
Setelah selesai membereskan semua peralatan mereka dan membersihkan halaman sekitar kemah, semuanya segera menuju kearah bus yang akan menjemput mereka untuk kembali kesekolahan, dan diikuti oleh Nadhira dan Rifki yang juga menuju kearah bus sekolah.
Diperjalanan menuju kesekolah, Nadhira terus menatap kearah gelang yang diberikan oleh Rifki kepadanya, gelang itu begitu sesuai dengan tangannya sehingga terlihat sangat indah jika terpasang disana.
"Apakah kita akan bertemu lagi?". Guman Nadhira pelan tetapi mampi didengar oleh Rifki yang ada disebelahnya.
"Itu pasti, jika kita tidak bisa dipertemukan lagi, aku akan menentang takdir untuk bisa bertemu denganmu lagi nantinya begitupun dirimu harus percaya denganku jangan pernah melupakanku". Ucap Rifki sambil menatap kearah Nadhira.
"Aku ngak mau berpisah denganmu". Ucap Nadhira sambil bersandar dibahu Rifki.
"Aku juga begitu Dhira, seandainya aku bisa memilih aku tidak ingin pergi meninggalkanmu disini, aku juga tidak berdaya karena ini adalah keinginan dari Kakekku, kita masih memiliki banyak waktu untuk sekarang, kita akan gunakan waktu itu untuk mencari cara bagaimana mengeluarkan permata itu dari tubuhmu, agar ketika aku pergi kamu akan aman".
Nadhira hanya bisa menganggukkan kepalanya, ada rasa kehilangan dihati Nadhira ketika Rifki mengatakan bahwa dirinya akan pergi meninggalkannya untuk melanjutkan pendidikannya diluar negeri atas perintah dari Kakeknya.
Rifki saja tidak akan mampu menghentikannya apalagi Nadhira yang bahkan tidak punya hak untuk menghentikan kepergian Rifki, Nadhira terlihat murung ketika mengetahui bahwa Rifki akan pergi meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama demi melanjutkan pendidikannya.
Rifki begitu berarti bagi Nadhira, karena disaat Nadhira terpuruk Rifki akan selalu ada untuknya, tetapi Nadhira tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini, dia juga harus menyelidiki tentang kematian dari Mamanya dan kepergian dari Kakaknya yang tidak pernah pulang lagi setelah Mamanya tiada.
Apapun yang terjadi dimasa mendatang, kehidupan harus tetap berjalan dengan semestinya, tidak akan bisa berhenti dan tidak akan bisa diputar lagi sesuai dengan keinginan kita, alur sebuah kehidupan sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta alam semesta.
Allah menciptakan sebuah masalah bukan berarti tidak ada maksud tertentu didalamnya, akan tetapi Allah ingin mengajarkan kepada hamba-Nya mengenai ketegaran, kesabaran, ketakwaan, kebaikan, dan lain sebagainya.
Jika kau menghadapi sebuah masalah yang cukup besar dan tidak menemukan jalan solusinya, maka katakan kepada masalah tersebut bahwa aku masih memiliki Tuhan yang jauh lebih besar daripada masalah yang ku hadapi, dan Allah tidak akan menguji suatu kaum tanpa kesanggupannya, maka masalah yang kau hadapi akan terlihat begitu kecil.
Hadapi dengan rasa keihklasan akan takdir yang telah diberikan kepada kita, karena Allah begitu yakin bahwa kamu akan mampu melewatinya dengan mudah, semakin tinggi sebuah pohon akan memiliki resiko tertinggi terterpa oleh angin begitupun dengan cobaan yang dialami oleh manusia, semakin berat cobaan maka semakin tinggi derajat yang Allah berikan kepada kita.
Tak beberapa lama kemudian sampailah bus bus itu disekolahan, Nadhira dan anak anak yang lainnya segera turun dari bus tersebut menuju kehalaman sekolahan dimana para orang tua sudah standby di halaman tersebut untuk menunggu kepulangan dari anak anak mereka.
Anggota OSIS berkumpul terlebih dahulu untuk membicarakan evaluasi tentang acara kali ini, begitu banyak masalah yang mereka hadapi disaat mereka sedang melakukan camping kali ini, karena adek kelas mereka yang baru kebanyakan meremehkan tentang kinerja para seniornya.
Mulai dari tidak menghiraukan peringatan yang diberikan oleh senior mereka, dan merasa semuanya akan baik baik saja karena mereka tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh senior mereka sebelum melakukan jelajah malam yang berakhibat kesurupan.
"Sekedar pemberitahuan tentang kejadian semalam, agar tidak terjadi lagi ditahun depan, acara ini kita yang mengadakan, bagaimana bisa ada yang kelolosan seperti itu sampai sampai ada yang kesurupan juga?". Omel Rifki kepada anggotanya.
"Maafkan kelalaian dari kami anggota sie keamanan karena tidak bekerja dengan baik Wa ( Ketua ), diacara selanjutnya kami akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukan tugas kami". Ucap koordinator dari sie keamanan kepada Rifki.
"Untuk kekurangan diacara ini kalian pasti sudah mengetahuinya, untuk acara selanjutnya kalian harus bisa lebih baik lagi dalam melakukan tugas kalian, kalian adalah anggota OSIS yang telah dipercayai oleh Bapak Ibu guru disini, jadi kalian harus bisa melaksanakan tugas kalian dengan baik".
Rifki terus mengomentari mengenai tugas anggotanya itu dengan satu persatu agar diacara selanjutnya akan lebih baik daripada saat ini, setelah dua jam berkumpul dan mengevaluasi mengenai kinerja dari anggota OSIS akhirnya Rifki memutuskan untuk memembubarkan perkumpulan itu agar anggotanya bisa beristirahat dirumah mereka masing masing karena telah melakukan tugas yang begitu berat ketika berkemah.
Rifki segera mengajak Nadhira berjalan menuju kemobilnya yang sudah terparkir rapi dihalaman tersebut, Nadhira dan Rifki segera masuk kedalamnya.
"Kita mau kemana Rif?". Tanya Nadhira dengan bingung karena mobil itu menuju kearah yang berlawanan dari arah menuju kerumahnya.
"Kesuatu tempat". Jawab Rifki singkat.
"Kamu mau menculikku?".
"Bukankah aku juga sering melakukan itu? Kenapa kamu terkejut sekarang kalau kamu aku culik?".
"Ngak, aku ngak terkejut dengan ini, tapi kamu belum pernah mengajakku melewati jalan ini sebelumnya".
"Kita akan menuju ketempat Surya Jayantara terlebih dahulu sebelum aku memulangkanmu kerumahmu untuk memeriksa sesuatu disana".
"Surya Jayantara? Bukankah itu tempat penampungan anak jalanan agar bisa bersekolah lagi? Kenapa kamu mengajakku kesana?".
"Surya Jayantara adalah sebuah yayasan yang berdiri dibawah anggota Gengcobra Dhira".
"Jadi Surya Jayantara juga adalah milikmu? Kenapa aku baru mengetahuinya?".
"Ya karena ngak ada yang tau Dhir, anggota Gengcobra juga anggota rahasiaku, jadi tidak ada yang mengenal anggota Gengcobra disana maupun dilingkungan sekitar, yang mereka tau Surya Jayantara adalah sebuah yayasan yang didirikan oleh pemerintah itu saja".
__ADS_1
"Lalu kenapa kita kesana?".
"Kemaren malam anak buahku memberitahukan kepadaku kalau telah terjadi pembunuhan disana dan korbannya adalah seorang gadis yang masih berusia 15 tahunan".
Sebelum kejadian kesurupan masal itu, anak buah Rifki mendatanginya dengan diam diam diperkemahan dan memberitahukan kabar ini kepadanya, jika hanya lewat telfon anak buahnya tidak yakin mampu menjelaskan dengan secara terperinci kepada Rifki sehingga dirinya memutuskan untuk mendatangi Tuan Mudanya itu.
Rifki begitu terkejut ketika mengetahui bahwa anak buahnya menemuinya dengan diam diam dan menceritakan hal itu kepada Rifki, anak buahnya mengatakan bahwa kasus itu telah diselidiki juga oleh anggota polisi setempat, akan tetapi anak buahnya meminta kepada Rifki agar Rifki mendatangi tempat itu, untung saja waktu pulang dari camping dipercepat sehingga Rifki bisa langsung ketempat itu.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un... Pembunuhan? Bagaimana itu bisa terjadi?". Tanya Nadhira yang juga terkejut ketika mendengar ucapan dari Rifki.
"Aku juga ngak ta Dhira, tapi kata anak buahku gadis itu dianiaya oleh pacarnya, maka dari itu kita harus melihatnya sekarang dan mengeceknya sendiri, biar lebih jelas".
"Apa? Itulah bahayanya pacaran ketika masih muda, semoga arwahnya tenang dialam sana, Aamiin".
"Aamiin".
"Lalu pelakunya sudah ditemukan belum Rif?".
"Sepertinya belum Dhira pelakunya masih menjadi buronan para polisi dan semoga saja secepatnya ditangkap, kalau sekarang belum ada laporan tentang pelaku dari pembunuhan itu kejadiannya juga kemaren malam jadi anak buahku langsung mendatangiku setelah mengetahui hal itu".
"Tuan Muda saya dengar bahwa Tuan Bayu sedang berada di Surya Jayantara juga saat ini, dan Tuan Reno sedang mengejar buronan itu dengan bantuan dari bawahannya". Ucap sopir menyela ucapan keduanya.
"Bagus kalau begitu Pak, lebih cepat sedikit Pak".
"Baik Tuan Muda".
Sopir itu mempercepat laju mobilnya, sehingga Nadhira dan Rifki bisa sampai ditempat tujuannya dengan cepat daripada sebelumnya, Rifki segera bergegas keluar dari dalam mobilnya diikuti oleh Nadhira dibelakangnya.
"Tuan Muda". Sapa beberapa anak buahnya kepada Rifki ketika melihat Rifki keluar dari mobil dengan terburu buru.
Anak buahnya menyambut Rifki didepan gerbang dari bangunan itu, mereka tidak ikut masuk kedalamnya karena mereka harus berjaga diluar agar tidak ada yang masuk kedalamnya karena telah terjadi sebuah kasus pembunuhan didalam.
"Kemana Bayu?". Tanya Rifki.
Rifki segera begergas untuk masuk kedalam bangunan yang cukup luas tersebut, karena bangunan itu sengaja dibuat luas agar dapat menampung banyak anak gelandangan didalamnya.
Akan tetapi tiba tiba dirinya dihadang oleh seorang penjaga pintu didalam bangunan itu, penjaga pintu tersebut tidak mengenali Rifki karena memang Rifki tidak pernau datang mengunjungi tempat itu.
Apalagi penjaga pintu itu baru bekerja beberapa bulan ditempat itu, sehingga ia tidak mengetahui siapa atasannya sebenarnya, yang ia tahu adalah anak buah Rifki yang seding datang ketempat itu untuk memberikan dana kepada tempat itu.
"Maaf Tuan, orang luar tidak diizinkan untuk masuk kedalam ruangan atas perintah dari atasan saya". Ucap penjaga pintu itu.
"Siapa atasanmu? Saya ada perlu dengannya sekarang juga". Tanya Rifki dengan nada tegasnya.
"Atasan saya masih sibuk Tuan, tidak setiap orang bisa menemuinya sekarang, Tuan bisa kembali nanti ketika atasan saya sudah memiliki waktu luang".
"Beritahu atasanmu sekarang, aku sedang menunggunya, bilang kepada dia bahwa Rifki sudah datang kesini dan suruh dia segera menemui saya sekarang juga!!".
"Baik Tuan, silahkan menunggu dulu".
Penjaga pintu tersebut segera menelfon atasannya, akan tetapi telfonnya tak kunjung diangkat oleh si atasan yang dia maksud, Rifki tetap berdiri didepannya sambil melipat kedua tangannya.
"Maaf Tuan, atasan saya masih sibuk".
"Biarkan saya masuk, saya ada perlu dengan dirinya sekarang".
"Tidak bisa Tuan, ini sudah aturan dari yayasan ini, didalam adalah ruangan privasi yang tidak semua orang bisa masuk kedalamnya kecuali atas izin dari atasan saya".
"Pak, jika Bapak terus menghalangi saya seperti ini, Bapak akan menyesal nantinya".
"Maaf Tuan, saya hanya menjalankan tugas saya, atasan saya memperintahkan agar tidak ada yang boleh masuk kecuali atas izinnya".
__ADS_1
Penjaga pintu itu terus saja mengotot tidak mengizinkan Rifki dan Nadhira untuk masuk kedalamnya, sesuai dengan aturan yang berlaku ditempat itu bahwa tidak ada yang boleh masuk karena didalamnya terdapat banyak dokumen pinting yang harus dijaga.
Rifki hanya bisa menghela nafasnya karena dirinya tidak diizinkan untuk masuk kedalam bangunan itu, Rifki dan Nadhira hanya bisa duduk didepan pintu bangunan yang cukup luas tersebut demi menunggu atasan dari penjaga pintu itu datang.
Rifki tidak ingin memberitahukan bahwa Rifki adalah pemilik dari perusahaan tersebut, Rifki juga sedang menguji ketegasan dari penjaga pintu itu, menurut Rifki penjaga pintu itu cukup menarik.
"Pak ada minum? Saya dan teman saya haus". Tanya Rifki lagi.
"Ada Tuan, sebentar saya ambilkan dulu".
Penjaga pintu itu segera meninggalkan Rifki dan Nadhira dari tempat itu untuk mengambilkan keduanya minuman, sementara Nadhira merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rifki saat ini.
"Kenapa tidak langsung mengatakan bahwa kamu adalah pimpinan dari mereka?". Tanya Nadhira.
"Karena mereka tidak akan mempercayai hal itu Dhira jika hanya mengatakannya saja, mereka pasti juga membutuhkan bukti bukti yang nyata, apalagi selama ini yang mereka kenal adalah Kakekku bukan diriku".
"Kau benar juga Rif, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, siapa sih sebenarnya pimpinan mereka itu?". Tanya Nadhira dengan keheranan mengenai pimpinan dari yayasan itu.
"Namanya Pak Hendra, orang kepercayaan dari Kakekku, dia sangat mengenaliku selama ini, aku juga yang memperintahkan kepadanya untuk membuat peraturan seperi ini sebelumnya karena sering kali terjadi pencurian ditempat ini".
"Oh seperti itu, jadi kamu sekarang masuk ke peraturanmu sendiri".
"Emang kamu pikir atasan itu bisa melanggar aturannya sendiri? Yang ada bukannya malah dihormati tapi anak buahnya akan melakukan hal yang sama untuk melanggar aturan itu, mereka akan berpikir bahwa atasannya saja melanggar kenapa aku tidak boleh melanggar juga".
"Hehe iya juga sih".
Tak beberapa lama kemudian akhinya penjaga pintu itu kembali dengan membawakan dua gelas penuh air putih, dan menyodorkannya kepada keduanya.
"Maaf Tuan, disini hanya ada air putih, jadi kami tidak bisa memberikan minuman lain selain air putih ini". Ucapnya dengan pasrah karena memang ditempat itu hanya ada air putih saja.
"Iya Pak, ngak papa, terima kasih".
Rifki dan Nadhira segera meminumnya hingga tandas tak tersisa karena keduanya juga telah merasa haus yang mendalam setelah pulang berkemah dan juga berkumpul dengan anggota OSIS cukup lama.
Nadhira dan Rifki langsung meletakkan gelas kosong tersebut diatas meja, Rifki segera berdiri menghampiri penjaga pintu tersebut.
"Pak, apa masih lama dia keluar?".
"Maaf Tuan saya tidak tau".
"Tolong bilang kepada atasan Bapak, saya tidak memiliki banyak waktu jika hanya berdiam diri disini, sekarang suruh dia keluar, atau aku yang masuk". Ucap Rifki sambil melihat jam tangannya.
Tiba tiba seseorang membuka pintu bangunan itu dari dalam, penjaga pintu tersebut segera menoleh kearah orang tersebut, sosok pria berbaju rabi dengan tubuh yang tinggi dan juga kekar keluar dari ruangan tersebut dan melangkahkan kaki keluar.
"Ada apa ini ribut ribut diluar". Tanyanya.
"Maaf Pak, orang ini memaksa untuk masuk kedalam, saya hanya melaksanakan tugas saya untuk tidak mengizinkan siapapun masuk kedalam sesuai dengan perintah Bapak".
Rifki segera menoleh kearah sumber suara dimana suara lelaki itu berasal, ketika Rifki menampakkan wajahnya didepan orang itu, orang itu segera berlari kearahnya dan memberi hormat kepada Rifki.
"Tuan Muda maafkan kelancangan dari karyawan saya, saya akan berusaha untuk mengajarinya lagi". Ucap orang itu yang tidak lain adalah Hendra selaku atasan ditempat itu.
"Maksud Bapak apa?". Tanya penjaga pintu tersebut keheranan dengan sikap dari atasannya yang tunduk kepada seorang pemuda yang ia tahan sebelumnya.
"Diam!! Sekarang minta maaf kepadanya, dia adalah pemilik dari yayasan ini, dan atasanku".
Ucapan Hendra seakan akan menjadi sebuah petir yang menyambar tubuh dari pria yang menjaga pintu tersebut, ia tidak menyangka bahwa dirinya telah berani menghentikan langkah kaki dari pemuda yang menjadi pemilik dari yayasan itu dan juga pemimpin dari Gengcobra.
"Tuan Muda maafkan saya, saya tidak mengetahui bahwa Tuan Muda adalah atasan dari atasan saya, maafkan saya". Orang itu mencoba menunduk beberapa kali kepada Rifki untuk meminta maaf.
"Tidak masalah, Pak Hendra tolong berikan dia hadiah karena telah melaksanakan tugasnya dengan baik, dan rasa terima kasihku atas air yang telah dia berikan kepadaku tadi, nanti aku akan menyuruh anak buahku untuk mengantarkan hadiahnya kesini".
__ADS_1
......*Terima kasih atas dukungannya*......