Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Mengungkap misteri 7


__ADS_3

Rifki mendekat kearah anak kecil itu dan memeluknya untuk menenangkannya, Rifki menepuk pundak anak itu dengan perlahan sampai anak itu perlahan mulai tenang.


"Adek tenang ya, disini ngak ada yang akan mencelakai dirimu, jika ada maka kita berdualah yang akan memukulnya terlebih dulu, kamu percayakan dengan Kakak, tenang ya". Ucap Rifki perlahan dan dibalas anggukan kepala oleh anak itu.


Setelah anak itu tenang, Rifki perlahan lahan melepaskan pelukannya, Rifki memandangi anak itu dengan lekatnya, seakan akan ada trauma yang mendalam yang dialami oleh anak itu.


"Kak Ahel kemana Kak? Aku ingin bertemu Kak Ahel hiks.. hiks.. hiks.. tolong bawa aku kepada Kakakku, dimana Kak Ahel hiks.. hiks.. hiks.. tolong aku Kak, tolong bawa aku kepada kak Ahel". Anak itu menangis menatap Rifki dengan penuh harap agar Rifki segera mengantarkan dirinya menemui Rahel.


"Adek tenang ya, Kak Ahel bakal datang kok, sekarang dia lagi bekerja nyari uang buat Adek, agar Adek bisa sekolah lagi, kan ada Kakak Rifki disini, Adek jangan takut ya". Rifki tidak mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Rahel kepada anak kecil itu.


Rifki mencoba menenangkan anak itu dengan sebisanya, trauma yang mendalam yang dialami oleh anak itu membuat anak itu begitu tertekan dan sulit mengendalikan ketakutannya.


"Aaaa... Tolong jangan pukul aku". Teriak Anak itu.


"Adek, tidak ada yang akan memukul Adek disini, ngak usah takut ya, kan ada Kakak juga".


Anak itu terus berteriak sambil menunjuk kearah Nita berada, Anak itu kembali histeris ketika tanpa sengaja melihat sosok Nita yang tidak jauh darinya, hal itu membuat Rifki memerintahkan salah satu anak buahnya untuk membawa anak itu kemarkasnya.


"Jaga anak ini baik baik, dan suruh Bi Lina masak untuknya, bawa dia kemarkas dan beri dia makan sampai ia kenyang, biar kan dia istirahat disana jangan membuat dia tertekan". Perintah Rifki.


"Baik Tuan Muda". Orang itu menunduk kepada Rifki.


"Ayo Dek ikut Kakak, kita akan makan makan, kamu mau? Nanti Kakak belikan makanan yang banyak untuk Adek, Adek jangan takut ya". Ajak anak buah Rifki kepada anak itu.


Anak itu terlihat begitu ketakutan, ia memegangi baju Rifki dengan eratnya seakan akan ia tidak ingin pergi dari tempat itu, ia ingin tetap bersama Rifki walaupun tanpa kata kata yang mampu keluar dari mulutnya.


"Adek, Kakak ini ngak jahat kok, jangan takut ya". Bujuk Rifki.


"Jangan takut ya, percaya deh sama Kakak, kalo Kakak ini jahat nanti bilang saja kepada kami, nanti kita pukuli berdua". Nadhira ikut membujuknya.


"Iya Dek, Kakak ini ngak jahat kok, beneran yakin nanti kalo Adek mau, Kakak ini akan mengajak Adek jalan jalan ke mini market buat beli jajan yang banyak untuk Adek, mau ngak? Beli es cream juga, atau permen, atau bisa juga mainan, mau ngak?". Tambah Rifki untuk dapat membujuk anak tersebut.


"Kakak beneran?". Tanya anak itu dengan sedikit ketakutan.


"Beneran, kalau sampai Kakak ini berani macam macam dengan Adek, Kakak akan hajar dia sampai dia kapok".


"Kakak ngak bohong kan?".


"Bener, Kakak janji sama Adek, kalo Kakak ini berani memukul Adek, Kakak akan menghajar dia". Rifki mencoba meyakinkan bahwa orang yang akan membawa anak itu pergi bukanlah orang jahat.


Dengan segala bujuk dan rayuan yang dilakukannya oleh anak buah Rifki akhirnya, anak kecil itu menerima ajaknya meskipun ia begitu berat hati untuk meninggalkan tempat itu.


Orang yang diperintahkan oleh Rifki segera menjauh dari tempat itu, Rifki menyuruhnya untuk pergi dari situ karena ia tidak ingin anak itu kembali trauma ketika melihat kejadian yang ada disitu dan apa yang telah dilakukan oleh Nita kepada anak itu.


Nadhira melihat kepergian anak itu dalam diamnya, ia terus memandangi kemana anak itu berjalan, sampai akhirnya bayangannya ditelan oleh rimbunnya pepohonan ditempat itu.


"Apa Tante tidak merasa malu? Mental seorang anak kecil yang tidak berdosa telah dipertaruhkan dalam hal ini, bagaimana kalau hal itu terjadi kepada keluarga Tante sendiri". Tanya Nadhira kepada Nita.


"Aku tidak peduli! Kalian menjebakku?? Pak kau juga ikut dalam hal ini!!". Nita sangat tidak mempercayai apa yang terjadi didepannya saat ini, dirinya dikepung oleh polisi dan juga anak buah dari Rifki.


"Maafkan kami Bu, kami tidak punya pilihan lain kasihan anak itu, biar bagaimanapun ia juga berhak untuk mendapatkan kebebasan".


"Apa salah Ael kepada Ibu? Kenapa Ibu tega melakukan hal itu".


"Lepaskan aku!! Aku tidak bersalah!! Dia yang bersalah, dia sendiri yang bunuh diri bukan aku yang membunuhnya!!". Nita tetap berdiri dipendiriannya bahwa bukan dirinyalah yang membunuh Rahel.

__ADS_1


Memang benar Rahel meninggal karena dirinya bunuh diri, karena dia ingin melindungi kesuciannya dari laki laki yang tidak tau diri ingin merenggut mahkotanya dengan paksa.


"Tante sebaiknya Tante menyerah dan akui semuanya sekarang, bagaimana Ayah Rahel bisa meninggal saat itu?". Ucap Bayu yang berdiri diantara para polisi itu.


"Apa yang kau katakan!!". Hakam berteriak kepada Bayu karena pertanyaan yang dilontarkan oleh Bayu.


Hakam memandang Bayu seakan akan tidak mempercayai mengenai pertanyaan yang dilontarkan oleh Bayu kepada Ibunya, akan tetapi Bayu menjawabnya dengan anggukan kepala seakan akan pertanyaan itu memang benar adanya dan Bayu memberikan kesempatan untuk Nita menjelaskan semuanya tentang kejadian malam itu.


****Flash back on****


Malam itu setelah adzan magrib Nita pergi bersama teman temannya untuk mengulang kembali masa masa diwaktu mereka masih sekolah, Nita mengendarai mobilnya seorang diri tanpa ditemani oleh suaminya karena saat itu suaminya sedang sibuk dalam pekerjaannya.


Didepan cafe tempat dimana mereka janjian untuk reuni itu, Nita datang denga menggunakan mobilnya yang baru saja dibelikan oleh suaminya.


"Wih keren Nit, mobil baru ya?". Tanya salah satu temannya yang berpakaian sedikit feminim berwarna merah dengan riasan kepala yang indah.


"Iya dong, ini mah pengeluaran terbaru, suamiku yang membelikannya untukku, belum ada dipasaran". Jawab Nita dengan sombongnya.


"Enak ya jadi dirimu, bisa beli mobil seperti ini, beruntung banget dirimu mendapatkan suami yang seperti itu".


Semua teman temannya memuji Nita dan juga Samsul suaminya, banyak yang iri dengan kehidupan yang dijalani oleh Nita beserta suaminya, karena mereka merasa tidak seberuntung Nita.


Ketika jam tangannya telah menunjukkan pukul 10, Nita segera berpamitan untuk pulang karena suaminya pasti sudah menunggunya dirumah.


Disatu sisi sosok pria yang berusia 40 tahunan sedang berlarian dengan mendorong gerobaknya yang ia gunakan untuk berjualan karena setelah mendapatkan kabar bahwa istrinya sebentar lagi akan lahiran dibidan.


Setelah menaruk gerobaknya ditempat biasanya pria itu kembali berlari menuju ketempat dimana istrinya lahiran tersebut, ketika ia ingin menyebrang ia melihat kendaraan yang masih jauh dari tempatnya sehingga ia memutuskan untuk tetap menyebrang.


Tanpa ia sadari bahwa mobil itu melaju begitu kencangnya hingga membuat sosok pria itu tertabrak begitu saja dan membuat pria itu terpental jauh dari tempat kejadian, orang yang mengendarai mobil tersebut segera keluar untuk memeriksanya.


Ketika pemilik mobil keluar dari dalam mobilnya dapat terlihat sosok wanita, ternyata mobil itu dikendarai oleh seorang wanita, orang itu tidak lain adalah Nita yang pulang dari reuni.


Ia begitu terkejut ketika pria itu sudah tidak sadarkan diri, dengan sesegera mungkin ia meninggalkan tempat kejadian karena pada saat itu jalanan ditempat itu kelihatan begitu sepi sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya.


Setelah kepergian dari mobil yang dinaiki oleh Nita, tanpa disadari bahwa pria itu menggerakkan tengah menggerakkan tangannya untuk meminta bantuan, pria itu masih sadar akan tetapi darahnya terus merembes keluar dari dalam tubuhnya.


"To... Long". Ucapnya dengan lemas.


Pria yang ditabrak oleh Nita tidak lain adalah Ayah dari Rahel, saat itu Rahel sedang menemani Ibunya dirumah sakit yang akan melahirkan Adik Rahel, Rahel terus menunggu kedatangan dari Ayahnya dirumah bersalin itu.


Sampai proses lahir selesai Ayahnya belum nampakkan batang hidungnya ditempat itu, Ibunya melahirkan diaaat waktu menunjukkan pukul 4 pagi dan Rahel semalaman tidak tidur karena menunggu Adiknya datang kedunia dan menunggu kehadiran Ayahnya.


Saat itu tiba tiba tetangganya datang ketempat bersalin itu dan memberitahukan bahwa Ayahnya mengalami kecelakaan dan meninggal ditempat, Rahel yang mendengar kabar itu tiba tiba meneteskan airmatanya.


"Ayah.....". Teriak Rahel yang tidak mempercayai akan hal yang disampaikan oleh tetangganya.


Antara kelahiran dan kematian yang ia rasakan saat ini, ketika Ibunya mendengar hal itu, Ibunya segera tidak sadarkan diri ditempat itu, entah disaat itu Rahel harus senang atau sedih, senang karena Ibunya lahiran dengan selamat, atau sedih karena kepergian dari Ayahnya.


Nita pulang kerumahnya dengan jantung yang terus berdetak kencang karena ia telah menabrak seseorang, sebelum ia masuk kedalam rumahnya ia mencipratkan air kepada mobilnya agar tidak adanya bekas darah dimobilnya.


"Ada apa Bu?". Tanya Samsul ketika melihat istrinya seakan akan ketakutan.


"Ngak apa apa Pak, tadi ada yang ngejar Ibu diluar, sepertinya itu begal Pak". Nita memberi alasan kepada suaminya, ia tidak ingin suaminya tau mengenai apa yang telah dilakukan olehnya.


"Iya sudah, asal Ibu baik baik saja itu tidak masalah".

__ADS_1


"Iya Pak".


****Flash back off****


Bayu juga menjelaskan tentang bagaimana kejadian dimalam itu sehingga membuat Nita merasa begitu gelisah karena dirinya habis menabrak seseorang ketika diperjalanan untuk pulang.


"Tante sudah tau kan, bahwa Rahel adalah anak dari orang yang Tante tabrak waktu itu, Tante hanya tidak ingin Rahel mengetahuinya dan akan membalaskan dendam kepada Tante dan keluarga Tante bukan?". Tanya Bayu yang to the point kepada Nita.


"Omong kosong apa lagi ini? Menabrak orang, kapan? Dimana? Aku tidak pernah menabrak seseorang, apalagi sampai meninggal dunia seperti itu". Ucap Nita dengan gugupnya.


"Tante jika aku tidak salah menebaknya, mungkin Tante memang sengaja ingin menghancurkan hidup gadis itu untuk memisahkan anak Tante dengan Rahel, dan membuat Rahel tidak berdaya sehingga Rahel tidak dapat membalaskan dendamnya, bukan begitu Tante?". Tanya Bayu dengan tatapan yang mengintimidasi seseorang.


Bayu dengan mudah menyimpulkan hal itu, bagaimana mungkin seseorang tega melakukan hal seperti itu kepada gadis yang sama sekali belum ia kenal, hanya karena dirinya adalah anak yatim piatu dan tidak memiliki harta yang lebih sehingga Nita bersikap semena mena kepadanya.


Hal itu sangat mustahil, akan tetapi setelah Bayu mengetahui kejadian seperti ini, ia berani menyimpulkan bahwa Nita menjauhkan Rahel dari Hakam karena masalah ini, Nita tidak ingin jika suatu saat Rahel mengetahui bahwa Nita lah yang telah membunuh ayahnya sehingga Rahel membalaskan dendam kepadanya dan keluarganya.


"Apa yang kau katakan? Bisa saja kau juga ingin menjebakku, kalian semua memang sengaja ingin mengarahkan kejadian semuanya kepadaku".


"Tante kebenaran sudah didepan mata? Bagaimana bisa Tante masih mengelaknya?".


"Apa!! Jadi Ibu berusaha menjauhkan diriku dari Rahel agar rahasia Ibu tidak terbongkar? Dan Ibu sudah mengetahui bahwa Rahel adalah anak dari seseorang yang Ibu tabrak lari". Hakam sungguh tidak mempercayai apa yang ia dengar.


Ketika Hakam memperkenalkan Rahel kepada Ibunya, Ibunya tidak menduga bahwa seorang wanita yang dibawa oleh Hakam kepadanya adalah anak dari seseorang yang ia tabrak waktu itu.


Ketika Nita mengetahuinya, ia segera mencari cara untuk memisahkan hubungan antara anaknya dan juga anak dari orang yang ia tabrak, Rahel adalah anak orang miskin sehingga alasan itu cukup kuat agar Nita berhasil memisahkan keduanya.


"Kebenaran itu hanya Tante yang mengetahuinya, semakin Tante menolak untuk mengatakan hal yang sebenarnya, aku bisa tau hanya dengan melihat gerak gerik yang Tante tunjukkan". Bayu berkata lantang didepan semua orang, biar semuanya mendengar apa yang tengah ia katakan.


"Tidak!! Apa yang kau katakan, itu semuanya tidak benar, kalian berbohong! Kalian menjebakku!". Nita menolak untuk mengakuinya.


"Lalu alasan apa yang mampu membuat Tante begitu sangat berambisi untuk memisahkan keduanya? Dan kenapa Tante sampai harus menghancurkan kehidupan Rahel, Apa Tante lupa dengan seseorang disaat kejadian itu?".


"Apa yang kau katakan! Rahel mati adalah kemauannya sendiri, bukan karenaku aku tidak pernah menyuruhnya untuk bunuh diri".


"Iya... Memang Rahel telah bunuh diri, asal Tante tau, jika Tante tidak menyuruh mereka untuk melecehkan Rahel, Rahel tidak akan pernah melakukan hal itu!".


"Bagaimana bisa kau mengetahuinya Bay? Tunjukkan kepadaku bukti bukti atas ucapanmu itu". Tanya Rifki dengan nada serius kepada Bayu.


Bayu mengeluarkan benda seperti tanda pengenal dari balik sakunya, dan menyerahkannya kepada Rifki, Rifki segera menerima benda tersebut dan membacanya dengan teliti.


"Ditempat kejadian beberapa tahun yang lalu seseorang telah menemukan ini dilokasi kejadian, orang tersebut memberikannya kepada Ibu dari Rahel, akan tetapi Ibunya tidak mampu untuk melaporkannya kepihak berwajib, Ibunya masih menyimpannya sampai sekarang, lantas kenapa tanda pengenal itu ada dirumah Rahel? jika bukan Tante yang melakukan hal itu kenapa ini ada disana?". Tanya Bayu lagi.


"Itu bukan punyaku, pasti kau memalsukan hal itu juga!!". Ucap Nita dengan emosinya.


"Tapi ini belum cukup bukti untuk membuktikan bahwa Tante Nita yang melakukannya, bisa saja keluarga Rahel tanpa sengaja menemukannya dan belum sempat untuk mengembalikannya". Ucap Rifki yang seolah olah membela Nita, akan tetapi dibalik pertanyaannya itu ada maksud lain.


"Bawa kemari orang itu!". Perintah Bayu kepada anak buah Rifki yang ikut bersamanya.


Bayu yang mengerti arah pembicaraan Rifki segera menyuruh seseorang untuk membawa orang yang ia maksud ketempat itu, agar semua orang mengetahui bukti bukti apa yang telah ia dapatkan selama pencariannya.


Tak beberapa lama datanglah seseorang laki laki yang berjalan dengan tegaknya mendekati tempat itu, dibelakangnya diikuti oleh 5 orang anak buah Rifki, dan lelaki itu begitu dikenali oleh Nita.


"Perkenalkan dirimu!". Perintah Bayu setelah lelaki itu berdiri disampingnya.


"Nama saya adalah Ahmad, satu satunya saksi mata disaat kejadian beberapa tahun itu, saya adalah saudara sepupu dari Nita".

__ADS_1


Ahmad menceritakan kejadian yang sama persis yang diceritakan oleh Bayu sebelumnya, mendengar cerita tersebut membuat gejolak dihati Samsul bertambah besar.


Cerita itu bukanlah karangan belaka saja, melainkan itu kisah nyata yang disembunyikan oleh Ahmad selama ini atas permintaan dari Nita, karena Ahmad adalah satu satunya saksi mata dibalik kejadian malam itu, dirinya jugalah yang mengantarkan jenazah Ayah Rahel kerumahnya.


__ADS_2