Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kisah Pangeran Kian 14


__ADS_3

Tak beberapa lama kemudian Indah akhirnya keluar dari kamarnya dengan wajah sembabnya karena habis menangis, ia segera memeluk tubuh Ayahnya itu, mungkin hanya Ayah yang bisa mengerti tentang dirinya.


"Apa yang terjadi?". Tanya Ayahnya kepada Indah.


"Panji Ayah hikss.. hiks.. hiks.., Panji". Jawab Indah.


"Ada apa dengan Panji, Nak? Apa yang terjadi dengan dirinya sehingga membuatmu menangis seperti ini? Katakan kepada Ayah".


"Panji datang kemari untuk meminta restu kepada Ibu, akan tetapi Ibu justru menolaknya dan mengatakan bahwa dia tidak pantas untukku, dan sekarang dia pergi meninggalkanku Ayah". Tangis Indah pecah seketika dipelukan sang Ayah.


"Panji datang kemari?".


"Iya Ayah, dan sekarang dia pergi lagi dari sini, aku tidak tau lagi kemana dirinya pergi saat ini".


"Dek, apakah itu benar?". Tanya Ayahnya yang memandangi wajah istrinya begitu lekatnya.


"Iya Mas, pemuda itu tidak layak untuk anak kita, bagaimana kalau anak kita dibuat sengsara olehnya karena dirinya tidak punya rumah atau saudara untuk menolongnya, bagaimana nanti kalau putri kita hidup dalam kekurangan?". Jawab Ibunya dengan sedikit ragu.


"Kau berpandangan terlalu jauh Dek, bukan rumah atau saudara syarat untuk jadi seorang menantu yang baik, apa kau lupa siapa diriku sebelumnya? Aku hanyalah seorang anak yatim piatu dan bahkan pernah menjadi anak gelandangan dahulunya, Panji tidak akan membuat anak kita seperti itu karena aku sangat mengenal sosok seperti apa itu Panji, apa kau tau Dek, siapa sebenarnya Panji itu? Jika kau mengetahui identitasnya yang sesungguhnya kau tidak akan pernah bisa mengatakan hal itu kepadanya".


Ibu Indah sama sekali tidak mengerti tentang arah pembicaraan dari suaminya itu, dirinya juga tidak terlalu mengenali pemuda yang mendatangi rumahnya untuk meminta menjadi Indah sebagai Istrinya akan tetapi ditolak olehnya.


Orang sepenting apakah Panji itu, sehingga membuat suaminya begitu kecewa kepadanya, Ibunya Indah berpikir bahwa pemuda yang datang tersebut bukanlah orang penting yang harus dihormati seperti itu, karena pakaiannya dan juga asal usulnya yang tidak jelas entah dari mana.


Wajah Panji memang cukup menawan dan aura yang dipancarkannya membuat dirinya begitu berkarisma dan berwibawa akan tetapi cara berpakaiannya yang seadanya membuat dirinya terlihat seperti gelandangan karena dirinya tidak mempunyai rumah maupun saudara.


"Maksud Mas apa? Aku sama sekali tidak mengerti, siapa sebenarnya dirinya itu?". Tanya istrinya dengan perasaan bersalah kepada suaminya.


"Dia adalah anak dari Kuswanto, yang sejak kecil Indah kita ini sudah kita jodohkan dengannya, kau tau siapa sebenarnya Kuswanto itu? Dan kenapa aku dan dirinya pernah menjodohkan anak anak kita, Dia adalah Pangeran Kian Jayaningrat yang telah lama menghilang setelah hancurnya kerajaan itu setelah menyelamatkan rakyat dari kekejaman Ayahandanya, kita berhutang begitu banyak kepada dirinya seandainya bukan karena kebaikannya, mungkin kita tidak akan pernah bisa hidup sampai saat ini, tapi kenapa dirimu malah menolak lamaran dari anak itu Dek? Dia begitu sangat mencintai putri kita".


Bagaikan tersambar sebuah petir ketika mengetahui identitas asli dari Panji, Ibu Indah sama sekali tidak menduga bahkan pemuda yang ia tolak tersebut adalah pemuda yang sama yang dijodohkan dengan anaknya itu, karena keduanya tidak pernah bertemu sehingga dirinya tidak mengenali siapa itu Panji.


Sejak saat itulah dirinya sadar bahwa penampilan seseorang tidak lah selalu menampakkan asal usulnya, bahkan putra dari seorang Pangeran sekalipun mampu berpakaian sedemikian rupanya.


"Apakah yang kau katakan itu benar Mas? Jika itu benar maka diriku begitu kejam kepadanya, Mas apa yang harus aku lakukan nantinya? Kalau begitu aku harus cepat mencarinya, agar dirinya kembali ketempat ini lagi". Ucap istrinya.


Ibu Indah segera bergegas untuk menyusul Panji akan tetapi langkahnya segera dihentikan oleh suaminya, ia tidak mengerti jalan pikir dari suaminya itu, disatu sisi dia mengatakan bahwa Panji adalah orang yang ia cari akan tetapi sisi lain dirinya menghentikan langkahnya untuk mengejar Panji.


"Kenapa Mas?". Tanya Ibu Indah kepada suaminya.


"Kemana kau akan mencarinya? Panji adalah seorang pengembara yang tidak akan menetap ditempat yang sama dalam waktu yang lama, jika dirinya sudah pergi maka akan sangat sulit untuk dicari".


"Lalu aku harus bagaimana Mas? Ini adalah kesalahanku karena aku yang tidak mengenalinya sebelumnya".


"Lantas bagaimana kalau orang lain yang berada diposisinya saat ini Dek? Apa kau akan merasa bersalah seperti ini karena telah menolak niat baiknya untuk putri kita?".


"Maafkan diriku yang egois ini Mas, apapun yang aku lakukan hanyalah demi putri kita satu satunya".


"Ada banyak alasan mengapa Panji menyamar menjadi rakyat biasa dan tidak ingin terlibat dalam masalah apapun, apapun pakaian seseorang yang mereka pakai tidak selalu melambangkan sikap dan jati dirinya yang sesungguhnya, apapun kedudukannya kita harus menghormati mereka, jika kita tidak bisa menghormati mereka maka mereka juga tidak akan menghormati kita".

__ADS_1


"Iya Mas, maafkan diriku yang telah khilaf ini, aku salah Mas, tidak seharusnya aku berkata seperti itu kepada pemuda itu".


"Iya, Mas bisa mengerti tentang itu Dek, lain kali jangan diulangi lagi Dek, ngak baik, sama saja kita tidak mempercayai takdir Allah".


"Iya Mas, aku janji, tapi bagaimana dengan Panji saat ini?".


"Untuk soal itu, biarkan Indah yang membawanya kembali ketempat ini".


"Tapi bagaimana jika Panji menolaknya Mas?".


"Dia tidak akan melakukan itu Dek, aku sangat mempercayai dirinya".


Indah mengangguk kepada Ayahnya, ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ayahnya bahwa dirinya harus membujuk Panji agar dirinya mau kembali bersama dengan Indah dan menikah dengannya.


"Jika seperti itu, aku akan pergi untuk mencarinya Ayah". Ucap Indah kepada Ayahnya.


"Iya Nak, secepatnya temukan dirinya, bawa dia kembali secepat mungkin, agar ayah tidak merasa terlalu bersalah seperti ini". Ucap Ayahnya sambil mengusap pelan kepala Indah.


"Baik Ayah, aku akan berusaha untuk membawanya kembali, Ibu, izinkan Indah pergi mencarinya".


"Pergilah Nak, jaga dirimu baik baik, sampaikanlah maafku kepada dirinya, ketika kau berhasil menemukan keberadaannya".


"Iya Ibu aku akan sampaikan hal itu kepadanya nanti".


Indah segera berpamitan kepada Ayah dan Ibunya untuk pergi menyusul Panji, Ibunya merasa begitu berat ketika putri satu satunya harus pergi meninggalkan dirinya saat ini, sehingga Ibunya memeluk indah begitu eratnya.


Indah segera bergegas pergi dari rumahnya untuk mencari Panji akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Panji, sedangkan disatu sisi Panji kembali ke goa dimana Ibu dan Ayahnya dimakamkan disana.


"Semoga kau bahagia Indah, meskipun tanpa adanya kehadiran diriku disisimu, kau pantas mendapatkan suami yang jauh lebih baik daripada diriku yang hanya seorang pembunuh ini, kau tidak perlu khawatir tentang diriku, karena mulai sekarang aku tidak akan keluar dari goa ini agar kau benar benar menganggapku telah tiada seperti apa yang dikatakan oleh orang orang itu".


Panji bertapa didalam goa tersebut untuk menyetabilkan energi yang ada didalam tubuhnya itu, dan menenangkan pikirannya agar tidak terus menerus kepikiran dengan Indah, ia bertekat untuk menambah kekuatannya agar dapat mengalahkan kejahatan Danuarta kepadanya.


Berbulan bulan panji berada didalam goa tersebut tanpa makanan, dia hanya minum air yang ada digoa tersebut untuk mengisi perutnya, Panji juga melakukan puasa puasa sunnah yang ajarkan oleh Ayahnya kepada dirinya sewaktu Ayahnya masih ada.


Hampir genap satu tahun Indah terus mencari keberadaan dari Panji akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan tanda tanda akan adanya Panji, begitu banyak rintangan yang ia lalui untuk bisa bertemu kembali dengan kekasihnya akan tetapi usaha yang selalu ia lakukan hanyalah sebuah sia sia semata saja karena dirinya tidak kunjung menemukan apa yang ia cari selama ini.


"Panji, dimana dirimu? Kenapa kau pergi meninggalkanku seperti ini? Kemana lagi aku harus melangkah untuk mencarimu?".


Indah menjatuhkan tubuhnya didekat sebuah pohon yang cukup untuk dirinya bersandar karena kelelahan setelah berjalan cukup lama untuk mencari keberadaan dari Panji, dibawah teriknya matahari Indah tengah terduduk bersandar dibawa pohon sambil mengusapi keringatnya yang terus bercucuran dari kening dan dahinya.


"Aku tidak boleh menyerah saat ini, aku harus secepatnya untuk menemukan dirinya, dia tidak boleh meninggalkanku seperti ini". Ucap Indah dan langsung bangkit dari duduknya.


Jatuh bangun telah Indah rasakan ketika mencari Panji, dirinya bahkan tidak mempedulikan panas dan hujan yang menerpa tubuhnya, yang ia harapkan hanyalah menemukan keberadaan dari Panji.


Panji tengah duduk bertapa disebuah batu yang berada didalam goa tersebut, goa itu tidak akan mampu untuk dimasuki oleh orang luar meskipun itu adalah menantu dari keluarga Kuswanto sekalipun, hanya keturunan dari Kuswanto lah yang dapat masuk kedalam goa tersebut.


"Nak, bukalah matamu, Ayah tau apa yang sedang kau rasakan saat ini, bangunlah temui gadis itu, dia tengah mencarimu kemana mana".


Tiba tiba terdengar suara dari dalam goa tersebut, Panji sangat mengenali suara itu yang menurutnya itu adalah suara dari Ayahnya yang sudah tiada beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Panji mulai mengernyitkan dahinya ketika sebuah sorotan cahaya yang cukup terang jatuh kedepan wajahnya, hal itu membuat dirinya merasa begitu silau seketika, sehingga dirinya mengernyitkan dahinya untuk menahan silauan itu yang jatuh ke kedua matanya itu.


"Siapa?". Tanya Panji yang masih memejamkan kedua matanya tidak bisa menahan cahaya tersebut yang hendak masuk kedalam retinanya.


"Apa kau tidak mengenaliku Nak?". Suara itu kembali bergema ditelinga Panji.


"Ayah! Apakah itu dirimu?". Tanya Panji yang masih menutup kedua matanya.


"Kembalilah Nak, temui gadis itu, sebelum kau benar benar kehilangannya untuk selama lamanya".


"Apa yang Ayah katakan? Apa yang terjadi dengan Indah? Katakan kepadaku Ayah".


Seketika itu juga, Panji melihat sosok Indah yang tengah terbaring didekat hutan sambil menahan kesakitan karena gigitan ular, Panji mengeratkan pejaman matanya karena tidak tahan ketika melihat Indah yang tengah kesakitan itu.


Racun akibat gigitan ular tersebut mulai menyebar keseluruh tubuhnya, Panji berusaha untuk menggapai tubuh dari gadis itu, akan tetapi dirinya tidak mampu untuk menggapainya karena itu hanyalah sebuah gambaran yang ia dapatkan.


Indah sudah tidak sadarkan diri ketika racun yang ada ditubuhnya sudah menyebar keseluruhan aliran darahnya, meskipun dalam keadaan tidak sadarkan diri, Indah masih memanggil manggil nama Panji.


"Indah! Bertahanlah Indah! Aku akan segera datang untuk bertemu denganmu". Teriak Panji ketika melihat tubuh lemas tidak berdaya Indah.


Panji segera membuka kedua matanya, ia menatap kesekelilingnya dan segera bergegas untuk pergi dari goa tersebut tanpa mempedulikan lingkungan yang ada disekitarnya karena dirinya sangat menghawatirkan tentang kondisi Indah saat ini.


"Indah bertahanlah". Ucap Panji yang terus berlari menuju ketempat dimana Indah berada saat ini.


Panji dapat mengetahui lokasi tersebut melalui mata batinnya, sehingga dengan mudah dia menebak keberadaan Indah saat ini, dirinya terus berlari dan tidak mempedulikan tentang apa yang terjadi kepdanya, meskipun kakinya terluka karena duri ia sama sekali tidak merasakan sakitnya karena bagi dirinya keselamatan Indah adalah segalanya.


Setelah sekian lama dirinya berlari, hingga akhirnya dirinya menemukan dimana keberadaan dari Indah, dari kejauhan ia dapat melihat bahwa tubuh Indah sudah terbaring tidak berdaya diatas rerumputan yang cukup tinggi.


"Indah!". Teriak Panji.


Indah sudah tidak sadarkan diri, ia tidak mengetahui bahwa Panji telah datang untuk menemuinya, Panji melihat sebuah gigitan ular ditangan kanan Indah dan dapat terlihat telapak tangan dan juga bibir Indah mulai membiru karena racun tersebut.


"Indah, apa yang terjadi kepadamu? Bangunlah Indah, aku sudah datang untuk bertemu denganmu".


Panji memeriksa tangan Indah, racun akibat dari gigitan ular itu sudah menyebar keseluruhan tubuh Indah akan tetapi racun tersebut belum sampai ke jantungnya sehingga nyawa Indah masih dapat tertolong.


Panji berusaha untuk mengeluarkan racun tersebut dari tubuh Indah dengan cara menghisap darah Indah melalui luka dimana ular itu mengigit kulit Indah, Panji terus berusaha sebisanya untuk dapat menolong nyawa Indah yang sudah diambang batas untuk bertahan hidup.


Perlahan lahan Panji menghisap darah Indah dari luka gigitan ular tersebut, dan berusaha untuk menghentikan saraf saraf Indah yang tengah membawa racun ular itu mengalir kedalam tubuhnya.


"Indah bertahanlah, Indah aku mohon kepadamu, bertahanlah, jangan tinggalkan aku seperti ini, aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu".


Panji terus menghisap darah Indah hingga racun yang ada ditubuh Indah mulai berkurang, akan tetapi racun tersebut justru tertelan oleh Panji, sehingga membuatnya merasa pusing dan terlihat begitu pucat dan lemah.


Panji dapat merasakan bahwa racun yang ada ditubuh Indah perlahan lahan mulai mengalir dalam darahnya, rasa sakit dan juga mengigil mulai Panji rasakan karena adanya racun tersebut dalam tubuhnya, sehingga membuat terlihat begitu pucat dan terlihat begitu lemahnya.


"Tidak masalah jika diriku yang mati karena racun ini, asalkan bukan dirimu Indah, aku tidak akan sanggup untuk melihatmu terluka". Ucap Panji pelan sambil menahan rasa mengigilnya karena racun ular itu.


Perlahan lahan Panji mulai melepaskan tubuh Indah karena dirinya sudah tidak tahan dengan racun yang ada didalam tubuhnya, Panji menyandarkan tubuh Indah dibawa pohon beringin yang cukup besar, setelah itu Panji bergegas untuk pergi dari situ mencari sesuatu yang dapat menetralkan racun ular.

__ADS_1


Akan tetapi dirinya tidak menemukan apapun, akhirnya dirinya duduk bersila dibawa pohon untuk menetralkan racun ular itu menggunakan tenaga dalamnya, meskipun itu tidak mudah akan tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba.


...Jangan lupa like dan dukungannya...


__ADS_2