Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kisah Pangeran Kian 27


__ADS_3

Karena banyaknya luka sayatan yang ada ditubuhnya tersebut membuat Danuarta terjatuh diatas rerumputan yang begitu lebatnya, darah mengalir membanjiri tanah tempat dimana Danuarta tergeletak sekarang.


"Ma u kah, kau me nga takan si a pa di rimu se be nar nya pa daku". Ucap Danuarta dengan terbata bata.


"Karena kau akan mati, aku akan memberitahumu tentang siapa diriku sebenarnya kepadamu, aku adalah Panji Abriyanta, putra dari Pangeran Kian Jayaningrat yang telah mengganti namanya menjadi Kuswanto dan berasal dari desa Mawar Merah". Ucap Panji berdiri disamping Danuarta yang tengah tidur d atas rerumputan yang ada dihutan itu.


Jeduarr... Ucapan Panji bagaikan sebuah petir yang sangat kerasnya didalam hati Danuarta, Danuarta sama sekali tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Panji akan tetapi itu adalah sebuah kebenaran yang sesungguhnya.


Dihadapannya kini tengah berdiri sosok seorang anak dari Pangeran Kian yang telah lama dikabarkan hilang dan tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang keberadaannya, ia tidak menyangka bahwa Pangeran Kian itu sendiri telah tiada ditangannya.


"Apa!!". Ucap Danuarta dengan nafas yang memburu.


Danuarta begitu terkejut ketika mengetahui bahwa Panji adalah anak dari Pangeran Kian, Danuarta bahkan jauh lebih terkejut ketika mengetahui bahwa Pangeran Kian telah mengganti namanya menjadi Kuswanto sedangkan Kuswanto adalah orang yang telah ia bunuh sebelumnya karena menuduh orang itulah yang telah membunuh Ayahnya.


"Kau tau, dimana Pangeran Kian saat ini?". Tanya Panji dengan bibir yang bergemetaran. "Kau telah membunuhnya bersama dengan istrinya".


"Ti dak".


"Ayahku tidak pernah ingin melawan dirimu selama ini Paman, tapi kenapa kau justru merenggut semuanya dari Ayahku, Ayahku memang tidak melawan bukan karena kau masih berusia remaja saat itu, tapi dia tidak ingin menciptakan permusuhan antara kau dan Ayahku,


Ia berhutang budi kepada Ayahmu karena telah menyelamatkan dirinya itulah alasannya kenapa dia tidak ingin menjadi musuhmu dan tidak ingin menerima tantanganmu itu, Ayahku sama sekali tidak berniat untuk membunuh Ayahmu, justru Ayahmulah yang rela berkorban demi agar Ayahku tetapi hidup saat itu,


Disaat kepergian dari Ayahmu, Ayahku merasa begitu sangat terpukul waktu itu, seandainya ia bisa memilih dia akan menghentikan apa yang dilakukan oleh Ayahmu saat itu, dan lebih memutuskan untuk rela mati asalkan Ayahmu baik baik saja, tapi sekarang apa yang telah kau lakukan kepada Ayahku? Ayahku sudah tiada Paman, itu semua gara gara dirimu".


Danuarta merasa bersalah kepada Pangeran Kian karena dirinya telah membunuhnya bersama dengan istrinya dengan sangat kejinya, dirinya belum mengerti alasan kenapa Kuswanto sama sekali tidak pernah melawannya selama ini, karena Kuswanto merasa berhutang budi kepada Ayahnya yang telah menyelamatkan nyawanya disaat itu.


Danuarta sama sekali tidak mengerti alasan tentang kematian dari Ayahnya saat itu, yang ia tau dari Ibunya bahwa Ayahnya telah dibunuh oleh seseorang yang bernama Kuswanto, setelah mengetahui hal itu Danuarta terus mencari sosok pembunuh Ayahnya tersebut, dan pada akhirnya dia mengetahui keberadaannya dan bertekat untuk membunuhnya.


Sejak kecil, Danuarta tidak pernah bertemu dengan sosok Pangeran Kian, karena Pangeran Kian berada didalam kerajaannya sedangkan Danuarta tidak pernah melihat wajah Pangeran Kian selama ini sehingga ia tidak mengetahui bahwa Kuswanto adalah Pangeran Kian.


Ayahnya tidak pernah mempertemukan dirinya dengan Pangeran Kian, Ayahnya hanya akan pulang dari tugasnya setiap malam hari dan pergi bertugas pagi hari sebelum matahari terbit sehingga Danuarta tidak pernah melihat sosok Ayahnya ketika Ayahnya pulang kerumah.


Ketika kematian dari Ayahnya waktu itu, Danuarta tidak mengetahuinya dengan pasti, dia hanya mendengar dari cerita Ibunya bahwa Ayahnya telah tiada ditangan seseorang yang bernama Kuswanto.


Hal itu membuatnya menaruh dendam dengan seseorang yang bernama Kuswanto tersebut, tanpa mengetahui asal usulnya Danuarta bersiasat untuk menambah kekuatan hitamnya agar dapat mengalahkan sosok seperti Kuswanto saat itu.


"Ma afkan a ku". Ucap Danuarta lirih kepada Panji dengan susah payahnya.


"Maaf? Apakah maafmu itu mampu untuk menghidupkan mereka kembali? Aku akan memaafkanmu jika maafmu itu mampu menghidupkan kedua orang tuaku dan mengembalikannya kepada diriku sekarang juga". Ucap Panji dengan nada sedihnya kepada Danuarta.


Danuarta meneteskan air mata ketika Panji mengatakan hal tersebut kepadanya, itu adalah hal yang mustahil untuk dilakukan walaupun dengan bantuan para hantu sekaligus orang yang sudah tiada tidak akan nampu untuk dihidupkan kembali.


Danuarta menyesali perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa dari Pangeran Kian, ia tidak menyangka bahwa Pangeran Kian sudah tiada ditangannya sendiri.


"Mas!!!".


Tiba tiba terdengar suara seorang wanita dari kejauhan, Panji menoleh kearah sumber suara dan menemukan seorang wanita dengan wajah yang imut, berambut panjang dan bergelombang tengah berlari kearah mereka berdua, wanita itu tengah menggendong seorang bayi yang berusia sekitar 4 bulanan sedang berlari kearah keduanya dengan berlinangan air mata.


Dengan berderai air, wanita itu berlari menuju kearah Danuarta yang sedang terbaring diatas tanah yang tidak berdaya itu, air mata membanjiri wajah Danuarta ketika mengetahui bahwa istrinya datang menemuinya untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan kepada suamiku?". Tanya wanita itu dengan tangisnya.


Wanita itu segera bersimpu dihadapan suaminya yang tidak berdaya itu, tangisannya seakan akan mengandung sebuah penyesalan yang mendalam, ia memegangi tangan suaminya dengan eratnya.


Danuarta berusaha untuk dapat menghapus air mata yang menetes di pipi istrinya itu, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan pergi secepat ini dan meninggalkan istri dan anaknya yang baru lahir itu dengan cara seperti ini.


Takdir sangat mempermainkan mereka, setelah mengetahui bahwa keris tersebut berada didalam tubuh Panji, Danuarta sama sekali tidak berusaha untuk melawan Panji dan bahkan kekuatan dari keris tersebut mampu menyayat kulitnya yang keras itu karena bantuan dari alam gaib.


Istrinya tidak menyangka bahwa takdir suaminya akan jadi seperti ini pada akhirnya, ia benar benar tidak menyangka bahwa suaminya akan meninggalkannya dan juga anaknya yang baru lahir tersebut dengan cara yang mengenaskan.


Wanita itu mendekatkan wajahnya kepada wajah suaminya dengan tangis yang menderai, ini adalah hal yang tersulit bagi seorang wanita ketika melihat orang yang paling ia cintai tiba tiba meninggalkannya dengan cara yang sangat tragis seperti itu, Panji yang melihatnya hanya bisa berdiam diri, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Danuarta masih memiliki seorang anak yang berusia balita.


"Mas, aku mohon jangan tinggalkan aku seperti ini hiks.. hiks.. hiks..". Tangis wanita itu begitu memilukan bagi Panji.


"Ma afkan a ku". Ucap Danuarta dengan terbata bata.


Seketika itu juga, Danuarta mulai tidak sadarkan diri dan jantungnya sudah berhenti untuk berdetak, karena luka sayatan yang ada ditubuhnya itu membuat Danuarta kehilangan banyak darah dan mampu merenggut nyawanya seketika itu juga.


Wanita itu menidurkan bayinya disamping suaminya itu dengan perlahan lahan, setelah itu ia mulai berdiri dan menghadap kearah dimana Panji yang sedang menggenggam erat sebuah pedang yang sudah bersimbah darah berada.


"Apa yang telah kau lakukan kepada suamiku?". Tanya wanita itu dengan marahnya kepada Panji.


"Maafkan aku yang telah membunuh suamimu, karena dia pantas untuk mendapatkan balasan dari setiap perbuatannya". Ucap Panji kepada wanita itu.


Panji melonggarkan genggaman tangannya dari pedang tersebut, hingga pedang itu jatuh disampingnya begitu saja, ia tidak menyangka bahwa Danuarta masih memiliki seorang anak yang berusia balita dan terlihat seperti baru saja melahirkan.


Wanita itu begitu marahnya kepada Panji atas kematian dari suaminya, Panji tidak mampu untuk melawannya biar bagaimanapun wanita itu telah kehilangan suaminya untuk selama lamanya.


Memang dirinya bukanlah Tuhan yang berhak untuk menentukan balasan yang pantas untuk seseorang yang begitu keji seperti itu, kesalahan yang Danuarta lakukan tidak mampu untuk dimaafkan begitu saja oleh Panji, Danuarta tidak hanya bersalah kepada keluarganya saja melainkan, kepada orang orang yang telah menjadi tumbal olehnya karena dirinya yang menginginkan kekuatan dari bangsa gaib.


Danuarta memang tengah mengumpulkan kekuatan dari bangsa gaib untuk melawan sosok Panji yang diduga masih hidup dan dirinya tidak mengetahui seberapa kuatnya Panji sehingga dia melakukan apapun asalkan dapat mendapatkan kekuatan yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.


Mendengar teriakan teriakan yang dilontarkan oleh Istri dari Danuarta membuat Indah yang tadinya tidak sadarkan diri perlahan lahan mulai mengernyitkan dahinya, meskipun dengan rasa pusing yang menyerang akan tetapi berusaha untuk membuka matanya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang terjadi denganku". Guman Indah pelan.


Indah berusaha untuk bangkit dari tidurnya, sekilas ia melihat tubuh Danuarta yang sudah tidak bernyawa dikejauhan, dan pandangannya jatuh kepada tubuh suaminya yang terlihat seperti dimarahi oleh seorang wanita dan beberapa kali dipukul oleh wanita itu.


Wanita yang ada dihadapan Panji terlihat begitu murkanya kepada Panji karena kematian dari suaminya itu, Panji hanya mampu berdiam diri karena disini dirinya juga salah karena telah membunuh Danuarta dengan begitu kejinya.


Panji menerima pukulan demi pukulan yang dilontarkan oleh perempuan itu kepada dirinya tanpa menghindarinya sama sekali, baginya pukulan pukulan yang diberikan oleh wanita itu tidak begitu menyakitkan berbeda dengan sakit yang ia berikan kepada perempuan itu dengan cara memisahkan dirinya dengan orang yang paling ia sayangi.


Tiba tiba Panji merasakan sesuatu yang mengenggam erat lengan kirinya, Panji menoleh kearahnya dan menemukan sosok Indah yang tengah berdiri disampingnya, wajah Indah terlihat begitu pucatnya saat ini karena luka yang ada di kepalanya.


"Jangan pukuli suamiku lagi". Ucap Indah dengan berusaha untuk mendorong wanita itu.


Wanita itu tidak menyadari kemunculan Indah yang begitu tiba tiba ditempat itu, Indah memeluk lengan suaminya dengan begitu eratnya seakan akan tidak mau untuk melepaskan pegangan tangannya.


Panji mengenggam tangan Indah dengan eratnya, Indah memandangi wajah suaminya yang terlihat begitu sedihnya, Panji menggelengkan kepalanya kepada Indah dengan bahasa isyarat untuk menyuruh Indah berhenti melakukan apa yang ingin ia lakukan saat ini.

__ADS_1


"Kau telah membunuh suamiku!". Teriak wanita itu kepada Panji dengan marahnya.


"Kau!!". Ucap Indah sambil berusaha untuk maju.


Panji menggerakkan tangannya dengan cepat untuk menarik Indah kembali kebelakangnya, ia tidak ingin kedua wanita itu berkelahi, apalagi keduanya sama sama wanita yang saling melindungi para suaminya masing masing.


"Oek... Oek...".


Tiba tiba anak dari Danuarta menangis begitu kerasnya saat itu, hingga membuat Istri Danuarta dengan segera mungkin menoleh kearah dimana dia menaruh bayinya tersebut sebelumnya.


Dengan sesegera mungkin wanita itu mendekat kearah dimana anaknya berada, Indah merasa lega ketika wanita itu mulai menjauh dari Panji, akan tetapi kelegaannya itu tidak berlangsung begitu lama karena melihat apa yang tengah dilakukan oleh perempuan itu kepada anaknya.


Wanita itu seakan akan tengah mengalami stres karena kematian dari suaminya, hingga membuatnya memukuli bayi mungil itu beberapa kali untuk membuat anak itu diam dan dirinya juga berkata kata kasar kepada bayi itu untuk membuat bayi tersebut segera menghentikan tangisannya.


Indah tidak membiarkan hal itu begitu saja, ia segera merebut bayi tersebut dari gendongan wanita itu dengan susah payah, dan bantuan dari Panji untuk memisahkan bayi yang tidak berdosa itu dari pukulan Ibu kandungnya beberapa kali itu.


"Apa yang kau lakukan pada bayi yang malang ini!". Teriak Indah kepada wanita itu.


"Kembalikan anakku!!". Teriak wanita itu.


"Tidak akan! Bayi ini tidak bersalah, kenapa kau pukuli dengan begitu kerasnya seperti itu?". Ucap Indah dengan memeluk bayi mungil itu.


"Aku tidak peduli! Biarkan dia mati sekalipun aku tidak peduli, kembalikan kepadaku sekarang!".


"Sadarlah!! Meskipun kau yang telah melahirkannya bukan berarti kau bisa memukulinya seperti ini".


"Dia adalah anakku, terserah aku mau melakukan apa kepada dia, cepat kembalikan anakku!!". Ucap wanita itu dan mencoba untuk melontarkan sebuah pukulan kepada Indah.


Melihat kepalan tangan tersebut yang digerakkan oleh wanita itu kepada Indah membuat Panji segera menggerakkan tangannya untuk menangkis pukulan tersebut agar pukulan itu tidak jatuh kepada Indah.


"Jika kau marah, lampiaskan itu padaku, jangan kepada anak yang tidak berdosa ini, aku yang telah membunuh suamimu, bukan anak kecil ini". Ucap Panji setelah menangkis pukulan wanita itu.


"Kembalikan dia padaku!!". Teriak wanita itu kepada Panji.


"Tidak akan". Ucap Indah dengan memeluk bayi itu dengan eratnya.


"Arghhh......". Teriak wanita itu.


Wanita itu seakan akan sedang kerasukan sesuatu sehingga ia akan melakukan apapun yang dapat membahayakan siapapun itu dan bahkan membahayakan dirinya sendiri.


Wanita itu terus berusaha untuk dapat mengambil anaknya kembali, sementara Panji terus melindungi istrinya yang sedang membawa anak tersebut didalam pelukannya, keduanya tidak akan membiarkan anak tersebut menjadi bahan pelampiasan dari wanita tersebut atas kematian dari suaminya, Danuarta.


Hingga akhirnya wanita itu kehabisan tenaganya, ia meraih sebuah pedang yang tadinya dijatuhkan oleh Panji dan menggerakkan tangannya untuk menusukkan pedang tersebut kejantungnya.


"Akh..".


"Apa yang kau lakukan!!". Ucap Indah dengan paniknya ketika melihat wanita itu bersimbah darah.


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...

__ADS_1


__ADS_2