
Perpisahan sangatlah menakutkan, tidak ada yang menyukai namanya perpisahan, akan tetapi tidak akan ada pertemuan tanpa adanya perpisahan, meskipun berat jika takdirnya seperti itu maka akan berjalan sesuai dengan takdirnya sendiri.
Seberapapun kita mencegah sebuah perpisahan takdi masih mampu untuk mencari jalannya sendiri tanpa kita minta sekali pun itu untuk mencapai tujuannya tanpa kita minta sekalipun.
"Besok pagi pagi sekali aku akan berangkat Dhira, aku ingin kau ikut untuk mengantarkan diriku ke bandara, apa kau mau melakukan itu untukku?". Tanya Rifki kepada Nadhira.
"Iya Rif, aku akan melakukan itu untukmu".
"Terima kasih Nadhira, besok pagi pagi aku akan menjemputmu, bersiap siaplah".
"Iya Rif".
Keesokan paginya, Nadhira segera bergegas menuju kekamar mandi untuk membersihkan badannya dan bersiap siap untuk mengantarkan Rifki ke bandara, setelah selesai dengan riasan seadanya Nadhira segera bergegas keluar dari rumahnya dan langsung dihampiri oleh sebuah mobil yang akan membawanya dan juga Rifki menuju ke bandara.
Didalam mobil itu terdapat seorang wanita beserta anaknya, wanita itu tidak lain adalah Ibu dari Rifki dan anaknya adalah Ayu, adik kandung Rifki. Nadhira segera masuk kedalam mobil tersebut dan mobil itu segera melaju dari tempat itu menuju ketempat dimana tujuan mereka saat ini.
Putri memandangi Nadhira yang berada dikursi yang ada dibelakangnya melalui kaca spion, Putri dapat melihat bahwa Nadhira saat ini sedang menahan sedihnya meskipun diwajahnya tercipta sebuah senyuman, akan tetapi didalam batinnya ada rasa janggal dengan Nadhira.
"Nadhira sudah besar ya sekarang, kenapa jarang main kerumah Tante? Tante sampai pangling dengan Dhira". Tanya Putri kepada Nadhira.
"Iya Tante, sudah bertahun tahun ya Tan, tidak main kesana, Rifki sih ngak pernah ngajak kerumah Tante, jadinya aku jarang main kesana".
"Iya iyalah Ma udah besar, kalau makan aja habis 5 porsi sendiri". Ucap Rifki.
"Ngawur saja kamu Rif". Ucap Nadhira dengan sensinya.
"Bukannya kamu Nak, kalau makan ngak habis 5 porsi masih kurang saja, malah bilang kalau belum makan segala lagi". Sela Putri.
"Mama". Ucap Rifki sambil menutup mulut Mamanya dengan menaruh telunjuknya dibibir Mamanya.
"Kakak Rifki makannya paling banyak". Tambah Ayu.
"Ngak Dek, Adek saja yang makannya kurang banyak jadi ngeliat Kakak kayak makan banyak".
"Ngak mau, Ayu takut gendut, Ayu pengennya kayak seperti Kak Dhira aja".
"Kenapa pengennya harus kayak Kak Dhira?".
"Karena Kak Dhira itu cantik, baik, ngak nyebelin kayak Kakak Rifki, Ayu maunya sama Kak Dhira aja, ngak sama Kak Rifki".
"Ya sudah, Kakak juga ngak mau sama Adek, Adek cengeng dan ngambekan".
"Maa.... Kakak Rifki nakal, Kakak tadi bilang Ayu nakal Ma, ayu kan ngak nakal Ma". Ucap Ayu mengadu kepada Mamanya.
"Huu... Beraninya hanya ngadu".
"Kakak, Adek kan udah pintar, sudah ngak nangisan lagi". Ucap Putri.
"Pinter ngadu iya Ma?".
"Kakak, Ma Kakak lo bilang gitu, Kakak nakal Ma". Ayu terus mengadu kepada Putri.
"Rifki! Nanti Kak Rifki Mama kasih jamu lo, biar ngak ngangguin Adek mulu".
"Iya Ma, jamu yang paling pahit". Ucap Ayu dengan semangatnya ketika mendengar bahwa Putri akan memberikan hukuman pada Rifki karena telah menganggu Ayu.
"Itu mah kecil lah". Ucap Rifki dengan sombongnya.
Nadhira dan Putri hanya bisa tertawa ketika melihat kakak beradik itu yang sedang bertarung lidah, ini adalah momen yang tak terlupakan, ketika mereka sudah besar mereka tidak akan seperti ini lagi oleh karena itu momen ini disebut momen yang tak akan terlupakan walaupun sudah dimakan oleh masa.
"Oh iya Dhira habis ini ngelanjut kuliah atau kerja?". Tanya Putri kepada Nadhira.
__ADS_1
"Kuliah sambil kerja Tante, disekitar sini saja biar deket dengan rumah". Jawab Nadhira.
"Oh, satu kampus dengan Bayu kah nantinya?".
"Beda Ma". Jawab Rifki.
"Dhira sudah punya pacar belum?". Tanya Putri.
Pertanyaan itu seketika membuat Nadhira merasa malu, dirinya bingung harus menjawab pertanyaan itu dengan kata kata seperti apa.
"Ngak Ma, Nadhira ngak aku perbolehkan untuk pacaran". Jawab Rifki lagi lagi membuat Nadhira menggeleng gelengkan kepalanya.
"Mama tanya ke Dhira bukan kamu, kenapa kamu yang menjawabnya?". Ucap Putri ketika Rifki terus menyela pertanyaan pertanyaan yang ia lontarkan kepada Nadhira saat ini.
"Lah Mama ngak tanya dulu ke aku, aku kan anak Mama". Ucap Rifki.
"Tanpa bertanya pun Mama sudah tau jawabannya, insting seorang Ibu jauh lebih kuat kepada Anaknya daripada insting Anaknya kepada Ibunya, bagaimana Mamamu ini tidak tau tentang dirimu padahal kamu sendiri juga sudah tinggal 9 bulan diperut Mama, kenapa kamu melarang Nadhira pacaran? Apa kamu suka dengan Nadhira?".
"Sebenarnya....".
"Adek suka dengan Kak Dhira Ma". Jawab Ayu.
"Mama ngak nanya sama Adek". Ucap Rifki singkat.
"Rifki, kamu belum jawab pertanyaan Mama".
"Rifki tidak bisa menjawabnya Ma, tapi Rifki memiliki perasaan kepada Nadhira, Rifki ingin menemui orang tua Nadhira untuk meminta restunya ketika Rifki sudah balik ketanah air lagi Ma".
"Jika itu kemauanmu maka lakukanlah Nak, Mama dan Papa akan selalu mendukungmu, jangan buat seorang gadis menunggu terlalu lama, jangan hanya memberi harapan kepada seorang wanita tanpa bisa untuk menepatinya Nak".
"Iya Ma, Rifki tau itu".
Mobil itu melaju dengan cepatnya menuju ke bandara tempat dimana Rifki akan melakukan perjalanan selanjutnya setelah naik mobil itu, tak beberapa lama kemudian akhirnya mobil itu mulai memasuki area bandara dan berhenti diarea parkiran, Rifki dan yang lainnya segera turun dari mobil tersebut.
"Ingat perkataanku Dhira, hati hati dengan Ibu tirimu, aku memiliki firasat buruk tentangnya". Ucap Rifki memperingatkan Nadhira tentang Ibu tirinya.
"Iya Rif, aku tau itu, kamu ngak perlu khawatir aku pasti bisa untuk menjaga diriku sendiri". Jawab Nadhira dengan mengangguk mengiyakan peringatan Rifki kepadanya.
"Jangan sekali kali melepaskan gelang yang aku berikan kepadamu, Raka dan Nimas akan selalu melindungimu Dhira, dan lebih dekatkan dirimu kepada sang pencipta agar kekuatan jahat tidak mampu untuk menyakitimu".
Nadhira hanya menganggukkan kepalanya kepada Rifki, dirinya tidak mampu untuk berkata kata lebih lama lagi karena dalam hatinya Nadhira tengah menangis karena Rifki akan pergi dari hidupnya dalam waktu yang tidak sebentar saja.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya jadwal keberangkatan Rifki tiba, suasana kesedihan tengah menyelimuti keempat orang itu, beberapa kali Nadhira meneteskan air mata begitupun dengan Putri yang tidak sanggup untuk melihat kepergian dari anaknya itu.
"Ma, Rifki minta izin kepada Mama, Rifki akan berangkat sekarang, jaga diri Mama baik baik ya Ma, maafkan Rifki yang tidak bisa bersama dengan Mama, Izinkan Rifki untuk pergi Ma". Ucap Rifki sambil mencium tangan Putri dan berakhir masuk kedalam pelukan sang ibu.
"Pergilah Nak, Mama akan selalu berdoa untukmu semoga Allah selalu melindungimu Nak, Mama akan baik baik saja disini hiks.. hiks.. hiks..". Dapat terdengar suara isak tangis dari Putri ketika memeluk tubub anak laki lakinya, berkali kali Putri mengusap punggung Rifki dengan lembutnya.
Entah sampai kapan Rifki akan pergi keluar negeri, Rifki sendiri tidak tau kapan dirinya akan kembali ketanah airnya, Rifki juga harus mengurus perusahaan Abriyanta Groub yang ada diluar negeri untuk beberapa tahun kedepan sehingga membuatnya tidak mengetahui bahwa kapan dirinya akan kembali ke negeri sendiri.
Pelukan dari Putri membuat Rifki merasa nyaman ketika berada dipelukan wanita itu, sebentar lagi pelukan itu tidak akan mampu ia rasakan dalam waktu yang cukup lama, Rifki meneteskan air matanya ketika dirinya memeluk tubuh orang yang telah berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan dirinya.
"Mama jangan sedih, Rifki pasti akan kembali suatu saat nanti, Mama jaga diri baik baik ya, jangan sampai telat makan, kesehatannya dijaga". Ucap Rifki sambil menghapus air matanya sendiri ketika berada didalam pelukan sang ibu.
"Kamu juga jaga diri baik baik Nak, doa Mama akan selalu bersama dengan anak anaknya, jangan lupa untuk memberi kabar Mama ketika ada disana".
"Iya Ma, Rifki janji kepada Mama, kalau Rifki akan selalu memberi kabar kepada Mama, Rifki tidak tau dimana keberadaan Papa saat ini, jika Papa kembali tolong sampaikan salam Rifki kepada Papa ya Ma, bahwa Rifki sangat menyayangi Papa dan Mama".
"Kau sudah tidak marah lagi dengan Papamu Nak?". Tanya Putri terkejut sekaligus merasa senang.
"Tidak Ma, aku sudah mengetahui semuanya, awalnya aku begitu marah dengan Papa, tapi sekarang kemarahan itu sudah menghilang Ma".
__ADS_1
"Mama sangat senang mendengarnya Nak".
Rifki melepaskan pelukan tersebut dan memandangi wajah Mamanya dengan lekatnya, akan ada sebuah kerinduan yang mendalam kepada wajah tersebut, Nadhira yang melihat Rifki berpelukan dengan Mamanya hanya bisa berdiam diri, dirinya juga sangat merindukan sosok Mamanya yang telah lama tiada itu, Nadhira tidak mampu berkata kata lagi untuk hal ini saat ini.
"Aku rindu Mama, Ma apakah Mama masih hidup? Jika Mama masih hidup cepatlah kembali Ma, Nadhira rindu sama Mama". Batin Nadhira.
"Apa kau sangat merindukan Mamamu Dhira?". Ucap Nimas yang berada disebelah Nadhira.
"Bagaimana kau bisa tau apa yang aku katakan? Apakah kau bisa mendengar suara batinku?". Batin Nadhira bertanya kepada Nimas.
"Sejak dulu aku mampu mendengar suara batin manusia, jadi aku bisa mendengar suara batinmu dengan sangat jelas Dhira".
"Oh".
"Apa kamu mau bertemu dengan Mamamu? Aku akan membawamu kesana untuk menemuinya".
"Apa kau bisa melakukan itu? Atau apa kau berniat untuk membunuhku?".
"Aku sama sekali tidak ada niatan untuk membunuhmu Dhira, untuk apa aku menjagamu kalau hanya untuk aku bunuh saja, aku akan membawamu menemui Mamamu lewat mimpi nanti malam, apa kamu mau?".
"Jangan macam macam dengan Dhira, sampai kau berani membahayakan nyawanya maka kau harus siap untuk berhadapan denganku nantinya". Batin Rifki menjerit ketika mendengar suara Nimas yang ingin mengajak Nadhira untuk menemui Lia.
"Kamu tenang saja Rif, aku tidak akan membahayakan nyawa Nadhira, aku hanya ingin membantu Nadhira bertemu dengan Mamanya lewat mimpi saja kok". Ucap Nimas.
"Sampai kau berani membahayakan nyawanya, maka kau harus menanggung akibatnya". Ancam Rifki kepada Nimas.
"*Kau tidak perlu khawatir seperti itu, lagian aku juga tidak akan membiarkan apapun terjadi dengan permata itu".
"Kau lebih mempedulikan permata itu ha? Aku akan segera menghancurkannya cepat atau lambat, ingat itu".
"Lakukan saja jika kau berani, jika permata itu hancur maka nyawa Nadhira mu akan ikut melayang bersamanya*".
Rifki mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan dari Nimas, benar apa yang dikatakan oleh Nimas, jika terjadi sesuatu dengan permata itu maka nyawa Nadhira akan terancam karenanya.
Nadhira tidak mampu mendengar suara batin Rifki, begitupun sebaliknya, keduanya hanya mampu mendengarkan suara Nimas saja, melalui apa yang dibicarakan oleh Nimas membuat Rifki sontak mengutarakan suaranya lewat batinnya karena Rifki tau bahwa Nimas mampu mendengarnya.
Membawa Nadhira menemui Mamanya lewat mimpi adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh mahluk ciptaan Allah, kecuali atas kehendak Allah, tidak ada yang mustahil bagi Allah.
"Apa yang dibicarakan oleh Rifki? Kenapa kau terlihat begitu marah ketika berbicara dengannya saat ini? Rifki juga mengapa tiba tiba dirinya terlihat begitu emosi? Apa kau melakukan sesuatu kepadanya?". Tanya Nadhira yang sedang penasaran tentang apa yang dibicarakan oleh Rifki dari batinnya.
"Bukan apa apa, hanya sebuah ancaman kecil saja kok, santai". Jawab Nimas dengan santainya.
"*Ancaman? Ancaman apa itu?".
"Kekasihmu itu takut kalau aku sampai melukaimu, jadi dia mengancamku seperti itu*".
Rifki kini berjalan kearah dimana Ayu berada dan berjongkok didepan Ayu, Ayu adalah adik kesayangan Rifki satu satunya, meskipun keduanya sering bertengkar akan tetapi Rifki akan begitu marahnya ketika mengetahui bahwa Adiknya bertengkar dengan orang lain selain dirinya.
"Kakak akan pergi?". Tanya Ayu dengan wajah yang masam untuk dilihat.
"Iya Dek, jaga Mama ya, jangan buat Mama marah karena hal yang Adek lakukan, jadi anak yang pintar dan penurut jangan suka membantah ucapan Mama atau Papa nantinya, jangan lupa ibadahnya juga ditingkatin". Ucap Rifki sambil mengusap kepala Adiknya pelan dan dengan sayangnya.
"Kakak kapan pulang, jangan tinggalin Ayu". Ucap Ayu dengan cemberutnya kearah Rifki.
"Kalau Ayu sudah dewasa Kakak akan pulang, dan dapat peringkat pertama dikelas Kakak akan pulang dan membawakan Ayu hadiah".
"Beneran Kak? Kalau Ayu sudah dewasa Kakak akan pulang? Kalau begitu Ayu ingin makan yang banyak biar cepet dewasa, biar bisa bertemu dengan Kak Rifki lagi". Ucap Ayu dengan semangatnya.
Rifki memeluk Adiknya kecilnya itu dengan eratnya, untuk kali ini dirinya akan berpisah jauh dari Ayu sehingga membuat Rifki tidak rela untuk meninggalkan Ayu, baginya Ayu adalah sosok yang paling ia rindukan ketika sedang berjauhan karena Ayu adalah teman baiknya dan juga teman berantemnya karena ia dan Ayu hanya dua bersaudara sehingga Ayu terasa begitu berarti bagi Rifki begitu juga Ayu.
"Adek pintarnya Kakak, yang rajin ya belajarnya biar bisa dapat peringkat pertama terbaik disekolahan nanti". Ucap Rifki dengan senyum lembutnya.
__ADS_1
"Siap Kakak, Ayu akan rajin belajar nanti".
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...