
"Bagaimana keadaanmu sekarang Nak?". Tanya Kuswanto dengan lembutnya kepada Nimas.
"Apa yang terjadi denganku? Kemana kekuatanku? Kenapa bisa hilang?". Tanya Nimas dengan khawatirnya ketika merasakan ada yang aneh pada tubuhnya.
"Jangan takut Nak, kekuatanmu tidak hilang, akan tetapi aku telah menyegelnya sampai dirimu benar benar mampu untuk mengendalikannya". Ucap Kuswanto menenangkan hati Nimas kecil.
"Kamu tenang saja, aku akan selalu melindungimu meskipun dirimu tidak memiliki kekuatan penuhmu tapi ada aku yang menjagamu". Panji kecil juga ikut menenangkan hati Nimas.
"Iya Nak, Panji benar, kalau boleh tau, dimana keberadaan keluargamu? Kenapa kamu berkeliaran dihutan sendirian dan sudah banyak membunuh orang?". Tanya Kuswanto dengan seriusnya.
"Keluargaku telah dibunuh dengan tragisnya oleh mereka, dan aku mengumpulkan kekuatan dengan bertapa didekat sebuah goa untuk dapat membalaskan dendam atas kematian keluargaku, tapi tanpa ku sadari kedua orang yang telah menolongku mati karena ulahku". Ucap Nimas dengan perasaan yang begitu sedihnya.
"Dimana kau menemukan goa itu?".
"Aku tidak tau, tapi roh Kakekku menuntunku pergi kesana untuk mendapatkan kekuatan".
Kuswanto termenung mendengar perkataan dari gadis kecil yang ada dihadapannya sekarang itu, bagaimana bisa ada arwah seseorang lelaki paruh baya membawa seorang gadis kecil ketempat yang cukup menyeramkan itu.
Tidak ada orang yang menemukan tempat tersembunyi itu, dan bahkan jika itu mahluk halus sekalipun mahluk itu tidak akan membawa manusia untuk mengarah ketempat itu karena kekuatan Kuswanto yang terpancar ditempat itu membuat para mahluk halus takut untuk mendekat kearah itu.
"Siapa Kakekmu Nak? Dan alasan apa yang membuat Kakekmu membawamu kesana?".
"Kakekku bernama Setyo, dia membawaku kesana untuk bertapa sekaligus menjaga tempat itu agar diriku mampu bertemu dengan Pangeran Kian".
"Setyo sudah memiliki cucu?". Tanya Kuswanto dengan ketidak percayaan tentang apa yang dia dengar saat ini. "Apakah dia memintamu untuk menemui Pangeran Kian?".
"Iya Paman".
"Ayah, apa maksudnya?". Tanya Panji yang kebingungan ketika melihat raut wajah Kuswanto.
"Tidak apa apa Nak, kamu main dulu, biarkan temanmu untuk istirahat, dia mungkin kelelahan".
"Baik Ayah, gadis kecil aku pergi dulu ya, nanti kalau kamu sudah sehat lagi, kita akan bermain". Ucap Panji berpamitan kepada Nimas.
"Iya". Jawab Nimas.
Panji segera meninggalkan tempat itu atas perintah dari Kuswanto, sementara Kuswanto masih tetap berada ditempat itu, ia tidak mempercayai bahwa orang kepercayaannya dahulu sudah memiliki cucu yang usianya sama seperti usia anaknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Setyo?". Tanya Kuswanto tanpa berketip kepada Nimas.
"Kakekku dan juga seluruh keluarganya telah tiada Paman karena dibunuh dengan begitu kejinya, hanya tinggal aku seorang diri, Kakekku dituduh telah menyembunyikannya sebuah harta pusaka yang ditinggalkan oleh Kuswanto untuk desa Mawar Merah, tapi Kakekku tidak pernah menyembunyikannya karena memang harta pusaka itu diperintahkan oleh Kuswanto untuk merahasiakannya dari semua orang".
"Seluruh keluarganya dibunuh? Bagaimana bisa hanya tinggal dirimu seorang Nak?".
"Aku tidak tau Paman, orang yang telah membesarkanku hanya bilang bahwa sebelum mereka membawaku pergi dari rumah itu, dia sudah tidak menemukan Ibuku akan tetapi menemukanku tidur dengan lelapnya saat itu". Dengan sedihnya Nimas mengatakan hal itu kepada Kuswanto.
Nimas kecil menceritakan semua yang ia dengar dari orang yang telah menolong dan membesarkannya sampai saat ini kepada Kuswanto, sementara Kuswanto mendengarkannya dengan seksama agar tidak ada satu cerita pun yang terlewatkan.
"Maafkan aku". Ucap Kuswanto dengan rasa bersalah karena telah mengorbankan nyawanya banyak orang hanya untuk menyembunyikan pusaka itu.
"Apa yang Paman katakan?". Tanya Nimas dengan kebingungan karena ucapan maaf dari orang yang ada didepannya saat ini.
"Akulah yang menjadi alasan kenapa keluargamu dibunuh, maafkan aku Nak, maafkan aku".
"Maksud Paman apa? Aku sama sekali tidak mengerti".
"Jika orang yang bernama Kuswanto ada disini, apa yang akan kamu lakukan kepadanya Nak?".
"Kuswanto bukanlah orang jahat Paman, Kuswanto telah menyerahkan sebuah tanggung jawab kepada keluargaku untuk menjaga harta pusaka yang ada didalam goa itu, Kakekku mengatakan hal itu kepadaku didalam mimpi, dirinya bilang bahwa Kuswanto yang selama ini dia kenal adalah seorang pangeran yakni Pangeran Kian yang telah berkhianat terhadap kerajaannya karena demi menyelamatkan rakyatnya dan sekarang dia bersembunyi dari kejaran anggota kerajaan entah dimana". Ucap Nimas.
__ADS_1
"Kau tau terlalu banyak Nak, lalu apa lagi yang kau ketahui tentang Pangeran Kian?".
"Arwah Kakekku bilang kepadaku bahwa aku harus menemui sosok Pangeran Kian agar dapat mengendalikan diriku saat ini, tapi aku tidak tau dimana dirinya saat ini, karena sejak kepergiannya dari desa Mawar Merah, tidak ada yang mengetahui tentang keberadaannya sampai sekarang".
"Kau sudah menemukannya Nak".
"Dimana Paman?".
"Dia ada dihadapanmu saat ini".
"Jadi anda adalah Pangeran Kian?". Tanya Nimas dengan tidak menyangka bahwa sosok yang ia cari selama ini sudah berada didepannya saat ini.
Kuswanto menganggukkan kepalanya kepada Nimas, tanpa disadari bahwa anggukkan itu membuat Nimas berlutut didepannnya, Kuswanto tidak tinggal diam, dirinya segera membangun Nimas yang tengah berlutut didepannnya itu.
"Nak apa yang kau lakukan?". Tanya Pangeran Kian dengan terkejutnya tentang apa yang dilakukan oleh Nimas kepadanya.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan dirimu saat ini Pangeran".
"Jangan bilang begitu Nak, jika itu adalah pesan dari Kakekmu, maka mulai saat ini akulah yang akan bertanggung jawab mengenai dirimu, dan akan berusaha untuk mengendalikan iblis dalam hatimu karena kekuatan itu". Ucap Kuswanto sambil mengusap rambut Nimas pelan.
"Terima kasih Pangeran".
"Jangan panggil aku seperti itu Nak, sekarang aku bukan lagi seorang Pangeran melainkan penduduk biasa, sekarang kau adalah anak angkatku, panggil aku Ayah seperti Panji memanggilku tadi".
"Tapi Panger....".
Sebelum perkataannya selesai diucapkan, Kuswanto segera mengarahkan telunjuknya kepada mulut Nimas yang membuat Nimas seketika menghentikan ucapannya tersebut.
"Sudah ku katakan, aku bukan lagi seorang Pangeran jadi jangan panggil aku seperti itu".
"Baik A....yah". Ucap Nimas dengan ragunya ketika memanggil sosok yang ada didepannya dengan sebutan Ayah.
Nimas begitu senang karena bisa seperti yang lainnya yang mempunyai keluarga yang lengkap seperti saat ini, tanpa dirinya sadari bahwa airmata mengalir dari pelupuk matanya.
"Ngak.. a.. ku ha.. nya me.. rasa ba.. ha.. gia". Ucap Nimas dengan sesekali sesenggukan.
Kuswanto mengusap kepalanya dengan lembut untuk menenangkan gadis kecil yang ada dihadapannya itu, dirinya tidak menyangka bahwa gadis kecil itu adalah cucu dari orang kepercayaannya selama berada didalam desa Mawar Merah.
"Kenapa dia menangis?".
Tiba tiba terdengar suara yang berasal dari depan pintu kamar tersebut yang dapat mengejutkan keduanya, dibalik pintu berdirilah seorang wanita yang tidak lain adalah istri dari Kuswanto, Rahayu.
"Mas, jawab! Kenapa dia menangis?". Tanya Rahayu sekali lagi karena Kuswanto tidak dijawab dengan cepat saat ini.
"Ngak apa apa, ayo ikut aku sebentar Dek". Ajak Kuswanto sambil menggandeng tangan istrinya untuk pergi dari tempat itu.
Kuswanto segera meninggalkan tempat itu bersama dengan istrinya, setelah kepergian Kuswanto dari tempat itu membuat Nimas hanya bisa menatapnya pergi meninggalkan dirinya dikamar tersebut.
Kuswanto membawa istrinya keluar dari kamar yang ditempati oleh Nimas saat ini, dengan rasa penasarannya membuat Rahayu hanya bisa mengikuti langkah suaminya tanpa membantah sedikitpun kepada suaminya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Mas?". Tanya Rahayu ketika sudah berada didepan rumahnya bersama dengan suaminya.
"Dia adalah cucu dari orang yang paling aku percayai untuk menjaga rahasia mengenai goa tempat diriku menyimpan keris pusaka yang pernah aku ceritakan kepadamu Dek". Ucap Kuswanto dengan seriusnya.
"Pak Setyo sudah memiliki cucu? Lalu kenapa bisa anak itu berada dihutan sendirian dan menyerang dirimu Mas?". Tanya Rahayu dengan penasarannya.
"Ceritanya panjang Dek, aku tidak menyangka bahwa hal itu menyebabkan keluarga besarnya celaka dan hanya menyisakan dirinya seorang diri, sehingg membuatnya masuk kedalam jalan yang buruk sehingga dirinya membunuh begitu banyak orang karena kekuatan jahat yang telah merasuki tubuhnya itu, seharusnya aku tidak meninggalkan tempat itu sebelumnya, aku tidak menyangka bahwa hal itu menciptakan bahaya yang cukup besar".
"Maksud Mas bagaimana? Kenapa keluarga Pak Setyo terbunuh dan menyisakan gadis itu seorang?".
__ADS_1
"Keluarga Setyo dituduh menyembunyikan sebuah harta yang menurut mereka harta tersebut seharusnya menjadi milik mereka, akan tetapi harta itu adalah keris xingsi yang telah aku sembunyikan digoa itu, benar benar pusaka yang mampu menghancurkan dunia".
"Kasihan sekali anak itu Mas, lantas bagaimana selanjutnya Mas?".
Kuswanto terdiam beberapa saat, dirinya begitu ragu untuk mengucapkan sesuatu kepada istrinya, akan tetapi istrinya juga berhak untuk mengetahuinya karena sepasang suami istri tidak layak untuk saling menyembunyikan rahasia diantara keduanya.
"Dek, aku berniat mengangkatnya sebagai anak kita, apa kamu setuju dengan hal itu? Dia sudah tidak punya siapa siapa lagi selain kita".
"Kau serius Mas?". Tanya Rahayu dengan membuka matanya lebar lebar ketika mendengar ucapan dari suaminya mengenai rencana mengangkat Nimas sebagai anak angkat mereka.
"Ada apa Dek? Apa dirimu tidak menyetujuinya?". Tamya Kuswanto dengan keheranan mengenai ekspresi yang ditunjukkan oleh istrinya.
"Bagaimana bisa aku tidak menyetujuinya Mas, keputusanmu adalah keputusanku juga".
"Aku serius Dek, aku tidak bisa mengangkat dirinya sebagai anak jika dirimu tidak menyetujuinya".
"Aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu Mas, tapi aku hanya takut bagaimana jika anak itu mengetahui bahwa dirimu ada hubungannya dengan hal itu?". Tanya Rahayu dengan nada seakan akan sedang ketakutan.
"Dia sudah mengetahuinya Dek, ternyata Setyo sendiri yang mendatanginya dan memberitahukan semuanya kepadanya".
"Jika seperti itu, aku merasa sangat bahagia Mas, karena bisa memiliki seorang putri". Senyum Rahayu merekah begitu lebarnya.
Dan akhirnya keduanya sepakat untuk mengangkat Nimas menjadi anak angkat mereka, Kuswanto mendidik Nimas agar dapat mengendalikan dirinya sendiri, dengan sabar Kuswanto terus melatihnya dan mengajarkan beberapa jurus ilmu beladiri khusus wanita kepada Nimas.
"Dalam bertarung dengan lawan, kita dapat membaca gerakan lawan hanya dengan melihat kedua matanya Nak". Ucap Kuswanto kepada Nimas dan Panji.
"Bagaimana caranya itu Ayah?". Tanya Nimas yang mulai terbiasa memanggil Kuswanto dengan sebutan Ayah dan memanggil Rahayu dengan sebutan Ibu.
"Jika orang itu ragu dengan serangan yang akan ia lakukan maka gerakan matanya akan terpecahkan dari fokusnya, jika mereka akan menyerang maka gerakan matanya akan berubah". Jelas Kuswanto kepada Nimas.
Tanpa lelah sedikitpun Nimas terus melakukan berulang ulang kali gerakan gerakan yang diajarkan oleh Kuswanto, sehingga gerakannya begitu indah dilihat akan tetapi sangat berbahaya bila digunakan untuk melawan seseorang.
"Ikuti gerakan yang akan ayah praktikan kepada kalian berdua, perhatikan dengan baik baik, setelah ini Ayah akan meminta kalian untuk melakukan gerakan yang sama seperti yang Ayah lakukan". Ucap Kuswanto.
"Baik Ayah". Jawab keduanya bersamaan.
Kuswanto segera melakukan beberapa gerakan dasar dihadapan Nimas, agar Nimas dapat melihatnya dengan baik sehingga ilmu beladiri yang akan dia sampaikan kepada Nimas akan membuat Nimas mampu mempelajarinya dengan mudah.
Gerakan demi gerakan Kuswanto lakukan didepan Nimas dan juga Panji, gerakan yang Kuswanto lakukan begitu lembut dan halus akan tetapi setiap serangannya dapat melumpuhkan musuh dengan mudahnya karena kelenturan tubuh yang digunakan untuk melakukan gerakan tersebut.
Setelah selesai melakukan gerakan tersebut, Kuswanto menyuruh anak anaknya untuk melakukan gerakan yang sama seperti apa yang dia lakukan secara bergantian, meskipun banyak sekali gerakan yang salah ketika mereka memperaktikkan didepan Kuswanto akan tetapi Kuswanto mengajari mereka dengan sabar dan telaten sampai keduanya mampu melakukan gerakan yang sama persis dengan gerakan yang dia lakukan sebelumnya.
Setelah setengah hari belajar mengenai seni beladiri, selanjutnya Kuswanto mengajari keduanya tentang bagaimana caramya menggunakan tongkat untuk belajar beladiri dengan baik dan benar.
"Jika kalian menjadikan tongkat sebagai senjata kalian, kalian harus memeganginya dengan kuat agar tidak terlepas ketika kalian menghadapi musuh musuh yang akan kalian temui".
Nimas dan Panji terus memperhatikan bagaimana cara Ayahnya memberikan arahan arahan kepada keduanya, belajar beladiri bukanlah hal yang mudah karena kita harus menerima resiko yang akan ditimbulkan dari belajar beladiri seperti cidera, memar, pegal pegal, dan lain sebagainya.
"Akh...". Desah Nimas ketika tongkat yang ada ditangannya mengenai kepalanya ketika melakukan gerakan memutar tongkat.
"Ada apa Nak?". Tanya Kuswanto kepada Nimas.
"Ngak apa apa Ayah, hanya saja aku salah ketika memutar tongkat ini dan membuat tongkat ini menatap kepalaku". Jawab Nimas.
"Lain kali berhati hati Nak, jangan sampai senjata yang akan melindungi kita ternyata mampu melukai kita sendiri".
"Iya Ayah, aku akan lebih berhati hati lagi kedepannya".
Apapun yang ada ditangan kita mampu menjadi senjata bagi kita jika kita mampu memainkannya dengan gerakan yang sesuai, seperti halnya pengsil karena pengsil juga mampu menjadi senjata rahasia dan dengan mudah menancap ketubuh seseorang jika digerakkan dengan cepat.
__ADS_1
Belajar beladiri itu mudah jika kita mampu menyerap setiap ilmu yang disampaikan oleh pelatih dan tidak takut untuk melakukan gerakan yang sangat sulit untuk dilakukan meskipun dengan resiko cidera yang tinggi, yang lebih sulit adalah belajar untuk sadar diri.
...Jangan lupa like, komen, dan vote ya biar Authornya makin semangat...