
Siang yang cerah, seorang gadis kecil berusia sekitar 14 tahunan sedang berjalan sendirian di trotoar. Jalanan cukup sepi tiada kendaraan yang lalu lalang disepanjang jalan hanya terlihat daun daun yang berterbangan.
Wajahnya cukup cantik tetapi diliputi oleh rasa kebingungan, ia menoleh kekiri dan kekanan untuk mencari seseorang yang sedang lewat tetapi tidak ia temukan. Mata yang indah kini tengah meneteskan airmata, angin berhembus kencang membuatnya menghentikan langkah kakinya.
"Seharusnya aku mendengar ucapan mama, bagaimana caranya aku untuk pulang, aku tidak pernah kesini sebelumnya, mama aku takut".
Ucap gadis itu dan ia terduduk ditepi trotoar. Ia teringat ucapan mamanya sebelum ia pergi dari rumah, botol minum yang ia bawa pun tandas. Sudah beberapa jam ia terus berjalan tetapi ia tidak menemukan keberadaan rumahnya, baru beberapa bulan ia pindah kerumah barunya.
Disaat ia lengah ada seseorang yang membekapnya dari belakang menggunakan obat bius untuk menidurkannya. Orang itu berpenampilan seperti preman, rambut yang kering panjang dan kumis yang tebal membuat penampilannya mankutkan bagi anak anak.
"Kerja yang bagus". Ucap seseorang yang tiba tiba muncul dibelakang preman itu.
"Bos, anak ini cukup cantik, pasti sangat mahal kalau dijual". Ucap sang preman yang tertawa bahagia seakan akan mendapatkan sebuah harta warisan.
"Bagus bagus, bawa dia kemarkas". Ucap seseorang yang dipanggil bos, ia tertawa sambil bertepuk tangan.
Keduanya segera mengangkat gadis kecil itu dan membawanya memasuki mobil yang telah mereka siapkan. Sebelum mereka menutup pintu bagasi, seorang gadis lainnya datang dan menendang sang preman.
Tendangan itu berhasil membuat sang preman terpental mundur beberapa langkah, sang bos pun terkejut ketika melihat apa yang telah terjadi kepada bawahannya.
"Wah ada gadis cantik, nampaknya lebih cantik daripada gadis yang kau dapatkan". Ucap bos preman.
"Lepaskan dia". Ucap sang gadis sambil menunjuk kearah bagasi mobil.
"Untuk apa melepaskan seorang gadis jika bisa mendapatkan dua duanya". Sela preman.
"Kalian terlalu percaya diri bisa mendapatkan diriku, bebaskan saudaraku atau aku akan...". Gadis itu mengancam tetapi sebelum ia selesai mengucapkan perkataannya, preman itu langsung memotongnya.
"Akan apa hah? Mau melawan kami berdua? Gadis ingusan seperti dirimu mau melawan kami? Sekali pukul saja sudah tumbang hahaha..." Tawa preman itu.
Sringggg
Bos preman tersebut mengeluarkan sebuah belati dan menodongkannya kepada gadis itu. Ia memutar mutar belati itu dan berharap bahwa sang gadis akan takut kepadanya, sehingga mudah untuk menangkap keduanya. Tetapi harapannya salah sang gadis justru bersiap memasang kuda kuda.
Perkelahian itu terjadi meskipun kekuatan dari gadis itu kalah jauh tetapi ia tidak menyerah sama sekali untuk merebut kembali saudara perempuannya. Banyak memar tercipta didalam tubuhnya, ketika gadis itu lengah sang preman berhasil membuatnya terpental dan jatuh ditepi jalan. Darah menetes dari lututnya yang tergores tepi jalan, rambutnya terurai berantakan.
__ADS_1
Ketika dua preman itu hendak mendekatinya tiba tiba sosok laki laki menendang keduanya, tendangan itu begitu kuat sehingga membuat dua preman itu terpental mundur dan terjatuh dijalan. Laki laki itu mendekati sang gadis, melihat ada kesempatan preman itu segera berlari mengemudikan mobilnya dan membawa saudara perempuannya.
"Kamu ngak papa Dhira?" Tanya laki laki itu.
"Aku ngak papa Rif, tapi manda". Ucap Nadhira ketika melihat mobil itu sudah melaju cukup jauh.
Ya gadis yang melawan itu adalah Nadhira, sedangkan gadis yang dibawa pergi adalah saudara tirinya yakni Amanda. Rifki membantu Nadhira untuk bangkit keduanya menatap mobil itu yang perlahan menghilang dikejauhan.
*Flash back on*
Siang itu Nadhira masuk kedalam kamar Amanda untuk mencari beberapa buku yang Amanda miliki, ia mencari Amanda kemana mana tetapi tidak ia temukan. Nadhira menunggu cukup lama dikamar Amanda tetapi Amanda tak kunjung memasuki kamarnya.
"Apakah Manda main dirumah temannya ya, bukankah ini hari minggu". Ucap Nadhira sendiri.
Nadhira membaca beberapa buku sambil menunggu kedatangannya, setengah jam kemudian Nadhira merasa aneh tidak seperti biasanya Amanda pergi begitu lama. Ia mencoba bertanya kepada pembantunya, tetapi pembantunya sama sekali tidak melihat kemana Amanda pergi.
Nadhira mencoba mencari Amanda diluar rumahnya, beberapa orang pernah melihat Amanda berjalan sendirian dan ia menunjukkan kepada Nadhira kemana Amanda pergi. Tidak biasanya Amanda pergi sendiri keluar rumah apalagi ia belum setahun tinggal bersama Nadhira.
Itu membuat Nadhira semakin khawatir dengannya, meskipun perlakuan Amanda sering kali membuatnya sakit hati tetapi Nadhira sama sekali tidak ada kebencian dalam dirinya kepada Amanda.
Nadhira yang dipanggil namanya langsung menoleh kearah sumber suara menemukan bahwa Rifki tengah berlari kearahnya.
"Kamu sedang apa disini". Tanya Rifki
"Aku mencari saudara tiriku, ia kan belum hafal didaerah sini, kata orang orang disini, mereka melihatnya berjalan sendirian, sudah lama aku menunggunya tetapi ia belum juga kembali".
"Kalau begitu sebaiknya cepat mencarinya, kalau gitu kita berpencar, aku mencari kesana kamu mencari kesitu". Ucapnya sambil menujuk kearah yang berbeda.
Nadhira mengangguk mendengar saran dari Rifki, keduanya berlari kearah yang berlawanan. Beberapa kali Nadhira terus memanggil nama Amanda, 30 menit kemudian mereka berkumpul ditempat yang sama tetapi keduanya tidak menemukan apa yang mereka cari.
"Kau sudah menemukan?". Tanya Nadhira khawatir.
"Aku sudah bertanya kebeberapa orang tetapi tak ada yang melihatnya". Ucap Rifki.
"Sama, kita harus cepat menemukannya, kamu kearah utara, aku kebarat".
__ADS_1
"Baiklah".
Nadhira berlari kearah barat, beberapa menit kemudian ia menemukan sebuah gelang tangan yang terjauh ditepi jalan, Nadhira memungutnya dan mengenali bahwa itu adalah gelang yang selama ini dipakai oleh Amanda.
Ketika Amanda berjalan ia tidak sengaja membuat gelangnya terputus, ia mencoba memperbaikinya dijalan tetapi ia tidak berhasil melakukannya. Akhirnya dia membuangnya dan melanjutkan perjalanan.
Melihat gelang Amanda ditepi jalan membuatnya berlari kencang menuju kearah barat, ia yakin bahwa Amanda belum lama ini lewat dijalan itu. Sesampainya dipertigaan Nadhira bingung harus milih jalan yang mana, dikejauhan ia lihat ada seseorang yang sedang mendengong anak kecil, ia berlari mendekati mereka. Ketika jarak antara orang itu dengan Nadhira, Nadhira dapat mengenali pakaian yang digunakan oleh anak itu, ia yakin bahwa itu adalah Amanda.
Semakin dekat semakin jelas apa yang Nadhira lihat, ia menemukan bahwa adik tirinya tengah tidak sadarkan diri dan orang yang mengendongnya hendak memasukkannya kedalam bagasi mobil.
Ketika orang itu hendak menutup pintu bagasinya Nadhira segera menghentikan dengan cara menendangnya agar orang itu tidak menutup pintu bagasi.
Nadhira cukup terkejut ketika salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah senjata dan menodongkan kepadanya. Masih ada rasa takut dalam hati Nadhira, tetapi Nadhira lebih memilih untuk memberanikan diri. Ia mengingat beberapa jurus yang diajarkan kepadanya oleh kakeknya Rifki.
Perbedaan kekuatan dan pengalaman membuatnya kalah jauh untuk melawan dua preman tersebut. Rifki terus mencari tetapi tidak kunjung menemukan keberadaan Amanda. Ia juga mencoba bertanya kepada masyarakat sekitar tetapi tiada yang mengetahuinya, ia memutuskan untuk mendatangi Nadhira.
Ia mencoba menelusuri jalan yang Nadhira telusuri sebelumnya. Jalan itu membawanya menuju kelokasi dimana Nadhira berada, ketika ia sampai disana ia melihat Nadhira sudah terjatuh ditepi jalan sambil memegangi dadanya yang sakit akibat tendangan dari preman tersebut.
Melihat kedua orang itu hendak mendekati Nadhira, membuat Rifki berlari dan menendang keduanya. Ia juga membantu Nadhira untuk bangkit.
*Flash back off*
"Kamu jangan khawatir Nadhira, aku akan menggerakkan anak buahku untuk mencarinya, mari kita obati lukamu terlebih dahulu".
Rifki memapah Nadhira dan membawanya menuju ke apotik terdekat yang berada dijalan itu, Rifki membeli betadin dan beberapa peralatan lainnya yang dapat menghentikan pendarahan.
Rifki membantu mengobati luka dilutut Nadhira, dan beberapa memar yang ada ditangan dan kaki Nadhira. Tak lama kemudian datanglah dua sosok laki laki mendatangi Rifki.
"Kalian berdua, kerahkan semuanya untuk mencari mobil yang berplatkan ......". Ucap Rifki menyebutkan plat mobil yang dipakai oleh penculik tersebut.
"Baik bos, ini kunci sepedahnya bos".
Rifki menerima kunci dari laki laki itu, kedua laki laki itu segera bergegas pergi untuk mencari mobil yang dimaksud oleh Rifki.
"Kamu punya anak buah ya". Nadhira tertawa melihat kedua lelaki itu.
__ADS_1
"Bisa dibilang begitu, sejak kecil aku sudah diajarkan mandiri, mereka adalah anak anak yang dilatih oleh kakekku, kebanyakan dari mereka adalah anak yatim piatu sejak kecil sudah diasuh oleh kakek, bisa dibilang mereka seperti saudaraku sendiri".