
Irwan membawa Anis menjauh dari tempat Irwan makan sebelumnya, ia tidak mempedulikan teriakan Anis yang kesakitan karena tangannya yang dipegang begitu erat oleh Irwan.
"Mas lepasin, sakit Mas". Ucap Anis sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Irwan.
Dengan berlinangan air mata Anis mencoba untuk melepaskan pegangan tangan itu, Anis merasakan bahwa tangannya sedang kram karena rapatnya pegangan tersebut sehingga darahnya tidak dapat mengalir ketelapak tangannya.
Dhuk... Bhukk...
Setelah sampai ditempat sepi, Irwan segera membenturkan kepala Anis disebuah tembok, Irwan dirinya begitu marah karena dirinya telah dipermalukan didepan banyak orang hanya karena kedatangan Anis dan juga Bella.
"Akh...".
Anis segera terjatuh ketanah karena kepalanya yang dibenturkan dengan sangat keras ketembok hingga berdarah dan membuat Anis kelihatannya sangat lemas tak berdaya segelahnya.
"Sudah aku bilang! Jangan pernah menunjukkan diri didepanku lagi! Rasakan itu!".
Irwan kembali menggerakkan tangannya untuk menarik rambut Anis sampai Anis berdiri lagi didepan Irwan, kedua mata Anis berubah menjadi merah dan berlinangan air mata.
Karena sangking kesalnya Irwan saat ini sehingga membuat dirinya kembali membenturkan Anis ditembok yang sama, dan membuat luka yang dimiliki oleh Anis semakin parah.
Kejadian kali itu bukan hanya bedampak untuk Anis seorang akan tetapi juga berdampak bagi kandungan karena beberapa kali Irwan juga memukul perut Anis sehingga keluarnya darah dari area vitalnya yang artinya Anis mengalami keguguran.
Bella terus mengejar Irwan yang membawa Anis pergi entah kemana, setelah cukup lama dia mengejar kemana perginya kedua orang itu, Bella begitu terkejut ketika melihat kepala Anis dibenturkan ketembok oleh Irwan dan sekarang tubuh Anis bersimbah darahnya sendiri.
"Anis!!". Teriak Bella ketika mengetahui bahwa temannya itu sudah bersimbah darah.
Bella segera menghampiri tubuh Anis yang sudah tidak berdaya tersebut, ia tidak menyangka bahwa Anis akan mengalami hal seperti ini, ia begitu terkejut ketika melihat darah yang mengalir begitu derasnya dikepala Anis.
"Apa yang kau lakukan dengan Anis!!". Teriak Bella.
"Kau!!! Beraninya kau menamparku dikeramaian, aku akan membalasnya!".
Tanpa aba aba, Irwan juga telah menggerakkan tangannya untuk menarik rambut Bella dengan kasarnya, Bella terus berusaha untuk melawannya akan tetapi tenaganya kalah besar daripada Irwan.
"Akh... Sakit, tolong lepaskan!".
Irwan terus menarik rambut Bella dengan kasarnya, rintihan tangisan Bella dapat didengar oleh Anis yang sedang terbaring tidak berdaya dengan darah yang terus mengalir dirujung kepalanya.
Ketika itu juga Irwan mengambil sebuah batu untuk bersiap memukul kepala Bella, Bella yang melihat itu hanya bisa memejamkan kedua matanya dan ia sangat takut untuk merasakan sakitnya pukulan tersebut.
Akan tetapi sebelum pukulan itu mengenai kepala Bella, Anis dengan sisa kesadarannya segera bangkit dan mendorong tubuh Bella dengan sekuat tenaga yang ia miliki sekarang, alhasil Anislah yang akhirnya mendapatkan pukulan keras itu.
Hal itu berujung dengan darah Anis yang muncrat membasahi wajah Bella, Bella begitu terkejut melihat hal itu apalagi ketika melihat darah Anis yang terciprat membasahi wajah cantiknya saat ini.
"ANISSSS.... ARGHHH... ". Teriak Bella ketika melihat temannya bersimbah darah seperti itu.
Bela segera memeluk tubuh Anis yang sudah tidak berdaya tersebut, Anis kehilangan begitu banyak darah setelah kejadian ini, teriakan itu segera membuat Irwan segera berlari dari tempat itu, karena tanpa sengaja dirinya telah menewaskan satu orang ditempat itu.
Teriakan Bella itu dapat didengar oleh penjaga Surya Jayantara yang saat itu bertugas untuk mengelilingi tempat tersebut, karena kejadian itu begitu dekat dengan bagunan itu sehingga dapat didengar oleh mereka.
"Anis... Hiks... Hiks... Hiks... Jangan tinggalkan aku Nis, Anis tolong buka matamu, aku tidak mau kehilangan dirimu Hiks... Hiks... Hiks... Aku mohon kepadamu Nis, bukalah matamu, jangan tinggalkan aku dengan cara seperti ini, aku tidak mau kau pergi". Tangis Bella pecah seketika.
Airmata itu menetes diwajah Anis yang tengah bercampur dengan darahnya, Bella merasa begitu kehilangan sosok seorang sahabat yang sangat berarti baginya, kepergian Anis untuk selamanya membuat Bella tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan nyawa Anis.
Bella terus memeluk tubuh Anis yang sedang bersimbah darah, hingga darah diwajahnya mulai mengering dan terasa kaku, tak beberapa kama kemudian datanglah segerombolan orang yang berasal dari Surya Jayantara ketempat itu.
Mereka terkejut ketika menemukan keberadaan kedua orang wanita yang menghuni di Surya Jayantara sedang bersimbah darah, yang satunya sudah tidak sadarkan diri dan yang satunya lagi diam membisu seakan akan pandangannya kosong sambil memeluk tubuh gadis yang tidak sadarkan diri itu.
__ADS_1
Segerombolan orang tersebut segera mendekati keduanya dan memeriksa keadaan seorang wanita yang sudah tidak sadarkan diri tersebut, mereka begitu terkejut ketika selesai memeriksanya.
"Anis sudah tiada Pak". Ucap Bella tanpa ekspresi sama sekali yang ada dipikirannya sekarang benar benar kosong, meskipun begitu airmatanya tidak bisa berhenti untuk menetes.
Bella sama sekali tidak mau melepaskan tubun Anis dari pelukannya, Bella terus memeluk tubuh tersebut seakan akan dirinya tidak mau dipisahkan dari sosok Anis sahabatnya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi Nak? Kenapa bisa seperti ini?". Tanya salah satu dari mereka.
"Orang itu telah membunuh Anis Pak... Hiks... Hiks... Hiks...". Tangis Bella pecah seketika itu juga.
"Pak sebaiknya kita bawa keduanya kembali ke Surya Jayantara terlebih dulu deh pak, soalnya kelihatannya dia begitu tertekan sepertinya gadis ini mengalami sedikit trauma mungkin dia satu satunya saksi mata dari kejadian ini". Saran salah seorang dari mereka.
"Baiklah ayo bawa keduanya kembali".
Orang orang itu segera membawa keduanya kembali ke tempat Surya Jayantara, disana mereka segera disambut dengan banyak tanda tanya mengenai kejadian yang terjadi kepada keduanya, Bella yang menyaksikan hal itu langsung hanya bisa berdiam diri dan sesekali meneteskan airmatanya.
Teman teman wanitanya segera membantu Bella untuk membersihkan tubuhnya dari darah milik Anis, pemimpin dari yayasan itu segera melapor kepada atasannya tentang kejadian yang menimpa salah satu anggota dari Surya Jayantara.
Mendengar kabar tersebut membuat anak buah Rifki segera memberitahukan hal ini kepada Rifki, karena Rifki adalah atasan mereka sehingga Rifki harus mengetahui hal ini.
****Flash back off****
Hendra menceritakan kejadian yang dialami oleh Anis dan Bella dengan detail dengan seperti apa yang ia dengar dari mulut Bella sebelumnya, karena disaat kejadian itu hanya ada Anis dan Bella yang mengetahuinya akan tetapi Anis sudah tiada dibunuh oleh Irwan, Bella juga adalah teman terbaik bagi Anis selama ini.
"Bagaimana keadaan Bella saat ini?". Tanya Rifki kepada Hendra.
"Bella sudah membaik Tuan Muda dan dia sudah menceritakan semuanya kepada kami, meskipun masih ada rasa trauma didalam dirinya, jika Tuan Muda ingin bertemu dengannya saya akan mengantarkan". Jawab Hendra dengan hormatnya.
"Apa pelakunya sudah ditangkap Bay?". Tanya Rifki kepada Bayu yang ada disampingnya.
"Untuk saat ini belum Tuan Muda, tapi pelakunya sekarang sudah berada dikejaran anak buah kita". Jawab Bayu terlihat begitu hormat kepada Rifki.
Bayu tau dimana dia harus bersiap tegas, disiplin, dan bercanda, jika dilihat lihat Bayu orangnya tidak suka bercanda akan tetapi jika dibalik semua orang dia orangnya paling pandai dalam bercanda.
Melihat atasannya yang begitu hormat kepada sosok pemuda yang masih berpakaian SMA itu apalagi dengan cara atasannya memanggil dirinya membuat para orang yang tadinya memandang rendah Rifki sekarang berusaha untuk menutup mulut mereka, dan mereka berhadap bahwa Rifki tidak mendengar apa yang telah dikatakan oleh mereka sebelumnya.
Sebenarnya Rifki memang mampu mendengar ucapan orang orang yang ada disitu mengenai hal apa yang ia lakukan sebelumnya, akan tetapi Rifki memilih untuk diam meskipun tangannya terkepalkan karena dirinya mendengar ada seseorang yang meragukan bagaimana cara orang tuanya mendidiknya sebelumnya.
Bagi Rifki percuma saja menjelaskan setatusnya seperti apa ditempat itu, lagain Rifki juga tidak ingin banyak orang yang mengetahuinya sehingga dapat menyebabkan bahaya bagi dirinya sendiri.
"Disini saya tidak bisa menyalahkan pihak Surya Jayantara untuk kejadian kali ini, tapi saya harap penjagaan disekitar sini lebih diketatkan lagi, kalau perlu pekerjakan juga seorang ahli psikologi ditempat ini, agar anak anak disini lebih mengetahui tentang hal apa yang harus mereka lakukan, dan hal apa yang harus mereka hindari". Pinta Rifki kepada Hendra.
"Baik Tuan Muda". Jawab Hendra dengan hormatnya.
Rifki mengangguk mendengar jawaban dari Hendra, diruangan itu tidak ada yang berani bersuara kecuali anak buah Rifki dan juga Hendra yang menjadi atasan dari Surya Jayantara.
Nadhira yang mendengar cerita tersebut hanya bisa merasa ngeri dengan apa yang dilakukan oleh Anis dan Irwan sebelumnya, sementara Rifki hanya berdecak beberapa kali dengan apa yang dilakukan oleh keduanya itu.
Rifki tidak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan oleh anak yang berada di Surya Jayantara kali ini, mereka sudah diberi kesempatan untuk meraih cita citanya akan tetapi mereka juga telah menyia nyiakan kesempatan sebesar itu.
"Jadikan hal ini sebagai pelajaran saja, jangan pernah melakukan hal seperti itu kecuali dengan kekasih halalmu nantinya, kamu juga adalah seorang wanita, ingat harga diri seorang wanita berada pada kesuciannya, lelaki mampu menjaga pandangannya asal seorang wanita tidak mengumbarnya begitu saja". Bisik Rifki kepada Nadhira.
"Iya Rif, aku akan selalu mengingat hal itu, apa ini tujuanmu mengajakku kemari kali ini Rif?".
"Bisa dikatakan seperti itu juga Dhira, aku hanya ingin kamu juga mengetahuinya bahwa kamu harus menghindari hal seperti itu, tidak ada yang bisa menjaga kehormatan seorang wanita kecuali dirinya sendiri Dhira, meskipun aku sudah berusaha untuk menjagamu dengan sebaik mungkin tetapi jika dirimu tidak bisa menjaganya maka hal yang aku lakukan itu juga adalah hal yang sia sia".
"Iya Rif, aku tidak akan pernah mengecewakanmu, karena bagiku kehormatan seorang wanita itu begitu penting, dan aku akan berusaha seperti Rahel yang akan mempertaruhkan nyawa demi sebuah kehormatan wanita".
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, perlu kamu ingat juga bahwa semua lelaki pasti punya nafsu yang tinggi Dhira, asal mereka tau bagaimana caranya untuk mengendalikannya pasti semuanya akan baik baik saja, begitupun sebaliknya jika dirinya tidak bisa mengendalikannya maka mereka akan dengan mudahnya menghancurkan kehormatan seorang wanita".
"Lalu bagaimana caramu untuk mengendalikannya?".
"Dengan cara melibatkan Allah dalam setiap tindakan yang akan aku lakukan selanjutnya, mendekatkan diri kepada-Nya dan tidak pernah melupakan zikir disetiap melakukan suatu tindakan dan berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu".
"Apakah semua orang bisa melakukannya?".
"Bisa, tidak ada yang mustahil selama kita terus berusaha, bukan hal mudah untuk mengendalikannya akan tetapi semua orang pasti bisa melakukannya jika mereka mampu melibatkan Allah dalam setiap tindakan yang akan mereka lakukan".
Setelah melakukan perbincangan cukup lama diruang itu, akhirnya Rifki bergegas meninggalkan ruangan tersebut dengan menggandeng tangan Nadhira, sementara Bayu dan yang lainnya masih tetap ditempat itu untuk menyelesaikan sebuah masalah yang terjadi kali ini.
Kepergian Rifki dari tempat itu dengan mengajak Nadhira membuat Bayu dan anak buah lainnya menatap keduanya dengan rasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, karena didepan banyak orang Tuan Mudanya itu dengan beraninya menggandeng seorang wanita.
Penjaga pintu yang melihat Rifki akan lewat segera membukakan pintu tersebut dan menunduk hormat dihadapan Rifki, sejak dirinya mengetahui bahwa Rifki adalah atasan dari atasannya membuat dirinya begitu mengormati Rifki, sementara itu Rifki yang melihatnya hanya menganggukkan kepalanya pelan kepada penjaga pintu tersebut.
Rifki segera keluar dari bangunan tersebut dan bergegas untuk menuju ke mobilnya, diikuti oleh sopir pribadinya dan langsung membukakan pintu untuk Rifki dan juga Nadhira.
Diperjalanan Nadhira tak henti hentinya tersenyum dan sesekali melirik kearah Rifki yang ada disampingnya, Rifki dapat melihat itu melalui kaca spion yang ada didalam mobil tersebut, dan Rifki berusaha untuk bersikap seakan akan dirinya tidak melihat apa yang dilakukan oleh Nadhira.
Tanpa Nadhira sadari bahwa mobil tersebut sudah sampai didepan rumah Nadhira, Rifki yang melihat Nadhira tidak segera turun dari mobilnya hanya bisa berdehem untuk menyadarkan lamunan Nadhira.
"Ehem... Sampai kapan kamu akan terus memandangku seperti itu?". Ucap Rifki yang mampu menyadarkan Nadhira. "Kamu ngak mau turun? Apa mau ikut aku kemarkas?".
"Sejak kapan kita sudah sampai?". Tanya Nadhira dengan keheranan ketika mobil yang ia naiki sudah terparkir didepan rumahnya.
"Mungkin satu abad yang lalu". Jawab Rifki sambil mengusap dagunya.
"Serius dikit napa Rif, jangan bercanda mulu". Gerutu Nadhira ketika mendengar jawaban Rifki.
"Iya iya,,, sudah 15 menitan yang lalu kita sampai".
"Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya".
"Bagaimana aku tau? Kamu sendiri juga bisa kan melihat sudah sampai atau belum? Kamu aja sih yang terus mencuri pandang dariku, emang apa sih yang kamu pikirkan tentang diriku? Jangan jangan kamu suka ya sama aku? Cie...".
"Apaan sih kamu Rif". Bantah Nadhira mengenai ucapan yang dilontarkan oleh Rifki.
Nadhira begitu malu untuk mengakuinya bahwa dirinya tengah mencuri pandangan, Nadhira hanya merasa kagum dengan sosok yang ada disampingnya itu, akan tetapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Rifki berhasil membuat pipi Nadhira menjadi merah seperti tomat dan sedikit terasa panas karena malu.
Tanpa banyak berkata lagi, Nadhira segera bergegas keluar dari dalam mobil tersebut sambil berlari menuju rumahnya, akan tetapi ucapan Rifki segera menghentikan langkahnya.
"Dhira! Apa kau melupakan tasmu? Tasmu masih ada dibagasi mobilku". Panggil Rifki kepada Nadhira.
Rifki tersenyum ketika melihat tingkah Nadhira yang sulit untuk diprediksi itu, Nadhira segera membalikkan tubuhnya dan melihat Rifki sudah berada diluar mobil dan juga sopirnya tengah mengeluarkan sebuah tas dari dalam bagasi mobilnya.
Nadhira segera bergegas kembali menuju mobil tersebut untuk mengambil tasnya yang tertinggal disana, Nadhira segera merebut tas tersebut dari tangan sopir pribadi Rifki
"Ngak ada kata kata terima kasih begitu kepadaku?". Tanya Rifki dengan nada yang penuh harap.
"Terima kasih". Ucap Nadhira tanpa basa basi.
"Yang tulus dong, masa begitu saja".
"TERIMA KASIH RIFKI". Ucap Nadhira sambil teriak.
"Iya sama sama".
__ADS_1
Nadhira segera berlari kedalam rumahnya, Rifki yang melihat itu hanya bisa tertawa bagaimana tidak lucu Nadhira berlari seperti seorang anak itik karena keberatan membawa tasnya, setelah itu Rifki segera masuk kembali ke mobilnya untuk bergegas menuju ke markasnya.