
Nadhira terduduk digazebo rumahnya seorang diri, ia masih memikirkan apa yang telah terjadi kepadanya, dan apa yang telah dijelaskan oleh Rifki mengenai alam gaib, Ia masih tidak mempercayai adanya alam gaib, tetapi yang Rifki lakukan telah membuktikan bahwa memang adanya alam gaib.
Baru pertama kali Nadhira mengerti tentang alam gaib melalui buku yang ia baca, jika buku itu memang benar maka gadis berbaju merah yang telah mendatanginya pasti memiliki tujuan tertentu sehingga ia ingin merebut raganya darinya.
"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?".
Nadhira menyandarkan kepalanya kepada tangan kirinya, ia merasa begitu bimbang tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya, ia merasa takut bahwa tubunnya akan bertindak tanpa kemauannya. Akibat terlalu banyak berfikir membuat kepalanya begitu sakit, sehingga ia memutuskan untuk pergi kedanau untuk menenangkan dirinya.
Sesampainya disana, ia melihat bahwa Rifki telah berada didanau tersebut, Nadhira memandanginya dari kejauhan, ketika melihat Rifki yang terdiam ditepi danau membuatnya merasa damai, dan senyum kecil tercipta diwajahnya.
"Terima kasih atas semuanya Rif, dan maaf untuk segalanya".
Nadhira berjalan mendekatinya, dengan perlahan kakinya melangkah kearah dimana Rifki berada, setelahnya ia langsung duduk disebelah Rifki, sambil memandangi danau yang ada didepannya yang airnya begitu tenangnya.
"Disinilah kita bisa mendapatkan ketenangan". Ucap Rifki.
"Kau benar Rif, disini memang bisa membuat orang merasa tenang".
"Kamu kesini pasti masih kepikiran dengan alam gaib kan? kalau ada masalah ceritakan saja Dhira, aku pasti akan siap untuk mendengarkannya kapanpun dan dimanapun ketika kamu siap untuk bercerita kepadaku".
"iya Rif, kalau ada masalah pasti aku akan cerita kok".
"Kehidupan ini memang penuh dengan cobaan, dan seberapa kuatnya kita pasti memiliki titik terlemahnya sendiri, tidak ada manusia yang tidak memiliki kelemahan, tetapi kadang kala kelemahan itu mampu untuk membuat kita kuat".
"Kamu benar, tidak ada manusia yang tidak memiliki kelemahan". Nadhira tersenyum mendengar jawaban dari Rifki, baginya pasti ada cara untuk bisa menaklukkan dan mengalahkan wanita itu.
Nadhira terus berfikir bagaimana caranya dia untuk bisa mencegah hal itu terjadi, ia tidak ingin bahwa dirinyalah yang akan menjadi penyebab kematian semua orang yang berada didekatnya, bahkan ia tidak akan sanggup kehilangan sosok yang menurutnya sangat berarti haginya. Biar bagaimanapun hasilnya nanti, yang penting ia harus berusaha sekuat tenaga untuk mengubah takdirnya.
Rifki yang melihat Nadhira terdiam sambil terlihat sedikit tersenyum diwajahnya, membuat Rifki begitu yakin bahwa perkataannya adalah hal yang dibutuhkan oleh Nadhira, Rifki merasa curiga tentang apa yang terjadi kepada Nadhira belakangan ini karena menurutnya sikap Nadhira sedikit berbeda, Rifki menduga bahwa ini ada kaitannya dengan kejadian yang terjadi didesa Mawar Merah tersebut.
"Apa kamu baik baik saja Nadhira?". Tanya Rifki.
"Aku baik kok Rif, jangan terlalu khawatir, oh iya aku mau bilang kalau aku sudah diterima disekolah SMK Bunga Bangsa, kalau kamu gimana Rif?".
"Wah sama Dhira, selamat ya, kayaknya kita bakal jadi satu kelas deh, soalnya aku juga sudah diterima disana dan satu jurusan juga sama kamu".
"Benarkah?".
"iya, oh iya Susi juga sudah keterima disekolah farmasi, dia mengambil jurusan keperawatan, dan bayu juga keterima disekolah lain dalam bidang perkantoran".
"mungkin hanya aku yang ketinggalan berita". ucap Nadhira sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"mungkin seperti itu, mereka pasti sebentar lagi akan datang juga kemari, kalau dilihat lihat keduanya seperti pasangan sejati ya Dhira hehe".
"ya beginilah kalau dirinya sendiri tidak sadar atas ucapanya, emang hanya dia yang seperti itu?, kau pun sama Rif, dasar budak cinta". Gerutu Raka yang berada didekat Rifki.
__ADS_1
Rifki menghela nafas panjang mendengar gumanan Raka yang terus menerus ia ucapkan, seandainya Nadhira dapat mendengarnya mungkin Nadhira juga akan merasa malu dengan ucapan yang diucapkan oleh Rifki. terapi sayang sekali ia tidak mampu mendengar ucapan Raka.
Tak lama kemudian benar saja Susi dan Bayu datang secara bersamaan, keduanya segera mendatangi dimana Nadhira dan Rifki berada saat ini, untuk menikmati senja disore hari seperti biasanya. keempatnya saling bercanda satu sama lain, Nadhira merasa bahagia bisa bersama dengan mereka.
Waktu terus berjalan dan mereka pulang kerumah masing masing, diperjalanan Nadhira merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, kepalanya begitu pusing dan pandangannya tiba tiba menjadi kosong, nafasnya memburu dan keringat dingin bercucuran, Nadhira merasakan bahwa tubuhnya ingin diambil alih oleh wanita itu, sesampainya didepan rumahnya Nadhira sudah tidak sadarkan diri dan sekarang yang mengendalikan tubuhnya adalah wanita yang berbaju merah.
"Dari mana saja kamu!! jam segini baru pulang".
Tiba tiba dari kejauhan Sena berteriak kepada Nadhira yang tubuhnya telah dikendalikan oleh Nimas, Nadhira menatap Sena dengan begitu tajamnya, terlihat sebuah senyum kecil diwajah Nadhira. melihat Nadhira yang tersenyum tanpa rasa takut kepadanya, membuatnya segera bergegas mendatangi Nadhira.
Nadhira tetap pada posisinya dan tidak berbuah sama sekali, justru Nadhira berani mengangkat kepalanya seakan akan meremehkan orang yang ada didepannya saat ini, bagaimana tidak, selama ini Nadhira sangat patuh kepadanya karena ia selalu mengancam dengan mencipratkan air yang membuatnya merasa sakit jika berani melawannya.
"Bukan urusanmu!". Jawab Nimas yang mengendalikan tubuhnya.
"Oh.... kau mulai berani ya kepadaku, kau lupa aku bisa saja membunuhmu saat ini juga".
"Maka lakukanlah, aku sama sekali tidak takut kepadamu!".
Tanpa basa basi Nadhira segera meninggalkan tempat itu dan menuju kekamarnya, Sena yang melihat itu segera bergegas menyusulnya dan masuk kedalam kamar Nadhira, serta menguncinya dari dalam. Sena tidak lupa untuk selalu membawa air itu kemana pun ia pergi, untuk bisa mengendalikan Nadhira sesuai dengan keinginannya.
Melihat Sena ikut masuk kedalam kamarnya, Nimas hanya diam saja dan bergegas kekasurnya, Nimas segera duduk bersila diatasnya sambil memejamkan kedua matanya, Sena merasa aneh karena Nadhira tidak biasanya melakukan hal itu, ia segera mencipratkan air itu kepadanya, tetapi tidak ada perubahan sama sekali, Nadhira masih tetap diam tanpa bergerak.
"Bagaimana bisa!!". Teriak Sena.
"Kenapa kau heran begitu? bagaimana bisa air yang aku berikan kepadamu bisa berpengaruh kepadaku". jawab Nadhira sambil memejamkan matanya.
Nadhira segera bangkit dari duduk bersilanya dan segera berdiri dihadapan Sena, terlihat sebuah senyum kecil diwajahnya, Sena merasa bingung tentang sikap anak tirinya tersebut. ia termundur beberapa langkah.
"Tugasmu sudah selesai, sekarang giliranku, jangan pernah menghalangi apapun yang aku lakukan untuk kedepannya, ingat jangan pernah menyakiti anak ini dan membuatnya menderita, atau kau sendiri akan menanggung akibatnya, karena aku masih membutuhkan tubuh anak ini demi membalaskan dendam masalaluku kepada mereka yang telah membunuh seluruh keluargaku".
"Kau adalah iblis itu? kau sudah berhasil mengendalikannya, maka aku harap kau juga akan membalaskan dendamku".
"Jangan khawatir soal itu, aku datang hanya untuk memperingatkanmu jangan sampai merusak semua rencanaku, jika kau menekan batin anak ini, dan kalau ia sampai berbuat nekat untuk bunuh diri, maka kau yang pertama akan ku habisi dengan tangan anak ini".
"Jangan jangan, baiklah akan aku lakukan semua yang kau inginkan".
"sekarang pergilah dari sini, aku ingin meningkatkan kekuatanku".
"iya".
Sena segera bergegas keluar dari kamar Nadhira dengan rasa takut dihatinya dengan sosok yang ada didepannya. Nimas yang mengendalikan tubuh Nadhira segera bergegas kembali duduk bersila diatas kasurnya,
"Herman, kau telah mengorbankan nyawamu demi diriku agar aku mampu membalaskan dendamku, kenapa kau melakukan itu, bukankah diriku akan menjadi penyebab kematian keluargamu".
Nadhira kembali menejamkan kedua matanya dan mengatur pernafasannya, setelah lama Nadhira duduk bersila akhirnya dia membuka kembali kedua matanya dan berdiri dengan tatapan yang tidak bersahabat.
__ADS_1
"Darma aku datang!! aku akan memulai dari cucumu anak pertama dari anak keduamu, Bima".
Bima adalah anak pertama dari anak kedua Darma, karena anak pertama Darma yakni Herman telah meninggal karena mengorbankan nyawanya demi Nimas, Karena ambisinya untuk bisa membalaskan dendamnya membuat Herman mengeluarkan semua kekuatannya untuk membantu Nimas mencapai apa yang ia inginkan, sehingga ia kehabisan tenaga dan membuatnya tewas seketika.
Waktu itu hati Nimas merasa sangat terluka karena baginya Herman adalah orang yang paling ia cintai sebelum ia mengetahui bahwa Herman adalah anak dari musuhnya. Sejak kecil ia selalu menghabiskan waktunya untuk bermain dengan Herman. Herman sering berpergian keluar desa untuk berjelajah dan akhirnya berkenalan dengan Nimas.
Nimas beserta orang yang telah menolongnya tinggal diluar desa, lebih tepatnya ditengah tengah hutan untuk menghindari kecurigaan semua warga desa Mawar Merah bahwa cuci dari Setyo masih hidup dan akan kembali untuk membalaskan dendamnya.
Nadhira segera bergegas keluar rumahnya, ia berjalan cukup jauh dan sampailah disebuah rumah yang memiliki lantai dua, Nadhira tidak lupa memakai sebuah kain untuk menutupi wajahnya dari orang orang yang mengendalikan.
Tiba tiba angin berhembus kencang hingga menerbangkan daun daun yang berada disekitar Nadhira, lampu rumah tersebut tiba tiba berkedip kedip. Didalam rumah tersebut seorang pria paruh baya dan istrinya sedang duduk disebuah ruangan, tiba tiba lampu berkedip membuatnya menjadi waspada.
"Dia kembali untuk membalaskan dendamnya". ucap sang pria paruh baya.
"Ada apa pak? apa yang terjadi".
"buk dia datang, sudah waktunya kita akan berpisah, sebaiknya kau pergi dari sini beri tahu anak anak kita bahwa kejadian puluhan tahun lalu akan terulang kembali", nafas pria itu mulai memburu.
"tidak pak, sebaiknya kita hadapi bersama sama".
"kekuatannya begitu besar, kita tidak akan bisa untuk menandinginya, cepat buk, jangan sampai anak anak kita dalam bahaya hanya karena keegoisan kita".
Dengan berat hati wanita paruh baya tersebut meninggalkan suaminya seorang diri didalam rumah tersebut, ia segera bergegas pergi dari rumah itu, ia melihat sekelibat bayangan hitam yang lewat dihadapannya dengan begitu cepatnya. melihat hal itu membuatnya diam untuk beberapa saat, sebelum ia memulai melangkah tiba tiba tangan seseorang menyentuh lehernya dan mencekiknya dengan keras.
wanita itu berusaha untuk menyelamatkan diri, akan tetapi tenaganya kalah kuat dengan seseorang yang telah mencekiknya. akibat dari itu membuat wanita paruh baya tersebut kehabisan nafas dan meninggal begitu mudahnya karena usianya yang mulai tua.
"Mau kabur dariku? jangan harap bisa lolos begitu saja". Ucap Nimas menggunakan tubuh Nadhira.
Nimas segera melangkahkan kakinya menuju rumah tersebut, dengan mudah ia membuka pintu rumah itu, dan menemukan bahwa orang yang ia cari telah berada dihadapannya sambil membawa sebuah senjata berupa golok yang telah diasah hingga taham.
Nimas menutup pintu rumah tersebut dengan kerasnya dan menguncinya menggunakan kekuatannya, sehingga suara mereka tidak akan mudah terdengar dari luar rumah tersebut. Nimas berjalan mendekat kearah pria paruh baya tersebut dengan angin yang berhembus kemana mana membuat barang barang ditempat itu berserakan.
"Nampaknya kau sudah mengetahui kedatanganku sebelumnya, aku hanya mengingatkan senjatamu itu bukan tandinganku".
"Siapa kau!!".
"Apa kau tidak ingin menyusul istrimu kealam baka? menyerahlah maka aku akan membuatmu mati dengan mudahnya tanpa perlu menahan rasa sakit yang cukup parah".
"Apa maksudmu? kau telah membunuh istriku". ucap pria paruh baya dengan gemetaran.
"Nyawa dibalas nyawa, seluruh keturunan Darma harus mati".
Nimas mengeluarkan seluruh kekuatannya dan mengarahkannnya kepada pria paruh baya tersebut, pria itu terpental begitu jauh hingga menabrak sebuah dinding dan golok yang ia bawa tanpa sengaja menusuknya sendiri.
Melihat hal itu membuat Nimas segera pergi dari tempat itu, Nadhira memang tidak sadarkan diri, tetapi ia mampu mengetahui apa yang dilakukan oleh roh yang telah menguasainya. ketika jaraknya sudah sangat jauh Nadhira mencoba merebut kembali tubuhnya, ia berusaha begitu keras untuk mendapatkan kembali kesadarannya, sehingga tubuhnya terjaruh berlutut ditepi jalan.
__ADS_1
*Jangan lupa like ya