
Keesokan paginya Nadhira terbangun dari tidurnya, ia menatap kesekelilingnya dan menemukan sebuah ruangan yang sangat asing banginya. Ia bangkit dan memegangi kepalanya yang terasa pusing dan sangat berat.
Tak beberapa lama seorang wanita paruh baya membuka pintu kamar yang ditempati oleh Nadhira sambil membawakan sarapan pagi kepada Nadhira. Kepalanya sangat sakit sehingga pandangannya sedikit memburam.
"Kau sudah bangun nak, ayo makan dulu". Ucap wanita paruh baya tersebut.
"Aku dimana bu? Ibu siapa?".
"Tenang nak, kamu berada digubuk panti asuhan kami, ibu adalah pemilik panti ini, jangan terlalu banyak gerak dulu, kamu kehilangan banyak darah akibat lukamu, kamu makan dulu ya nak, biar ada energi".
"Baik bu".
Wanita paruh baya tersebut membantu Nadhira untuk duduk dengan benar dan membantu untuk menyuapi Nadhira. Setelah makanan dipiring tandas, wanita paruh baya tersebut memegang kening Nadhira dan menemukan bahwa Nadhira sedang demam.
Ia membantu Nadhira untuk tidur kembali dan mengambilkan sebuah baskom dan kain untuk mengompres Nadhira. Nadhira tertidur kembali dengan lelapnya, Revi mendatanginya ketika ia tertidur.
"Gimana keadaannya bu?". Tanya Revi kepada wanita itu.
"Seperti yang kamu lihat, demamnya tak kunjung turun dari kemarin".
"Apa yang harus kita lakukan bu? Tadi aku sudah pergi kerumahnya tetapi dirumahnya tiada orang sama sekali".
"Kalau gitu biarkan dia tidur disini terlebih dahulu, kalau orang tuanya mencarinya kemari ibu yang akan menjelaskannya".
"Baik bu, terima kasih atas bantuannya".
"Jangan begitu nak, ibu ini bukan orang lain, jangan berterimakasih seperti itu, seakan akan ibu ini orang lain bagimu, ibu iklas merawat kalian semua disini, yang ibu harapkan semoga masa depan kalian lebih cerah".
__ADS_1
"Iya bu".
Revi duduk ditepi tempat tidur yang dimana Nadhira berada yang sedang terbaring lemas, ia mengamati lutut Nadhira yang terluka, nampaknya sudah membengkak dan sebagian membiru akibat memar yang ia alami.
"Apa yang sebenarnya dialami oleh Nadhira sehingga mendapatkan luka yang segini parahnya, dalam tidurnya pun ia seperti tidak tenang".
"Entahlah nak, ayo keluar biarkan dia istirahat".
Keduanya bergegas meninggalkan Nadhira yang tertidur. Tanpa disadari oleh mereka Nadhira meneteskan airmatanya, Nadhira belum sepenuhnya melayang dalam mimpi, ia masih bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh orang yang berada dekat dengannya.
"Apa salahku pa". Gumannya pelan bahkan hampir tidak terdengar.
Nadhira teringat tentang perlakuan papanya terhadapnya. Bukan hanya luka fisik yang ia terima, tetapi juga luka batin yang menyiksa. Suhu tubuhnya terus meningkat, Nadhira merasa mengigil.
Karena tidak ada pilihan lain, Revi dan ibu pantinya mengantarkan Nadhira untuk pulang karena kondisinya sangat memprihatikan. Bi Ira langsung membawa Nadhira kekamarnya setelah kepergian dua orang tersebut.
Disuatu ruangan yang tengah dijaga ketat oleh 5 orang preman. seorang anak kecil mulai membuka matanya karena kebisingan yang ada diruangan itu, ruangan itu telah dipenuh i banyak anak yang tangan dan kakinya diikat kuat sekitar 15 an anak
Amanda segera bangun dan mencoba menggerakkan tangannya, ia baru menyadari bahwa tangan dan kakinya juga diikat, tangisnya pecah seketika.
Mendengar suara anak anak kecil berteriak meminta dilepaskan, seorang yang menjaga diluar ruangan memukul pintu ruangan dengan keras beberapa kali, agar anak yang mereka culik diam.
"Bisa diam ngak!!! Kalau ngak, ku pastikan memotong lidah kalian". Ancamnya.
Ketika suara itu selesai dilontarkan, semua anak segera diam dan lebih memilih menangis tanpa suara. Amanda menatap semua anak yang ada disitu satu persatu, ia memperkirakan bahwa usia setiap anak tidak jauh darinya.
"Kenapa aku merasa mendengar suara kak Nadhira sewaktu tidak sadarkan diri? Apa kak Nadhira orang yang ada dibalik penculikan ini, jika iya berarti kak Nadhira sungguh tega". Fikir Amanda.
__ADS_1
Amanda berteriak, dan beberapa penjaga datang sambil membawa cambuk ditangan salah satu penjaga yang datang. Amanda ketakutan melihat hal itu, dengan ragu ia mengatakan bahwa ia ingin buang air kecil.
"Om lepaskan om!! Sudah ngak tahan nih, pengen buang air kecil". Teriak Amanda.
"Buang saja disitu".
"Ih om mah, aku udah besar om masak iya buang air dicelana kan ngak lucu om".
Dengan ragu salah satu penjaga melepaskan ikatan dikaki dan tangan Amanda, salah satu dari penculikan yang telah menculiknya datang. Ketiga penjaga pergi untuk mengantarkan Amanda ke kamar mandi dengan salah satu tangan Amanda diikat dengan tali yang menghubungkan tali yang ada diluar kamar mandi.
"Bagaimana aku bisa kabur dari sini". Guman Amanda pelan
Amanda menatap kesekelilingnya tidak ada cendela dikamar mandi itu, cukup lama Amanda berfikir tentang bagaimana caranya ia kabur dari tempat itu tetapi ia tak kunjung menemukan solusinya.
"Jangan coba berfikir untuk kabur, ingat nyawamu ada ditanganku".
Ucap salah satu penjaga yang tidak sabaran untuk menunggu Amanda diluar kamar mandi. Ia beberapa kali mengetuk pintu kamar mandi tetapi tidak ada jawaban dari Amanda. Tak lama kemudian Amanda keluar dari kamar mandi.
Salah satu dari mereka membukakan tali yang mengikat dipergelangan tangan Amanda. Ketika ketiga penjaga itu berfikir bahwa Amanda anak yang penurut, mereka lengah menjaganya sehingga Amanda menendang ******** salah satu penjaga.
Penjaga yang ditendang segera berlutut mengerang kesakitan. Amanda yang melihat itu segera berlari jauh dari mereka, kedua penjaga yang menjaganya langsung berlari mengejarnya.
Amanda sangat ketakutan dan lelah. Tetapi ia tidak ada pilihan lain selain terus berlari dan mencari pertolongan, tanpa ia duga bahwa markas dari penculik itu berada tepat ditengah tengah hutan yang lebat.
Amanda terus berlari dan kedua penjaga itu mengejarnya, ketika jarak antara keduanya menipis Amanda terjatuh terkilir karena ia tidak menyadari bahwa ia telah menginjak sebuah ranting yang membuatnya tersandung.
Melihat anak yang mereka kejar terjatuh, salah satu dari mereka melontarkan sebuah cambukkan kepada anak itu. Cambukan itu mengenai Amanda tepat dipunggungnya membuat Amanda berteriak histeris.
__ADS_1
Nadhira tiba tiba terbangun dari tidurnya ketika bi Ira sedang mengompresnya. Nadhira berteriak memanggil Amanda dengan perasaan yang sangat ketakutan, dengan nafas tergesa gesa Nadhira mencoba bangkit dari tidurnya tetapi segera dihadang oleh bi Ira.