
Rifki terus berpegangan tangan dengan Nadhira, Rifki melihat wajah Nadhira sangat pucat, ia takut jika terjadi sesuatu kepada Nadhira.
"Baiklah kalau begitu, aku akan masuk kedalam markasnya secara diam diam dan menyelamatkan anak anak yang mereka sandera, ketika aku berteriak kalian harus segera menyerbu". Ucap Rifki kepada teman temannya dan juga beberapa polisi.
Semua teman Rifki segera mengangguk mendengar ucapan dari Rifki tanpa adanya bantahan sedikitpun dari mereka. Setelahnya mereka berpencar dan mengitari gubuk tersebut, ketika Rifki hendak bertindak Nadhira menggenggam erat tangan Rifki.
"Dek bagaimana kalau kamu dalam bahaya didalam, kita tidak tau jumlah penculiknya". Ucap salah satu polisi.
"Sudah ku perkirakan pak, jumlahnya sekitar 15 orang, 10 orang berjaga diluar dan sisanya berjaga didalam".
"Bagaimana kau tahu tentang itu dek?".
"Ah itu..... Kemarin aku sempat menerobos masuk kedalam".
Rifki beralasan kepada para polisi tersebut, bagaimana ia bisa mengatakan yang sebenarnya bahwa ia mengetahui hal ini karena diberitahukan oleh makhluk gaib yang bahkan tiada yang bisa melihatnya.
Para polisi hanya mengangguk mendengar penjelasan dari Rifki, mereka berfikir bahwa seorang anak kecil mampu menerobos masuk kedalam markas berarti penjagaannya memang tidak seketat yang mereka duga.
"Aku akan baik baik saja Dhira, Reno akan menjagamu disini, percayalah padaku". Rifki mencoba melepaskan genggaman tangan Nadhira.
"Tapi Rif, bagaimana kalau kamu kenapa kenapa".
"Semuanya akan baik-baik saja".
Dengan berat hati Nadhira melepaskan pegangan tangannya, Rifki menoleh kearah temannya yang bernama Reno lalu mengangguk kepadanya, anggukan itu segera dibalas oleh Reno. Reno segera mendekat kearah Nadhira, melihat hal itu Rifki segera bergegas mencari jalan masuk kedalam markas.
Dengan perlahan Rifki berjalan menelusuri markas tersebut, dan sesekali Raka memberinya petunjuk tentang dena markas itu, dari balik tembok Rifki dapat melihat sebuah pintu yang dijaga ketat oleh beberapa penculik, sesuai petunjuk yang diberikan oleh Raka, tiga penculik menjaga didepan pintu ruangan tersebut, dan dua lainnya berkeliling disekitar jalanan yang ada didalam markas.
"Rif kamu yakin bisa melawan ketiganya? hanya itu jalan satu satunya keruangan dimana anak anak itu disekap". Tanya Raka dan hanya Rifki yang mampu mendengarnya.
"Jika seperti itu, ngak ada cara lain maka aku harus menghadapi ketiganya". Bisik Rifki.
__ADS_1
"Baiklah, bereskan tanpa banyak suara, supaya tidak mengundang yang lainnya untuk datang kemari".
Rifki mengangguk mendengar ucapan Raka, Rifki mengeluarkan sebuah botol dari balik saku celananya didalam botol tersebut terdapat beberapa jarum dan cairan berupa obat bius.
"Hanya ini satu satunya cara agar tidak ada suara".
Rifki bergegas menyelinap untuk mendekati ketiganya dengan perlahan, ketika Rifki hampir mendekati ketiganya tiba tiba dua penculik mendatangi ketiga penculik tersebut. Melihat hal itu Rifki segera bersembunyi dibawah meja yang berada didekat situ.
"Kalian bertiga!! Apa kalian tidak melihat pergerakan yang mencurigakan disekitar sini?". Tanya salah satu penculik yang baru tiba.
"Kami tidak melihatnya". Jawab serempak ketiganya.
"Awasi anak anak itu, jangan sampai ada yang kabur lagi, kalau tidak kalian bertiga akan menanggung akibatnya, anak yang kabur tadi sudah tertangkap, tetapi sekarang belum sadar karena efek obat bius". Ucap salah satu dari mereka yang berbadan paling kekar diantara yang lainnya.
"Sayang sekali dia masih kecil, kalau tidak kita bisa bersenang-senang".
Rifki terus mendengarkan percakapan mereka berlima. Salah satu dari mereka mendekati meja dimana Rifki berada, Raka terus memberikan arahan kepada Rifki, Raka mengatakan bahwa pria yang berbadan paling kekar mendekatinya. Rifki mengeluarkan salah satu jarum tersebut, dan bersiap siaga menyambut kedatangannya.
Rifki mencoba menstabilkan pernafasannya agar tidak didengar oleh pria tersebut. Tak lama kemudian pria itu duduk diatas meja dimana meja itu digunakan oleh Rifki untuk bersembunyi.
"Jon, apa tidak ada arak disini?". Tanya pria berbadan kekar kepada salah satu rekannya.
"Ada dilaci meja itu, ambil saja sendiri". Ucap pria yang dipanggil Jon.
Pria berbadan kekar tersebut mulai berjalan memutari meja dan hendak mendekati laci yang ada dimeja tersebut. Laci itu berada tepat disamping Rifki berada, Rifki menelan ludahnya sendiri, ia mampu melihat bahwa pria yang mendekatinya adalah yang terkuat dari yang lainnya.
Ketika pria berbadan kekar itu hendak membungkuk disamping meja tersebut, tiba tiba ada seseorang yang memanggilnya membuatnya berdiri kembali. Dengan siaga pria berbadan kekar segera datang mendekat seseorang yang baru saja memanggilnya.
"Ada apa bos?". Tanya pria berbadan kekar
"Para pembeli anak anak itu akan segera datang, persiapkan mereka sekarang". Ucap pria yang dipanggil bos.
__ADS_1
"Baik bos, lalu bagaimana dengan anak yang terpengaruh obat bius tersebut?".
"Biarkan dia tetap tidak sadarkan diri, kita tidak usah menjualnya, dia cukup cantik".
"Baik bos".
Pria berbadan kekar tersebut segera mendatangi ruangan dimana ruangan tersebut tempat mereka menyekap anak kecil yang mereka tangkap. Rifki dan Raka saling berpandangan ketika ia mendengar perintah yang bos penculik itu katakan.
"Rif apakah mungkin kita tinggu saja mereka datang? Kali saja orang yang membeli anak anak itu ikut tertangkap, penjualan anak kan dilarang". Saran Raka.
Rifki mengangguk mendengar saran dari Raka, ketika pembeli itu datang para polisi bisa langsung menangkap mereka, biar bagaimanapun mereka juga terlibat dalam penjualan anak.
*****
"Mengapa Rifki begitu lama?". Tanya Nadhira kepada Reno.
Setelah 30 menit mereka menunggu diluar belum ada juga pertanda Rifki memberi peringatan. Wajah Nadhira semakin pucat karena ia duduk terlalu lama, melihat Nadhira mengeluarkan keringat yang banyak membuat Reno sedikit khawatir tentang kesehatannya.
Tak beberapa lama kemudian, terdengar suara pesan masuk dari hp milik Reno, Reno membuka pesan tersebut. Dilayar hpnya menampakkan nama Bos, ia membaca pesan tersebut dengan teliti dan menunjukkannya kepada kepala pemimpin kepolisian. Kepala kepolisian segera memberi tahu kepada anggotanya bahwa mereka harus menunggu Rifki bertindak lebih dahulu.
"Kamu tenang saja Dhira, Rifki baik baik saja didalam, percayalah kepadanya, mau aku antar kemobil? Wajahmu sangat pucat". Tanya Reno melihat wajah pucat Nadhira.
"Ngak usah Ren, aku mau nunggu Rifki disini, aku takut dia kenapa kenapa". Tolak Nadhira.
"Kamu ngak peluh khawatir berlebihan Dhira, ini lihatlah". Reno memberikan hpnya kepada Nadhira.
Dilayar hp tersebut terdapat pesan dari Rifki yang berada didalam. Yang berisikan
(aku baik baik saja kalian ngak perlu khawatir, beri tahu kepada anggota yang lainnya kita harus menunggu lebih lama lagi, karena aku mendengar dari para kelompok penculik ini bahwa orang yang akan membeli anak anak kecil akan segera datang, sebaiknya kita tunggu setelah mereka datang kita akan mulai beraksi). Isi pesan yang pertama.
(Ren apakah Nadhira baik baik saja, tolong beri tahu dia bahwa aku baik baik saja disini, disini cukup nyaman rasanya, ya meskipun ada pria yang berbadan paling kekar daripada yang lainnya). Isi pesan yang kedua.
__ADS_1
(Jika Nadhira lelah antarkan dia kemobil saja, dia lagi sakit oh iya jangan biarkan Nadhira berjongkok terlalu lama, lukanya masih belum sembuh). Isi pesan yang ketiga.
Nadhira tersenyum ketika membaca pesan yang Rifki kirim kepada Reno.