
Bi Ira menidurkan Nadhira perlahan lahan didalam pangkuannya dan memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya seakan akan jika dirinya melepaskan pelukannya dari tubuh Nadhira maka dirinya tidak akan pernah bertemu lagi dengan sosok Nadhira, tubuh Nadhira seketika terasa begitu dingin juga wajahnya yang terlihat begitu pucatnya dan detak jantung Nadhira semakin melemah.
"Dhira jangan tinggalkan diriku, bangun Nak, aku mohon kepada Dhira, buka matamu Nak hiks.. hiks.. hiks... Huaaa.... Nadhira! Bangun Nak, Ibumu ini memberi perintah untuk mu, kau harus bangun!" Tangis Bi Ira pecah ketika memeluk tubuh Nadhira yang sudah melemah itu.
Bi Ira memandangi wajah Nadhira dengan perasaan sedihnya, dapat terdengar suara isak tangisnya ketika memeluk tubuh Nadhira, dan dengan lembutnya Bi Ira membelai rambut panjang Nadhira
Nadhira mulai tidak sadarkan diri setelah dirinya berhasil meminumnya meskipun hanya sedikit yang ia minum, bahkan tubuhnya terasa begitu dingin tiba tiba disertai dengan kulit wajahnya yang sedikit membiru karena efek dari racun tersebut.
"Cepat tangkap wanita itu! Jangan biarkan dia lolos dari tempat ini" Teriak Reno.
Mendengar teriakan dari Reno membuat beberapa orang muncul dengan tiba tiba digedung itu dan segera bergegas untuk menangkap Sena sesuai dengan perintah yang ia dapatkan dari Reno.
Tanpa ada yang menyadarinya Reno telah membawa beberapa anak buah Rifki untuk ikut serta dalam kejadian malam ini karena dirinya takut jika sesuatu akan terjadi digedung itu tanpa adanya seseorang yang bisa ia perintah.
"Lepaskan aku! Aku tidak bersalah! Mereka yang begitu kejam kepasaku selama ini!" Teriak Sena meminta untuk dilepaskan.
"Racun apa yang telah kau berikan diminuman itu ha! Jika sampai terjadi sesuatu dengan Nadhira, aku akan membuatmu mendekam selamanya didalam penjara! Ingat itu Sena!" Tanya Reno kepada Sena dengan emosinya.
"Aku tidak memberikan apapun kepada dia! Bukan aku, bukan aku!" Bantah Sena.
"JAWAB PERTANYAANKU! RACUN APA YANG KAU BERIKAN KEPADA NADHIRA!" Bentak Reno.
"Aku tidak pernah memberikan apapun kepada minuman itu! Aku tidak tau soal racun itu!"
Melihat kejadian itu membuat tamu undangan pesta tersebut saling berhamburan keluar dari gedung tersebut, mereka tidak ingin terlibat dalam masalah seperti ini sehingga mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
"Apa yang terjadi! Kau benar benar ingin memberikan racun itu kepadaku Sena!" Teriak Rendi ketika melihat Nadhira sudah terbaring tidak sadarkan diri.
"Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan Mas, aku sama sekali tidak mengerti tentang ini semua, ada yang sengaja memberikan racun pada minuman itu" Jawab Sena sambil berusaha untuk melepaskan diri.
"Bagaimana kau tau bahwa ada yang sengaja memberi racun pada minuman itu? Sudah tau bahwa minuman itu beracun tapi kenapa kau tetap memberikan minuman itu kepada Om Rendi? Menurut logika itu tidak masuk akal Tan, sudah tau minuman itu telah diberi racun oleh orang dengan sengaja tapi kenapa kau tidak memberitahukan sejak awal apalagi kau sampai memberikan minuman itu kepada Om Rendi" Ucap Reno.
"Aku tidak berani mengatakan hal itu sebelumnya".
"Karena kau adalah pelakunya, bagaimana mungkin kau bisa memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu sebelumnya kepada kami, pelaku tidak mungkin bisa dengan mudah untuk mengakui semua kesalahan yang telah dilakukannya jika bukan karena terpaksa untuk mengakuinya".
"Aku tidak melakukan apapun! Aku tidak tau apa apa soal ini!"
Suasana didalam gedung tersebut berubah menjadi kericuhan yang bergemuruh, tidak ada seorangpun dari tamu undangan yang ingin menetap ditempat seperti itu cukup lama, karena mereka memutuskan untuk membubarkan diri agar mereka tidak menjadi sasaran dari kejadian itu.
"Nadhira bangun, jangan tinggalkan aku seperti ini Dhira, aku sangat menyayangimu, tapi kenapa kau memilih untuk pergi meninggalkan diriku seperti ini" Theo menjatuhkan diri disamping Nadhira.
Bi Ira tidak mampu berkata kata ditempat itu, yang bisa ia lakukan hanyalah memeluk tubuh Nadhira yang sudah mulai memucat itu, Bi Ira begitu terpukul ketika melihat Nadhira meminum minuman beracun itu tepat dihadapan sementara dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk menolongnya.
Reno mendekat kearah Nadhira dan memeriksa denyut nadinya, Reno begitu terkejut dengan kecepatan dari racun itu menyebar keseluruh tubuh Nadhira, meskipun baru sesaat Nadhira meminumnya racun itu sudah mampu melemahkan detak jantungnya.
"Tidak mungkin! Dhira tidak mungkin meninggalkan kita untuk selamanya, Dhira bangunlah! Aku mohon, bangunlah, buka matamu sekarang Dhira, jangan tinggalkan kita seperti ini, kau pasti bisa bertahan, aku mohon bukalah matamu Dhira, bertahanlah demi Rifki, jangan tinggalkan kami seperti ini" Ucap Reno ketika selesai memeriksa denyut nadinya.
"Apa yang terjadi dengan Nadhira, katakan!" Ucap Bi Ira sambil menatap kearah Reno.
"Nadhira kamu harus bertahan, kau adalah wanita yang kuat, kau pasti bisa melewati ini semua, aku mohon Dhira, jangan pergi seperti ini".
"Nak tolong katakan apa yang terjadi dengan Nadhira kenapa kau mengatakan hal seperti itu".
"Kondisinya memburuk Bi, jika pun dibawa kerumah sakit, itu tidak memungkinkan untuk saat ini".
"Tidak!"
__ADS_1
Rendi seakan akan tidak mau percaya dengan apa yang dikatakan oleh Reno saat ini mengenai kondisi dari Nadhira setelah dirinya meneguk minuman yang berisi racun itu.
"Apa yang kau katakan! Dhira pasti baik baik saja" Ucap Rendi ketika mendengar ucapan Reno.
"Jika Om tidak percaya dengan ucapanku, maka periksalah sendiri detak jantungnya dan pernafasannya yang semakin lama semakin melambat saat ini" Ucap Reno sambil mengundurkan diri dari tempat sebelumnya dirinya berada.
"Ini pasti hanya sandiwara kan? Ini semua tidak benar benar terjadi bukan? Nadhira pasti hanya pura pura pingsan kan?" Tanya Rendi dengan nada sedihnya.
"Jika bukan karena Nadhira yang menyelamatkan nyawa Om, Om pasti yang berada diposisi Nadhira saat ini! Apa Om puas ha! Apa Om puas melihat Nadhira terbaring tidak sadarkan diri seperti ini! Ini semua gara gara Om, seandainya Om tidak menyuruh Nadhira untuk meminumnya, Nadhira tidak akan seperti ini saat ini Om, Om tega dengan anak Om sendiri" Teriak Reno dengan emosinya.
"Arghhhh.... Tidak mungkin! Nadhira pasti akan baik baik saja, Nadhira pasti bangun" Teriak Rendi.
"Nadhira rela mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya demi Om, tapi apa yang telah Om lakukan kepadanya! Om begitu jahat padanya, apakah tidak ada setitik kasih sayang untuk Nadhira bagi Om, apa salah Nadhira kepada Om sehingga membuat Om sangat membencinya seperti ini! Om lebih percaya omongan seseorang tanpa butuh bukti yang nyata, Nadhira sendiri bahkan tidak pernah membantah ucapan Om selama ini"
"Maafkan aku" Ucap Rendi sambil meneteskan air mata dan menjatuhkan diri ditempatnya.
"Sudah terlambat untuk disesali Om, semuanya sudah terjadi, apakah maaf dari Om mampu membuat Nadhira bangun kembali?" Ucap Reno yang semakin memelan.
Bi Ira memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya dan menangis sejadi jadinya ketika mendengar ucapan dari Reno tentang keadaan Nadhira, Bi Ira tidak menginginkan hal seperti ini terjadi kepada Nadhira.
"Apa salah Nadhira kepada dirimu hiks.. hiks.. hiks.. kenapa kau begitu kejam kepadanya, kesalahan apa yang telah Nadhira lakukan kepadamu sehingga kau melakukan ini kepadanya hua.. Dhira bangunlah Nak, jangan tinggalkan aku seperti ini" Tangis Bi Ira sambil memeluk tubuh Nadhira.
Tiba tiba keluarlah lendir yang berbusa berwarna hijau sedikit gelap dari ujung mulut Nadhira, hal itu membuat Rendi segera menjatuhkan diri didekat Nadhira dan perlahan lahan menghapus lendir tersebut dan dapat dilihat bahwa saat ini dirinya sedang menangisi Nadhira.
"Apa yang terjadi dengan Dhira?" Tanya Bi Ira dengan paniknya melihat lendir itu.
"Sepertinya racun yang ada didalam tubuhnya mulai menyebar Bi" Ucap Reno.
"Tidak! Tolong selamatkan Dhira, aku mohon kembalikan Dhira padaku".
Meskipun telah dihapus oleh Rendi, akan tetapi lendir tersebut tetap saja mengalir dari ujung bibir Nadhira, detak jantung Nadhira semakin lama semakin melambat, jika lama lama seperti ini maka jantungnya bisa berhenti berdetak.
Reno hanya bisa berdiam diri karena dirinya tidak yakin dengan apa yang ditanyakan oleh Bi Ira, karena kondisi Nadhira yang sudah memburuk, Bi Ira sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Nadhira itu.
"Racun apa yang telah kau berikan kepada Nadhira!" Ucap Rendi dengan perasaan campur aduk.
"Mas, kenapa kau ikut ikutan menuduh diriku? Aku tidak melakukan apapun" Ucap Sena.
"Bohong! Kau telah menyakiti Nadhiraku, aku melihatnya sendiri, kau telah memasukkan sesuatu kedalam minuman itu" Bantah Bi Ira yang sudah tidak tahan mendengar ucapan Sena.
"Kau hanya pembantu disini! Tidak pantas kau mengatakan kata kata itu ditempat ini".
"Iya memang aku seorang pembantu disini tapi aku juga seorang Ibu untuk Anakku Nadhiraku, meskipun aku bukan Ibu kandungnya tapi kasih sayangku begitu tulus kepada Nadhira, kau telah memisahkan aku dari Nadhiraku".
"Kau berani melawanku disini, aku tidak akan membiarkan dirimu hidup! Lepaskan aku, biar aku beri pelajaran pembantu kurang ajar ini!" Sena terus berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan tangan anak buah Rifki.
"Sebelum kau melakukan itu, kau hadapi aku! Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada Bi Ira, karena dia adalah orang yang paling disayangi oleh Nadhira" Ucap Reno dengan tegasnya.
Sena terus memberontak untuk meminta dilepaskan akan tetapi orang orang yang tengah memeganginya itu terus mengeratkan pegangannya agar Sena tidak bisa lepas dari pegangan tersebut dan membuat Bi Ira dalam bahaya karena Sena.
"Gadis bod*h, aku memberitahukan hal ini kepadamu agar kau mencegahnya bukan malah meminumnya!".
Tiba tiba suara yang tidak asing terdengar dari tepat itu, hal itu membuat mereka menoleh kearah sumber suara dan mendapati sosok Jono sedang berjalan kearah dimana Nadhira terbaring.
"Kau!"
"Tidak ada waktu lagi untuk bertanya jawab disini, kita harus segera menyelamatkan nyawa gadis ini, atau tidak kita akan kehilangannya untuk selamanya" Ucap Jono ketika melihat Rendi ingin mengatakan sesuatu kepada dirinya.
__ADS_1
Benar apa yang dikatakan oleh Jono, karena tidak ada waktu lagi untuk bertanya jawab dalam keadaan seperti ini, nyawa Nadhira sekarang menjadi taruhannya jika racun itu tidak mampu ditahannya maka Nadhira tidak akan mampu untuk diselamatkan.
Jono mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya, ia membuka sebungkus obat dan segera memasukkannya kedalam mulut Nadhira, dan berkata "Obat ini mampu menetralkan racunnya untuk sementara, aku harap dengan obat ini nyawa Nadhira akan terselamatkan, bawalah dia kerumah sakit terdekat dari sini".
"Ibu..." Ucap Nadhira pelan meskipun dengan memejamkan mata.
"Nak kau baik baik saja, Ibu disini Nak, bertahanlah kau pasti akan baik baik saja" Ucap Bi Ira ketika mendengar suara Nadhira lirih.
Mendengar suara Nadhira pelan membuat Bi Ira merasa sangat bahagia, begitupun dengan Reno dan orang orang yang mendengarnya, itu artinya obat yang diberikan oleh Jono begitu manjur.
"Baiklah aku akan membawanya pergi, Bi izinkan aku membawa Nadhira pergi dari sini" Ucap Reno.
Reno segera mendekat kearah Nadhira, Reno meminta izin kepada Bi Ira untuk membawa Nadhira kerumah sakit terdekat, mendengar itu Bi Ira segera melepaskan pelukannya dari tubuh Nadhira dengan berat hati. Setelah itu, ia segera mengangkat tubuh Nadhira dan hendak membawanya pergi dari tempat itu untuk menuju kemobil yang ia naiki.
"Tolong jaga dia baik baik" Ucap Bi Ira kepada Reno dan dibalas anggukan olehnya.
"Aku serahkan semua yang ada ditempat ini kepadamu Ngga, kau pasti sudah tau maksudku" Ucap Reno kepada teman sejak kecilnya yang ada didalam Gengcobra yakni Angga.
"Kau tenang saja Ren, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk yang terbaik ditempat ini, dan aku akan bertanggung jawab dengan semua apa yang terjadi ditempat ini"
"Bagus, aku sangat percaya kepadamu kawan".
Reno menatap kearah Nadhira yang tidak sadarkan diri dalam gendongannya dengan tatapan lembut, setelah itu dirinya menatap kearah Rendi dan langsung berubah ekspresi menjadi tatapan yang teramat tajam dan dinginnya.
"Jika sampai terjadi sesuatu dengan Nadhira, aku tidak akan pernah memaafkan Om, dan jangan harap Om dapat bertemu lagi dengan Nadhira setalah ini! Sudah cukup Om membuat dia menderita selama ini, aku tidak akan pernah membiarkan Nadhira menderita lagi karena Om" Ucap Reno dengan tegas.
"Kau tidak bisa membawa dia pergi sesuka hatimu! Dia anakku, dan aku tidak akan membiarkan dia pergi begitu saja" Ucap Rendi.
"Aku memang tidak punya hak terhadap Nadhira tapi Nadhira adalah teman baikku, aku tidak akan membiarkan Nadhira kenapa kenapa".
"Jangan harap kau bisa membawa Nadhira pergi dari sini, berhenti! Nadhira adalah anakku".
Reno segera membawa Nadhira pergi dari tempat itu tanpa mempedulikan sosok Rendi yang terus berteriak menghentikan dirinya, ketika Rendi ingin mengejar Reno tiba tiba tangan Jono mencegahnya untuk melakukan itu.
"Hentikan tindakan bod"hmu ini".
"Beraninya kau menghentikan diriku!"
"Kenapa aku harus takut untuk menghentikan dirimu, siapa kau! Kau hanya manusia biasa, untuk apa aku takut dengan dirimu".
"Jangan hentikan aku, aku harus mencegahnya untuk membawa anakku pergi dari sini, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi".
"Kau sebut dia adalah anakmu? Apakah begitu caramu untuk memperlakukan anakmu sendiri Rendi! Kau bahkan tidak pantas disebut seorang Ayah bagi Nadhira! Bagaimana bisa seorang Ayah menginginkan kematian dari anaknya sendiri, lelucon macam apa itu!" Ucap Jono.
"Kau hanya tukang kebun dirumahku, tidak sepantasnya kau berkata seperti itu kepadaku!"
"Aku berhak atas Nadhira! Nadhira adalah anak dari Lia, dan kau tau siapa itu Lia? Lia adalah Kakak kandungku yang telah lama hilang, dan aku datang untuk mengambil Nadhira kembali darimu karena kau sama sekali tidak becus untuk mengurusnya, kau hanya bisa menambah penderitaannya saja".
"Becus atau tidaknya itu semua bukan urusanmu!"
"Ini jelas menjadi urusanku, karena Nadhira adalah keponakanku, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada dirinya"
"Apa! Siapa kau? Kau tidak bisa untuk memisahkan aku dari anakku sendiri, kau tidak akan bisa merebut hak asuh Nadhira dariku".
"Nama asliku adalah David saudara kandung dari almarhum Lia, kau membicarakan hak asuh denganku? Itu sama sekali tidak berguna untukku sekarang Rendi, hanya Nadhira sendiri yang berhak untuk memutuskannya dimana dirinya akan tinggal dan bersama siapa dirinya nantinya, setelah kejadian hari ini dia tidak akan mau lagi tinggal bersamamu karena begitu banyak rasa sakit hati yang telah kau berikan kepadanya".
"Kau bohong! Lia pernah bilang kepadaku bahwa dia adalah anak tunggal, dia tidak memiliki saudara! Tidak mungkin kau adalah saudaranya" Ucap Rendi tidak menerima kenyataan.
__ADS_1
......Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan......