Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Makanan untuk Nadhira


__ADS_3

Setelah kejadian malam ini, Nimas mulai bermeditasi kembali dirumahnya untuk mengembalikan seluruh tenaganya yang terkuras habis karena menyelamatkan Nadhira dari energi permata yang telah bergejolak itu. Sementara Raka setelah selesai memastikan keadaan Nadhira, Raka segera kembali ke negeri gaib untuk menyetabilkan keadaan setengah memangsa jiwa jiwa manusia itu.


Kejadian malam ini begitu menegangkan karena adanya pertarungan antara mahluk gaib dengan para mahluk yang diperintahkan oleh beberapa dukun untuk menculik Nadhira dan mengambil permata itu dengan paksanya, dan beberapa orang hilang seketika dari tempat itu dan belum jua ditemukan sampai saat ini karena orang orang itu telah dibawa oleh Raka menuju ke alam gaib.


Setiap manusia yang telah dibawa kealam gaib tidak akan pernah kembali kedunia nyata sebelum penghuni alam gaib mengizinkan mereka untuk keluar dari alam gaib akan tetapi hanya tubuh mereka saja yang mampu keluar, nyawa mereka sudah tidak mampu untuk ikut serta keluar.


Kabar tentang hilangnya beberapa orang itu telah menyebar luas didunia nyata, kejadian spritual yang diluar nalar pun banyak diperbincangkan dimana mana entah melalui sosial media ataupun dari mulut kemulut. Banyak yang menduga bahwa mereka hilang dilingkungan yang ditempati oleh Nadhira, dan hilangnya mereka berkaitan dengan hilangnya Nadhira juga yang tak kunjung ditemukan.


Nadhira hilang begitu saja dari tempat kejadian itu tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, menurut pengetahuan warga setempat mereka membicarakan mengenai hilangnya Nadhira ada hubungannya dengan hilangnya beberapa orang itu dan mereka mengira bahwa ada suatu keabnormalan yang tengah terjadi kepada Nadhira.


Bagaimana mungkin beberapa orang itu lenyap begitu saja bersama dengan Nadhira? Begitulah yang mereka pikirkan dimalam hari ini, setelah kejadian itu berlalu beberapa warga setempat yang masih berjaga ditempat itu mendengar suara yang tidak jelas dimana asalnya dan beberapa orang tengah berlarian dari arah rumah Nadhira.


"Apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya orang yang sedang meronda.


"Ada hantu! Beberapa orang menghilang tiba tiba" Ucap orang yang berlarian itu.


Orang orang yang sedang berlarian itu adalah orang yang telah berhadapan dengan Ratu iblis dan juga cahaya misterius yang menyebabkan kemampuan mereka dalam hal gaib mampu lenyap begitu saja, orang itu menceritakan apa yang ia lihat saat masih berada dihalaman rumah Nadhira tentang bagaimana hilangnya beberapa orang yang telah menjadi musuh Raka sebelumnya.


Hal itu menyebar begitu saja dari mulut kemulut, banyak yang menduga bahwa Nadhira memiliki ilmu hitam yang mampu memanggil begitu banyak roh roh jahat untuk mencelakakan siapa saja yang sedang berhadapan dengan dirinya, akan tetapi mereka tidak mau mencari tau terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi justru mereka langsung menuduh Nadhira dengan macam macam hinaan.


Dipagi hari ini, Nadhira terbangun dari tidurnya sebelum cahaya matahari menyinari bumi ini, ia begitu terkejut ketika menemukan sosok Aryabima tengah berada disampingnya untuk memeriksa keadaan kaki Nadhira yang telah dibalut oleh kain itu.


"Kamu sudah bangun Nak" Sapa Aryabima kepada Nadhira ketika mendapati Nadhira sudah terbangun.


Nadhira merasakan bahwa kakinya sedang membengkak saat ini, sehingga jika dibuat gerak sedikit saja dirinya sudah merasa kesakitan, hal itu membuat Nadhira tidak mampu untuk berdiri dari tempat tidurnya saat ini.


"Kek apa yang terjadi dengan kakiku, kenapa terasa begitu sakit" Ucap Nadhira dengan ketakutan.


"Kakimu mengalami cidera parah Nak, kemungkinan membutuhkan 2 bulan lamanya untuk sembuh total sebelum kau bisa beraktivitas kembali seperti biasa, kau tenang saja, aku akan merawatmu dengan baik disini" Ucap Aryabima mencoba untuk menenangkan pikiran Nadhira saat ini.


Nadhira tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini, karena cidera yang ia alami begitu parah hingga kakinya mulai membengkak saat ini. Noda biru yang ada dikaki Nadhira semakin melebar hal itu membuat Nadhira tidak mampu untuk menggerakkan kakinya, meskipun sudah dibalut dengan kain akan tetapi rasa sakitnya tidak mampu untuk dibalut.


"Apa kamu memiliki alergi terhadap makanan Nak? Haris sudah pergi untuk membelikanmu makanan".


"Aku bisa makan makanan apa saja Kek, aku tidak pernah rewel soal makanan".


"Baguslah kalau begitu, biasanya jam segini sudah banyak yang jualan dipasar, mungkin sebentar lagi dia akan datang dan membawakanmu makanan".


Nadhira memang tidak pernah rewel soal makan meskipun rasa makanan itu tidak cocok di lidahnya, Nadhira akan tetap memakannya dalam diam dengan lahapnya tanpa banyak protes dengan rasanya.


Nadhira mampu memakan makanan apa saja tanpa banyak mengeluh, karena apa yang telah diperlakukan oleh keluarganya hal itu membuat Nadhira begitu sangat menghargai makanan karena akan sangat sulit untuk mencari makan sendiri.


"Kakek mau sholat dulu sebentar saja, kamu disini baik baik ya".


"Dhira juga mau sholat subuh Kek, apakah ditenpat ini ada mukenah?"


"Mukenah?" Aryabima terbengong sesaat, "Ah iya, disini ngak ada mukenah Nak, hanya ada beberapa kain bersih saja".


"Ngak apa apa Kek, itu lebih dari cukup".


"Baiklah biar aku ambilkan".


Aryabima segera bergegas keluar dari goa itu menuju ke goa tempat dirinya tinggal selama ini, hanya keturunan dari Pangeran Kian yang dapat memasuki tempat terlarang itu, Aryabima kembali masuk kedalam goa dimana Nadhira berada dengan membawa selembar kain yang cukup lebar dan memberikan kain itu kepada Nadhira.


Aryabima segera mengambilkan kendi yang sudah berisikan air untuk Nadhira gunakan sebagai air wudhu sebelum melakukan sholat, dengan air yang dialirkan oleh Aryabima membuat Nadhira segera berdoa dan membasuh kedua tangannya dilanjutkan dengan wajah dan lain sebagainya.


Setelah selesai berwudhu Nadhira segera menutupi seluruh tubuhnya dengan menggunakan kain yang telah diberikan oleh Aryabima kepadanya, dan melanjutkan dengan sholat sambil duduk karena dirinya tidak mampu untuk berdiri.

__ADS_1


Hukum bagi orang yang melakukan sholat dengan posisi duduk dalam islam adalah dibolehkan untuk mereka dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk berdiri dengan tegak karena sakit dan lain sebaginya. Sholat dengan duduk dianggap sah layaknya sholat dalam keadaan normal, yakni berdiri.


Jika kamu tidak mampu untuk berdiri maka sholatlah dengan cara duduk, dan jika kamu tidak mampu untuk duduk maka sholatlah dengan cara berbaring sambil mengedipkan mata, jika kamu tidak mampu untuk mengedipkan mata mungkin dirimu sudah layak untuk dimakamkan.


Setelah Nadhira sudah berada dalam keadaan sholat, Aryabima segera meninggalkan tempat tersebut untuk melaksanakan sholat juga ditempat lain, setelah selesai melakukan sholat Nadhira menyandarkan tubuhnya didinding goa tersebut dan lanjut dengan membaca surat pendek yang ia hafal.


Disatu sisi Haris sedang masuk kedalam sebuah pasar yang tidak jauh dari tempat yang ia tinggali, ketika sedang memilih milih makanan dirinya tanpa sengaja mendengar beberapa orang tengah membicarakan tentang Nadhira dan beberapa orang yang hilang pada kejadian itu.


"Kasihan sekali orang orang yang hilang itu, keluarga mereka pasti sedang mencarinya".


"Aku juga tidak menyangka bahwa seorang gadis yang terlihat begitu lugu juga mempelajari ilmu hitam yang sangat mematikan".


"Ku pikir dia anak baik baik selama ini, ternyata apa yang aku pikirkan berbeda dari kenyataannya".


"Gadis itu sangat berbahaya! Jangan sampai keluarga kita yang menjadi korban selanjutnya".


Begitu banyak orang yang sedang membicarakan tentang Nadhira dan hilangnya beberapa orang itu, banyak sekali kata kata buruk mereka ucapkan mengenai Nadhira, hal itu membuat Haris mengepalkan tangannya karena hanya Haris yang mengetahui tentang apa yang terjadi dengan Nadhira semalam itu.


"Gadis itu adalah gadis baik baik, dia tidak mungkin melakukan itu! Kalian hanya mendengarnya saja tapi kalian tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya" Ucap Haris dengan geramnya.


Setelah mengatakan itu Haris segera bergegas pergi dari tempat itu dengan marahnya hal itu dapat diketahui melalui setiap langkah yang diambil oleh Haris, Haris yang sedang menutupi wajahnya dengan menggunakan kain hitam hal itu membuat Haris nampak seperti orang misterius.


"Aneh siapa orang itu? Seperti aku memiliki hutang saja kepada orang itu" Ucap pedagang makanan.


"Apa mungkin orang itu suruhan dari gadis itu".


"Iya kah? Sepertinya sih iya, sama sama misterinya".


Haris tidak mempedulikan ucapan dari mereka dan langsung bergegas menuju ketempat dimana ia tinggal selama ini. Ketika jaraknya sudah dekat dengan goa itu, Haris mengambil nafas dalam dalam untuk meredakan emosinya agar Nadhira tidak melihatnya dan malah takut dengan dirinya.


Nadhira sangat menikmati hari itu dan makan dengan lahapnya, dimana dirinya bisa makan bersama dengan Ayah dan juga Kakek Rifki dengan bahagianya meskipun dengan lauk seadanya akan tetapi itu bukanlah masalah bagi mereka untuk mengisi perut mereka.


"Dhira mau nambah lagi makannya? Biar Om ambilkan" Ucap Haris sambil mengambil nasi dan juga lauk untuk Nadhira.


"Sudah Om, aku sudah kenyang".


"Dhira harus makan yang banyak biar cepet sembuh dan punya tenaga yang banyak, jangan sungkan sungkan anggap saja seperti Ayahmu sendiri, nanti kalau kurang Om belikan lagi untuk Dhira".


"Tapi Om ini kebanyakan, Dhira tidak bisa makan sebanyak ini Om".


"Jangan menolak rezeki Dhira, Dhira mau makan apa nanti siang biar Om belikan makanan kesukaan Dhira, sekarang habiskan dulu makanannya, kalau ngak dimakan nanti mubazir".


"Tapi Om, perutnya sudah tidak mampu lagi untuk menampung makanan ini".


"Apa mau Om suapi juga?".


"Tidak tidak, Nadhira bisa memakannya sendiri kok Om" Ucap Nadhira sambil meraih nasi yang ada dihadapannya dan melahapnya.


Aryabima tertawa dan menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Haris saat ini, bagaimana bisa seorang gadis mampu menghabiskan makanan begitu banyaknya dalam sekejap apalagi dengan raut wajah Nadhira seakan akan penuh dengan keterpaksaannya untuk memakannya.


Mungkin sikap Haris seperti ini kepada Nadhira karena dirinya sedang merindukan Ayu, akan tetapi dirinya tidak bisa untuk menemui Ayu kapanpun yang dia mau karena akan sangat membayangkan Ayu jika sampai orang orang itu tau bahwa Ayu ada hubungannya dengan dirinya.


Wajah Nadhira begitu menyedihkan ketika berhadapan dengan nasi dan lauk pauk yang telah diberikan oleh Haris kepadanya seakan akan dirinya meminta pertolongan kepada Aryabima karena dirinya sudah tidak mampu lagi untuk menghabiskan makanan itu.


"Sudah Nak jangan dipaksa lagi, Nadhira sudah makan begitu banyak pagi ini, kasihan kalau dipaksa untuk menghabiskan makanan itu, nanti siang dilanjutkan lagi makannya" Ucap Aryabima menghentikan apa yang dilakukan oleh Haris.


"Tapi Yah, Nadhira masih makan sedikit, ngak bakal kenyang kalau segitu Ayah".

__ADS_1


"Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang, kalau kekenyangan ngak baik untuk kesehatan juga Nak".


"Baiklah Yah, ya sudah Nak, nanti dilanjutkan lagi makannya, kamu istirahat dulu" Ucap Haris sambil mengambil makanan yang ada didepan Nadhira.


Ketika Haris melakukan itu didalam hati Nadhira, Nadhira begitu senang karena ada seseorang yang mampu mengerti dan membela dirinya bahwa dirinya sudah kekenyangan karena makanan itu, seakan akan Aryabima tengah berada dipihaknya saat ini.


Setelah membereskan makanan itu, Haris segera bergegas pergi dari tempat itu untuk melakukan sesuatu, Aryabima tersebut ketika melihat anak dari Kakaknya itu mampu bersikap sedemikian rupanya.


"Kenapa Kakek tersenyum seperti itu?" Tanya Nadhira ketika melihat Aryabima tersebut ketika melihat Haris yang bergegas pergi dari tempat itu.


"Ah ngak apa apa, hanya ada yang aneh dengan anak itu" Ucapnya sambil menunjuk kearah Haris, "Sudah lupakan saja, sekarang minumlah" Aryabima memberikan segelas air kepada Nadhira.


Nadhira mencium air tersebut dan bertanya, "Apakah ini seperti obat yang kemarin Kek?".


"Iya, itu baik untukmu, ada rempah rempah juga didalamnya seperti kunyit, temulawak, kayu manis, daun mint, daun sirih, dan masih banyak lagi".


"Obatnya enak Kek, segar juga, Dhira suka Kek".


"Syukurlah kalau kau menyukainya, setiap hari akan aku buatkan untukmu kalau begitu, itu juga baik untuk kesehatanmu Nak".


"Iya Kek".


Setelah menunggu setengah jam setelah makan, Nadhira segera kembali membaringkan tubuhnya untuk beristirahat atas perintah dari Aryabima, Nadhira diperlakukan begitu baik ditempat itu.


Setelah dua jam istirahat dengan nyenyaknya. Nadhira kembali terbangun ketika merasakan adanya seseorang yang tengah berjalan kearahnya, Nadhira mulai membuka matanya dengan perlahan lahan dan menemukan sosok Haris yang sudah berdiri di dekatnya sambil membawakan sekeranjang buah buahan segar untuk Nadhira.


"Kau sudah bangun Nak? Belum juga aku bangunkan" Ucap Haris sambil duduk disebelah Nadhira.


"Ada apa Om?".


"Ini aku tadi membelikanmu buah buahan, tapi aku tidak tau buah apa yang kau suka itu, jadi aku membelinya dengan berbagai macam buah untukmu, nanti kau bisa memilihnya sendiri" Ucap Haris sambil menaruh sekeranjang buah dengan berbagai macam jenisnya.


Nadhira memandangi sekeranjang buah buahan itu yang terdiri dari anggur merah, apel merah, apel hijau, buah naga, kelengkeng, pisang, strawberry, dan masih banyak lagi lainnya. Hal itu sempat membuat Nadhira menggeleng gelengkan kepalanya karena begitu banyak buah yang telah dibelikan oleh Haris untuk dirinya.


"Ini terlalu banyak Om".


"Ngak apa apa, ini khusus buat kamu Nak, nanti kalau ngak aku kasih buah buahan untuk cuci mulut bilangnya Om pelit lagi, dimakan ya sudah aku cuci juga kok Nak".


"Terima kasih Om, jadi merepotkan Om".


"Sejak kapan kamu merepotkan diriku? Apa aku pernah mengatakan itu Nak? Aku tidak pernah bilang tuh kalau kamu merepotkan diriku, justru Om senang kalau kamu ada disini".


"Apa Om sedang merindukan anak Om?" Tanya Nadhira tiba tiba kepada Haris.


Seketika itu juga pertanyaan yang diberikan oleh Nadhira membuat Haris terlihat sedih, memang benar dirinya tengah merindukan anak gadis satu satunya akan tetapi takdir sama sekali tidak mendukungnya untuk tinggal bersama dengan keluarga tercintanya.


"Makanlah buahnya, Om masih ada urusan" Ucap Haris dan langsung bangkit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan Nadhira.


"Om!" Panggil Nadhira.


"Om masih ada urusan, sebaiknya kamu tidur dulu, nanfi Om kembali lagi sambil membawakanmu makan siang".


"Baik Om".


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...


...Terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2