Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Bukan ide yang bagus


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


Disuatu tempat terdapat beberapa orang yang tengah berkumpul dan sedang membahas sesuatu yang begitu penting, ditengah tengah mereka berdirilah seorang lelaki yang berusia sekitar 50 tahunan yang menatap kearah anak buahnya dengan serius, disamping lelaki tersebut terdapat seorang pemuda yang masih berusia belasan tahun, pemuda itu tidak lain adalah anaknya sendiri.


Lelaki itu memiliki postur tubuh yang kekar dan penampilannya begitu rapi seperti seorang pemilik sebuah perusahaan, sementara anak yang berada disampingnya memiliki tinggi yang sama dengan ayahnya tetapi badannya terlihat kurus dan sedikit berotot.


"Bos, beberapa tahun terakhir permata itu berhasil dikeluarkan oleh seorang gadis yang masih berusia sekitar belasan tahun".


"Tetapi kami kehilangan informasi mengenai gadis itu, wajah gadis itu juga tidak kami ketahui karena disaat dia masuk kedesa Mawar Merah, tidak ada yang mengetahuinya bos".


"Menurut informasi yang kami dapat dari beberapa dukun yang ahli dalam hal gaib, gadis itu dilindungi oleh sebuah kekuatan yang besar dibelakangnya, mungkin saja itu adalah kekuatan dari kuswanto".


"Dengan munculnya permata itu, maka keris xingsi itu juga akan muncul bos, tidak ada yang mengetahui mengenai keris itu karena keris itu telah lama menghilang dari muka bumi".


Satu persatu anak buahnya mengutarakan informasi yang mereka dapat dari berbagai sumber mengenai permata iblis yang sudah berhasil dikeluarkan dari desa terbengkalai tersebut.


Beberapa bulan terakhir mereka terus mencari tau mengenai tugas yang telah diberikan kepada mereka, ketika seluruh informasi telah terkumpul mereka segera melaporkan hal tersebut kepada bos mereka mengenai hal itu.


Mereka juga menjelaskan bahwa akan banyak orang yang pandai dalam hal gaib akan berusaha untuk merebut permata itu, menurut mitos yang beredar permata tersebut dapat menghidupkan kembali orang yang telah tiada, mendapatkan kekayaan yang tiada habisnya sampai tujuh turunan, mendapatkan ilmu kekebalan dari senjata dan yang lainnya, dan dapat dengan mudah mengendalikan makhluk gaib.


Permata yang dijaga dengan ketat oleh para makhluk penghuni desa itu kini sudah berada diluar desa itu karena dibawa oleh seorang gadis yang ditakdirkan untuk membawa permata itu.


Yang mereka takutkan adalah kekuatan dari permata iblis itu menyatuh dengan tubuh gadis yang membawanya keluar, jika itu sampai terjadi maka wanita itu akan sangat sulit untuk dikalahkan karena Nimas mampu mengalahkan mereka dengan mengendalikan raga dari gadis itu


Lelaki itu mendengarkan ucapan anak buahnya dengan teliti, jika itu benar adanya maka untuk memiliki permata itu adalah hal yang begitu sulit, bukan hanya berhadapa dengan para dukun tetapi dengan Ratu iblis, yakni Nimas.


Nimas adalah manusia biasa dimasanya, karena dendamnya kepada seseorang yang telah membunuh seluruh keluarga besarnya, sehingga ia membantai seluruh penghuni desa tersebut, dan menguasai ilmu hitam yang begitu mematikan, sehingga Nimas diberi gelar sebagai Ratu iblis, ia mengorbankan tubuhnya untuk masuk kedalam permata tersebut, ia akan bangkit jika gadis yang memiliki tanda lahir berupa simbol yang rumit telah lahir didunia.


"Ayah, bagaimana ini? Jika kita mampu mengalahkan para dukun itu, tetapi kita belum tentu bisa mengalahkan Ratu iblis". Ucap sang anak ketika mendengar cerita tersebut.


Sang anak begitu gelisah karena saingannya untuk mendapatkan permata itu begitu banyak dan juga rintangannya begitu besar, jika mereka gagal maka nyawa mereka adalah taruhannya.


Sang ayah yang melihat kegelisahan dari sang anak hanya bisa berdiam diri sambil memikirkan rencana apa yang akan mereka ambil selanjutnya agar dapat memiliki permata yang sangat sakti itu, biar bagaimanapun ia harus bisa memilikinya.


Mereka terus berpikir rencana apa yang akan mereka lakukan, bagaimana caranya untuk mengalahkan para dukun itu dan juga bagaimana cara mereka untuk mengalahkan Nimas dan membuatnya tunduk kepada mereka.


"Kita lihat saja apa rencana para dukun itu untuk mengalahkan Ratu iblis, setelah Ratu iblis dikalahkan mereka akan berebut satu sama lain untuk mendapatkan permata itu, ketika hal itu terjadi maka kita yang akan merebutnya". Ucap sang ayah sambil tersenyum begitu puas karena rencananya.


"Rencana yang bagus yah, kita harus mendapatkan hak kita kembali yah".


Mereka melanjutkan pembicaraan mereka mengenai rencana yang mereka ambil selanjutnya, beberapa anak buahnya melaporkan bahwa mereka telah menemukan seseorang yang mereka cari selama ini, tetapi sejak hal itu orang tersebut menghilang begitu cepatnya seakan akan telah ditelan oleh bumi, mereka terus mencarinya tetapi mereka tak kunjung menemukan.


"Arghhh..... Aryabima!!! Kau beraninya bermain main denganku, seberapapun hebatnya dirimu bersembunyi aku akan terus mencarimu!!! Sebentar lagi kau akan segera bertemu dengan ayahmu dan juga kakak sialanmu itu". Teriak lelaki tersebut dengan geramnya.


"Sejak saat itu, kami tidak menemukan jejaknya lagi bos, tetapi kami yakin keluarganya masih berada dikota itu".


"Cari mereka sampai dapat!! Hanya mereka yang bisa mengendalikan permata itu". Ucap lelaki itu memberi perintah kepada anak buahnya. "Arghhh.... Seharusnya diriku yang bisa mengendalikannya, kenapa tua bangka itu begitu tidak adil kepadaku, kau benar ayah!! Mereka seharusnya mati".

__ADS_1


Lelaki itu begitu marah ketika mengetahui bahwa orang yang tengah ia cari selama ini telah kembali hilang karena keteledoran dari anak buahnya sendiri, karena dendam yang terlalu dalam membuat lelaki itu buta akan kebenaran.


"Tenang ayah, aku akan berusaha untuk merebut kembali hak yang seharusnya kita miliki".


"Harus!!! Permata itu harus menjadi milik kita!!".


Lelaki itu tersenyum begitu mengerikan seakan akan mengandung sebuah kejahatan yang besar dibalik rencananya, sementara sang anak tersenyum begitu lebarnya mereka terlalu bersemangat untuk mendapatkan permata iblis itu.


*****


Nimas sedang berjalan jalan disekitar desa Mawar Merah sambil memikirkan bagaimana caranya untuk bisa melawan energi itu dan kembali bisa merasuki tubuh Nadhira seperti sebelumnya.


Jika ia tidak bisa mengendalikannya lagi maka dendamnya yang selama ini ia simpan tidak akan pernah bisa tercapai dengan begitu mudahnya, ia harus memikirkan bagaimana caranya agar dendamnya dapat terbalaskan.


"Bagaimana lagi caranya agar aku bisa masuk kedalam tubuh itu".


Nimas terus berpikir keras mengenai hal itu, ia tidak ingin kebangkitannya kali ini adalah hal yang sia sia karena tidak dapat membalaskan dendamnya, tanpa raga Nadhira ia tidak bisa melakukan apa apa karena permata miliknya berada didalam raga Nadhira.


Nimas pernah mendengar sebuah ramalan yang akan terjadi kepada permata tersebut, karena Nimas begitu mempercayai ramalan itu sehingga ia dengan bodohnya menyuruh seorang gadis menelan permata itu, Nimas berpikir bahwa gadis itu tidak akan pernah bisa menghancurkan permata tersebut karena permata itu berada didalam tubuhnya.


Tak beberapa lama muncullah sebuah cahaya putih terang dihadapannya, perlahan lahan cahaya tersebut mulai membesar dan membentuk seperti bayangan seseorang yang selama ini telah menghilang dari muka bumi ini.


Nimas memperhatikan cahaya putih tersebut dengan seksama sampai akhirnya cahaya tersebut berubah menjadi sosok seorang pemuda yang begitu tampannya dan begitu gagah dengan pakaiannya.


"Pangeran Kian".


Pemuda yang dipanggil dengan sebutan Pangeran Kian kini tengah tersenyum kearah Nimas yang berada dibeberapa meter darinya, sosok pemuda itu perlahan lahan mendekat kearah Nimas dengan senyuman yang terus terpancar dari wajahnya.


Nimas begitu sangat mengenali sosok yang tengah muncul dihadapannya saat ini, ia begitu merindukan sosok tersebut selama ini, sosok pemuda itu tidak lain adalah Raden Kian Jayaningrat yang menyamarkan panggilannya menjadi Kuswanto.


Karena sepenuhnya kekuatan Kuswanto ia korbankan untuk melindungi keris pusaka xingsi, kekuatan itulah yang bisa membuat Kuswanto dapat menjelma menjadi sosok seperti yang ada dihadapan Nimas saat ini, meskipun raga Kuswanto telah lama lenyap dari muka bumi ini.


Pemuda itu berhenti dihadapan Nimas dengan berjarak sekitar 1 meteran, Nimas begitu terpaku dengan ketampanan dari pemuda tersebut, terakhir kali Nimas bertemu dengan Pangeran Kian, pemuda itu terlihat sedikit tua, berbeda dari pemuda yang saat ini sedang berada dihadapannya.


"Nimas, lupakan dendammu". Ucap Pangeran Kian.


"Kenapa? Bukankah Pangeran Kian yang telah mendukungku untuk membalaskan dendam?".


Nimas begitu terkejut ketika mendengar perintah dari sosok yang ada dihadapannya saat ini, melupakan dendam? Itu adalah hal yang tersulit bagi Nimas, karena selama ini ia selalu menunggu saat ini tiba sehingga ia bisa membalaskan dendamnya.


Nimas begitu penasaran mengenai apa yang Pangeran Kian sampaikan kepadanya saat ini, baginya itu adalah hal mustahil yang dapat ia lakukan, karena ia bangkit kembali hanya untuk membalas dendamnya karena keluarga besarnya telah dibantai habis habisan oleh orang orang yang rakus dengan kekuasaan.


"Lalu kenapa Pangeran Kian juga yang mengirim seseorang untuk memberi energi gaib kepada gadis itu agar aku tidak bisa membalas dendamku?".


Nimas terus mengeluh dihadapan Pangeran Kian mengenai perintah yang ia berikan kepada Nimas dengan begitu tiba tiba, begitu banyak pertanyaan dikepala Nimas mengenai keputusan yang diambil oleh Pangeran Kian tersebut.


"Membawa keluar permata itu bukanlah ide yang bagus, sebaiknya kau lupakan saja dendammu, dan berusahalah untuk melindungi gadis dan permata itu dengan baik baik, akan banyak orang jahat yang akan mengincar nyawa gadis itu untuk mengambil permata yang ada ditubuhnya".

__ADS_1


"Apa maksud Pangeran? Lalu bagaimana caranya aku bisa melindungi dirinya?".


"Lupakan dendammu, ikhlaskan kematian keluargamu, maka kau akan bisa merasuki tubuhnya untuk menjaganya".


"Tapi pangeran...."


Pangeran Kian tersenyum lemut kepada Nimas, membuat Nimas tidak bisa melanjutkan kata katanya karena sebuah senyuman yang diberikan oleh Pangeran Kian kepadanya, senyuman itu selalu berhasil meluluhkan hati Nimas, dimasa ini dan dimasa yang lalu.


"Mereka tidak ada hubungannya dengan dendammu Nimas, orang yang telah membunuh keluargamu sudah tiada bertahun tahun yang lalu, mereka hanya keturunannya saja, dan sama sekali bukanlah tempat untuk melampiaskan dendammu".


"Lantas mengapa adanya ramalan itu Pangeran? Ramalan itu mengatakan bahwa akan ada seseorang yang bisa menghancurkan permata".


"Permata itu haruslah dihancurkan agar tidak terjadi perebutan antara sesama, tetapi takdir berkata lain, anak itu sama sekali tidak melupakan ambisinya".


Sosok pemuda yang ada dihadapannya saat ini adalah kelemahan terbesar dari Nimas, biar bagaimanapun Nimas tidak akan pernah bisa melawan sosok yang ada didepannya karena dirinyalah yang memberikan kekuatan spiritual kepada Nimas.


Nimas segera tunduk dihadapan pemuda tersebut, pemuda itu tersenyum melihat Nimas dan menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Nimas dengan lembutnya, Pangeran Kian begitu sangat menyayangi Nimas seperti sayangnya kepada anaknya sendiri.


"Pangeran, aku akan melakukan hal yang terbaik yang aku bisa, berkali kali Pangeran selalu dihina, dicaci maki, bahkan dibunuh oleh mereka, tetapi Pangeran selalu bersikap baik pada mereka, aku tidak tau hatimu itu terbuat dari apa, yang aku tau aku begitu beruntung karena menjadi bawahanmu".


"Akulah yang membesarkanmu, kau bukanlah bawahanku melainkan kau adalah anakku, Nimas, kekuatanku akan selalu bersamamu, lindungilah gadis itu, dan juga keturunanku, aku begitu sangat mempercayakannya kepadamu".


"Saya akan menjaga kepercayaan yang telah Pangeran berikan kepada saya dengan sebaik baiknya".


"Kekuatanku kini melemah, kesadaran sihirku akan segera hilang, seiring berjalannya waktu aku tidak akan pernah bisa menampakkan diriku lagi dihadapanmu".


"Pangeran, lantas bagaimana caraku untuk mengenali keturunan Pangeran?".


"Kau akan segera tau, dengan sendirinya".


Pangeran Kian menggerakkan tangannya dan mengalirkan sebuah energi kewajah Nimas, wajah yang sebelumnya hancur setengahnya sekarang perlahan lahan mulai kembali seperti semula, wajah yang tadinya terdapat sebuah luka kini menjadi bersih seketika.


Perlahan lahan sosok pemuda tersebut menghilang dari hadapan Nimas, sosok itu menjadi sebuah cahaya yang tadinya begitu besar bersinar sekarang mulai meredup dan mengecil sampai menghilang dari hadapan Nimas.


"Pangeran!! Apa yang terjadi? Mengapa cahaya itu semakin meredup?".


"Kau tidak perlu khawatir Nimas, waktuku sudah habis".


Tiba tiba terdengar suara entah darimana asalnya, suara itu adalah suara dari Raden Kian Jayaningrat yang perlahan lahan mulai terdengar begitu lirih dan hilang ditelan masa, Nimas berdiri dari duduk berlututnya dan mencari darimana asal suara tersebut tetapi ia sama sekali tidak menemukan sosok tersebut.


Nimas menghilang dan muncul kembali didepan kesebuah tempat dimana ia pertama kali Nimas berjumpa dengan pemuda itu, kekuatan spiritual yang berada ditempat itu perlahan mulai menghilang karena kepergian dari Pangeran Kian, Nimas begitu terkejut ketika melihat hal itu dan airmatanya mulai menetes.


Nimas memejamkan kedua matanya dan segera menghilang dari tempat itu, ia muncul kembali disebuah kamar seorang gadis, gadis itu tidak lain adalah Nadhira.


#Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, coment, and vote


fb;Riskejully

__ADS_1


ig;riskejulia63. follow


__ADS_2