
Kekecewaan dan kesedihan bercampur menjadi satu, ia ingin marah tetapi marah kepada siapa? Siapa yang salah? Dan siapa yang membuatnya salah? Hatinya bagaikan disayat sayat tanpa belas kasih.
Luka tak berdarah justru lebih menyakitkan, batinnya begitu terluka. Yang ada difikirannya hanyalah kenapa aku diselamatkan? Seakan akan dunia ini sudah tak berarti baginya, matanya terlihat begitu sayup dan cahayanya meredup.
Ia menatap selang infus yang mengarah kepada tangan kirinya, dan memejamkan kedua matanya. Apa yang harus ia lakukan kedepannya? Takdir siapa yang tau. Ketika ia membuka matanya ia berharap semuanya akan baik-baik saja.
Hanya sebuah harapan tanpa tindakan hanyalah sia sia baginya, Nadhira membuka matanya kembali dan menatap sosok Rifki yang duduk disebelahnya.
"Akh". Nadhira mencoba bangkit.
"Nadhira apa yang kamu lakukan? Lukamu belum sembuh". Rifki begitu khawatir dan mencegah Nadhira untuk bangkit.
"Sebegitu lemahkah tubuhku saat ini, hingga aku tidak bisa melakukan apapun untuk keluargaku, Rif... Hiks... Hiks... Apakah papa sebegitu bencinya kepadaku hingga ia tidak berada disisiku saat ini?".
"Jangan berfikir seperti itu Nadhira, ini masih malam sebentar lagi matahari akan terbit papamu masih tidur, besok pagi pasti akan menjengukmu, istirahatlah, kamu butuh banyak istirahat untuk sementara waktu".
"Baiklah, apa kamu tidak tidur semalaman? Mengapa matamu terlihat bengkak?". Tanya Nadhira ketika melihat wajah Rifki. "Rif kamu harus memikirkan sekolahmu, bagaimana kalau pelajaranmu terganggu gara gara menjagaku disini?"
"Tidak perlu menghawatirkanku Nadhira, aku sudah terbiasa seperti ini, oh iya Nadhira besok lusa Ujian Nasional, aku sudah meminta izin kepada pihak sekolah bahwa kamu boleh mengikuti ujian dirumah sakit".
"Terima kasih Rif"
"Untuk apa? Bukankah seharusnya sesama sahabat saling membantu?". Rifki tersenyum mendengar ucapan terimakasih dari Nadhira.
Cahaya pagi mulai menyinari ruangan dimana Nadhira dirawat, beberapa perawat masuk keruang inap Nadhira untuk memeriksanya dan membawakannya beberapa obat untuk diminum, mereka juga menyuntikkan cairan pada selang infus ditangan Nadhira.
Rifki pergi kekamar mandi untuk mandi dan membasuh mukanya, setelah kepergian para perawat tersebut datanglah Bi Ira sambil membawa kota makan untuk Nadhira.
"Pagi non". Sapa bi Ira.
"Pagi juga bi".
"Gimana kabarnya non? Bibi baru dengar kalo non Dhira baru sadar, jadi bibi segera bergegas kemari".
"Alhamdulillah seperti yang bibi lihat, oh iya papa ngak ikut kemari bi?".
__ADS_1
"Tuan keluar kota non, katanya ada tugas penting".
"Kenapa tiba tiba keluar kota disaat seperti ini bi?". Nadhira tersenyum tetapi dihatinya ia begitu sedih. "Mungkin urusannya begitu penting, demi menghidupi keluarganya".
Tanpa Nadhira sadari bahwa Rifki sedang mendengarkan percakapannya dengan bi Ira dari dalam kamar mandi yang ada diruang dimana Nadhira dirawat, Rifki ingin sekali marah atas tindakan dari ayah kandung Nadhira. Ia mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Reno tentang kejadian dimana keluarga Nadhira datang dan hampir membuat keributan dirumah sakit.
Rifki keluar dari kamar mandi ketika bi Ira sedang menyuapi Nadhira, melihat Nadhira bisa tertawa didepan pembantunya membuat Rifki ikut tersenyum karenanya.
"Bi ira sudah datang ya, kalo gitu aku berangkat kesekolah dulu ya bi". Sapa Rifki
"Ngak makan dulu Rif?" Tanya Nadhira.
"Ayo makan dulu mas, bibi tadi udah bawain mas Rifki nasi juga". Bi Ira mengambil sekotak nasi dan menyodorkannya kepada Rifki.
"Wah aku dapat bagian juga hehe... Makasih ya bi, maaf ngak bisa ikut makan bersama, oh iya bi ini aku bawa kesekolah ya bi untuk bekal". Ucap Rifki sambil mengangkat sekotak bekal yang ada ditangannya.
"Iya mas silahkan".
"Hati hati dijalan Rif, belajar yang bener biar nilainya bagus". Nadhira tersenyum kearah Rifki.
"Da... Juga".
Rifki bergegas pergi dari ruangan tersebut, beberapa kali ia mencium aroma masakan dari bi Ira membuatnya hampir meneteskan air liurnya, Ia tidak sabar ingin segera sampai kesekolah dan menikmati masakan tersebut.
"Rif". Panggil Raka.
Rifki yang mendengar panggilan tersebut segera menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Raka berada. Rifki melirik kearahnya, sementara yang dilirik menoleh kekanan dan kekiri.
"Ada apa?". Tanya Rifki.
"Apa kamu tidak merasakan sesuatu?"
"Maksudmu?".
"Ya semacam energi negatif dipancarkan dari tubuh temanmu itu".
__ADS_1
"Tidak, aku tidak merasakan adanya hal yang ganjil dari tubuhnya, mungkin energi yang aku rasakan waktu dulu sudah hilang".
"Bagaimana mungkin bisa hilang secepat itu, dan kenapa hanya aku yang masih merasakan hal yang aneh".
"Sudahlah nanti saja dibahas lagi, bisa bisa aku ketinggalan pelajaran gara gara kamu".
Rifki segera bergegas menuju rumahnya untuk mengganti pakaian dan mengambil tasnya, sementara diruangan inap Nadhira kini hanya tinggal bi Ira seorang. Setelah selesai makan dan minum obat Nadhira kembali membaringkan tubuhnya dengan dibantu oleh bi Ira.
"Bi selama aku tidak sadarkan diri apakah papa pernah datang kemari?". Tanya Nadhira yang tiba tiba.
"Pernah non, ketika non Dhira dinyatakan tidak terselamatkan, nyonya dan non Manda juga datang menjenguk non Dhira".
"Apa yang terjadi setelah aku tidak sadarkan diri bi".
"Nyonya dan tuan merasa sangat khawatir dengan keadaan non Dhira, mereka terus berdoa agar non Dhira kembali sehat dan bisa berkumpul bersama".
"Benarkah bi?". Mata Nadhira berbinar binar mendengarnya.
"Benar non". Tersenyum kearah Nadhira. ****"Maaf non bibi berbohong seandainya non Dhira tau yang sebenarnya, hati non Dhira pasti akan sakit lagi, dan itu akan mempengaruhi proses penyembuhanmu". Batin bi Ira.
Nadhira tersenyum tetapi matanya mengeluarkan airmata, mulutnya tertawa namun hatinya menangis begitu kerasnya. Mulutnya terbuka tetapi tiada suara yang ia keluarkan, ia ingin terlihat bahagia didepan pembantunya.
***"Aku tau bibi sedang berbohong kepadaku saat ini, terima kasih karena mau merawatku, dan menyayangiku seperti anakmu sendiri". Batin Nadhira saat melihat bi Ira menunjukkan gerak gerik kebohongannya tanpa ia sadari.
"Bi ketika nyawaku tidak tertolong aku bermimpi bertemu dengan mama, aku bilang kepadanya aku ingin selalu bersamanya, dan dia bilang kepadaku bahwa perjalananku belum usai, dan mama akan selalu menungguku disana, mama memelukku dengan begitu eratnya dan sekarang aku tidak akan bisa merasakan pelukan itu lagi, aku hanya berharap ketika aku membuka mata semuanya akan baik-baik saja tetapi nyatanya siksaan itu belumlah berakhir,
kadang kala aku merasa begitu kesepian ditengah tengah keramaian, kasih sayang orang tua yang ku harapkan hanyalah sebuah mimpi yang tak mungkin jadi nyata". Ucap Nadhira begitu lirihnya tetapi masih bisa didengar oleh pembantunya.
"Non, yang sabar ya non, kamu tidak sendirian kok masih ada bibi, teman teman non juga, non jangan sedih lagi ya, kalo non sedih nanti bibi ikut sedih.... Non pernah bilang juga kalo non sedih nanti mama non juga ikut sedih, aku tau apa yang non rasakan saat ini, takdir mempermainkan kita".
Nadhira memaksakan untuk bangkit sambil memegangi perutnya yang terluka, karena ia memaksa membuat lukanya kembali terasa begitu sakit hingga mengeluarkan secerca darah dikasa balutannya.
"Akh ... "
"Non, apa yang non lakukan, kondisi non bisa memburuk".
__ADS_1
Bi Ira begitu terkejut dengan apa yang akan dilakukan oleh Nadhira dan membuatnya sampai mencucurkan air mata, mata Nadhira memerah karena menahan sakit yang ia rasakan. Nadhira tidak memperdulikan bahwa lukanya kembali berdarah, ia terus mencoba untuk bangkit.