Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Desa Mawar Merah 3


__ADS_3

Waktu itu berjalan dengan cepatnya, Burhan kembali kedesanya dengan membawa beberapa bantuan. Sampai didesa tersebut, ia merasa begitu aneh. Orang orang sekelilingnya memandangnya dengan tatapan yang tidak seperti biasanya, ia mengabaikan hal itu dan bergegas kembali kerumahnya.


Perasaanya terasa begitu tidak enaknya, ia baru beberapa tahun tinggal didesa tersebut. Ia mencari keseluruh rumahnya dan tidak menemukan seorang pun disana, ia pergi kerumah kakak kakaknya dan tidak ada seorang pun yang dapat ia temui.


Akhirnya Burhan memutuskan untuk pergi ketempat warga sekitar rumahnya dan menanyakan kemana perginya, mengapa tidak ada seorang pun yang memberitahukan kepadanya.


Burhan mendatangi sebuah rumah yang cukup sederhana, rumah itu hanya ditinggali oleh seorang lelaki tua, Burhan bertanya kepada lelaki itu, kemana anak dan istrinya pergi, lelaki itu menjawab.


"Keluargamu telah dibunuh oleh masyarakat itu, ayahmu dituduh menggunakan ilmu gaib sehingga membuat desa ini sengsara, sehingga mereka semua membantai seluruh keluargamu".


"Apa!!!". Burhan begitu terkejut mendengarnya, air matanya hampir menetes, ia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. "Itu tidak mungkin, ayahku tidak akan melakukan hal itu, ayahku tidak melakukan hal seperti itu, lalu kemana anak dan istriku kek?".


"Istrimu juga ikut terseret dalam hal itu, jenazah seluruh keluargamu diletakkan diruang bawah tanah tempatmu tinggal".


"Aku akan pergi kesana untuk melihatnya".


Burhan kembali bergegas kerumahnya ia mencari keseluruh rumahnya dan akhirnya menemukan ruangan yang dimaksud tersebut, ia segera menuruni tangga yang ada ditempat itu dan menuju kelantai bawah.


Ruangan itu begitu gelap, sehingga Burhan memeranginya dengan sebuah obor kecil yang ia bawa. Sesampainya dibawah ia sunguh terpukul ketika melihat banyak jenazah keluarganya disana, ia mencari jenazah anaknya yang baru lahir, tetapi tidak ia temukan keberadaan.


Ia terduduk didepan sebuah jenazah orang yang paling ia cintai, yakni Vivi. Tangannya begitu gemetaran dan airmatanya bercucuran membasahi wajah tersebut. Ia memeluk jenazah yang ada didepannya, ia tidak kuasa melihatnya begitu saja.


"Aaaa..... Dek maafkan aku, Aaaa.... aku kembali, tetapi mengapa kau pergi begitu cepatnya, mengapa kau tidak menyambut suamimu datang seperti biasanya? Dek, maafkan aku".


Burhan berteriak histeris, tubuhnya bergetar, pakaiannya bersimbah darah, darah milik istrinya. Ia ingin pulang secepatnya dari tugasnya karena ia begitu rindu dengan istri dan anaknya, tetapi siapa sangka justru istrinya meninggalkannya seorang diri untuk selamanya.


"Akhirnya kau kembali, kau tidak perlu khawatir, aku akan mengirimmu untuk bertemu istrimu kembali, tanpa rasa sakit".


Sring...


Terdengar bunyi senjata dari kejauhan, Burhan segera berdiri dan membalikkan badan. Dari kejauhan terdapat tiga orang berdiri dengan senjata ditangannya, orang itu tidak lain adalah Darma dan dua pengikutnya.


"Kau!!! Dimana anakku". Ucap Burhan terkejut.


"Aku tidak tau, ia sudah diculik, dan aku tidak peduli tentang hal itu".


"Sudah ku duga, selama ini kau telah merencanakan hal seperti ini sebelumnya". Burhan menghela nafas panjang.


"Dugaanmu sungguh terlambat kawan, kau adalah anak paling dipercaya oleh Setyo, katakan bagaimana caranya untuk masuk kedalam gua dibukit itu".


"Hahaha... Kau membunuh keluargaku hanya karena harta yang belum tentu ada, haha.... Iblis seperti apakah dirimu". Tawa Burhan begitu mengandung kesedihan yang mendalam, seakan akan ia tiada semangat lagi untuk bertahan hidup.


"Cepat tangkap dia". Perintah Darma kepada pengikutnya.

__ADS_1


Terjadilah pertarungan diruang gelap itu, Burhan mengeluarkan semua kemarahan didalam hatinya dan menghadapi kedua pengikut Darma dengan ganasnya, sehingga kedua orang itu mengalami luka yang lumayan parah.


Burhan berdiri dengan tegaknya diantara kedua orang dan jenazah keluarganya, kedua matanya seakan akan seperti berkobar, tanpa ia tau salah satu pengikut Darma melemparkan sebuah jarum yang berisi obat bius kepadanya, dan jarum itu mengenai tepat dilehernya


Burhan tiba tiba jatuh berlutut sambil bersandarkan pisau ditangan kanannya, tangan kirinya merabah jarum yang telah tertancap dilehernya, ia menariknya dan membuangnya.


Melihat Burhan tidak bereaksi, kedua pengikutnya segera berdiri dan memegangi kedua tangan Burhan, melihat itu Darma segera bergegas mendatangi dimana Burhan berada.


"Cepat katakan! Sebelum kesabaranku habis!".


"Meskipun kau membunuhku sekalipun, kau tidak akan dapat masuk kedalam tempat itu".


Bhukk


Darma menendang perut Burhan dengan kencangnya, tidak hanya menendang ia juga memukul dan terus menghajarnya hingga babak belur, darah keluar dari ujung bibir dan pelipisnya.


Burhan sama sekali tidak memperdulikannya, ia terus tertawa tetapi airmatanya terus mengalir begitu derasnya, melihatnya terus tertawa, akhirnya Darma menghentikan apa yang ia lakukan.


"Kau masih bisa tertawa ha?".


"Apa hanya itu yang kau bisa? Haha... Apalah arti hidup ini sekarang, mati saat ini ataupun nanti apa bedanya bagiku? Haha..".


"Tentu bagimu tidak ada bedanya, tetapi bagiku ada bedanya".


Darma menancapkan pisau yang ia bawa kepada perut Burhan, Burhan merasakan nyeri yang begitu parah dan akhirnya ia memuntahkan darah segar. Burhan kembali tertawa, tawa karena putus asa, tiada semangat untuk hidup dihatinya.


Burhan merasakan tubuhnya begitu lemas karena kehilangan banyak darah, tetapi bibirnya terus terlihat tersenyum, dihatinya ia merasa senang karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan orang yang paling ia cintai kembali.


"Anakku akan kembali dan membalas dendam kepada kalian semua, kalian akan hancur tak tersisa, tunggulah ia kembali, haha".


Tidak hanya sekali, Darma beberapa kali menancapkan pisaunya diperut Burhan, hingga Burhan tewas begitu saja diruangan gelap tersebut.


"Aku dengar bahwa hanya orang yang menjabat sebagai kepala desalah yang bisa masuk kedalam gua itu, aku harus segera mendapatkan kedudukan itu".


Darma segera meninggalkan tempat tersebut dan mengunci rapat rapat rumah itu agar tiada yang tau bahwa ia telah membunuh Burhan ditempat itu, masyarakat sekitar tidak bisa berbuat apa apa, ia hanya mengikuti perintah dari Darma dan lainnya.


17 tahun kemudian.


seorang gadis tiba tiba muncul didesa Mawar merah, pakaiannya berwarna merah panjang, rambutnya terurai dan sedikit bergelombang. ia tersenyum didepan gapura desa tersebut, senyumannya begitu menyeramkan dan siapa pun yang melihatnya akan terpesona karenanya.


"akhirnya aku tiba didesa ini".


sejak kecil ia dilatih dan dididik oleh seorang kakek yang ia kenal dengan nama Dilham, anak itu diajari olehnya ilmu hitam untuk membalaskan dendam keluarganya yang telah dibantai habis oleh orang orang itu. Dilham adalah orang yang pernah ditolong oleh Setyo, ketika Setyo masih remaja, ia menolong seorang lelaki yang berusia 40 tahunan yang dalam bahaya.

__ADS_1


Dilham adalah buronan sebuah perguruan, karena kecerobohannya membuat perguruan tersebut rata dengan tanah, ia begitu mempercayai seseorang yang baru ia kenal dan membawanya masuk kedalam perguruan tersebut, ternyata orang itu adalah mata mata yang diperintahkan oleh perguruan lain untuk menghancurkan perguruannya.


Dilham menjadi incaran dari kakak seperguruannya yang masih hidup, membuatnya harus terus berlari dan meninggalkan dunia persilatan, ditengah hutan ia begitu kelaparan dan kehausan. tak sengaja ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang berburu, pemuda itu adalah Setyo, Setyo mengajaknya kerumahnya dan memberinya kebutuhan hidupnya. hingga akhirnya keduanya berpisah karena Setyo beserta istri dan anaknya pergi kedesa Mawar Merah untuk menetap disana, siapa sangka ia akan mengalami hal seperti ini.


Setiap jalan yang dilewati gadis itu akan berubah, rumut yang hijau subur menjadi layu dan kering, dari matanya terpancar kebencian yang mendalam. mata yang begitu indahnya dan bercelak hitam membuatnya seperti seorang yang terhormat.


Darma yang sewaktu itu sedang berfikir bagaimana caranya untuk bisa masuk kedalam gua sampai terpanah karena pesona yang dikeluarkan oleh gadis yang berjalan mendekati desa tersebut. setelah menjadi kepala desa, Darma masih merasa bingung kenapa sampai sekarang ia tidak bisa masuk kedalam gua itu, dan beberapa kali orang yang dibawa ketempat itu akan mengalami penyakit yang parah dan sulit untuk disembuhkan.


Sejak Darma menjabat sebagai kepala desa ditempat itu, desa itu kembali pulih seperti sebelumnya, karena penyebab desa itu kekeringan dahulu adalah karenanya yang meminta bantuan kepada para dukun untuk membantunya, dengan imbalan mereka akan diberikan sekantung uang darinya.


"siapa kamu?". tanya seorang lelaki yang mendekat kepada wanita itu.


"tidak penting kalian mengenalku".


gadis itu melakukan beberapa gerakan dan menyebabkan orang yang ada didepannya mati dengan seketika, melihat hal itu banyak penduduk yang berlarian kesana kemari karena merasa ketakutan.


Darma yang berada tidak jauh dari tempat itu segera menenangkan warga desa tersebut, para warga berkumpul dibelakang sang kepala desa dengan perasaan takut, sedangkan gadis yang ada didepannya tersenyum melihat hal itu.


"Siapa kamu? apa tujuanmu kemari?". tanya Darma dengan marahnya.


"perlukah kalian mengenalku? karena aku akan membunuh kalian maka aku akan memberitahumu tentangku".


"Alasan apa yang membuatmu ingin membunuh kami?".


"Pak bagaimana ini?". tanya warga yang ada disebelah Darma.


"Aku adalah Nimas, dan ku tebak kau adalah Darma". tunjuknya kearah Darma. "haha... apakah aku butuh alasan untuk membunuh kalian? bagaimana dengan satu keluarga besar yang kalian habisi tanpa mengetahui apa salah mereka?".


"Kau!".


Ya gadis yang sedang berdiri didepan warga tersebut adalah Nimas, Sejak kecil ia dididik dengan kebencian dan tekat untuk membalaskan dendam keluarganya, ia mendapatkan kekuatannya karena bertapa disisi lain bukit yang sedang menjadi incaran Darma. Didalam bukti tersebut terdapat separuh kekuatan dari Kuswanto, seperempat dari kekuatan itu mengalir kedalam tubuh Nimas, membuatnya mampu untuk menghabisi seluruh warga didesa tersebut.


"Ayahku selalu mendatangiku didalam mimpi, apa kau ingat apa yang diucapkan olehnya untuk terakhir kalinya sebelum kau membunuhnya".


Mendengar bahwa gadis yang ada didepannya adalah bagian dari keluarga yang mereka bunuh, membuat mereka merinding ketakutan dibuatnya, mereka ingat bahwa ada seorang bayi yang telah diculik oleh orang yang tidak dikenal, berarti bayi itu adalah orang yang telah berdiri didepan mereka saat ini.


"Bagaimana bisa? kami tidak mengetahui kemana Burhan pergi sebelum, bagaimana mungkin ayahmu telah mati". bantah seorang warga yang berada ditempat itu.


"Memang bukan kalian yang membunuh ayahku, tetapi kepala desa kalian yang melakukannya tanpa kalian tau, hanya demi sebuah harta yang belum tentu kebenarannya, dia tega memfitnah kakekku dan membunuh keturunanya". Jawab Nimas.


"Tidak, itu tidak benar, jangan percaya dengan kata katanya". Bantah Darma.


"Kebenaran itu, hanya kau sendiri yang mengetahuinya, apakah aku berbohong atau kau yang hanya membela dirimu sendiri didepan semua orang".

__ADS_1


Warga desa itu merasa bimbang harus mempercayai siapa, apakah mereka harus mempercayai Darma yang telah menjadi kepala desa mereka selama beberapa tahun ini, atau gadis yang ada didepan mereka yang datang untuk membalaskan dendamnya.


__ADS_2