Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Mengantar Nadhira pulang


__ADS_3

"Oh iya, kamu tadi bilang kalo Vano menculikmu dijalan, emang kamu habis dari mana?". Tanya Rifki kepada Nadhira.


"Ah itu, aku ikut ibu kepanti asuhan untuk mengunjungi anak anak yang ada disana, mengunjungi Fika juga". Jawab Nadhira.


"Siapa Fika itu? kenapa harus dikunjungi?".


"Fika adalah anak yang aku temukan dijalan, dia anak yatim piatu, dia ditelantarkan oleh tantenya sendiri bahkan difitnah memiliki penyakit kulit yang menjijikkan dan tidak bisa disembuhkan, tapi nyatanya setelah aku bawa kepanti, penyakit itu hilang dan tubuhnya mulai bersih".


"Lain kali bawa aku kesana ya, aku ingin main juga disana, kali aja aku bisa bantu donasi juga".


"Baiklah".


Setelah itu Rifki mengantarkan Nadhira pulang kerumahnya menaiki sepeda motor Rifki, diperjalanan Nadhira terus menceritakan tentang panti asuhan itu kepada Rifki, Rifki hanya bisa menanggapinya dengan mengangguk dan sesekali tertawa menggoda Nadhira.


tak lama kemudian, Nadhira telah sampai dirumahnya, Ketika melihat kedatangan Nadhira membuat bi Ira segera bergegas menemuinya, ia begitu terkejut ketika melihat luka sayatan dileher Nadhira, ia juga melihat luka memar diwajah Rifki saat ini.


Seketika membuat bi Ira begitu bertambah paniknya karena hal itu, awalnya ia hanya panik Nadhira tidak ikut pulang bersamanya, sekarang ia semakin panik melihat keduanya terluka.


"Astaghfirullah... Ini kenapa nak? Kenapa bisa terluka seperti ini, apa yang terjadi dengan kalian".


Bi Ira begitu khawatirnya kepada keduanya sampai sampai tubuhnya bergemetaran akan hal itu, Nadhira yang melihat hal itu segera mengusap usap lengan ibu angkatnya itu agar ia bisa merasa tenang daripada sebelumnya.


"Ceritanya panjang bu, lagian ini juga hanya luka kecil kok bu, tinggal nunggu kering nanti juga akan sembuh". Jawab Nadhira dengan entengnya.


"Bibi ngak perlu menghawatirkan memikirkan ini, yang terpenting Nadhira kembali dengan selamat, selama masih ada aku, aku akan terus menjaganya dengan nyawaku sendiri". Tambah Rifki.


"Iya bibi percaya itu, tapi sebenarnya kalian ini kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Apakah dua orang itu mencelakai kalian sampai seperti ini, sudah ibu bilang kan jangan pergi dengan nya... Blablabla.....". Bi Ira melontarkan omelannya kepada keduanya.


"Hanya ada kecelakaan kecil saja bi, bibi jangan terlalu cemas ya". Ucap Rifki menengkan bi Ira.


Bukannya semakin tenang, justru bi Ira semakin menjadi jadi memgenai kekhawatirannya kepada anak angkatnya tersebut, ketika berpisah dengan Nadhira pagi itu, Nadhira masih baik baik saja tetapi setelah ia dibawa pergi oleh dua orang membuat Nadhira kembali dengan keadaan seperti ini.


Nadhira dan Rifki hanya bisa menunduk dan saling berpandangan satu sama lain ketika mendengar omelan yang begitu panjang bagi mereka, itu adalah omelan dari seorang ibu yang begitu menghawatirkan anaknya.


Nadhira segera mengajak bi Ira dan Rifki untuk duduk digazebo taman rumahnya, jika bi Ira mengomel didepan gerbang rumahnya itu tidak akan menjadi hal baik karena akan banyak orang yang berfikir jauh dari apa yang terjadi sebenarnya.


Setelah mereka duduk digazebo bi Ira tak kunjung berhenti untuk mengomel kepada keduanya, sampai akhirnya bi Ira masuk kedalam rumah untuk membuatkan keduanya minumannya.


"Ibu angkatmu begitu menakutkan ya Dhir, udah kayak ibu kandung". Ucap Rifki.


"Jujur aku lebih suka di situasi seperti ini, karena kasih sayangnya begitu tulus kepadaku". Jawab Nadhira.


Bukannya semakin takut karena diberi omelan yang panjang, justru Nadhira merasa begitu bahagia karenanya, ia begitu merindukan mamanya ketika sedang mengomelinya karena sebuah masalah yang kecil baginya, entah mengapa omelan itu begitu sangat ia rindukan.


Melihat kedua mata Nadhira mulai berkaca kaca karena sedang merindukan sosok seorang ibunya yang telah lama meninggal, membuat Rifki mengalihkan pembicaraan tersebut, ia tidak ingin Nadhira sedih lagi karena memikirkan mamanya yang sudah tiada.


"Iya ngak ada bedanya sama kamu, kalo sudah terlanjur ngomel pasti tidak ada remnya".


"Apa kau bilang!!!".


"Apa yang kalian bicarakan?".

__ADS_1


Tiba tiba bi Ira datang ketempat itu sambil membawakan minuman kepada keduanya, keduanya segera meminumnya karena rasa haus mereka muncul ketika melihat tetesan embun yang berada ditepi gelas tersebut.


"Oh iya bu, papa kemana? Kok ngak ada mobilnya, apa dia pergi?". Tanya Nadhira tiba tiba.


"Katanya mau jalan jalan, non Manda ingin pergi berenang bersama keluarga, jadi tuan mengabulkan permintaannya dan mengajaknya jalan jalan". Jawab bi Ira.


"Pergi berenang? Jalan jalan, rasanya papa tidak pernah mengajakku seperti itu sebelumnya, bahkan aku juga tidak ingat kapan terakhir kali ia mengajakku rekreasi seperti itu, Kenapa papa ngak memberitahuku sebelumnya?".


"Kamu ingin berenang Nadhira? Atau ingin jalan jalan? Ayo aku antarkan, keliling dunia juga aku mau asalkan denganmu". Ucap Rifki kepada Nadhira ketika melihat kesedihan diwajahnya.


"Bercandanya ngak lucu Rifki".


"Siapa juga yang bercanda? Kalo kamu mau ayo sekarang berangkat". Terlihat keserius diwajah Rifki dengan perkataannya.


Nadhira tersenyum senyum sendiri melihat keseriusan diwajah Rifki saat ini, ia tidak menduga Rifki akan seserius itu menanggapi ucapannya. Rifki ikut tersenyum apabila ia melihat Nadhira tersenyum, keduanya sama sama terluka tetapi masih bisa tertawa dengan bahagianya.


Sisah darah diujung bibir dan juga kening Rifki masih terlihat dengan jelas meskipun sudah dibasuh dengan air, karena daerah sudah membeku dan sulit dihilangkan. Sementara disekitar luka goresan dileher Nadhira mulai memerah dan akan terasa perih jika terkena air maupun keringatnya.


"Sebenarnya kalian ini darimana? Kenapa bisa terluka seperti ini, jawab jujur!!". Ucap bi Ira yang tiba tiba.


"Ah itu... Anu... Hm... Itu... sebenarnya...". Ucap Rifki dengan bingungnya dengan apa yang harus ia katakan kepada bi Ira.


"Itu bu, aku dan Rifki tidak sengaja bertemu dijalan, tiba tiba kita dihadang gitu saja, lalu dua orang yang menghentikan becak kita juga terluka jadi tidak bisa melindungiku, akhirnya aku terkena goresan pisau, untung saja ada Rifki kalau tidak mungkin akan terjadi sesuatu denganku". Ucap Nadhira beralasan.


"Nah seperti itu bi".


"Dihadang lagi? Bagaimana bisa? Apakah dua orang itu memang sekongkol dengan orang yang menghadang kalian?".


"En... Engak bi, dua orang itu adalah saudara saya, saya yang menyuruh mereka pergi untuk mencari bantuan, tapi sebelum bantuan datang aku dan Nadhira berkerja sama untuk melawan mereka". Jelas Rifki mengenai perkataan Nadhira.


"Maaf bi, mereka memang suka bercanda, harap dimaklumi, senjata itu juga senjata bohongan kok bi".


Meskipun sudah dijelaskan seperti itu, bi Ira masih merasa ragu akan kebenaran itu, bagaimana bisa tiba tiba mereka dihadang oleh seseorang sehingga menyebabkan keduanya terluka, bi Ira ingat dengan jelas mengenai dua orang yang tadinya menghadangnya.


Bi Ira merasa cerita itu adalah suatu alasan yang mereka ucapkan, karena bi Ira dapat melihat bahwa dua orang yang menghadang mereka adalah orang yang ahli beladiri, dan mereka juga membawa senjata lalu bagaimana mungkin mereka kalah begitu saja dengan orang yang menghadang mereka.


Melihat bi Ira yang terdiam membuat Rifki dan Nadhira merasa khawatir bahwa bi Ira masih tetap tidak mempercayai ucapan keduanya, keduanya hanya bisa saling pandang memandang untuk bertukar jawaban melalui sebuah tatapan.


Bi Ira mendekatkan wajahnya kearah luka yang berada dileher Nadhira, ia melihatnya dengan teliti sementara Nadhira mengarahkan kepalanya menghadap keatas agar bi Ira mampu melihatnya dengan jelas.


Luka sayatan itu begitu rapi seakan akan pisau yang digunakan oleh orang itu begitu tajam, untung saja luka sayatan tersebut tidak sampai merobek pembuluh darah, sehingga darahnya tidak keluar begitu banyak dan tidak perlu untuk diobati dirumah sakit.


"Apa yang akan ibu lakukan?". Tanya Nadhira sambil menahan nafasnya.


"Bagaimana bisa terluka disebelah ini". Guman bi Ira.


"Namanya juga luka tidak disengaja bu, lagian mana mungkin aku sengaja melukai diriku diarea itu, masak iya sebelum ia melukaiku harus bernegosiasi dulu mau lukanya ditaruh dimana? kan ngak mungkin lah bu". Jawab Nadhira yang mendengar gumanan tersebut.


"Masuk akal juga sih, tapi aneh".


Bi Ira kembali ketempat duduknya setelah melihat luka itu dengan teliti, ( siapa sih yang sering ngamain kejadian sehingga membuat orang tua tidak cukup bertanya satu kali untuk mencari jawabab ). Rifki dan Nadhira hanya bisa diam entah jawaban apa yang diinginkan oleh bi Ira.

__ADS_1


Bi Ira menghadap kearah Rifki saat ini, ia meminta jawaban dari Rifki bagaimana hal ini bisa terjadi kepada mereka berdua, Rifki masih tetap menjawab dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya.


Akhirnya bi Ira dapat mempercayai akan hal itu, membuat keduanya mampu menghela nafas lega, ketiganya lalu melanjutkan obrolan santai mereka.


Waktu berjalan dengan cepatnya dan akhirnya Rifki berpamitan untuk pulang, Nadhira mengantar kepergian Rifki didepan gerbang rumahnya.


"Jangan lupa setiap hari lukanya dirawat biar ngak infeksi atau semakin parah". Ucap Rifki memperingatkan Nadhira sambil memberikan sebungkus obat kepadanya.


"Iyaya... Bawel banget sih, ngalah ngalahin perempuan aja, kamu juga dirawat, memang lukanya tidak membekas tetapi rasanya pasti masih ada kan?". Nadhira menerima bungkusan tersebut.


"Lagian ini juga luka kecil, kapan lagi aku akan mengalami hal seperti ini, tiba tiba dipeluk dengan eratnya, hehehe...". Rifki tertawa ketika mengingat ekspresi Nadhira sebelumnya.


"Ih Rifki,,, sudahlah". Ucap Nadhira sambil mencupit lengan Rifki.


"Lain kali jangan bertindak seperti tadi, apalagi sampai harus terkena pukulan seperti tadi, aku tidak mau hal itu terulang".


Rifki teringat dengan kejadian pertama kali Nadhira datang kemarkas tersebut, demi menyelamatkan Rifki dari pukulan ia rela terkena sebuah pukulan yang dilontarkan oleh Theo.


Kedua kalinya karena efek obat bius tersebut sehingga membuat dirinya begitu lemahnya sehingga membuat Nadhira memberontak untuk menyelamatkannya alhasil Nadhira lah yang terkena goresan pisau tersebut.


"Sudah ku bilang, jangan hadapi semuanya sendiri, kamu ingat kan? Jika kamu dikeroyok seperti waktu itu, aku bilang kepadamu apa? Kita hadapi bersama sama".


"Kau hebat Nadhira, aku bangga denganmu, tapi aku hanya takut kamu terluka dan merasakan sakitnya luka, aku tidak ingin melihatmu terluka apalagi itu demi melindungiku sehingga sebuah pisau bisa menancap diperutmu, kau tau seberapa khawatirnya diriku ketika melihatmu terbaring diatas kasur rumah sakit, kala itu dokter mengatakan bahwa dirimu tidak terselamatkan, hatiku merasa begitu hancur, aku tidak ingin hal itu terulang lagi, aku terus menyalahkan diriku sendiri karena tindakanku yang membuatmu seperti itu".


"Sudahlah yang terjadi memang haruslah terjadi Rif, seberapapun kita menghindari hal itu, kita tidak akan mampu karena itu sudah menjadi jalan takdir kita,, Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Rif, seberapa jauhnya aku pergi, aku pasti akan kembali, walaupun maut memisahkan".


"Apa yang kau katakan Nadhira? Jangan katakan mengenai maut, jika itu jalan satu satunya yang terbaik maka aku akan menghancurkannya, kalo perlu aku akan lakukan apapun asalkan kau baik baik saja, hari ini, esok, ataupun nanti"..


"Kamu lucu deh, mana mungkin maut bisa diprediksi kapan datangnya, seandainya itu bisa diprediksi mungkin akan banyak orang yang masih hidup untuk saat ini, begitupun mama".


Rifki mengenggam erat kedua tangan Nadhira, dalam genggaman itu Rifki mengucapkan. "Jangan sedih lagi ya, jaga diri baik baik, jangan biarkan iblis itu mampu menguasaimu lagi, aku akan berusaha untuk mencari cara agar kita bisa mengatasi hal itu secepatnya".


"Aku percaya padamu Rif, jangan khawatir aku pasti bisa mengendalikannya".


"Aku berharap juga seperti itu, semoga firasatku itu salah".


Nadhira mengangguk kepada Rifki dan tersenyum kepadanya, akhirnya Rifki berpamitan pulang kepada Nadhira. Rifki mulai menaiki sepedanya dan menjauh dari rumah Nadhira.


Nadhira memandang punggung Rifki yang semakin lama semakin menjauh darinya, ia tidak segera masuk kedalam tetapi ia menunggu hingga bayangan itu menghilang dari kejauhan.


Setelah kepergian Rifki, seseorang tiba tiba lewat didepan rumah Nadhira dan berhenti didepannya, orang itu berpenampilan seperti seorang dukun, ia menatap Nadhira dari bawah ke atas. Orang itu berada dibeberapa meter dari Nadhira, Nadhira terpaku kepadanya beberapa saat hingga dia tersadar akan hal itu.


Seketika membuat Nadhira merasa begitu risih dan merinding, ia segera bergegas menutup gerbangnya dan masuk kedalam rumahnya dengan cepatnya, perasaannya mulai terasa tidak enak lagi.


Setelah Nadhira masuk kedalam, orang itu masih tetap berdiri didepan rumah Nadhira, sesekali ia memainkan janggutnya yang panjang dan berwarna putih.


"Ah, nampaknya gadis itu yang berhasil mengambil permata iblis, aura penjaga itu tidak akan mampu mengelabuhiku untuk mengetahui tentang aura permata". Ucapnya.


Orang itu mengingat ingat kembali wajah Nadhira yang ia lihat baru saja, seketika itu juga orang tersebut segera berjalan menjauhi rumah Nadhira dan pergi entah kemana.


Sementara Nadhira didalam rumahnya segera masuk kedalam kamarnya, ia memegangi dadanya yang sedang gelisah karena bertemu dengan orang seperti sebelumnya yang menatapnya dari bawah ke atas.

__ADS_1


"Siapa orang itu sebenarnya? Kenapa memandangiku seperti itu". Nafas Nadhira memburu.


*Tinggalkan jejak setelah membaca 😊, dengan cara Like+Coment ya*


__ADS_2