Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kepantai


__ADS_3

Tanpa Nadhira sadari bahwa Rifki sudah berada digazebo yang ada di taman rumah Nadhira sebelum Bi Ira menceritakan kisah tentang Mama Nadhira kepada Nadhira, Rifki memperhatikan setiap pergerakan yang dilakukan oleh Nadhira ketika menyirami bunga bunga itu.


Rifki juga telah mendengar apa yang telah dikatakan oleh Bi Ira kepada Nadhira, bahwa apapun yang telah ditakdirkan untuknya tidak akan menjadi milik orang lain selain dirinya.


Rifki merasa begitu sedih ketika mendengarkan pembicaraan keduanya tentang jodoh, akan tetapi kesedihan itu tidak berlangsung lama karena perkataan keduanya yang membuat Rifki bersemangat lagi yakni tentang jika ditakdirkan bersama meskipun diujung dunia sekalipun mereka akan tetap bertemu.


Rifki percaya bahwa jodohnya tidak akan pernah bisa menjadi jodoh orang lain, meskipun nantinya dirinya akan terpisah dengan Nadhira bukan berarti keduanya tidak berjodoh atau bahkan Allah telah menyiapkan kebahagiaan yang luar biasa untuknya.


"Kau memang benar Dhira, untuk saat ini kita tidak akan pernah bisa bersama karena masih ada permata iblis didalam tubuhmu yang tidak memungkinkan kita untuk bersama nantinya, Ayah akan mencarikan cara agar kita bisa bersama dikemudian hari, jika meninggalkanmu adalah satu satunya jalan yang terbaik untuk saat ini, aku ikhlas jika hanya diriku saja yang menanggung rasa sakit dari perpisahan ini tidak dengan dirimu, aku akan berusaha untuk dapat bersatu dengan dirimu Nadhira meskipun harus menentang takdir sekalipun". Batin Rifki.


Bi Ira yang tanpa sengaja melihat Rifki yang sudah berada digazebo yang ada dihalaman itu, dirinya begitu terkejut dan hendak berteriak kaget akan tetapi Rifki segera memberi kode degan menempelkan jari telunjuk didepan mulutnya kepadanya untuk tidak berteriak dan akan membuat Nadhira menyadarinya.


"Ada apa Bu?". Tanya Nadhira ketika mendengar Bi Ira hendak berteriak karena sesuatu, tanpa mengalihkan pandangannya dari bunga bunga itu.


"Ngak apa apa Nak, hanya terkejut saja ada yang menggeliat liat dirumput rumput itu". Jawab Bi Ira sambil menunjuk asal asalan akan tetapi pandangannya masih terarah kepada Rifki yang saat ini sedang duduk digazebo rumah itu.


Nadhira segera menoleh kearah dimana Bi Ira tadinya menunjuk, Nadhira ingin memeriksa ada apa disana sehingga membuat Bi Ira begitu terkejut dan hendak berteriak karena hal itu.


"Ngak ada apa apa tuh Bu, ngak ada ulat juga, aku sudah meneriksanya". Ucap Nadhira.


"Mungkin tadi Ibu yang salah lihat kali Nak". Ucap Bi Ira sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mungkin seperti itu".


Nadhira kembali menggambil selang yang tadinya ia gunakan untuk mengiram bunga, Nadhira kembali menyirami bunga bunga itu, bunga bunga yang mulai bermekaran itu membuat hati Nadhira begitu damai dan kenangan kenangan bersama dengan Mamanya mampu teringat kembali.


Sementara disatu sisi, Rifki yang melihat Nadhira menyirami bunga dengan senyum diwajahnya hanya mampu berdiam diri, dirinya merasa begitu sedih karena lusa dirinya akan pergi keluar negeri atas perintah dari Ayah dan Kakeknya.


"Bagaimana perasaan Nadhira ketika dia tau bahwa aku akan pergi besok lusa, mungkin dirinya akan kecewa karena kepergianku yang tiba tiba seperti ini, tapi apalah daya diriku yang tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini". Guman Rifki pelan.


Rifki tidak akan mampu melihat Nadhira begitu sedih karena kepergiannya, biar bagaimanapun dirinya harus melakukan itu untuk melindungi Nadhira dan dirinya sendiri yang sedang diincar banyak orang karena masalalu mereka.


Rifki tidak akan sanggup jika melihat Nadhira dalam bahaya apalagi sampai Nadhira terluka karenanya, bekas sayatan yang ada dileher Nadhira mengingatkan dirinya tentang kelalaiannya untuk menjaga Nadhira sehingga terciptalah bekas itu.


Rifki tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri untuk masalah itu, ini adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan sehingga membuat Nadhira terluka karenanya yang tidak mampu menjaga Nadhira dengan baiknya.


Seandainya saat itu, dirinya tidak terkena obat bius mungkin Nadhira tidak akan celaka seperti itu, dan seandainya ketika penculikan itu dirinya mampu menjaga Nadhira Nadhira tidak akan merasakan sakitnya tusukan dari pisau itu, hingga membuatnya tidak selamat akan tetapi takdir berkata lain dan Nadhira akhirnya selamat.


Jika dikala itu Nadhira tidak selamat, mungkin Rifki tidak akan pernah bisa hidup lebih lama dengan rasa bersalah yang begitu mendalam, dan dirinya tidak akan pernah bersikap layaknya seorang manusia lagi.


Ketika mendengar bahwa Nadhira tidak terselamatkan lagi hal itu membuat Rifki merasa begitu bersalah dan dirinya tidak akan pernah memaafkan kesalahannya itu yang telah membuat orang yang paling dekat dengannya kehilangan nyawanya hanya demi menyelamatkan dirinya.


Bertapa hancurnya perasaan Rifki saat itu, setelah mengetahui bahwa Nadhira sudah tidak mampu untuk bernafas lagi, Rifki terlihat begitu putus asa ketika mengetahuinya, kesedihan yang begitu mendalam ia rasakan kala itu dan tidak ada seorang pun yang mampu untuk menenangkan dirinya.


"Aku pernah kehilangan dirimu Dhira, dan aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya". Ucap Rifki lirih sambil melihat Nadhira yang sedang menyirami bunga ditamannya.


Rifki membayangkan bagaimana dirinya ketika melihat Nadhira sudah tidak bernyawa lagi, mungkin dirinya tidak akan pernah sanggup untuk melalui hari harinya tanpa kehadiran sosok Nadhira yang sangat berarti baginya itu.


Untuk membayangkan saja Rifki tidak akan pernah mampu bagaimana kalau hal itu benar benar terjadi kepada Nadhira, mungkin dirinya tidak akan pernah mampu menjalani hari harinya.


Hingga pada akhirnya, Rifki larut dalam lamunannya sendiri, tak beberapa lama kemudian seseorang mendekat kearahnya akan tetapi Rifki tidak menyadarinya sama sekali.


"Eh Rif, sejak kapan kamu disini".

__ADS_1


Ucapan Nadhira seketika membangunkan Rifki dari lamunannya, Rifki begitu terkejut ketika mengetahui bahwa Nadhira sudah berada dihadapannya saat ini, ia lebih terkejut lagi ketika dirinya baru terbangun dari lamunan panjangnya.


Nadhira segera duduk dihadapan Rifki saat ini, awalnya Nadhira sangat terkejut ketika melihat Rifki yang sudah duduk digazebo miliknya tanpa Nadhira sadari, setelah dirinya mendekat kearah Rifki, Rifki sama sekali tidak bereaksi sehingga membuat Nadhira menduga bahwa Rifki sedang melamun.


"Sudah dari tadi".


"Kenapa ngak bilang aku kalo kamu ada disini?".


"Gimana mau bilang, kamu sendiri lebih fokus ke bunga bunga itu".


Nadhira merasa malu karena memang dirinya lebih fokus kepada bunga bunga itu sehingga tidak memperhatikan sekitarnya, dan bahkan kedatangan Rifki sama sekali tidak ia ketahui sebelumnya.


"Apa kamu sedari tadi memperhatikan diriku?".


Pertanyaan Nadhira seketika membuat Rifki tidak mampu berkata kata lagi, karena sedari tadi dirinya memperhatikan Nadhira, akan tetapi dirinya terlalu larut dalam lamunannya sehingga dia tidak mengetahui bahwa Nadhira sudah berada didepannya saat ini.


Rifki tersenyum canggung kepada Nadhira, ia mengutuki kebodohannya karena telah berani melamun ditempat itu, hal itulah yang membuat Rifki menjadi salah tingkah dihadapan Nadhira.


"Kenapa tidak, bagaimana aku bisa menyia nyiakan pemandangan yang begitu indah seperti ini?".


Nadhira begitu malu ketika Rifki mengatakan hal seperti itu kepadanya, hingga dirinya menggerakan tangannya untuk mencubit lengan Rifki karena kesalnya kepada ucapan Rifki.


"Auhh... Sakit Dhira, dengarkan aku dulu lah sebelum mencubit itu, tanya dulu kek atau apa gitu bisa kan? Maksudku pemandangan bunga bunga yang indah itu". Keluh Rifki ketika Nadhira mencubitnya.


"Ku pikir...".


"Ya kali aku memperhatikanmu, kepedean sekali kamu ini, orang aku lagi memperhatikan bunga bunga yang mekar itu bukan kamu".


Nadhira tertawa ketika melihat Rifki meringis kesakitan akibat cubitan itu, Rifki ikut tersenyum ketika melihat Nadhira yang tersenyum, sudah lama dirinya tidak merasakan cubitan dari Nadhira yang menurutnya adalah sebuah hal yang tidak akan pernah ia lupakan walaupun dirinya akan pergi keluar negeri dalam waktu yang cukup lama.


"Kenapa kamu tiba tiba sudah berada disini saja pagi pagi seperti ini Rif?". Tanya Nadhira dengan penasarannya karena kedatangan Rifki yang tiba tiba.


"Apakah aku ngak boleh datang kemari? Untuk memastikan keadaanmu pagi ini".


"Bukan begitu sih maksudku, apakah ada hal lain yang membawamu kemari?".


Rifki terdiam beberapa saat, dirinya tidak akan mungkin mengatakan kepada Nadhira tentang kepergiannya itu, Rifki terus berpikir alasan apa yang harus ia gunakan untuk saat ini agar Nadhira tidak mencurigai hal itu.


"Ayo ikut aku Dhira". Ajak Rifki kepada Nadhira.


"Kemana?". Tanya Nadhira.


"Kesuatu tempat yang belum pernah kita datangi".


"Ngapain kesana?".


"Sudah ikut saja". Ucap Rifki sambil menarik tangan Nadhira.


"Tapi aku belum mandi Rifki".


"Nanti kita mandi disana".


"Hah?".

__ADS_1


Tanpa basa basi, Rifki segera menarik tangan Nadhira pergi dari tempat itu, Nadhira dengan terpaksa hanya bisa pasrah ketika ditarik oleh Rifki seperti itu, hingga sampailah keduanya ditempat dimana Rifki memarkirkan sepedah motornya.


Rifki segera naik kesepedahnya diikuti dengan Nadhira, sepedah itu segera melanju meninggalkan tempat itu dengan cepatnya, Rifki membawa Nadhira pergi ke suatu tempat yang belum pernah Nadhira datangi sebelumnya.


Entah kemana Rifki akan membawanya pergi pagi pagi seperti ini, Nadhira hanya bisa pasrah dengannya untuk menolak saja dirinya tidak mampu apalagi sampai membuat Rifki marah kepadanya.


Motor yang dikendarai oleh Rifki itu melanju menaiki sebuah bukit dan melewati sebuah panti asuhan yang sering didatangi oleh Nadhira, Nadhira dapat melihat tempat dimana Mamanya kecelakaan akan tetapi Rifki terus melanju dan tidak berhenti disitu.


"Kita mau kemana Rif?". Tanya Nadhira.


"Ke suatu tempat, pasti kamu akan suka nantinya Dhira". Ucap Rifki.


Rifki melajukan motor kesayangannya untuk menuruni bukit itu, dari kejauhan Nadhira dan Rifki mampu melihat adanya sebuah pantai yang cukup indah setelah melakukan perjalanan beberapa jam, Nadhira pernah mendengar nama pantai itu akan tetapi dirinya belum pernah menginjakkan kakinya di sana.


Entah kanapa Rifki tiba tiba mengajaknya pergi ketempat itu, biasanya Rifki tidak pernah mengajaknya kesana paling sering Nadhira diajak untuk pergi ke alun alun ataupun markasnya akan tetapi kali ini berbeda, Nadhira diajak untuk berlibur ke pantai setelah lulusan sekolah tahun ini.


"Kamu suka Dhira?". Tanya Rifki yang masih melajukan motornya.


"Iya Rif, sangat suka, aku belum pernah datang kemari sebelumnya, Papa tidak pernah mangajakku kesini, kenapa kau tiba tiba mengajakku ketempat ini?". Tanya Nadhira yang sedari tadi ia tahan untuk tidak bertanya kepada Rifki.


"Hanya berlibur saja, lagian aku sendiri juga tidak pernah pergi kepantai sebelumnya, apa salahnya mengajak dirimu kesana".


Nadhira merasa begitu bahagia ketika melihat pantai yang begitu indah itu, seakan akan dirinya tengah melihat surga dunia yang sesungguhnya, Rifki melajukan motornya menuju ketempat pemarkiran sepedah dan mobil untuk memarkirkan sepeda kesayangannya itu.


"Kau pernah pergi kepantai sebelumnya Rif? Kenapa tiba tiba membawaku kepantai?". Tanya Nadhira dengan penasarannya.


"Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu tentang indahnya ciptaan Allah didunia ini, bertapa sangat luar biasanya Allah yang mampu membuat alam yang begitu indah seperti ini, ini bahkan masih berada didunia tetapi pemandangan begitu indah, apalagi ketika berada disyurga-Nya pasti akan jauh lebih indah Dhira". Ucap Rifki dan langsung mengajak Nadhira untuk bergegas ketepi pantai.


Dengan senang hati Nadhira mengikuti langkah dari Rifki, keduanya berlarian ditepi pantai yang begitu luas itu, warna biru lautan menciptakan kesejukan dihati keduanya, hijaunya pepohonan ditepi pantai menambah sensasi kemegahan begitu mendalam.


Sungguh indah ciptaan-Mu Ya Allah, tiada kedamaian yang dapat menyejukkan hati ini kecuali kebesaran-Mu Ya Allah, kau ciptakan langit dan bumi yang begitu indah dan luasnya.


Sebelum sampai ditepi pantai, Rifki telebih dahulu mengajak Nadhira masuk kedalam sebuah toko pakaian untuk membeli baju ganti karena keduanya tidak membawa baju ganti sebelumnya.


Nadhira masuk kedalam sebuah toko yang menjual berbagai macam bentu pakaian yang begitu indah, Nadhira yang tidak pernah berbelanja pakaian membuat dirinya merasa kebingungan dengan pakaian apa yang akan ia beli ditempat ini.


"Tolong bantu temanku memilih pakaian yang cocok untuknya". Ucap Rifki kepada pelayan yang ada ditoko tersebut.


"Baik Tuan". Jawab mereka.


"Kamu pilih dulu pakaian yang ingin kamu gunakan nanti sebagai baju ganti, aku mau pilih disana". Ucap Rifki kepada Nadhira sambil menunjuk tempat dimana baju lelaki terpajang rapi.


"Tapi Rif, bagaimana caraku memilih?".


"Ikuti saja mereka, biar mereka yang memilihkan". Ucap Rifki sambil berjalan meninggalkan Nadhira.


Mereka segera melayani Nadhira untuk dapat memilih pakaian yang tepat untuknya yang akan ia gunakan dipantai tersebut, Nadhira kebingungan karena banyaknya pakaian yang telah dipilihkan olehnya kepala pelayan yang ada ditoko tersebut.


Berbagai model telah mereka keluarkan agar Nadhira dapat memilih baju baju itu, sementara Rifki sedang sibuk memilih pakaian ditempat dimana pakaian lelaki terpajang begitu rapi, Rifki yakin bahwa Nadhira tidak akan mampu untuk memilih pakaian yang sesuai dengannya karena Nadhira belum pernah berbelanja pakaian sebelumnya.


"Mbaknya mau yang model seperti apa? Ditoko ini model pakaiannya begitu lengkap".


"Pakaian yang sederhana saja Mbak, saya malah bingung kalau disuruh milih kayak begini an". Ucap Nadhira sambil memandangi pakaian pakaian itu.

__ADS_1


"Pilihkan pakaian yang paling bagus disini Mbak". Ucap Rifki dari kejauhan memberi perintah kepada pelayan yang sedang menawarkan barangnya itu.


......Jangan lupa like dan dukungannya 🥰......


__ADS_2