
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Anggota kita mengepung markas ini dari belakang sedangkan para polisi mengepungnya dari depan dan samping, tak disangka mereka mengetahui bahwa markasnya sedang dikepung diberbagai macam arah, mereka mulai kabur lewat pintu belakang sambil membawa beberapa senjata, anggota kita banyak yang terluka akibat perkelahian itu".
"Lalu bagaimana sekarang? Apa mereka baik baik saja?".
"Semuanya baik bos, hanya Vano yang mengalami luka paling parah,ketika melihat buronan mereka kabur dari pintu belakang, anggota kepolisian segera menuju pintu belakang, salah satu dari mereka menelfon pihak rumah sakit".
"Lalu setelah itu?".
"Setelah itu pihak kepolisian berhasil menangkap semuanya. Papa dan juga mamanya Nadhira berhasil menyelamatkan adik tiri Nadhira, keduanya langsung bergegas membawa adik tiri Nadhira pergi dari sini".
Rifki merasa terkejut ketika mendengar hal itu, bagaimana bisa orang tua meninggalkan salah satu anaknya dalam bahaya demi menyelamatkan anaknya yang lainnya. Apakah layak untuk disebut sebagai orang tua?
Rifki terdiam beberapa saat, ia melihat sekelilingnya para penjahat sudah dimasukkan kedalam mobil polisi, teman temannya terduduk ditanah dengan luka ringan. para perawat pun tidak tinggal diam, mereka segera mengobati orang yang terluka.
"dimana Nadhira sekarang?".
"Nadhira sudah berada dalam ambulance itu". Menunjuk kearah dimana ambulance terparkir.
"Antarkan aku kesana"
"Baik"
Perlahan lahan keduanya mendekati kearah ambulance tersebut, ketika jarak keduanya mulai dekat, seorang perawat berjalan mendekat kearah Rifki. Ia mengatakan kepada anak yang tengah menapahnya untuk membawa Rifki masuk kedalam ambulance, didalam ambulance itu ia melihat Nadhira yang terbaring lemas diatas tandu ambulance.
"Nadhira maafkan aku, karena tidak bisa melindungi dan menjagamu dengan baik, ini semua salahku hingga kau terbaring disini, kamu harus bertahan Nadhira".
Disebelah Nadhira terdapat sosok remaja laki laki laki yang terbaring lemah juga. Keduanya tidak sadarkan diri, laki laki itu memiliki luka dipunggungnya seperti sebuah sayatan yang panjang. Luka tersebut sudah dihentikan pendarahan, tetapi masih belum sadarkan diri.
Ketika Rifki sudah berada didalam mobil ambulance, mereka melajukan mobilnya menuju kerumah sakit terdekat, diperjalanan perawat tersebut juga membantu Rifki mengobati beberapa luka sayatan yang ada tangan dan kakinya.
Ketika perawat tersebut mengobati luka Rifki, Rifki menjulurkan tangannya dan mengusap kepala Nadhira dengan lembut. terlihat kesedihan yang begitu mendalam dari matanya, ia merasa kecewa karena tidak dapat melindungi Nadhira.
"Kenapa bisa ada orang yang setega itu terhadap anaknya, disini yang terluka parah adalah Nadhira tetapi orang itu malah membawa Amanda dengan terburu buru". Omelan Raka.
"Aku juga ngak tau, kenapa ada orang setega itu". Ucap Rifki dengan tiba tiba.
"Apakah mungkin energi asing didalam tubuhnya diberikan oleh orang tuanya?"
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu, itu belum tentu benar".
Perawat itu kebingungan melihat Rifki yang seakan akan sedang bicara sendirian, ia tidak melihat ada orang lain yang sedang mengajaknya berbicara. Perawat tersebut merasa ada yang salah dengan anak yang ada didepannya.
"Dek, aku tidak mengatakan sesuatu".
Mendengar ucapan dari perawat itu terlontarkan, membuat Rifki mengalihkan pandangannya kepada sang perawat. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil tersenyum canggung.
"Maaf bu, aku hanya teringat beberapa ucapan yang orang lain lontarkan, bagaimana keadaan teman saya yang laki laki bu?".
"lukanya tidak terlalu parah, dia hanya tidak sadarkan diri saja, sebentar lagi pasti akan sadar".
"Van terima kasih telah membantuku". ucap Rifki sambil menatap kearah Vano.
mobil ambulance tersebut melaju dengan kencangnya dijalanan, untuk menyelamatkan korban dalam kejadian tersebut. dibelakang mobil itu juga terdapat beberapa pengendara sepeda motor yang mengikutinya, darah Nadhira terus mengalir membasahi baju yang ia pakai.
Rifki memegangi tangan Nadhira yang bersimbah darah dengan erat, berharap bahwa Nadhira akan baik baik saja. melihat Nadhira tidak sadarkan diri seperti ini membuatnya merasa tidak tenang, andaikan ia dapat memindahkan luka tersebut kepada dirinya sendiri mungkin ia akan lakukan sejak lama.
Sesampainya mereka dirumah sakit, banyak perawat dan dokter yang segera menyambutnya dan memindahkan Nadhira dan lainnya keruang ICU untuk melakukan pemeriksaan. Vano hanya mengalami luka ringan hingga ia sudah dibolehkan pulang ketika ia sadarkan diri, sementara itu Nadhira mengalami luka yang serius.
tak beberapa lama, anak buah Rifki sampai dirumah sakit tersebut dan bergegas untuk memastikan bahwa Rifki baik baik saja.
*****
Rifki dan beberapa anak buahnya berada diluar ruangan dimana Nadhira dirawat, tak lama kemudian datanglah seorang wanita yang berusia sekitar 30 tahunan menuju kearah Rifki berada.
"Bagaimana keadaannya?". Tanya wanita itu kepada Rifki.
Rifki hanya melihatnya sekilas setelahnya ia langsung memejamkan kedua matanya dan menunduk dihadapan wanita tersebut. Pandangan wanita itu segera beralih kepada anak buah yang Rifki bawa, mereka yang ditatap segera menggelengkan kepalanya.
"Kalian pulanglah, kalian juga butuh istirahat". Ucap Rifki dengan pelannya tetapi masih dapat didengar oleh anak buahnya.
"Tapi, anda juga butuh istirahat".
"Sudah beberapa kali ku bilang, aku ngak suka dibantah, kalian pulanglah, sampaikan pada kakek bahwa Nadhira terluka, aku tidak akan pulang sebelum Nadhira sadarkan diri".
"Baik bos, jika butuh sesuatu, hubungi kami".
Mereka semua segera beegegas meninggalkan Rifki sendiri bersama wanita itu. Dapat dilihat bahwa Rifki bergitu sangat sedih, ia tidak menyangka bahwa Nadhira bisa terluka karenanya.
__ADS_1
Wanita itu tidak bisa berhenti untuk tidak menangis, bahkan dapat terlihat bahwa kedua matanya mulai membengkak dan berubah warna menjadi merah. Tubuhnya begitu gemetaran dan sesekali terdengar isak tangis darinya, wanita itu terjatuh dilantai sambil memegangi kedua lututnya.
"Bi, Nadhira pasti akan baik baik saja, Nadhira wanita yang kuat, ia pasti bertahan". Ucap Rifki mendatangi wanita itu, dan mengusap airmata wanita itu. "Dimana orang tuanya, kenapa mereka tidak datang untuk melihat kondisinya".
"mereka hanya memberitahu bahwa anaknya terluka, setelahnya entah mereka pergi kemana, bibi juga tidak tau".
Rifki mengambil nafas panjang mendengar ucapan wanita yang ada didepannya, Rifki membantunya untuk duduk dikursi terdekat dari situ.
Beberapa saat terdengar suara pintu ruang ICU akan segera dibuka, Rifki segera bangkit dan berlari menuju kearah pintu tersebut. Terlihat sosok beberapa suster yang hendak keluar.
"Bagaimana kondisinya sus?". Tanya Rifki.
"Apakah anda saudara dari pasien?".
"Iya sus"
"Akibat dari luka tusukan pasien kehilangan banyak darah, stok darah A dirumah sakit ini sedang kosong, jika pasien tidak segera mendapatkan donor darah yang cocok kami khawatir nyawanya akan tidak tertolong lagi".
Rifki yang mendengar hal itu tiba tiba kakinya begitu lemas, dan ia terdorong kebelakang dan menabrak tembok yang ada dibelakangnya. Bagaimana disambar petir yang begitu kuatnya hingga membuat Rifki begitu sesak didadanya.
"Ambil darah saya saja sus". Ucap wanita tersebut.
mendengar wanita itu hendak mendonorkan darahnya kepada Nadhira, Rifki mendatangi wanita itu dan memegang tangannya.
"apa bibi serius melakukan itu?".
wanita itu hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari Rifki, kebetulan sekali golongan darahnya sama dengan Nadhira sehingga ia mengambil inisiatif untuk mendonorkannya.
"Kalau begitu mari bu, ikut kami untuk melakukan pemeriksaan".
Wanita itu bergegas mengikuti sang perawat menuju ruang pemeriksaan, Rifki pun mengikutinya. dokter yang memeriksa itu mulai memeriksa secara detail mengenai kondisi dari wanita itu.
"dari pemeriksaan kami, darah ibu memang cocok dengan pasien, tapi kondisi ibu tidak memungkinkan untuk mendonorkannya, tekanan darah ibu sedikit dibawah normal, jika ini dilanjut, ini bisa mempengaruhi kondisi ibu, apa ibu yakin mau mengambil resiko ini?".
"lakukan saja dok, saya siap mengambil resikonya". ucap wanita itu dengan mantapnya.
"bibi, apa yang bibi lakukan? jika Nadhira tersadar apakah ia bisa terima ketika melihatmu terluka nantinya?".
"tidak ada pilihan lain, bibi harus melakukannya".
__ADS_1
"tapi bi"
"lakukan dok, saya terima konsekuensinya".