
Nadhira terus menggeram kesakitan dengan apa yang mereka lakukan kepadanya saat ini, Nadhira lebih memilih untuk kehilangan nyawanya daripada harus menahan rasa sakit yang teramat sangat ini apalagi ketika ia mengetahui bahwa mereka melakukan ini hanya untuk mendapatkan sebuah permata.
"Hanya karena permata iblis itu, kalian sampai harus berbuat sekeji ini kepadaku! Kalian bahkan lebih buruk daripada iblis itu sendiri! Kalian begitu hina, kalian begitu rendah!". Teriak Nadhira meskipun dengan menahan rasa sakitnya.
Nadhira berlutut didepan pria paruh baya itu karena kakinya yang telah berhasil dipatahkan oleh mereka dengan teganya, meskipun kakinya telah dipatahkan, mereka juga saat ini sedang mengunci tanganya agar Nadhira tidak bisa kabur dari tempat itu.
Mereka memegangi kedua tangan Nadhira dengan begitu eratnya hingga membuat Nadhira merasakan sakit juga dibagian tangannya karena kuncian itu, Nadhira terlihat begitu sangat tidak berdayanya saat ini.
"Diam! Atau ku bunuh kau sekarang juga!".
"Bunuh saja kalau berani, aku siap jika harus kehilangan nyawa disini saat ini juga". Ucap Nadhira dengan tegasnya.
Nadhira sama sekali tidak takut akan kematian yang akan datang kepadanya untuk saat ini, baginya hidupnya sudah tidak berarti lagi apalagi Rifki telah pergi meninggalkan untuk saat ini dengan waktu yang sangat lama, kematian bukanlah hal yang menakutkan baginya saat ini.
Nadhira hanya takut kalau orang orang jahat ini berhasil untuk mengeluarkan permata iblis yang ada didalam tubuhnya, maka bencana besar akan menimpa mereka ataupun masyarakat yang tidak bersalah karena mereka yang menyalah gunakan energi dari permata iblis itu.
"Akh...".
Mendengar ucapan Nadhira membuat orang yang tengah memegangi Nadhira seketika itu juga mengeratkan pegangan tangannya sehingga membuat Nadhira kesakitan karena kuatnya pegangan tangan itu, jika diteruskan mungkin tangannya juga akan ikut patah karena hal itu.
"Apa ini sangat menyakitkan bagimu gadis kecil? Melihatmu kesakitan seperti ini membuatku tidak tega untuk melakukannya kepadamu, tapi bagaimana lagi, aku digaji untuk menangkapmu, diam dan patuhkah maka kau akan baik baik saja nantinya". Ucap orang yang saat ini sedang mengunci tangan Nadhira.
"Hahaha.... Kenapa tidak sekalian saja kalian membunuhku saat ini juga? Bukankah kalian juga akan menyukai hal itu? Aku hanyalah gadis biasa, seberapapun parahnya kalian menyiksaku, kalian tidak akan mendapatkan permata itu dariku, Kenapa tidak sekalian saja kalian membunuh diriku juga?". Tanya Nadhira dengan tawa yang memilukan untuk siapa saja yang melihatnya saat ini.
"Jika aku mau, mungkin kau sudah tidak bernyawa saat ini juga, karena aku masih memiliki rasa kasihan kepadamu, maka serahkan permata itu baik baik kepada kami, kami tidak akan menyiksamu lagi". Ucap pria paruh baya yang ada didepan Nadhira.
"Apa kau takut kehilangan permata yang ada didalam tubuhku ini? Aku tidak akan membiarkan permata ini jatuh kepada orang seperti kalian! Lebih baik aku mati beserta hancurnya permata ini daripada membiarkan permata ini jatuh ketangan orang orang jahat seperti kalian semua!". Ucap Nadhira dengan tegasnya.
"Kau berani melawan kami?".
"Akh...". Lagi lagi kuncian tangan Nadhira dieratkan oleh orang yang sedang memegangi tangan Nadhira.
"Kau hanya manusia biasa gadis kecil! Meskipun permata itu ada didalam tubuhmu saat ini, bukan berarti kau akan hidup abadi, kau juga bisa mati nantinya!".
"Karena aku adalah manusia biasa maka hidupku sama sekali tidak penting bagi kalian bukan? Kalian juga adalah manusia biasa sepertiku dan kalian juga bisa mati jika Allah sudah berkehendak, lantas kenapa aku harus takut dengan kalian semua? Hidup dan matiku hanya untuk Tuhanku, aku tidak peduli jika aku harus mati saat ini juga".
"Kau terlalu banyak bicara! Jangan harap kau bisa hidup lebih lama setelah aku mendapatkan permata itu!".
"Akh.... Aku sama sekali tidak berharap kepadamu, siksa aku sepuas dan sebisamu, karena setelah aku mati, orang yang pertama akan ku bunuh adalah dirimu, aku akan menjadi hantu jahat yang akan menggentayangi dirimu dan merenggut nyawamu dengan kedua tanganku sendiri".
"Hantu jahat? Hahaha..... Aku bahkan mampu menghancurkan jiwamu dengan mudahnya, bagaimana kau bisa menggentayangi dan merenggut nyawaku?".
Bagi mereka ucapan Nadhira adalah sebuah lelucon belaka sehingga mereka sama sekali tidak mempedulikan ucapan dari Nadhira, Nadhira juga ikut tertawa ketika orang orang itu tertawa, akan tetapi tawa itu mengandung begitu banyak kesedihan dan keputusasaan yang mendalam.
"Bawa gadis ini pergi dari sini cepat! Sebelum aku berubah pikiran lagi dan menyuruh kalian untuk mematahkan kedua kakinya itu".
"Baik Tuan".
__ADS_1
"Lepaskan aku! Lepaskan!".
Orang orang itu segera bergegas menarik tubuh Nadhira agar Nadhira berdiri dari berlututnya, Nadhira memegangi lututnya yang terasa begitu sakit karena tendangan dari orang yang sedang memeganginya saat ini, Nadhira sudah tidak sanggup untuk berdiri lagi akan tetapi orang orang itu dengan kasarnya menarik tubuh Nadhira.
"Tidak semudah itu untuk kau dapat membawa gadis itu pergi dari sini, hadapi aku terlebih dahulu sebelum kalian bisa membawanya pergi sekarang!".
Tiba tiba suara seseorang terdengar dari belakang sekumpulan orang orang itu, hal itu membuat orang orang yang sedang memegangi Nadhira segera menoleh kearah orang tersebut, sosok pemuda yang berusia sama dengan Nadhira tengah berdiri seorang diri dihadapan mereka, pemuda itu berwajah cukup tampan dan berkulit putih.
"Siapa kau!". Tanya pria paruh baya itu.
Pemuda yang dihadapan pria paruh baya tersebut tersenyum begitu lebarnya ketika pria itu bertanya kepadanya tentang siapa dirinya saat ini, tidak ada yang mengetahui identitas pasti dari pemuda itu.
"Tidak penting kau mengenalku atau tidak, serahkan gadis itu kepadaku sekarang, atau kau akan menyesalinya nanti". Ucap pemuda itu.
"Tidak akan, kau tidak akan bisa merebutnya dariku dengan mudahnya, aku tidak akan membiarkan itu". Ucap pria paruh baya itu dengan angkuhnya.
"Hahaha....".
Ditengah tengah perdebatan itu, Nadhira tertawa begitu kerasnya mendengar pertengkaran itu, bagaimana tidak karena ditengah tengah keputusasaannya, Nadhira sedang diperebutkan oleh banyak orang, mereka semua tengah mengincar permata iblis yang ada didalam tubuh Nadhira saat ini.
Nadhira tengah menertawakan nasibnya sendiri,. dirinya diperebutkan oleh banyak orang hanya untuk mendapatkan sebuah permata yang ada didalam tubuhnya yang dapat menyusahkan baginya itu, begitu banyak orang yang ingin memilikinya akan tetapi Nadhira sama sekali tidak tertarik dengan permata itu.
"Kenapa kau tertawa?". Tanya pria paruh baya yang merasa aneh dengan tawa Nadhira.
"Tidak tidak, aku tidak ingin menganggu perdebatan kalian, lanjutkan saja". Ucap Nadhira dengan malasnya.
"Karena yang sedang kalian perebutkan adalah diriku, maka rasanya itu sama sekali tidak penting bagiku, siapapun yang menang nantinya itu tidak akan berpengaruh kepadaku, nyawaku nantinya juga tidak akan selamat bukan? Lantas kenapa aku harus panik soal itu? Karena tubuhku hanya satu dan permata itu juga hanya ada satu, maka hanya satu orang yang dapat memenangkan diriku".
"Gadis ini benar, permata itu hanya ada satu, maka menyerahlah sekarang, karena gadis ini sudah ada ditanganku saat ini". Ucap pria paruh baya dengan bangganya.
"Tidak! Aku tidak akan menyerah begitu saja, gadis itu harus menjadi milikku, atau kalian harus berhadapan denganku sebelum kalian bisa membawanya pergi dari sini". Ucap pria paruh baya itu.
"Kau tidak akan pernah bisa dengan mudah untuk merebut gadis ini dariku, kau harus melangkahi mayatku terlebih dulu sebelum kau membawanya pergi".
"Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan merebutnya dengan cara paksa, kalian lebih memilih cara kekerasan rupanya".
Pemuda itu segera bergegas menuju ketempat pria paruh baya itu berdiri, tak beberapa lama kemudian terjadilah perkelahian ditempat itu, karena gerbang rumah Nadhira begitu tinggi dan halamannya yang begitu luas sehingga tidak ada orang yang melihat ataupun mendengar suaranya perkelahian itu.
Perkelahian itu terjadi begitu sengitnya, hal itu membuat anak buah dari pria paruh baya itu ikut serta dalam perkelahian itu, kini hanya ada satu orang yang memegangi tangan Nadhira agar Nadhira tidak bisa lolos darinya.
Tiba tiba sebuah tangan melesat mencekik dan memukul keleher orang yang tengah memegangi Nadhira itu, seketika itu juga orang itu segera jatuh tidak sadarkan diri diatas tanah entah hanya pingsan ataupun sudah mati, karena kerasnya pukulan yang dilontarkan oleh seseorang itu, hal itu membuat tubuh Nadhira ikut serta jatuh karena dirinya sudah tidak mampu untuk berdiri lagi karena rasa sakit yang ia rasakan di persendiannya karena tendangan itu.
Seseorang itu tidak membiarkan Nadhira jauh begitu saja, orang itu langsung menangkap tubuh Nadhira dan mengangkatnya dengan mudahnya, orang itu langsung membawa Nadhira pergi dari tempat itu dengan diam diam.
Pemuda dan pria paruh baya itu tetap melanjutkan pertarungan mereka, tanpa mereka sadari bahwa Nadhira sudah tiada ditempat itu, setelah sekian lama bertarung akhirnya keduanya menghentikan pertarungan itu.
"Kemana perginya gadis itu!". Ucap pemuda itu yang sangat terkejut ketika tidak mendapati sosok Nadhira ditempat itu.
__ADS_1
"Gara gara kau, dia bisa kabur! Sial, apa kau sengaja mengalihkan perhatianku ha! Dan membiarkan gadis itu kabur begitu saja". Teriak pria paruh baya kepada sosok pemuda yang menjadi lawannya tadi.
"Kalian cepat cari gadis itu sampai dapat! Atau nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya!". Ucap pria paruh baya itu lagi dan memerintahkan anak buahnya untuk mencari Nadhira.
Anak buah dari pria paruh baya itu segera bergegas untuk mencari Nadhira dengan cara berpencar, mereka harus menemukan keberadaan dari Nadhira dengan cepatnya agar mereka dapat selamat dari kemarahan pria paruh baya itu.
"Untuk apa aku membiarkan gadis itu pergi begitu saja! Ini semua salahmu karena tidak membiarkanku membawanya dengan cara baik baik". Bela pemuda itu yang tidak mau dirinya disalahkan oleh pria patuh baya yang ada didepannya.
"Beraninya kau menyalahkanku! Kenyataannya kau yang telah mengalihkan perhatianku!".
Pria paruh baya itu sontak menyerang kearah pemuda itu dengan ganasnya, berbeda dari yang sebelumnya karena pria paruh baya itu saat ini sedang diliputi oleh sebuah kemarahan yang sangat besar ketika mengetahui bahwa Nadhira berhasil lolos dari mereka.
Dari kejauhan beberapa orang tengah menonton pertarungan itu dengan senangnya, hanya kelompok merekalah yang mengetahui kemana perginya Nadhira beserta orang yang tengah membawanya pergi, tanpa ada yang mengetahuinya, orang itu sudah memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengikuti kemana perginya Nadhira.
"Biarkan mereka terus bertarung seperti itu, sebaiknya kita bergegas menyusul gadis itu, gadis itu tengah terluka saat ini, dia tidak akan bisa pergi terlalu jauh dengan kakinya yang telah dipatahkan itu". Ucap orang itu dengan senyum sumringah diwajahnya.
"Baik Tuan".
Segerombolan orang itu segera bergegas pergi dari tempat itu untuk menyusul kemana perginya Nadhira, malam ini adalah malam gerhana merah, kesempatan langka untuk dapat mendapatkan permata iblis itu dengan mudah, hal itulah yang membuat para dukun berusaha untuk mendapatkan Nadhira karena Nadhira yang memiliki permata itu.
Disisi Nimas, Nimas sedang sibukkan dengan pertarungan melawan mahluk yang sejenis dengan dirinya itu begitupun dengan Raka, sehingga keduanya tidak sempat untuk lolos dari pertarungan itu dan menyelamatkan Nadhira dari orang orang yang sedang mengincarnya saat ini.
"Raka! Jika kita terus bertarung seperti ini, nyawa Nadhira dalam bahaya". Ucap Nimas.
Nimas sedang dihadapkan dengan sosok berupa genderwo yang memiliki kekuatan lebih kuat daripada sebelumnya dengan kuku kuku yang tajam dan sangat kuat, akan tetapi kekuatan keduanya begitu berimbang karena Nimas tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya.
"Aku tau maksudmu, jika aku mundur dari pertarungan ini, sama halnya kau yang dalam bahaya, jika kau sampai kalah dari orang itu, jiwamu tidak akan mampu untuk bangkit lagi". Ucap Raka.
"Jangan pedulikan aku, pergilah selamatkan Nadhira, nyawa Nadhira lebih penting saat ini".
"Bagaimana bisa aku pergi, lihatlah disebelah sana". Ucap Raka sambil menunjuk kearah gerhana bulan merah. "Sebentar lagi gerhana itu akan mencapai puncaknya, kita harus bisa mengalahkan mahluk mahluk ini sebelum semuanya berakhir sampai disini, dan perjuangan kita akan menjadi sia sia saja".
"Tapi bagaimana dengan Nadhira!! Apa kau lupa tujuanmu untuk ada bersama Nadhira sebelumnya!".
"Aku tidak yakin kau bisa mengalahkan mahluk mahluk ini seorang diri Nimas, mereka begitu kuat".
"Aku adalah Ratu iblis, jangan pedulikan diriku, cepat pergi selamatkan Nadhira sekarang!".
"*Tapi bagaimana dengan para mahluk itu? Kau tidak akan bisa menghadapinya seorang diri seperti ini Nimas, jika kau kalah maka jiwamu yang akan lenyap".
"Jangan pedulikan jiwaku Raka, cepat pergi dari sini, dan selamatkan nyawa Nadhira sekarang juga, atau aku akan murka kepadamu*!".
Mahluk mahluk itu seakan akan tiada habisnya untuk bermunculan, jika mereka mampu mengalahkan satu mahluk maka mahluk lainnya akan terus bermunculan dan bahkan jauh lebih kuat daripda sebelumnya hal itu membuat keduanya begitu kerepotan untuk menghadapi para mahluk itu.
Raka merasa begitu bimbang antara bertahan ditempat itu untuk menolong Nimas atau pergi untuk menyusul Nadhira, akhirnya Raka memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan bergegas menuju ketempat dimana Nadhira berada saat ini.
"Semoga kau bisa menolong gadis itu Raka". Ucap Nimas dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...