
Ketika setelah kejadian malam itu, Sena mengaku bahwa dirinya habis jatuh dan tangannya terluka begitu parah sehingga dirinya harus membungkus tangannya menggunakan kain kasa untuk menutupi luka tersebut.
Ada banyak kejangalan didalam hati Nadhira mengenai alasan dari Sena yang memutuskan untuk membalut lukanya, ketika Nadhira ingin memeriksa luka tersebut Sena selalu menolak untuk menunjukkan luka itu kepada keluarganya sendiri.
Sekarang kejangalan yang ada didalam hatinya itu terungkap juga ketika dirinya tanpa sengaja melihat luka yang selama ini diturupi oleh Sena terbuka begitu saja dihadapannya.
Nadhira segera bergegas menuju kemeja makan untuk berkumpul bersama dengan keluarganya, Nadhira mulai memakan makanan yang telah tersedia diatas meja tersebut dalam diamnya.
"Bekas itu tidak bisa membohongi kalian semua dalam waktu begitu lama rupanya hahaha, cepat atau lambat kejadian itu akan terungkap juga, sepandai pandainya orang menyembunyikan bangkai baunya pasti akan tercium juga, asik bakalan seru nantinya" Ucap Nimas.
Nimas begitu senang ketika melihat bekas luka yang ada ditubuh Sena saat ini, entah mengapa dirinya terus mengulangi kata kata yang sama yang membuat Nadhira harus menghela nafas panjang.
"Diamlah Nimas, biarkan aku menikmati makanan ini dengan tenang, jangan menganggu diriku saat ini" Batin Nadhira ketika mendengar ucapan Nimas.
"Apa salahnya sih jika aku tertawa saat ini, menertawakan sikap Ibu tirimu itu, apa jangan jangan kau sudah tau siapa pelaku sebenarnya sejak dulu? Sehingga kau tidak tertarik untuk membongkarnya".
"Apa kau pernah mendengar jin dimasukkan kedalam sebuah botol? Apa kau ingin dimasukkan kedalam botol juga seperti mereka?"
"Heiii aku bukan jin, jadi kau tidak bisa seenaknya saja memasukkanku kedalam botol! Aku adalah hantu, lebih tepatnya Ratu iblis bukan jin".
Nimas protes kepada Nadhira karena Nadhira berniat untuk memasukkan dirinya kedalam botol, memang enak jika dikurung? Bahkan Nadhira sendiri pun tidak akan betah jika dikurung dalam kamar apalagi dirinya yang akan dikurung dalam botol.
Didalam kamar masih bisa leluasa untuk bergerak, akan tetapi didalam botol? Bahkan Nimas tidak akan mampu untuk menggerakkan tubuhnya dengan leluasanya dan tidak seperti dialam bebas.
"Lalu apa bedanya iblis, jin, dan hantu? Toh mereka sama sama mahluk tak kasat mata bukan".
"Beda! Sangat beda".
"Jadi apa perbedaannya?"
"Iblis adalah bapak dari jin yang mendurhakai Tuhannya"
"Jadi jin juga mempunyai orang tua ya? Kayak manusia saja, lalu apa itu Hantu?" Ucap Nadhira yang seketika membuat Nimas cemberut.
Nadhira tertawa ketika mendengar ucapan Nimas bahwa jin adalah anak dari iblis, sepengetahuannya jin ataupun iblis tercipta dari api dan hal hal kotor yang mampu menjelma menjadi jin akan tetapi baru kali ini Nadhira mendengar jin dan iblis.
"Sedangkan hantu itu adalah makhluk astral seperti diriku, yang ditakuti banyak manusia selama ini, ada banyak jenis hantu yang ada di Indonesia, mulai dari kuntilanak, pocong, genderuwo dan lainnya sebagainya. Bahkan, ada beberapa orang yang saking takutnya dengan hantu, sampai sampai jenis hantu tersebut ikut terbawa ke dalam alam tidur nya dan menjadi mimpi yang menakutkan"
"Oh seperti itu, jujur kau memang menakutkan Nimas, bahkan anak kecil akan menangis dengan kerasnya jika melihat dirimu tiba tiba".
"Kau hanya mengetahui wujudkan yang ini Dhira, dan itupun dalam keadaan cantik seperti saat ini, jika saja kau mengetahui wujudku yang satunya mungkin kau akan sangat ketakutan karena wajahku yang hancur dan penuh darah".
"Sudah jangan bahas itu! Aku tidak ingin merusak hari hariku jika kau menampakkan wujud aslimu itu, ingat memuji diri sendiri itu tidak baik".
"Sayangnya aku tidak punya diri, karena tubuhku sudah masuk kedalam tanah sejak dulu".
Nadhira berpikir bahwa apa yang diucapkan oleh Nimas benar adanya, karena Nimas sudah tidak memiliki raga karena dirinya sudah mati berpuluh puluh taun yang lalu, dan mungkin saja tengkoraknya pun sudah menjadi tanah.
"Terserahmu, lalu apa itu setan?"
"Setan itu adalah suatu sifat untuk menyebut setiap makhluk yang jahat, membangkang, tidak taat terhadap Allah dan sering melanggar larangannya, suka membelot, suka maksiat, suka melawan aturan, atau semacamnya, baik dari golongan jin maupun manusia, jadi siapa saja bisa disebut setan".
"Jadi kau juga setan dong".
"Ngaklah, kenapa bisa begitu?"
"Kau sering membangkangku, kau juga tidak pernah sholat, jadi kau bisa disebut sebagai setan juga Nimas".
"Aku tidak pernah membangkang seperti yang kau katakan itu, dan juga tidak diperintahkan sholat oleh Allah, bagaimana bisa aku melanggarnya?"
"Kok bisa begitu?"
"Kamu juga bisa kok jadi seperti aku".
"Gimana caranya?"
"Kembalilah menyatuh dengan tanah dulu dan menemui Tuhanmu, pastinya kau akan bisa menjadi seperti diriku, mudah bukan?"
__ADS_1
(Tuh readers dengarkan ucapan Nimas, yuk mari ikuti tutornya hehe... Bercanda kok sayangnya author:v jangan masukkan kehati ya biar ngak sakit gigi, masukkan saja kelambung biar kenyang)
Meskipun dalam diamnya Nadhira diruang makan tersebut akan tetapi Nadhira dan Nimas mengobrol begitu panjang lebar tanpa ada yang mengetahuinya dan yang jelas hanya Nadhira dan Nimas yang tau.
Ting tung
Tiba tiba bel rumah Nadhira berbunyi dengan nyaringnya didalam ruangan itu, melihat itu Bi Ira segera bergegas untuk membukakan pintu rumah itu untuk memeriksa siapa yang datang dipagi hari seperti ini.
Ketika Bi Ira membukakan pintu tersebut terlihat sosok seorang lelaki yang memiliki postur tubuh kurus dan sedikit tinggi berada didepan pintu tersebut dan berdiri dengan tegapnya.
"Siapa ya?" Tanya Bi Ira.
"Jono Mbak, tukang kebun baru dirumah ini".
"Tukang kebun baru? Kenapa Tuan tidak memberitahuku sebelumnya".
"Baiklah tunggu sebentar".
"Bagus juga ternyata rumahnya, dan sangat layak untuk ditinggali, sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk wanita iblis itu" Batin Jono.
Bi Ira tertegun sesaat ketika pria yang ada dihadapannya ini mengatakan bahwa dirinya adalah tukan kebun baru dikeluarkan itu akan tetapi Rendi sama sekali tidak memberitahukan hal ini kepadanya sehingga dirinya merasa begitu ragu dengan sosok pemuda yang ada dihadapannya.
"Siapa Bi?" Tanya Rendi dari dalam dan berjalan menuju kepintu tersebut.
"Ini Tuan, dia bilang dia adalah tukang kebun baru dirumah ini" Jawab Bi Ira.
"Oh Pak Jono ya? Mari masuk dulu Pak" Ucap Rendi seraya menyuruh pria itu masuk kedalam rumahnya.
"Baik Pak" Jawab Jono.
Jono segera masuk kedalam rumah tersebut dan duduk di sofa yang ada diruang tamu rumah tersebut, Nadhira dan Sena segera bergegas untuk melihatnya karena keduanya sangat penasaran dengan tukang kebun baru yang telah diperkerjakan oleh Rendi.
"Kamu sudah pasti tau apa yang harus kamu kerjakan disini bukan?" Tanya Rendi.
"Iya Tuan" Jawab Jono.
"Ngak apa apa Dek, biar Bi Ira tidak memperkejakan semuanya sendiri, kasihan dia".
"Kenapa Papa tiba tiba membuat keputusan seperti itu tanpa persetujuan dari kami?" Tanya Nadhira.
"Ini kemauan Papa Nak, jadi kalian harus bisa menghargainya" Ucap Rendi kepada Nadhira dan melirik kearah Sena.
"Jika itu adalah keputusan Papa, Dhira hanya bisa mengikutinya" Ucap Nadhira dan langsung bergegas masuk dan kembali duduk dimeja makannya.
Nadhira bukannya marah kepada Rendi saat ini, akan tetapi dirinya sedikit merasa tidak cocok dengan lelaki yang akan menjadi tukang kebunnya itu, karena lelaki itu memandangi kearah Sena seakan akan sedang menyembunyikan sesuatu dan sepertinya lelaki itu sedang tertarik dengan sosok Sena.
Jika benar orang itu ada hubungannya dengan Sena maka hal itu akan membuat Nadhira sangat kesulitan untuk membongkar siapa sebenarnya Sena dihadapan Rendi karena adanya orang yang akan bekerjasama dengan Sena.
"Kenapa kamu terlihat begitu sebal Dhira?" Tanya Nimas ketika melihat Nadhira sedang cemberut.
"Aku tidak suka dengan Papa yang tiba tiba mengambil keputusan untuk mempekerjakan orang lain lagi dirumah ini, orang itu kelihatannya begitu akrab dengan Mama Sena"
"Jangan membenci seseorang sebelum mengetahui tentang dirinya, bisa jadi kan kedatangannya ketempat ini adalah sesuatu yang bagus untuk dirimu Dhira".
"Tapi kemungkinan hal itu begitu tipis".
"Meskipun tipis selama ada keyakinan maka setipis apapun itu pasti ada cela yang akan mewujudkannya jika kita mau berusaha".
Nadhira tidak ingin bahwa orang yang bernama Jono itu adalah suruhan dari Sena, jika dugaan Nadhira benar maka dirinya tidak akan bisa berbuat apa apa untuk dapat melindungi Papanya.
"Sampai kapan kejahatan dari wanita itu akan terbongkar, untuk membongkarnya sendiri pun aku tidak punya banyak bukti apalagi sekarang ada tukang kebun itu yang akan memihak kepada Mama" Ucap Nadhira pelan dengan kesalnya.
Sejak malam itu Nadhira menjadi begitu curiga dengan Sena, karena luka yang ada dilengannya itu, ketika ditanya Sena akan menjawab bahwa luka itu tercipta karena jatuh terpeleset dan tanpa sengaja terkena sesuatu yang membuatnya bengkak sehingga dirinya menutupi luka tersebut dengan kasa, begitulah alasannya.
"Mungkin orang itu tau segalanya tentang Mama, tapi dimana aku harus mencari tau tentang orang itu sementara aku sendiri tidak mengetahui wajah ataupun sosoknya seperti apa"
Tidak ada yang mendengar Nadhira yang sedang mengomel sendiri, setelah makan Amanda segera bergegas kembali kekamarnya dan kedua orang tuanya sedang mengobrol diruang tamu beserta dengan Bi Ira.
__ADS_1
Rendi menyuruh Jono untuk beristirahat sejenak sebelum bekerja dirumah itu, dengan diam diam Sena mendatangi pria bertubuh kurus itu tanpa sepengetahuan banyak orang.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Sena dengan geramnya.
"Apalagi kalau bukan butuh duid, kalau ngak butuh sij ogah aja aku kerja ditempat ini" Jawab Jono seakan akan tengah mengentengkan ucapan Sena.
"Awas aja kalau kamu macam macam dirumah ini".
Mendengar acaman Sena yang ia ucapkan kepada dirinya, hal itu membuat Jono hanya bisa tertawa dengan leluasanya, ancaman yang diberikan oleh Sena sama sekali tidak akan pernah membuatnya merasa takut.
"Apa? Apakah kau takut aku akan membongkar semua kejahatan yang telah kau lakukan kepada mereka selama ini? Mungkin jika aku memberitahukan semua ini kepada mereka, kau pasti tidak akan bisa berbuat apa apa" Ancam balik Jono dengan santainya kepada Sena.
"Jika kau berani melakukan itu, aku tidak akan tinggal diam"
"Apa kau pikir aku takut denganmu? Kau hanyalah wanita licik, akan tetapi fisikmu sangat lemah".
"Maumu apa sih sebenarnya! Kenapa kau terus menganggu hidupku!".
"Baiklah baiklah aku akan diam, tapi berikan aku uang sebagai uang tutup mulut".
"Berapa banyak yang kau minta?".
"Tidak banyak, 50 juta saja".
"Kau benar benar gila! Kemana aku harus mencari uang sebanyak itu!"
"Terserahmu saja, cepat atau lambat mereka akan mengetahui perbuatan busukmu itu termasuk juga tentang kematian dari Lia".
"Baiklah aku akan berusaha untuk bisa mencari uang sebanyak itu".
"Aku memberimu waktu dua hari, kalau tidak....".
"Kalau tidak apa?".
"Ganti dengan tubuhmu".
"Gila kau!"
"Aku memang telah menjadi gila karena dirimu".
Sena dengan marahnya segera pergi meninggalkan tempat itu, ia tidak ingin lagi berdebat dengan sosok seperti Jono karena Jono telah mengetahui semuanya tentang dirinya selama ini.
Kehadiran Jono dirumahnya adalah hal yang sangat buruk bagi Sena, setiap rencana yang akan dilakukan oleh Sena dengan mudahnya dihancurkan oleh Jono maupun Nadhira sehingga dirinya tidak bisa bergerak dengan leluasanya.
Sena berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan uang yang diminta oleh Jono agar Jono tidak menceritakan apapun yang ia ketahui selama ini tentang dirinya dan apa yang telah ia lakukan kepada keluarga Nadhira dan Rendi.
Sena diam diam mencuri uang keluarganya hanya untuk menyelamatkan reputasinya agar tidak dihancurkan oleh Jono, hanya Jono yang mengetahui tentang apa yang telah ia lakukan selama ini.
Jono maupun Nadhira adalah ancaman terbesar bagi dirinya untuk bisa mencapai ambisinya, hingga suatu hari Sena menjebak Nadhira agar Rendi begitu membenci Nadhira. Sena mengingat kembali bahwa Nadhira bukanlah anak kandung dari Rendi, dan ingin berniat buruk kepada Rendi.
"Tidak mungkin Nadhira ingin mencelakakan diriku" Bantah Rendi ketika Sena mengatakan bahwa Nadhira adalah orang yang ada dibalik kejadian malam itu kepada Rendi.
Rendi tidak bisa dengan mudah untuk mempercayai ucapan dari Sena, namun jika dipikir pikirkan lagi maka apa yang diucapkan oleh Sena ada benarnya juga, bagaimana Nadhira bisa berada ditempat itu dimalam hari sedangkan dirinya sedang mendapatkan hukuman dari Rendi waktu itu.
"Aku mendengarnya sendiri Mas, dia bersekongkol dengan orang yang berniat membunuhmu waktu itu, bagaimana bisa tepat saat itu Nadhira juga berada ditempat itu? Bukankah kau telah menghukumnya waktu itu?".
"Lalu untuk apa Nadhira melakukan itu!"
"Bisa jadikan, dia hanya berpura pura baik didepanmu untuk membalaskan dendam kepadamu dengan apa yang telah kau lakukan kepadanya selama ini setelah kepergian dari Lia, apa kau tidak mencurigai dirinya ketika baru pertama kali kembali setelah menghilang sekian lama? Dia sangat berbeda dari Nadhira yang selama ini kita kenal bukan?"
"Kau benar, Nadhira memang berubah tapi bukan berarti dia berniat untuk mencelakakan diriku bukan?".
Sena terus berusaha untuk menimbulkan kebencian dihati Rendi untuk Nadhira, berhari hari kesalahan kecil yang dilakukan oleh Nadhira mendadak diperbesar oleh Sena sehingga membuat rasa benci yang ada didalam hati Rendi mulai tumbuh.
Beberapa kali Sena dan Amanda berusaha untuk menjebak Nadhira kembali dengan menggunakan minuman beralkohol dengan cara memasukkan alkohol kepada minuman yang akan Nadhira minum.
...Jangan lupa like, coment, dan dukungannya 🥰...
__ADS_1
...Terima kasih ...