Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kasus pembegalan


__ADS_3

Nadhira melihat Theo yang sedang menggunakan tongkat miliknya merasa begitu terkejut, bayang bayang Rifki seketika itu juga muncul dalam ingatannya, tongkat tersebut adalah pemberian dari Rifki sehingga Nadhira melihat Theo seakan akan seperti Rifki sampai membuatnya meneteskan air mata bahagianya.


Nadhira menghela nafasnya dalam dalam, itu hanya sebuah bayang bayangan ilusi tentang kehadiran Rifki didalam hidupnya, akan tetapi tamparan kenyataan menyadarkannya bahwa itu hanya sebuah ilusi karena dirinya sangat merindukan Rifki.


"Kamu kenapa Nak?" Tanya Bi Ira ketika melihat Nadhira meneteskan air mata.


"Entah mengapa aku tiba tiba teringat dengan Rifki, melihatnya memakai tongkat itu seperti aku melihat Rifki hadir dalam hidupku Bu, tapi semua ini hanya ilusi karena kenyataannya Rifki tidak ada disampingku saat ini" Ucap Nadhira sambil menghapus air mata yang menetes dipipinya itu.


"Jika kau merindukannya kenapa tidak menghubungi dirinya lewat telfon?".


"Sudah lama, nomor hpnya tidak bisa dihubungi lagi Bu, setelah malam itu aku dan dia tidak pernah mengobrol lagi ataupun hanya sekedar bertukar kabar saja Bu".


"Bersabarlah Nak, mungkin dia sedang sibuk disana, kalaupun dia kembali dia pasti akan datang menemui dirimu terlebih dahulu".


"Apakah Rifki telah melupakan diriku Bu? Dan sudah bertemu dengan orang yang lebih baik daripada diriku sehingga dirinya melupakanku".


"Percayalah dia tidak akan melupakanmu Nak, dia pasti akan menepati janjinya nanti"


Theo seakan akan menikmati pertarungan itu tanpa adanya beban sedikitpun karena energinya masih terkumpul banyak, jika orang yang begitu ahli dalam bermain tongkat sudah pasti mereka akan mampu dengan mudah untuk mengalahkan orang yang bersenjata tajam seperti pisau, golok, pedang, dan lain sebagainya.


Pertarungan itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya Theo seperti kelihatan kelelahan, sudah begitu banyak bekas goresan yang ada didalam tubuhnya saat ini, dan bahkan tangan yang sedang mengenggam tongkat itu telah berlumuran dengan darah segarnya.


"Ternyata kalian bermain dengan curang rupanya, hingga kalian bisa melukaiku dengan dalam seperti ini" Ucap Theo sambil memegangi tangannya yang tersayat oleh pisau itu.


"Kenapa tidak? Jika kau masih ingin hidup berhentilah bermain main dengan kami dan serahkan semua harta yang kau miliki itu, maka kami akan membiarkanmu pergi dari sini dengan selamat".


"Bagaimana aku bisa percaya dengan kalian semua bahwa kalian akan membiarkan kami pergi dengan selamat dari sini? Kalian pasti akan menyerang kami dengan diam diam nantinya bukan?".


"Oh tentu, kami kan memang seorang baj**gan"


"Mengaku pun akhirnya, kau memanglah seorang baj**gan yang sejati, dan hanya berani menyerang secara berkeroyokan seperti ini"


"Kami tidak peduli, jika kau masih ingin tetap hidup maka serahkan saja apa yang kami minta"


"Aku hidup dan mati itu sama saja, kau tidak akan bisa memiliki harta itu, karena itu bukanlah hakmu".


Meskipun sedang bercakap cakap akan tetapi mereka tak henti hentinya untuk terus menyerang kearah Theo, tenaga mereka seakan akan tiada habisnya karena mereka bisa menyerang kearah Theo secara bergantian akan tetapi Theo sama sekali tidak bisa berhenti untuk menyerang ataupun menghindari serangan tersebut.


Meskipun darahnya sudah bercucuran sangat banyak akan tetapi Theo tidak mudah untuk dikalahkan dengan begitu saja, luka sayatan yang ada ditubuhnya sama banyaknya dengan luka sayatan yang ia berikan kepada orang orang tersebut.


"Aku harus keluar Bu, kasihan Theo mereka main kroyokan begitu saja" Ucap Nadhira yang melihat Theo sedang kewalahan.


"Jangan Dhira, itu bahaya".


"Pak buka kuncinya, aku ingin keluar".


"Tapi Non..."


"Tidak akan terjadi sesuatu kepadaku Pak, percayalah aku akan baik baik saja, aku tidak bisa melihatnya terus terdesak seperti itu, dia telah berkorban demi kita lalu kenapa kita tidak membantunya".


Nadhira terus memaksa untuk turun dari mobil tersebut, ia tidak bisa melihat Theo yang seakan akan sedang terdesak seperti itu, akan tetapi Pak Mun masih tetap pada pendiriannya bahwa dia tidak akan mau mengambil resiko untuk membiarkan Nadhira turun dari mobil tersebut.


"Untuk kali ini saya tidak bisa membiarkan Non Dhira keluar dari mobil, maafkan saya Non karena itu sangat berbahaya Non".


"Pak! Jangan egois, dia membutuhkan bantuan kita lalu kenapa kita tidak membantunya? Pak, biarkan aku turun sekarang juga!"


"Bukan begitu maksud saya Non, meskipun Non Dhira marah kepada saya, saya merasa tidak masalah Non tapi saya tidak akan membiarkan Non Dhira untuk turun sekarang karena sama saja itu dengan mengantarkan nyawa Non sendiri"


"Bapak tidak akan membiarkan aku kenapa kenapa bukan Pak? Lalu bagaimana kalau aku nekat memecahkan kaca mobil ini dan lompat keluar untuk menyelamatkan dirinya? Apakah Bapak masih tetap pada pendirian Bapak nantinya?"


"Jangan keras kepala Non, saya lakukan ini hanya untuk keselamatan Non Dhira saja, saya mohon dengan sangat Non, tolong tetaplah didalam mobil bersama sama Non".


"Untuk apa jika aku selamat kalau orang yang telah melindungiku tidak selamat, mereka pembegal Pak, tidak akan peduli walaupun mereka harus menghilangkan nyawa seseorang demi ambisinya".


"Tapi Non...".


"Pak, biarkan aku keluar sekarang! Aku harus menolong dia Pak, dia tidak akan bisa bertahan terlalu lama nantinya, Pak turunkan saya!".

__ADS_1


"Tidak Non, sebaiknya Non Dhira jangan memaksa untuk keluar, diluar bahaya Non".


"Pak!"


"Sudahlah Non, saya mohon jangan memaksa untuk keluar seperti ini Non" Ucap Pak Mun dengan nada sedikit sedih ketika Nadhira memaksa untuk meminta keluar dari mobil tersebut.


Didalam mobil tersebut Nadhira nampak terlihat begitu marah kepada Pak Mun karena dia tidak segera membukakan pintu mobil yang telah dikuncinya itu karena ia tidak ingin membuat Nadhira terluka, biar bagaimanapun kondisi Nadhira masih belum benar benar stabil seperti sebelumnya.


"Pak Mun tolong buka pintunya sekarang juga, aku ingin turun dan menolong Theo, kasihan dia jika harus dipukuli seperti itu terus terusan apalagi tangannya juga telah terluka begitu parah sampai sampai lengan bajunya berubah menjadi merah".


"Tidak Non, itu sangat berbahaya bagi Non Dhira, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada Non Dhira".


"Apa Bapak takut dimarahi sama Oma? Soal Oma biar aku yang menghadapinya, sekarang buka pintunya Pak!"


"Bukan itu yang saya takutkan Non, tapi keselamatan Non Dhira jauh lebih penting bagi saya".


"Sudah Dhira, Pak Mun benar Nak" Sela Bi Ira.


"Tidak Bu, jika terjadi sesuatu dengan Theo, aku akan menyesalinya karena tidak bisa berbuat apa apa, aku harus menolongnya sekarang juga Bu".


"Tapi Nak, luka jahitanmu masih belum sepenuhnya kering, kau juga baru saja menjalani operasi pengangkatan ginjal, apa kau sama sekali tidak memikirkan tentang keselamatanmu Nak?"


"Keselamatan orang lain jauh lebih penting daripada keselamatan diriku sendiri Bu, kenapa sih kalian sama sekali tidak mengerti dengan perasaanku saat ini seperti apa? Aku tidak bisa membiarkan orang lain terluka karena diriku sendiri Bu".


"Nak, kami melakukan ini hanya untukmu Nak, mengertilah apa yang Ibu lakukan semua itu demi dirimu Nak, Ibu tidak ingin kau turun dan membiarkan kau membahayakan nyawamu sendiri, Ibu tidak ingin kehilangan dirimu lagi seperti sebelumnya".


"Lalu bagaimana dengan keadaan Theo Bu? Dia sedang berjuang sendirian diluar sana, demi siapa dia berjuang? Apa kalian tega membiarkannya begitu saja seperti itu?".


"Yakinlah bahwa dia bisa mengatasi ini semua, bukannya tadi dia berpesan agar jangan membuka kunci pintu sampai dia kembali?".


"Tadi situasinya berbeda Bu, sekarang dia sedang terdesak seperti itu".


"Sudahlah Dhira kita nikmati saja pertarungan itu, lagi pula benar apa yang dikatakan oleh dua orang itu, kau sendiri saja masih belum benar benar sembuh setelah operasi itu" Ucap Nimas.


"Lalu bagaimana dengan Theo? Apakah aku harus diam saja seperti ini ketika melihat dirinya yang dihajar habis habisan oleh orang orang itu?" Batin Nadhira menjerit.


"Percayalah dia akan baik baik saja, lagi pula mereka ada benarnya juga".


Hal itu membuat orang yang terkena serangan Theo seketika kehilangan nyawanya ditangan Theo, tanpa disadari bahwa orang yang telah ia bunuh adalah pimpinan dari orang orang yang telah menyerangnya saat ini sehingga ketika mengetahui bahwa pimpinannya telah dikalahkan membuat mereka segera membubarkan diri.


Melihat mereka kabur dari tempat itu hal itu membuat Pak Mun segera membuka kunci pintu mobil tersebut dan membiarkan Nadhira untuk keluar dari dalam mobil yang ia naiki.


"Theo kau tidak apa apa? Kau mengeluarkan darah begitu banyak Theo, apa kau tidak apa apa?" Tanya Nadhira sambil mendekat kearah Theo.


"Aku tidak apa apa Dhira, ini hanya luka kecil saja".


Theo lalu berjalan mendekat kearah orang yang tengah terbaring didekatnya, ia mencoba untuk memeriksa denyut nadinya dan pernafasannya melalui hidungnya, ia begitu terkejut ketika jantung pria itu sudah berhenti berdetak begitu saja.


"Gimana kondisinya?"


"Innalilahi... Laki laki ini meninggal Dhira" Ucap Theo yang terkejut setelah meneriksanya.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Theo?" Tanya Nadhira.


"Aku tidak sengaja membunuhnya Dhira, aku juga tidak tau apa yang harus aku lakukan".


Tak beberapa lama kemudian tiba tiba datanglah sebuah mobil polisi ketempat itu, entah siapa yang telah melaporkannya sehingga polisi tersebut sudah tiba ditempat itu saat ini.


Seketika itu juga tempat tersebut menjadi sangat ramai, mayat orang tersebut segera diturupi oleh kardus kardus yang terdapat ditempat tersebut dan juga telah diamankan oleh pagar pembatas keamanan wilayah.


"Atas kasus pembunuhan malam ini, anda harus ikut kami kekantor polisi" Ucap polisi tersebut kepada Theo yang tengah berdiri berhadapan.


"Apa! Bagaimana bisa seperti itu Pak! Disini saya adalah korban Pak".


"Masalah itu bisa anda jelaskan dikantor polisi nanti".


Polisi tersebut segera mengamankan Theo dan memborgol kedua tangannya, meskipun dengan keadaan yang bersimbah darah sekalipun polisi itu tetap menangkap Theo dengan kasar.

__ADS_1


Theo dengan diam diam menyerahkan benda kecil berbentuk pena kepada Nadhira, para polisi itu hanya tau bahwa orang tersebut mati karena benda tajam akan tetapi mereka tidak tau benda seperti apa yang langsung membuat orang tersebut meninggal.


Theo hanya bisa pasrah ketika kedua tangannya tiba tiba diborgol oleh polisi tersebut, akan tetapi Nadhira sama sekali tidak terima jika Theo harus ditangkap hanya karena ingin melindunginya dari serangan begal yang ada dijalan itu.


"Tidak bisa seperti itu Pak! Kami tidak punya pilihan lain selain beladiri, mereka ingin merampas hak kami jadi apa salahnya kalau kami mau mempertahankan apa yang seharusnya milik kami" Ucap Nadhira.


"Maaf Mbak ini sudah peraturan hukum, anda tidak bisa membantahnya, saudara telah menghilangkan nyawa seseorang dengan begitu saja".


"Disini kami adalah korbannya Pak! Jika kami yang mati dalam kejadian ini apa Bapak mau bertanggung jawab atas kematian kami nantinya? Pak apa salah kami jika kami hanya mempertahankan apa yang seharusnya milik kami, Bapak tidak boleh membawanya pergi seperti ini"


"Maaf Mbak kami hanya menjalankan tugas saja, apa Mbak juga mau dibawa kekantor polisi karena telah melanggar hukum?"


"Sudah Dhira, aku ngak apa apa kok, biarkan mereka bertingkah dengan semau mereka, lagi pula kita tidak akan mampu untuk membantah hukum yang berlaku di negara ini".


"Tapi Theo, kau tidak salah karena kau hanya membela diri untuk melindungi kami".


"Salah dan tidak adalah semua sama saja dimata hukum yang berlaku Dhira, sudah ya, biarkan mereka membawaku pergi".


"Tidak Theo, kau tidak boleh pergi".


"Dhira, dengarkan aku baik baik, ini sudah menjadi tanggung jawabku, karena memang aku yang telah membunuh orang ini".


"Tapi Theo.."


Melihat itu Bi Ira dan Pak Mun segera bergegas mendatangi Nadhira, mereka tidak bisa berbuat apa apa untuk mencegahnya untuk membawa Theo pergi dari tempat itu, sementara Nadhira hanya mampu bertatapan dengan Theo.


"Baik Pak, bawa aku pergi sekarang".


"Tidak Theo, jangan pergi".


"Jaga dirimu baik baik Dhira".


Para polisi itu segera membawa Theo pergi dari tempat itu, dan memasukkannya kedalam mobil dinas kepolisian, Nadhira hanya bisa menatap kepergian Theo dengan perasaan yang bercampur aduk.


Nadhira segera mengajak Pak Mun dan Bi Ira masuk kedalam mobilnya untuk mengejar mobil polisi yang membawa Theo tersebut, Pak Mun hanya bisa menuruti kemauan Nadhira tanpa membantahnya sedikitpun itu.


Tak beberapa lama kemudian sampailah mereka disebuah kantor polisi terdekat dari tempat itu, Theo segera dimasukkan kedalam sel tahanan, sementara Nadhira hanya mampu melihatnya dari luar karena dia tidak diizinkan untuk masuk kedalamnya.


Nadhira hanya bisa menelfon Sarah dan mengatakan bahwa ia sedang berada di kantor polisi karena kasus pembegalan yang ia alami saat ini, Nadhira berharap bahwa Omanya akan mampu untuk mengeluarkan Theo dari dalam tahanan.


Berhari hari lamanya mereka untuk menyelesaikan beberapa sidang yang terkait dengan Theo, beberapa pengacara telah digerakkan untuk mereka agar bisa menghadapi sidang yang akan datang, kasus yang dialami oleh Theo sangat rumit karena dirinya juga dituduh mengikuti sebuah geng jalanan, apalagi dia adalah ketuanya.


"Kau pasti bisa keluar dari tahanan ini secepatnya Theo, kita akan berusaha untuk itu" Ucap Nadhira yang sedang duduk didepan Theo.


"Terima kasih Dhira, mereka benar bahwa aku adalah ketua dari geng jalanan, ini pasti akan sulit untuk dilakukan apalagi dengan kasus itu"


"Kau tidak salah dalam membunuh mereka tanpa sengaja, hanya ada dua pilihan untuk menghadapi para pembegal itu, bunuh atau dibunuh itu saja yang ada, jika kau tidak membunuh mereka mungkin kau yang akan dibunuh oleh mereka".


"Tapi Dhira, yang mereka tau hanya aku yang bersalah disini karena telah membunuh orang itu".


"Maafkan aku, karena telah melibatkan dirimu dalam urusanku Theo, andai saja pada waktu itu aku tidak mengajakmu mungkin kau tidak akan masuk kedalam penjara seperti ini"


"Itu bukan salahmu Dhira, sudah seharusnya diriku untuk melindungimu" Ucap Theo sambil mengusap pelan pipi Nadhira.


"Aku akan meminta Oma untuk mengeluarkan dirimu secepatnya dari sini Theo".


"Kau tidak perlu khawatir Dhira, lagian disini juga enak kok, hanya bersantai santai saja, kau tau disini aku juga tidak sendirian kok, masih banyak yang lainnya juga, rasa rasanya aku lebih betah disini".


"Kau hanya membual saja Theo, bagaimana bisa ada orang yang betah tinggal dipenjara lama lama".


"Aku serius dalam hal ini Dhira, tidak ada yang lebih menyenangkan selain tinggal didalam penjara seperti ini, ya mungkin nantinya namaku akan dicap jelek karena pernah mendekam dipenjara seperti ini".


"Kau tenang saja, aku akan berusaha untuk mencari pengacara yang bagus untuk membuatmu keluar dari penjara ini, dan akan membersihkan namamu".


"Aku percaya kepadamu Dhira, tapi... Itu tidak akan mungkin terjadi, karena aku juga adalah ketua dari geng jalanan seperti yang mereka tau bahwa aku sering membuat onar dimana mana".


"Jangan pesimis dulu Theo, kita coba saja".

__ADS_1


"Baiklah Dhira" Ucapnya sambil tersenyum kepada Nadhira senyum yang begitu tulus.


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 terima kasih ...


__ADS_2