Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Penikmat Rasa Takut


__ADS_3

Keduanya mulai berdebat, sementara Rifki dan Nadhira menjadi penontonnya. Ruangan itu kini terasa ramai tidak seperti biasanya yang selalu sunyi. Rifki dan Nadhira seperti sedang melihat siaran langsung didepannya, percumah memisahkan keduanya karena hanya berakhir sia sia.


Rifki duduk disebelah Nadhira sambil menyuapi Nadhira dengan buah buahan yang ia bawa, tanpa mengalihkan perhatian dari kedua temannya, ia menerima suapan tersebut. Tiba tiba pintu ruangan Nadhira dibuka oleh dua orang satpam, keempat sangat terkejut atas kedatangan satpam tersebut.


"Maaf mbak, apakah dua orang ini yang membikin masalah diruangan? Saya akan menyeretnya keluar".


"Ah tidak pak, mereka hanya menghibur saja kok pak, bapak ngak perlu khawatir". Jawab Nadhira sedikit terkejut.


"Baiklah kalau gitu, kalau ada apa apa mbak panggil kami ya".


"Iya pak".


Kedua satpam itu segera bergegas menutup pintu dan pergi melanjutkan pekerjaannya, sementara diruangan keempatnya terdiam dan saling pandang memandang. Nadhira memijat keningnya yang terasa sedikit pusing, sementara Rifki menghela nafas panjang.


"Tuh kan kamu dulu sih yang buat masalah". Ucap Vina.


"Mana ada, yang ada kamu dulu". Jawab Widya.


"Kan bener aku, mimpi Romeo dan Juliet, Bukan Jin dan Jini".


"Tapi kan Jin dan Jini punya kekuatan sakti, Romeo dan Juliet bakal kalah lah".


"Ngak bisa, karena kekuatan cinta mereka bisa mengalahkan apapun".


"Hih sudah ku bilang kan, harus Jin dan Jini titik".


Mereka kembali lagi berdebat membuat ruangan tersebut sangat berisik, untung saja ruangan tersebut hanya ditempati oleh Nadhira kalau tidak, mungkin keduanya sudah diusir sedari tadi.


"Hah! Ada kalanya ucapan dokter itu benar, aku harus istirahat total untuk saat ini". Keluh Nadhira.


"Apa perlu aku usir mereka". Sengaja Rifki mengencangkan suaranya.


Mendengar ucapan Rifki yang sengaja dibuat keras, membuat Vina dan Widya berhenti untuk berbicara lebih lanjut. Keduanya memandang Rifki sedikit kesal, bukan karena menghentikan mereka berdebat tetapi karena kata yang Rifki ucapkan.


"Maaf". Ucap keduanya bersamaan.


Jam menunjukkan pukul 4 sore membuat Vina dan Widya harus berpamitan untuk pulang, diruangan itu tersisa hanya Rifki. Tak beberapa lama kemudian datanglah bi Ira sambil membawakan beberapa cemilan untuk Nadhira.


"Maaf mas Rifki, bibi datangnya telat".

__ADS_1


Nadhira terkejut kenapa tiba tiba ibu angkatnya meminta maaf kepada Rifki, tidak seperti biasanya. Biasanya ketika bi Ira datang meskipun telat, Rifki tidak pernah mempermasalahkan hal ini.


"Ngak papa bi, aku permisi dulu".


"Rif".


Ketika Rifki berpamitan kepadanya, tanpa menunggu jawaban Nadhira, Rifki segera berjalan menjauh dan seperti tergesa gesa, melihat hal itu Nadhira segera memanggilnya kembali.


"Ada apa Dhira?". Tanya Rifki


"Kamu mau kemana? Kenapa terburu buru? Ada masalah apa?".


"Bukan apa apa kok kamu ngak perlu khawatir, hanya ada urusan mendadak".


"Urusan apa itu?". Nadhira mengerutkan dahinya.


"Ibu minta diantarkan kerumah saudara aja kok Dhir".


"Ou... Begitu, hati hati".


Rifki tersenyum kearah Nadhira, ketika ia membalikkan badan senyum tersebut segera hilang, wajah dinginnya kembali terbit diwajahnya. Rifki segera bergegas pergi dari rumah sakit tersebut, meninggalkan Nadhira.


"Bu, apa ibu tau kenapa Rifki seperti tergesa gesa seperti itu?". Tanya Nadhira penasaran karena sekilas melihat perubahan diwajah Rifki.


Tak beberapa lama perjalanan sampailah Rifki disebuah jalan menuju kelapangan. Tiba tiba Raka menghentikan langkahnya, setelah menaruh sepedanya disebuah rumah yang terdekat dari situ ia segera berjalan menuju kelapangan, tetapi tiba tiba Raka menghentikan langkahnya.


"Ada apa?". Tanya Rifki penasaran.


"Ini jebakan Rif, segera hubungi anak buahmu". Raka berbicara sangat serius kepada Rifki.


"Maksudmu?".


"Anak itu tidak datang sendirian, ia membawa banyak sekali anak buahnya".


"Oh seperti itu, licik sekali caranya, kalau aku juga memanggil anak buahku itu juga tidak bagus Raka, mungkin akan menyebabkan tawuran dan lebih membahayakan masyarakat setempat".


"Jadi harus bagaimana?".


"Kamu harus membantuku".

__ADS_1


"Caranya?". Tanya Raka penasaran.


Rifki membisik sesuatu kepada Raka, Raka tersenyum mendengar ide yang Rifki rencanakan untuk selanjutnya. Raka mengangguk-angguk kepalanya pertanyan menyetujui ide tersebut.


Rifki tersenyum dan bergegas untuk mendatangi tempat dimana Theo dan sepuluh orang temannya sedang menunggunya, Rifki benar benar datang sendirian. Theo tersenyum ketika melihat hanya Rifki yang datang seorang, Rifki dengan santainya berjalan mendekati mereka.


"Akhirnya kau datang juga, ku fikir kau tidak akan datang karena takut.. hahah". Tawa Theo didepan Rifki.


"Karena aku takut mangkanya aku datang, bukankah rasa takut harus ditaklukkan dan dilawan? Hanya seorang pecundang yang menjadikan rasa takut sebagai teman". Rifki tersenyum menanggapi ucapan Theo


"Kenapa datang sendirian? Ngak punya teman ya... Haha".


"Kenapa datang dengan banyak orang, takut ya haha... Aku sangat menyayangi temanku, dan aku tidak ingin mereka terluka karena keegoisanku".


"Kau!".


Tanpa aba aba Theo bergegas mendekati dimana Rifki berada, melihat hal itu Rifki segera memasang kuda kudanya. Dan terjadilah perkelahian antara Theo dan Rifki, dapat dilihat bahwa Rifki lebih unggul daripada Theo.


Rifki hanya mempertahankan posisi bertahan sementara Theo terus menyerangnya tanpa henti, setiap kali ada kesempatan Rifki mulai memukul balik. Hingga beberapa menit kemudian nafas Theo mulai tersengal sementara Rifki masih bisa bernafas normal.


"Kenapa? Sudah lelahkah? Ini masih belum bisa disebut pemanasan". Ucap Rifki ketika melihat Theo kelelahan.


Keduanya terus melanjutkan perkelahiannya, lama kelamaan akhirnya Theo terjatuh ditanah akibat tendangan yang Rifki berikan kepadanya. Pakaian Theo hampir seluruhnya tertutup oleh tanah, Theo mencoba bangkit tetapi tubuhnya terasa sakit semua akibat pukulan yang ia terima.


"Kalian! Kenapa diam saja, bantu aku". Teriaknya menyuruh anak buahnya untuk bertindak.


"Maaf bos, tubuh kami terasa begitu lemas, berjalan saja susah". Keluh semuanya.


"Ngak guna sama sekali". Bentak Theo


Rifki tertawa begitu keras melihat apa yang dilakukan oleh Raka, melihat Rifki tertawa membuat dada Theo terasa panas ingin sekali memukul Rifki dengan kerasnya.


"Ternyata idemu bagus juga Rif, energiku meningkat pesat, berkat energi dari mereka". Raka begitu senang ketika berhasil menyerap energi anak buah dari Theo.


"Pulanglah, aku tidak mungkin melanjutkan, karena aku tidak ingin memperparah lukamu". Ucap Rifki dengan santainya.


Rifki membalikkan badan dan berjalan menjauhi Theo dan anggota gengnya, melihat Rifki berjalan menjauh Theo bangkit dan mengambil sebuah batu berukuran sedang dan melemparkannya kepada kepala Rifki. Melihat batu itu melayang kearah Rifki, dengan sigap Raka mengayunkan tangannya membuat gelombang kejut untuk melindungi Rifki.


Sebelum batu itu mengenai tepat dikepala Rifki, batu itu seakan akan menabrak sesuatu yang keras sehingga membuatnya terpental kembali dan mengenai dada Theo. Dengan refleks Rifki membalikkan badannya, ia menemukan bahwa Theo terjatuh dan menggerang kesakitan.

__ADS_1


"Ilmu apa yang kau pakai ha? Kenapa ada perisai didirimu". Theo merasa heran dengan kejadian yang baru saja ia alami.


"Perisai? Pengelihatan mu buruk sekali, mana mungkin aku punya perisai, apakah mungkin ada mengantuk sehingga berhayal yang tidak tidak? Haha". Ejek Rifki.


__ADS_2