Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Teman SMP


__ADS_3

Seakan akan tanpa beban Nadhira menjatuhkan tubuhnya dengan tiba tiba itu, pemuda itu tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira malam ini, dengan mudahnya ia tertidur diatas atap dan terjun bebas sesukanya.


"Gadis ini benar benar hah, andai kalau dia jatuh ketanah tadi udah pasti benjol nih kepala, apa ngak patah patah juga nih tulang, Dhira Dhira kamu ini ada ada saja malam ini".


"Rifki, kau pasti marah kepadaku kan? Aku telah merusak kepercayaanmu padaku" Nadhira mengigau dan terus menyebutkan nama Rifki didalam alam bawah sadarnya.


Atap tempat dimana Nadhira memanjat memang tidak terlalu tinggi akan tetapi jatuh dari atap itu lumayan sakit dan bisa bisa masuk kedalam rumah sakit jika jatuhnya tidak tepat dan kepalanya sampai terbentur sesuatu yang ada dibawah.


Pemuda itu merasa lega ketika mengetahui bahwa Nadhira tengah baik baik saja setelah menjatuhkan diri dari atas atap bangunan markas itu, pemuda itu langsung mengangkat tubuh Nadhira dan membawanya kembali masuk kedalam kamar tidur yang digunakan oleh Nadhira sebelumnya.


Dengan perlahan lahan ia membaringkan tubuh Nadhira diatas kasur itu lagi dengan perlahan lahan, ia juga menutupi seluruh tubuh Nadhira dan hanya menyisakan area wajahnya saja.


"Ku harap kau melupakan kejadian malam ini Dhira, atau tidak kau akan merasa malu diesok hari ketika mengingat apa yang kau lakukan malam ini".


Pemuda itu terlihat begitu kelelahan untuk menghadapi tingkah Nadhira yang tengah mabuk malam ini, sehingga dirinya beberapa kali menghela nafas lega ketika melihat Nadhira yang sudah tertidur dengan pulasnya malam ini, ia segera meninggalkan Nadhira dan menyuruh beberapa anak buahnya untuk menjaga kamar Nadhira dari luar agar Nadhira tidak melakukan hal hal yang aneh aneh lagi.


Sudah cukup Nadhira membuatnya terjaga sampai di jam setengah 3 pagi, ia tidak ingin jika dia harus terjaga sampai pagi hari apalagi masih banyak tugas dan pekerjaan yang harus ia lakukan dipagi harinya.


Pemuda itu segera bergegas masuk kedalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya karena dirinya merasa lelah menghadapi sikap mabuk dari Nadhira yang sama sekali tidak membuatnya berhenti untuk beristirahat sejenak.


Nadhira terbangun dari tidurnya ketika menunjukkan pukul 8 pagi, karena sinar matahari yang mulai masuk kedalam kamar tersebut melalui cela cela yang ada dijendela kamar yang Nadhira tempati saat ini, dan kepalanya terasa begitu pusing entah kenapa.


"Dimana aku, akh... Kenapa kepalaku sangat pusing seperti ini" Ucap Nadhira lirih.


"Baguslah kau sadar juga akhirnya, untung ada seseorang yang telah menolongmu, kalau tidak mungkin udah lewat tuh nyawamu" Gerutu Nimas.


Nadhira mencoba untuk membuka kedua matanya lebar lebar dan memperhatikan lingkungan yang ada disekitarnya akan tetapi lingkungan itu terlihat begitu asing baginya, ia sama sekali tidak mengingat tentang lingkungan itu karena pada dasarnya Nadhira belum pernah berada didalam kamar yang terlihat sangat asing baginya.


Nadhira mencoba mengingat kejadian malam itu, akan tetapi dirinya sama sekali tidak mengingat apa apa tentang kejadian itu, Nadhira sama sekali tidak mengingat apapun.


"Apa yang terjadi denganku semalam? Bukannya aku bersama dengan Manda tapi kenapa tiba tiba aku sudah berada disini saja pagi ini?".


"Bahkan sampai sekarang kau masih memikirkan tentang gadis sialan itu? Dhira Dhira, sadarlah woi".


"Ini masih pagi Nimas, jangan buat aku semakin pusing pagi pagi seperti ini dengan omelanmu itu".


"Terserahmu saja".


"Iya terserah aku lah, terserah orang banyak mah musyawarah namanya".


"Dhira!" Ucap Nimas dengan geramnya.


"Nimas!" Balas Nadhira yang tidak kalah geramnya kepada Nimas.


"Lelah aku berdebat denganmu terus, kau tidur jauh lebih baik daripada kau terbangun dan membuatku pusing seperti ini".


"Ya sudah aku mau kembali pingsan lagi".


"Lama lama ku rebut ragamu itu".


"Ancamanmu membuatku takut Nimas".


"Baguslah jika kau masih memiliki rasa takut".


Nadhira mencoba bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kearah pintu kamar tersebut untuk membukanya akan tetapi dirinya begitu terkejut ketika melihat tiga orang lelaki tengah berdiri didepan kamar itu.


"Siapa kalian? Kenapa kalian berada disini?" Tanya Nadhira dengan keheranan.


"Kau sudah bangun Nona? Sebaiknya kembalilah masuk kedalam, dan tunggu Bos datang, sebelum itu kau tidak boleh keluar dari kamar ini".


Ketiga orang itu meminta Nadhira untuk kembali masuk kedalam kamarnya akan tetapi Nadhira tidak mau menuruti permintaan mereka karena dirinya ingin pergi keluar dari markas tersebut, Nadhira sudah semalaman tidak pulang kerumahnya dan Nadhira berpikir bahwa Papanya pasti akan menghawatirkan dirinya.


"Hah? Siapa Bos kalian? Aku dimana? Kenapa aku bisa berada disini? Tidak tidak, kau tidak bisa mengurungku seperti ini".


"Tunggulah didalam Nona"

__ADS_1


"Aku tidak mau, aku ingin keluar! Kalian tidak bisa seenaknya melakukan itu kepadaku!".


"Maaf Nona, kami hanya menjalankan perintah, sebaiknya Nona kembali masuk kedalam".


Salah satu dari lelaki itu segera menutup pintu kamar yang Nadhira tempati dan tidak membiarkan Nadhira untuk keluar dari kamar tersebut, Nadhira merasa begitu terkejut dengan hal itu entah kenapa dirinya tiba tiba dikurung dalam ruangan yang sangat asing baginya ini.


"Heiii.... Setidaknya jawab dulu pertanyaanku, tolong buka pintunya! Aku mau keluar! Kalian tidak bisa seenaknya mengurungku seperti ini, buka pintunya! Aku kau keluar, kalian denger itu!". Nadhira terus mengetuk pintu kamar tersebut.


"Hahaha... seperti burung dalam sangkar" Ejek Nimas.


"Diam kau! Bukannya bantuin malah nyukurin".


"Lalu kau membutuhkan bantuan apa dariku Nona? Bukannya kau bisa sendiri?"


Karena tidak kunjung dibukakan oleh penjaga itu membuat Nadhira merasa lelah jika terus terusan mengeruk pintu tersebut, akhirnya dirinya memutuskan untuk kembali duduk dikasur yang ada ditempat itu dengan sebalnya.


"Halooo.... Apa ada hal yang bisa aku lakukan didalam? Aku sangat bosan! Buka pintunya napa sih". Nadhira berteriak dari dalam kamera itu.


Entah teriakannya itu mampu didengar oleh mereka atau tidaknya yang pastinya mereka tak kunjung membukakan pintu tersebut untuk Nadhira dan membiarkan Nadhira tetap berada dikamar itu.


Nadhira merasa sebal didalam ruangan itu terus terusan seperti saat ini karena dirinya tidak diizinkan untuk keluar dan berjalan jalan ditempat itu hal itu membuatnya terlihat begitu bosan karena dikurung tanpa sebab didalamnya, tidak ada hal lain yang dapat ia lakukan sekarang hal itu membuatnya begitu jenuh, tiba tiba sekilas ide cemerlang melintas diingatan, Nadhira tersenyum cerah kali ini.


"Ah aku punya ide".


Nadhira segera bergegas menuju kearah cendela yang ada didalam kamar tersebut, Nadhira segera membuka tirai kain tersebut dan tampaklah sinar matahari yang jauh lebih terang diluar bangunan itu.


Tembok itu lumayan tinggi sehingga membuat Nadhira kesusahan untuk mencapai tanah, dengan kakinya yang mudah kambuh dari cideranya, hal itu membuat Nadhira harus berhati hati dalam bertidak atau tidak kakinya akan kembali sakit.


"Aku tidak menyangka bahwa temboknya akan setinggi ini, tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja untuk bisa keluar dari tempat ini".


"Tekat yang sangat kuat, mau aku bantu untuk turun kebawah?" Tanya Nimas.


"Tidak, jika kau merasuki tubuhku bisa bisa cideraku kambuh lagi gara gara dirimu".


Dengan adanya cidera yang ada dikaki Nadhira membuat aktivitas Nadhira sering terbatas, Nadhira tidak bisa melakukan hal hal sesuka hatinya sendiri karena dirinya harus memikirkan juga tentang kondisi kakinya kalau tidak rasa sakit yang ia rasakan tidak main main sakitnya.


Nadhira pun segera mengambil kain itu dan mengikatnya dengan begitu erat kepada tiang yang ada di jendela itu dan ujungnya ia arahkan keluar dari kamar tersebut.


Nadhira lalu melompat keluar dari kamar dengan berpegang erat kepada kain gorden tersebut dengan hati hati Nadhira terus berusaha untuk menginjakkan kakinya diatas tanah.


Dikejauhan dari tempat dimana Nadhira berusaha untuk dapat keluar dari kamar tersebut terlihat seorang pemuda dan dengan dua orang anak buahnya sedang melihat apa yang tengah dilakukan oleh Nadhira dari kejauhan dengan menggeleng gelengkan kepalanya.


Pemuda itu sama sekali tidak menduga bahwa Nadhira akan memaksa untuk keluar dari kamar tersebut meskipun beberapa orang tengah menjaga kamar itu akan tetapi Nadhira sama sekali tidak takut dengan orang yang menjaganya dan lebih memilih untuk keluar melalui cendela kamar tersebut.


"Bos gadis itu mencoba untuk kabur dari kamarnya" Ucap seseorang yang berada disamping pemuda yang dipanggil Bos tersebut.


"Siapa yang tidak tau kalau dia mau mencoba untuk kabur dari kamarnya, kau pikir aku tidak bisa melihatnya?" Ucap sang pemuda dengan sensinya.


"Bukan seperti itu maksudku Bos kau salah paham, maksudku apa perlu kita menangkapnya Bos? Agar gadis itu tidak bisa kabur lagi".


"Tidak, biarkan saja dia melakukan apa yang ia sukai, kamu hanya harus mengawasi apa saja yang akan dilakukan olehnya".


"Baik Bos".


Pemuda itu tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira sejak kemarin malam sampai saat ini yang selalu membuat heboh orang orang yang tinggal dimarkas tersebut, pemuda itu sempat berpikir hal seperti apa yang membuat Rifki begitu sabar untuk menghadapi sikap Nadhira sehingga Nadhira begitu menurut dan merasa nyaman dengan kehadiran sosok Rifki.


Entah mengapa tiba tiba pemuda itu begitu penasaran dengan sosok Rifki menurut Nadhira, dari percakapannya dengan Nadhira kemarin malam, Nadhira mengatakan bahwa Rifki selalu menuruti keinginannya dan Rifki akan melakukan hal yang Nadhira sukai Nadhira memintanya.


(Sikecil mulai aktif ya bund )


Setelah berusaha cukup keras akhirnya Nadhira bisa keluar dari kamar tersebut dengan susah payahnya, Nadhira menepuk nepuk kedua tangannya pertanda misi telah berhasil ia laksanakan, Nadhira memang tidak mengetahui siapa pemilik tempat ini akan tetapi Nadhira tidak bisa jika harus dikurung didalamnya.


"Huh tidak sia sia aku berusaha untuk turun" Ucapnya sambil mengibas ngibaskan pakaiannya karena terkena debu.


Nadhira berjalan menjauh dari kamar tersebut dan memasuki halaman tengah markas tersebut, ketika sampai dihalaman tengah Nadhira merasa bahwa dirinya pernah ketempat itu sebelumnya.

__ADS_1


"Kenapa halaman ini tidak begitu asing bagiku? Apa aku pernah ketempat ini sebelumnya".


Nadhira terus berjalan jalan dihalaman markas tersebut, Nadhira berjalan diantara bunga bunga yang sedang bermekaran dan begitu sangat indah ketika terkena pantulan dari sinar matahari pagi.


Nadhira seketika menghentikan langkahnya dan menatap kearah bunga bunga itu, seketika itu juga Nadhira teringat dengan seseorang yang telah lama pergi meninggalkannya.


"Tempat ini cukup bagus juga, bunga bunga disini sangat indah sekali ketika sedang bermekaran seperti ini" Ucap Nadhira dengan senyuman manis.


Seketika itu juga sebuah bayangan melintas diingatannya, dimana dirinya sedang menanam bunga bersama dengan teman temannya hal itu membuat Nadhira tersenyum bahagia.


"Kau pasti akan merasa sangat bahagia ketika melihat bunga bunga ini, rasanya aku ingin menjadi kupu kupu dan menari dengan riang gembira diantara bunga bunga ini"


"Apa kau sangat merindukan dia? Berdoalah semoga kalian segera bertemu nanti".


"Sudah tau"


"Heiii kan aku cuma memberi saran yang bagus untukmu saja kenapa kau terlihat begitu marah padaku".


Nadhira tersenyum begitu lebarnya ketika melihat banyaknya bunga bunga yang sedang bermekaran ditempat itu, Nadhira begitu sangat menyukai bunga apalagi bunga mawar merah, tak henti hentinya dirinya untuk mengalihkan pandangannya dari keindahan bunga mawar merah itu.


Tanpa Nadhira sadari bahwa seorang pemuda yang sejak tadi mengawasinya perlahan lahan melangkah untuk mendekat kearah dimana Nadhira berada saat ini, langkah pemuda itu sengaja dipelankan agar Nadhira tidak menyadari kedatangannya.


"Nadhira kamu sudah bangun?" Tanya seseorang.


Nadhira begitu terkejut ketika namanya dipanggil oleh seseorang, Nadhira menoleh kearah dimana sumber suara berasal dan menemukan sosok seorang pemuda dengan jas hitamnya sedang berjalan kearah dimana Nadhira berada.


"Siapa kamu?" Tanya Nadhira.


"Hah?"


Mendengar pertanyaan Nadhira membuat pemuda itu nampak kebingungan dengan apa yang ditanyakan oleh Nadhira saat ini, bagaimana Nadhira bisa tidak mengenalinya.


"Mereka bilang bahwa aku hilang ingatan"


"Hilang ingatan?" Bengong pemuda itu.


"Iya".


"Apa kau juga melupakan diriku? Aku adalah Theo teman SMP mu dulu, kita dulu sangat dekat Dhira".


"Aku tidak mengingatnya, kalau boleh aku tau, apa kau kenal dengan pemilik tempat ini?".


"Kenapa dengan pemilik tempat ini?".


"Aku ingin memukul kepalanya itu, bisa bisanya dia mengurungku seperti burung saja disini".


Nadhira tidak mengetahui bahwa pemilik tempat itu kini tengah berada dihadapan saat ini, Nadhira masih merasa kesal dengan pemilik tempat itu karena tidak membiarkan Nadhira untuk keluar dari kamar itu dan dirinya hampir mati kebosanan didalam.


"Iya aku mengenalnya, dia sedang pergi dan tidak ada dimarkas ini" Bohong pemuda itu.


Nadhira sangat merasa kesal dengan pemilik dari tempat yang asing baginya ini, bagaimana tidak kesal dia sendiri bahkan dikurung dalam kebosanan disebuah ruangan yang ada dimarkas itu.


"Pergi kemana dia?"


"Aku tidak tau Dhira, dia begitu sibuk".


"Enak banget dia bisa keluar, bisa bisanya dia mengurungku didalam, untung saja aku tidak mati kebosanan didalam" Omel Nadhira.


"Benarkah? Jika kau bertemu dengan dirinya apa yang akan kau lakukan kepadanya?" Tanya Theo.


"Akan ku potong potong menjadi 50 bagian, ku rebus, ku masak dan ku berikan kepada harimau yang ada dikebun binatang".


"Ngeri banget".


Theo hanya bisa menelan ludahnya ketika mendengar ucapan Nadhira, untung saja Nadhira tidak tau bahwa dirinya adalah pemilik dari markas tersebut.

__ADS_1


...Jangan lupa like, Coment, dan dukungannya 🥰...


...Terima kasih ...


__ADS_2