajahnya cukup banyak mengeluarkan keringat setelah berkelahi dengan para pria itu, gadis itu tidak lain adalah Nadhira.
"Sudah kewajibanku pak, perempuan yang tadi adalah adik tiriku, aku hanya bisa melindunginya dengan diam diam, jadi bapak tidak perlu sesungkan seperti itu kepadaku". Ucap Nadhira dengan tulusnya.
Setelah Nadhira kehilangan jejak Amanda, Nadhira segera mencari dimana Amanda akan berlari, untuk menyamarkan dirinya Nadhira mengambil topi dan juga jaketnya dikotak rahasia terdekat dari gerbang rumahnya, ia sengaja membuat itu untuk dirinya ketika diperlukan dengan tiba tiba.
__ADS_1
Nadhira terus mencari dimana keberadaan Amanda, hingga Nadhira melihat Amanda sedang memasuki angkutan umum ketika malam hari, karena curiganya hal itu membuat Nadhira segera mengikutinya.