Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kekuatan membuka mata


__ADS_3

Tubuh Rifki diputari oleh sosok macan putih yang begitu ganasnya seakan akan macan itu begitu kelaparan, yang diyakini olehnya adalah khodam keturunannya, hal ini tidak pernah terjadi kepadanya, sejak memasuki usia ke 17 tahun segalanya terasa berubah.


"Rifki khodam yang kau miliki saat ini begitu kuat".


Raka dapat melihat hal itu dengan jelasnya, ia juga melihat kedua mata Rifki berubah seperti mata macam putih itu, tetapi bagi orang biasa yang melihatnya mereka tidak akan bisa melihat mata macan itu dengan mata telanjang, mereka butuh membuka indra mereka untuk dapat melihatnya dengan jelas.


Rifki memandangi harimau itu dengan seksama setiap pergerakannya yang terus memutar Rifki, kemunculan khodam itu membuat sakit yang Rifki alami tiba tiba menghilang seketika.


Rifki merasa heran ada apakah dengan dirinya saat ini, kenapa banyak sekali pengelihatan dimasa lalu yang terungkap olehnya saat ini, Rifki dapat melihat sosok Pangeran Kian yang tergambar jelas dikedua mata macan putih itu.


Rifki menyodorkan tangannya untuk menyentuh kepala macan putih itu, seketika keluarlah cahaya dikening macan itu dan masuk kedalam tubuh Rifki, Raka yang menyaksikan hal itu hanya berdecak kagum kepada Rifki.


"Rif, nampaknya macan putih itu mengakui dirimu sebagai Tuan nya".


Rifki mengusap pelan kepala macan itu, macan putih itu terlihat begitu senang ketika disentuh oleh Rifki, meskipun agak merinding ketika menyentuhnya tetapi Rifki sama sekali tidak takut untuk mencoba hal hal yang baru.


Seketika Rifki dapat melihat bayangan Raden Kian yang tiba tiba berada disampingnya sekejap saja, ketika bayangan itu hilang Rifki terus menoleh untuk mencari kemana dia pergi, tetapi Rifki sama sekali tidak menemukannya.


"Apakah aku ini benar benar keturunan dari Pangeran Kian". Guman Rifki pelan.


Seketika itu juga sosok macan putih itu juga menghilang dari pandangan Rifki, hal itu membuat Raka kembali mendekat kearah Rifki, ia juga melakukan hal yang sama yakni mencari sosok yang baru saja mendatangi Rifki dengan sekejap.


"Arghh..... Siapa sebenarnya diriku!!!".


Brak duk duk.


Teriak Rifki karena tidak berhasil menemukannya sosok itu, ia juga mendobrak pintu dan memukulnya berkali kali, Rifki hanya ingin tau siapa sebenarnya dirinya, dan apa hubungannya dengan Pangeran Kian dan juga perginya ayah dan kakeknya.


"Tenang Rif, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kemarahan".


Karena tidak berhasil menemukannya lagi, Rifki segera kembali kekalasnya, ketika ia berjalan menuju kelasnya ia tidak sengaja melihat kearah kantor guru, ia melihat Nadhira sedang membawa tasnya bersama dengan papanya keluar dari kantor tersebut.


"Nadhira mau kemana? Ah mungkin pihak sekolah yang memberitahukan masalah ini kepada orang tuanya, sehingga papanya menjemput untuk pulang". Guman Rifki ketika melihat sosok Nadhira.


Tanpa Nadhira sadari, Rifki sedang memperhatikannya dengan diam diam, Rifki merasa bahagia ketika hubungan antara anak dan ayah sudah kembali seperti semula.


Rifki segera berjalan menuju kekelasnya yang tengah diisi oleh salah satu guru mapel saat itu, Rifki mengetuk pintu kelas dan meminta izin untuk mengikuti pelajaran selanjutnya, ia juga menjelaskan alasannya keluar dari kelas yakni pergi kekamar mandi.


Dengan hormat Rifki menundukkan kepalanya kepada guru tersebut karena telah mengizinkan dia untuk masuk kedalam kelas, Rifki segera duduk dibangkunya dan membuka bukunya.


Rifki mendengarkan dengan seksama materi yang telah disampaikan oleh guru tersebut, meskipun ia sudah mempelajarinya tetapi ia masih perlu dan butuh penjelasan mengenai materi tersebut.


Beberapa jam kemudian akhirnya pelajaran disiang itu telah selesai, ketika waktu pergantian guru yang akan mengajar dilakukan, Rahma dan Fajar segera mendatangi Rifki untuk memberitahukan bahwa Nadhira pulang lebih awal karena telah dijemput oleh papanya.


"Aku sudah tau". Jawab Rifki singkat.


"Eih... Bagaimana kamu bisa tau?". Tanya Fajar penasaran mengenai jawaban Rifki. "Ah iya aku lupa, kau kan anak indigo jelas langsung mengetahui kejadian ini".


"Aku ngak suka basa basi, sekarang katakan!!". Ucap Rifki dengan sinisnya.


"Maksudmu apa? Ah iya aku tau! Kau pasti bertanya kan! mengenai kapan orang tua Nadhira menjemput Nadhira tanpa sepengetahuanmu kan?".


"Bukan!".


"Lalu kami harus mengatakan apa?". Sela Rahma yang mengerti arah pembicaraan Rifki saat ini.


Rifki menatap tajam kearah keduanya tatapan yang sangat mengintimidasi seseorang, keduanya tiba tiba menelan ludahnya masing masing, ditatap seperti itu membuat mereka ketakutan bahkan lebih takut daripada bertemu hantu sekalipun.


Fajar segera duduk disamping Rifki untuk menenangkan Rifki yang terus menatap tajam kearah keduanya, Rifki menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Maaf aku terlalu emosi". Ucap Rifki sambil memijat keningnya yang sedikit pusing dan sesekali menghela nafas untuk menenangkan pikirannya. "Apa yang sebenarnya terjadi dikelas ini? Aku merasakan sebuah energi kemarahan begitu kuat disini".


Ketika Rifki memasuki kelas tersebut, ia dapat merasakan sisa sisa energi yang telah dikeluarkan oleh Nimas yang masih membekas dikelas itu, ia tau bahwa dikalas itu telah terjadi sesuatu sehingga membuat Nimas begitu marahnya.


Energi itu mampu memicu kemarahan didalam hati Rifki, sehingga kesalahan sedikitpun akan mampu membuatnya marah, seperti yang dilakukan oleh Rahma dan Fajar karena tidak mau segera menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.


Rahma dan Fajar saling bertatapan, keduanya sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Rifki, memang keduanya tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Rifki saat ini.


"Ta.. tapi, kamu jan... Janji jangan marah". Ucap Rahma dengan terbata bata.


"Apa yang kau katakan Ma?". Tegur Fajar.


"Jar.... Rifki juga berhak mengetahuinya!!". Teriak Rahma yang menyita banyak perhatian.


"Tapi Ma, kamu sudah janji kepadanya bahwa tidak akan mengatakan hal itu".


Mendengar perdebatan itu membuat Rifki duduk dengan mengangkat satu kakinya dan memejamkan matanya sambil melipat kedua tangannya didadanya, ia tidak ingin terpancing emosi hanya karena perdebatan itu dan faktor energi negatif yang merangsang dirinya saat ini.


Dengan mata batinnya Rifki memperhatikan situasi dilingkungan sekitar dengan mata terpejam, dan mencoba menetralkan situasi sekitar sampai keduanya berhenti untuk berdebat.


"Katakan sekarang".


Rahma menoleh kearah Rifki yang sedang memejamkan kedua matanya, Rahma mengira bahwa Rifki sudah tertidur dengan cepatnya karena perdebatannya dengan Fajar sebelumnya, tetapi ia juga merasa heran, siapa yang mengatakan hal itu sebelumnya kepadanya.


"Rif, apa kamu ketiduran?". Tanya Rahma sambil melambaikan tangannya didepan Rifki.


Tiba tiba Rifki membuka matanya dan sontak membuat Rahma terkejut dan melompat kebelakang sesegera mungkin, tanpa Rahma sadari bahwa tubuhnya tertatap meja sehingga dirinya jatuh dilantai kelas itu.


"Aaaa....".


Brakk..


"Rahma kau ngak papa?". Tanya Fajar sambil membantunya untuk bangkit.


"Ngak papa, makasih".


Rifki merasa heran kenapa Rahma bisa terjatuh disaat ia membuka matanya, tetapi keheranan itu segera diketahui olehnya, Rahma terjatuh karena terkejut melihat Rifki yang tiba tiba membuka matanya, sehingga ia termundur dan menabrak sebuah meja, sementara meja yang ia tabrak ikut roboh karenanya.


"Hanya ditatap seperti itu sudah bisa membuat seorang gadis terjatuh?". Guman Dinda yang tidak percaya mengenai apa yang dialami oleh Rahma.


"Gila, dia beneran manusia?".


Insting Rifki mengatakan bahwa ada yang sedang memandanginya sehingga ia membuka matanya dengan tiba tiba tanpa disangka sosok wanita yang ada dihadapannya segera terjatuh untuk menjauhinya saat itu juga.


Setelah Rahma mampu berdiri dengan benar karena bantuan dari Fajar, Rahma ingin mengatakan sesuatu tetapi suaranya terasa seperti terkunci hingga tidak bisa keluar dari mulutnya.


"Jadi gini Rif, sebenarnya....". Rahma terlihat begitu ragu untuk mengatakan hal itu kepada Rifki.


Rifki menatap tajam kearah Rahma hal itu membuat Rahma merasa begitu sangat gugup dan gelisah entah apa yang harus ia jelaskan kepada Rifki mengenai situasi yang terjadi hari ini.


"Biar aku katakan, dengarkan dulu Rif, aku akan menceritakan semuanya...". Sela Fajar ketika melihat Rahma yang sudah tidak bisa berkata kata lagi.


"Silahkan".


Fajar dengan ragunya menceritakan semuanya yang terjadi dikelas itu ketika Rifki tidak berada dikelas itu kepada Rifki, Rifki mendengarkannya sambil memejamkan matanya, ia dapat mengetahui seseorang itu berkata jujur ataupun berbohong, yang diceritakan oleh Fajar belum sepenuhnya benar.


Fajar hanya menceritakan mengenai sosok yang disebut sebut sebagai Nimas yang diceritakan oleh Nadhira, dan juga mengenai hawa hawa dingin yang tiba tiba terasa dikelas itu.


Setelah bercerita seperti itu Rifki tertawa mendengar cerita itu, ia segera membuka matanya dan menatap kearah Fajar dan Rahma, keduanya merasa bingung mengapa Rifki tiba tiba tertawa.

__ADS_1


"Apa kalian yakin itu yang terjadi?".


"Iya". Jawab keduanya serempak.


"Jika aku katakan bahwa telah terjadi pertengkaran dikelas ini, apa kalian mau jujur kepadaku?".


Seketika membuat keduanya teringat tentang apa yang diucapkan oleh Nadhira mengenai Rifki yang mampu melihat kebenaran walaupun tanpa diucapkan membuat keduanya sekarang mulai percaya mengenai ucapan itu.


"Cukup, ngak usah jelaskan lagi, aku tau kalian berdua terpaksa mengatakan itu kepadaku, biar aku cari tau sendiri apa yang telah terjadi dikelas ini, ya meskipun mulut manusia tidak bisa dipercaya tetapi masih banyak mahluk gaib yang mampu berkata jujur". Sindir Rifki kepada teman temannya.


"Woyo woyo.. skak mad kan... haha...". Tawa Raka mendengar ucapan Rifki.


*****


Melihat mobil Tuannya segera memasuki gerbang rumah besar tersebut, bi Ira segera membukakan gerbang agar mobil itu dapat lewat, setelah lewat Bi Ira kembali menutup pintu gerbang tersebut.


Ketika melihat Nadhira keluar dari dalam mobil milik majikannya itu, bi Ira segera menghampirinya dan menanyakan keadaan kenapa tiba tiba pulang ketika masih jam 10 siang.


"Bi tolong, siapkan minuman hangat untuknya, dan bawa kekamarnya segera". Ucap Rendi sambil menggandeng tangan Nadhira untuk masuk kedalam rumahnya.


"Baik Tuan".


Bi Ira segera masuk kedalam dapur untuk menyiapkan apa yang diperintahkan oleh majikannya kepadanya, sementara Rendi membawa Nadhira masuk kedalam kamar Nadhira.


Setelah sampai disana, Rendi menyuruh Nadhira untuk membaringkan tubuhnya, Rendi juga memberikan minyak kayu putih kepada kening Nadhira, Nadhira yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa terdiam tanpa suara.


"Papa, aku ngak apa apa".


Ucap Nadhira yang menghentikan papanya untuk membantunya melepaskan sepatu sekolahnya, Nadhira tidak ingin papanya melakukan hal itu.


"Ngak apa apa, apanya? Kau habis kesurupan seperti itu, di keluarga papa ngak pernah ada yang namanya kesurupan, dan papa ngak tau gimana rasanya kesurupan itu, pasti sakit kan? Sudah diam saja".


"Beneran pa, aku sekarang benar benar sudah baikan, ini hanya masalah kecil, lagian Nadhira juga sudah dewasa pa, jadi papa ngak peluh khawatir berlebihan seperti itu".


"Papa sekarang semakin yakin, bahwa papa benar benar telah kehilangan gadis kecil papa yang begitu manja, sering mengeluh ketika terluka walaupun lukanya kecil, gara gara sikap papa, papa kehilangan semuanya, maafin papa".


Nadhira mendekatkan diri kepada papanya, dan berbaring dipaha papanya, Nadhira memeluk kedua kaki papanya dengan eratnya seperti ketika Nadhira masih kecil dahulu, yang sering melakukan hal itu kepada papanya ketika papanya terlalu sibuk untuk bekerja.


Ada kerinduan yang mendalam disaat keduanya mengingat ingat tentang masalalu, Rendi mengusap kepala Nadhira dengan sayang, tak terasa celana Rendi tiba tiba basah karena tetesan airmata Nadhira yang mengalir deras.


"Aku rindu mama pa... Hiks... Hiks... Hiks...". Tangis Nadhira pecah seketika. "Mama mendatangiku didalam mimpi, dia bilang, Dhira harus tegar, sebesar apapun masalahnya jangan pernah menangis, jika Dhira menangis maka mama akan ikut menangis, jadi selama ini Nadhira berusaha untuk tidak pernah menangis lagi, Dhira tidak ingin mama ikut menangis ketika Dhira menangis".


Rendi mendengarkan cerita Nadhira sambil terus mengusap kepala Nadhira dengan lembut, Nadhira tidak menceritakannya mengenai permata dan juga dirinya yang sering kerasukan tanpa sepengetahuan papanya, Nadhira hanya mengatakan bahwa dirinya sangat merindukan mamanya.


Tak beberapa lama kemudian bi Ira tiba tiba masuk kedalam kamar Nadhira dan memberikan segelas teh hangat kepada Nadhira, Rendi segera menyuruh Nadhira meminumnya untuk menghangatkan tubuhnya.


Setelah melihat Nadhira yang meminum teh hangat itu, Rendi segera pergi dari kamar itu meninggalkan Nadhira dan juga bi Ira dikamar tersebut.


"Kamu sakit apa nak?". Tanya bi Ira yang melihat wajah sembab Nadhira.


"Ngak papa bu, tadi disekolahan aku hanya kerasukan saja, papa aja yang terlalu berlebihan".


"Apa kerasukan? Bagaimana bisa?". Ucap bi Ira dengan terkejutnya


Ekspresi yang ditunjukkan oleh bi Ira tidak berbeda jauh dari ekspresi papanya yang pertama kali mendengar bahwa Nadhira mengalami kerasukan disekolahannya.


Karena Nadhira yang sering mengalami hal itu, merasa bahwa apa yang dialaminya kali ini adalah hal yang biasa, berbeda dengan orang orang yang tidak pernah melihat Nadhira kerasukan seperti sekarang ini, karena setiap kali Nadhira kerasukan, Nadhira selalu pergi dari rumah dengan diam diam.


"Aku ngak tau bu". Ucap Nadhira sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya 🥰 Salam hangat dari Author 🙏


__ADS_2