Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Memperebutkan permata 4


__ADS_3

Melihat Raka yang sudah pergi dari tempat itu, Nimas segera memanggil para roh roh yang ada disekitarnya untuk membantunya melawan mereka, Nimas adalah Ratu iblis sehingga dirinya bisa dengan mudahnya mengendalikan mahluk mahluk yang ada disekitarnya kecuali mahluk yang telah dikendalikan oleh orang orang sakti.


Seketika itu juga sekumpulan mahluk yang tak kasat mata berkumpul ditempat itu dan membantu Nimas untuk melawan mahluk suruhan dari para dukun itu, Nimas tersenyum kearah mereka.


"Baguslah, kalian datang tepat pada waktunya, aku memberi tugas kepada kalian, cepat serang para mahluk itu". Ucap Nimas yang merasa senang.


Para mahluk itu segera mengambil alih musuh Nimas saat ini, seketika itu juga muncullah mahluk yang lebih kuat untuk menjadi lawan Nimas saat ini.


"Jika terus begini maka kita akan kalah dengan Ratu iblis itu, aku harus melakukan sesutu sebelum Ratu iblis mampu mengalahkannya". Ucap seseorang yang memerintah mahluk mahluk itu ikut bersama dengan dirinya untuk menculik Nadhira.


Orang itu membacakan sebuah mantra dengan pelannya dan tidak ada yang mendengarnya, dan seketika itu juga begitu banyak mahluk gaib yang muncul tiba tiba disebelahnya dengan kekuatan yang lebih kuat daripada sebelumnya.


Para mahluk gaib itu segera bergegas kearah Nimas untuk menyerang Nimas secara bersama sama, akan tetapi sebelum mahluk mahluk itu sampai ditempat Nimas seketika sebuah cahaya putih melesat dengan cepatnya dan membuat para mahluk itu lenyap begitu saja.


"Apa! Bagaimana bisa ini terjadi! Kenapa tiba tiba mahluk suruhanku lenyap dengan mudahnya!". Ucap orang itu ketika melihat mahluk suruhannya lenyap tanpa dirinya tau asal dari cahaya itu.


Bukan hanya itu saja, cahaya tersebut juga melesat mengelilingi Nimas dan memusnahkan musuh musuh Nimas yang sedang mengitarinya dengan begitu mudahnya, hingga akhirnya mahluk mahluk itu lenyap begitu saja, karena tidak ingin mengambil resiko akhirnya orang itu segera bergegas pergi dari tempat itu dengan diam diam, akan tetapi cahaya tersebut segera mendatangi orang itu dan menyerap setiap ilmu hitam yang dimiliki orang itu.


Cahaya itu membuat orang itu kehilangan seluruh kemampuannya dalam dunia gaib, sehingga membuat orang itu menjadi orang biasa pada umumnya dan seketika itu juga orang itu tidak mampu melihat dunia gaib yang ada disekitarnya.


"Arghhhh.... Apa yang terjadi denganku". Teriak orang itu karena merasakan bahwa kekuatannya hilang begitu saja dengan mudahnya.


Orang itu berteriak kesakitan karena hilangnya kekuatan yang ada didalam tubuhnya, hal itu membuat para anak buahnya segera membawanya pergi dari tempat itu, karena berbahaya jika melawan Ratu iblis untuk saat ini.


Cahaya putih tersebut segera bergerak kearah Nimas dengan pelannya, ketika jarak Nimas dan cahaya putih itu semakin dekat cahaya tersebut berubah menjadi sebuah bayangan seorang pemuda, Nimas sangat mengenali wajah pemuda itu.


"Kenapa kau ada disini? Aku tidak memintamu untuk membantuku dan kenapa tiba tiba menolongku seperti itu? Bukannya kau sangat membenciku sebelumnya, kau telah menghilangkan separuh kekuatan yang ku miliki". Tanya Nimas kepada pemuda itu dengan geramnya.


"Aku tidak pernah membencimu Nimas, semua yang ku lakukan atas perintah dari Pangeran Kian, aku tidak akan membiarkan dirimu dalam bahaya atau bahkan sampai kehilangan jiwamu karena pertarungan ini, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantumu dalam bahaya". Ucap pemuda yang ada didepan Nimas.


"Dilham, aku sama sekali tidak meminta bantuanmu atau rasa kasihanmu itu, aku bisa menghadapi mereka sendiri tanpa perlu bantuanmu, jika aku kehilangan jiwaku saat ini juga itu bukanlah urusanmu karena memang itu adalah nasibku".


"Nimas, masih semarah itukah kau denganku? Aku tau, aku adalah anak dari musuhmu yang telah membunuh seluruh keluargamu, tapi aku sama sekali tidak ada niatan untuk mencelakai dirimu Nimas, aku datang untuk membantumu, tidak lebih dari itu". Ucap pemuda itu yang tidak lain adalah Dilham.


"Dan aku sama sekali tidak butuh bantuanmu itu Dilham, sebaiknya kau pergi dari sini".


"Jika kau tidak membutuhkan bantuan dariku, maka biarkan perintah dari Pangeran Kian yang akan membantumu melalui diriku ini, apa kau akan menolak perintah dari Ayah angkatmu itu?".


Dilham adalah teman mengembara Nimas selama ia masih hidup, hubungan keduanya semakin dekat ketika mengembara akan tetapi kedekatan itu segera berbuah ketika Dilham berhasil menemukan keberadaan dari orang tuanya yang tidak lain adalah musuh dari Nimas.


Sejak saat itu hubungan Nimas dan Dilham semakin menjauh dan Nimas begitu sangat membenci Dilham, karena Dilham selalu melindungi Nimas dengan sepenuh hatinya hal itu membuat Pangeran Kian begitu menyayanginya layaknya seorang anaknya sendiri sehingga Dilham begitu setianya kepada Pangeran Kian.


Disaat kematian Nimas, Dilham mengorbankan hidupnya juga agar jiwa Nimas tidak hancur sehingga Nimas masih bisa hidup walaupun dirinya menjadi seorang roh gaib, begitupun dirinya yang ditolong oleh roh Pangeran Kian dan hidup dalam dunia gaib.


Nimas merenung sejenak mendengar ucapan dari Dilham, bagaimana bisa dirinya menolak permintaan dari Pangeran Kian yang bahkan orang yang begitu sangat menyayanginya selama dirinya hidup layaknya seorang anaknya sendiri, Pangeran Kian sama sekali tidak pernah membedakan kasih sayang yang diberikan kepada Nimas dan juga anak kandungnya sendiri yakni Panji.


"Hanya satu hal yang tidak aku mengerti sama sekali, seberapa banyak cinta dan kasih sayang yang dimiliki oleh Pangeran Kian, aku juga tidak mengerti dimana keberadaan dari keturunannya yang harus aku lindungi untuk membalas budi baik yang telah ia berikan kepadaku, seandainya waktu dulu aku tidak meninggalkannya dan pergi bersamamu, pasti waktu itu aku masih bisa melihat wajahnya". Ucap Nimas.


"Jangan salahkan dirimu sendiri Nimas, semua yang sudah terjadi adalah takdir yang tidak ada yang tau kapan semuanya akan berakhir, kau akan segera bertemu dengannya, anak dari Panji yang masih hidup sampai saat ini, usianya pun sudah tidak muda lagi, dan anak itu sudah memiliki cucu, cepat atau lambat kau pasti akan bertemu dengannya, kau begitu dekat dengan dirinya".


"Bagaimana kau bisa tau tentang hal itu? Apa kau sudah mengetahui siapa sebenarnya keturunan dari Pangeran Kian itu?".


"Bukan hanya mengetahuinya saja, aku bahkan selalu ada untuk membantunya setiap dirinya dalam bahaya, aku selalu mucul didalam mimpinya ataupun didunia nyatanya, kau tidak akan mudah untuk menemukan dirinya saat ini, karena mereka hidup dalam persembunyian".

__ADS_1


"Siapa orang itu?".


"Kau akan segera mengetahuinya nanti, untuk saat ini bantulah Nadhira untuk mengendalikan energi dari permata itu karena sebentar lagi adalah puncak dari gerhana bulan merah darah, hanya dirimu yang bisa mengendalikannya Nimas, karena kaulah pemiliknya yang ditunjuk oleh Pangeran Kian".


"Dhira dalam bahaya aku harus segera menolongnya, lantas kemana aku harus mencarinya? Aku bahkan tidak merasakan keberadaan dari energi itu saat ini".


"Pergilah menuju desa Mawar Merah, disana kau akan mendapatkan petunjuk tentang Nadhira".


Setelah mengatakan hal itu, Dilham kembali lenyap dari pandangan Nimas dan berubah wujud mencari sebuah cahaya, cahaya itu melesat begitu cepatnya dan hilang dalam sekejap saja.


Mendengar ucapan itu membuat Nimas juga ikut menghilang dari tempat itu untuk mencari tau tentang keberadaan Nadhira saat ini, Nadhira sangat membutuhkan bantuannya untuk mengendalikan energi dari permata iblis miliknya itu.


Sena kembali keruangan sebelumnya dengan darah yang ada diujung bibirnya, orang orang yang tengah menghalanginya tadi dengan kerasnya menampar Sena sehingga ujung bibir Sena sobek begitu saja.


Sena terus memberontak untuk melepaskan diri dari pegangan tangan orang itu dan terus memohon kepada mereka untuk melepaskan dirinya, akhirnya orang orang itu melepaskan Sena dan membiarkan Sena untuk pergi dari tempat itu.


"Bagaimana dengan gadis itu". Tanya pria paruh baya itu kepada Sena yang baru saja tiba.


"Dia berhasil dibawa oleh orang orang itu Mbah, aku tidak bisa menghalanginya".


"Sial... Itu salahmu bodoh!, kenapa membawa gadis itu keluar dari kamarnya!". Teriak pria paruh baya itu.


"Maksud Mbah apa? Aku sama sekali tidak mengerti, mereka sangat kuat".


"Seseorang telah memasang sebuah pelindung dikamar itu, sehingga mereka tidak akan bisa masuk kedalamnya begitupun dengan diriku, BODOH!! Kau membiarkan dia pergi begitu saja". Ucap pria paruh baya itu dengan marahnya kepada Sena.


Dukun itu begitu sangat marahnya kepada Sena, karena telah membiarkan kesempatan besar terlewatkan begitu saja, hanya saat ini saja mereka bisa memiliki permata itu jika mereka dapat mendapatkan Nadhira, akan tetapi mereka semua kehilangan sosok Nadhira.


Disatu sisi orang yang menyelamatkan Nadhira itu membawa Nadhira kesuatu tempat yang cukup jauh dari rumah Nadhira, orang itu menggendong Nadhira karena Nadhira tidak sanggup untuk berjalan lagi karena kakinya telah dipatahkan oleh orang orang jahat itu.


"Jangan takut Nak, aku tidak akan mencelakaimu tenang saja, sekarang kau aman bersama denganku, apa kau tidak mengenaliku?". Tanya orang itu kepada Nadhira yang sedang ketakutan sambil terus melanjutkan perjalanannya membawa Nadhira pergi dari tempat itu.


"Siapa orang sebenarnya yang menolongku ini, kenapa wajahnya begitu sangat mirip dengannya". Batin Nadhira.


"Kau pasti berpikir kenapa wajahku begitu mirip dengan orang yang kau kenal". Ucap orang itu.


"Bagaimana anda tau apa yang sedang aku pikirkan saat ini?". Tanya Nadhira yang begitu terkejut.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka tibalah disuatu tempat yang cukup jauh dari pertarungan itu, Haris menurunkan Nadhira disebuah batu yang cukup besar agar Nadhira bisa beristirahat dan dirinya bisa melihat cidera yang dialami oleh Nadhira.


"Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya? Sedangkan tatapanmu kepadaku saat ini sudah menjelaskan semuanya, kau mungkin tidak mengenaliku karena kita tidak pernah bertemu sebelumnya, perkenalkan namaku adalah Haris, Ayah dari Rifki yang kau kenal itu".


"Om Haris? Kenapa Om tiba tiba menyelamatkan diriku seperti ini? Jika mereka tau siapa yang menolongku, Om bisa dalam bahaya karena diriku".


"Aku sudah janji kepada Rifki bahwa aku akan berusaha sebisaku untuk dapat melindungimu Nak, jangan mempedulikan soal bahaya yang akan datang kepadaku atau yang lainnya, kita istirahat disini terlebih dulu, tempat ini cukup aman untuk kita beristirahat sejenak, mereka tidak akan menemukan keberadaan kita sampai matahari terbit".


"Terima kasih Om, karena telah menolongku".


"Tidak masalah".


Haris melihat kearah lutut Nadhira, dapat dirinya lihat bahwa sesekali Nadhira memeganginya dengan erat seakan akan dirinya begitu kesakitan saat ini, Haris segera meraih kaki Nadhira dan menaruhnya diatas pahanya dengan tiba tiba.


"Akh...".

__ADS_1


Haris segera menyobek celana Nadhira tepat dibagian lututnya untuk memeriksa keadaan lutut Nadhira, dia merasa begitu terkejut ketika melihat luka memar yang ada dikaki Nadhira saat ini, bagaimana bisa ada seorang gadis yang mampu menahan rasa sakit yang begitu parah seperti itu.


Dapat Haris lihat bahwa Nadhira saat ini sedang menahan rasa sakitnya, kedua mata Nadhira mulai berair lagi dengan disusul dengan kedua matanya yang mulai memerah pertanda bahwa Nadhira saat ini sedang tidak baik baik saja.


"Apa yang telah mereka lakukan kepadamu Nak? Kenapa tulangmu bisa bergeser dibagian persendian seperti ini? Pasti ini rasanya sangat sakit bukan, tahan ya, Om akan mencoba mengurutnya dan membenarkan persendianmu, mungkin akan terasa sangat sakit nanti, tapi setelahnya kau akan baik baik saja". Ucap Haris.


"Mereka tadi menendang dan memukulinya berkali kali Om, mereka bilang mereka akan mematahkan kedua kakiku jika aku terus saja memberontaknya".


"Tahan ya Nak, aku akan mencoba memijatnya, kasihan sekali nasibmu Nak, ini pasti sangat sakit bukan? Om akan berusaha sepelan mungkin untuk mengobatinya, tahan ya Nak".


Tiba tiba Nadhira mendengar sesuatu dari kejauhan, seperti beberapa orang yang sedang melangkah untuk mendekat kearah dimana Nadhira dan Haris berada saat ini, dari kejauhan Nadhira juga mendengar percakapan mereka yang sedang mencari keberadaan dari keduanya.


"Apa sebaiknya kita bergegas pergi telebih dahulu dari sini Om? Bagaimana kalau mereka berhasil menemukan keberadaan kita saat ini? Aku takut Om".


"Kau benar Nak, baiklah Om akan menggendongmu lagi, pegangan yang erat".


"Iya Om".


Haris segera membalikkan badannya membelakangi Nadhira, Nadhira segera memegangi pundak Haris dengan eratnya sementara Haris mulai mengangkat tubuh Nadhira diatas punggungnya, Haris segera membawa Nadhira pergi dari tempat itu.


Ketika Haris sudah pergi dari tempat itu, Raka tiba tiba muncul ditempat yang sama, Raka melihat bahwa Nadhira telah aman bersama dengan Haris, sehingga Raka merasa begitu lega, akan tetapi kelegaannya tidak berlangsung lama ketika dirinya merasakan bahwa ada beberapa orang yang datang ketempat itu.


"Cepat cari gadis itu, kedua orang itu tidak akan mampu pergi terlalu jauh dari sini, gadis itu tengah terluka saat ini". Ucap pemimpin dari mereka.


"Baik Tuan".


Mereka segera berpencar untuk mencari dimana keberadaan Nadhira dan Haris yang tengah menjadi incaran mereka, melihat itu Raka tidak tinggal diam, dirinya sebisa mungkin untuk mengecoh mereka semua dengan cara menggunakan tenaga dalamnya untuk membuat rerumputan yang menjulang tinggi bergerak gerak dari arah yang berlawanan dari Haris dan Nadhira pergi.


"Keduanya ada disana Tuan". Ucap salah satu seorang yang melihat rerumputan itu.


Mereka segera bergegas menuju ketempat dimana Raka berada saat ini, Raka merasa senang ketika mereka masuk kedalam rencananya, salah satu dari mereka segera melihat seseorang yang berada dibelakang rerumputan itu.


"Kau!!". Ucap pemimpin mereka yang dapat melihat Raka yang ada ditempat itu.


"Ah maaf, aku telah berhasil mengecohmu, hehehe". Ucap Raka dengan santainya sambil tertawa kecil dan langsung menghilang begitu saja dari tempat itu.


"Dasar hantu kecil! Beraninya kau mempermainkan diriku! Awas saja kalau ketemu!". Ucap pemimpin itu dengan marahnya karena perbuatan Raka.


"Hay Om, jangan mengancam seperti itu, nanti aku nangis, kan aku anak kecil". Ucap Raka.


Hanya suara Raka saja yang terdengar, akan tetapi orang itu tidak mampu menemukan keberadaan dari Raka saat ini, seakan akan suara itu terus bergerak memutari orang orang itu.


"Diam kau! Tunjukkan dirimu sekarang!". Ucap orang itu dengan geramnya karena ulah Raka.


"Hehehe.... Tangkap aku kalau bisa Om, kasihanilah anak kecil sepertiku, tapi boong hahaha.... Ayo Om tangkap aku". Raka tertawa dengan kerasnya sambil memutari orang orang itu.


"Awas saja kalau kau ketangkep! Akan ku jadikan kau sup siap saji".


"Ih Om ngeri banget, eh tapi aku kan ngak punya tubuh, bagaimana bisa kau menjadikanku sup, hahaha....". Raka masih saja tertawa menghadapi orang orang itu.


"Oh rupanya kau ingin bermain main denganku!".


"Baguslah kalau Om tau, aku kan ngak punya teman bermain selama ini hehehe...".

__ADS_1


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...


...Terima kasih ...


__ADS_2