Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Terlalu bersemangat untuk belanja


__ADS_3

Setelah beberapa lama kemudian akhirnya pemilik toko dan juga karyawan selesai dalam menjumlahnya, Mereka pun mulai mengemasnya dalam sebuah kantong plastik dan kardus yang telah disediakan ditoko tersebut.


Rifki segera membayar pengeluaran yang ia keluarkan tersebut dengan puluhan lembar uang kertas yang bernominal seratus ribuan, Pemilik toko tersebut menerima uang tersebut, lalu ia menghitungnya, uang yang diberikan oleh Rifki mampu untuk membeli toko tersebut.


Pemilik toko hampir saja kehilangan nyawanya karena melihat begitu hanyak uang yang berada ditangannya sekarang ini hal tersebut membuatnya begitu terkejut hingga ia lupa untuk bernafas, apalagi ketika mendengar bahwa Rifki berkata.


"Ambil saja kembaliannya".


Hal tersebut membuat pemilik toko merasa bahagia dua kali lipatnya bukan hanya dagangannya yang laku terjual tetapi juga mendapat keuntungan dari uang kembalian tersebut, ia menganggap bahwa kedua remaja yang ada dihadapannya saat ini adalah anak dari orang kaya.


Sehingga dengan mudahnya Rifki mengatakan hal tersebut, sebenarnya uang tersebut masih kelebihan dari nominal yang harus Rifki bayar, membuat pemilik toko merasa ragu harus bersikap seperti apa dihadapan Rifki.


Pakaian Rifki begitu rapinya seperti seorang pemilik sebuah perusahaan yang besar, sementara Nadhira masih berpakaian seragam sekolah, entah apa hubungan antara keduanya, dengan pakaian seperti itu membuat Rifki sudah terlihat seperti dewasa sehingga membuat pemilik toko bertanya tanya mengenai siapa pemuda yang datang ketoko mereka tersebut.


Pikiran itu segera ditepisnya begitu saja, ia tidak ingin bahwa sepasang pemuda dan pemudi ini kecewa atas pelayanannya sehingga menyebabkan kerugian yang besar kepada tokonya tersebut, mereka tidak ingin macam macam sehingga menyebabkan pemuda yang ada dihadapannya saat ini marah, dan akan dengan mudahnya menghancurkan toko yang telah ia bangun bertahun tahun itu.


Melihat kedua anak remaja yang ada didepannya tidak membawa sepedah motor membuat pihak toko kebingungan harus menatanya dimana, karena belanjaan tersebut cukup berat jika harus diangkat oleh keduanya tanpa kendaraan.


Pemilik toko tersebut tidak mengetahui bahwa Rifki memang tidak membawa sepedah motornya melainkan membawa mobilnya yang kebetulan sedang parkir dikejauhan sehingga pemilik toko tidak bisa melihatnya karena tidak terparkir didepan tokonya.


"Ada apa pak?". Tanya Rifki yang melihat pemilik toko tersebut kebingungan.


"Kami harus menata ini dimana mas? Masnya tadi kesini naik apa? Lalu bagaimana cara masnya untuk membawanya?".


Rifki segera menoleh kearah dimana beberapa kardus tertumpuk dengan rapinya dipojok toko tersebut, kardus kardus itu berisikan makanan yang Rifki beli sebelumnya, Rifki menggaruk kepalanya karena ia terlalu bersemangat untuk memilih cemilan sehingga ia tidak menduga bahwa hampir separuh isi toko tersebut telah Rifki beli.


Melihat Rifki menoleh kearah tumpukan kardus tersebut membuat Nadhira ikut menoleh kearah yang sama, Nadhira meringis dan menggelengkan kepalanya melihat makanan ringan yang dibeli oleh Rifki saat ini, Rifki memang tidak pernah berbelanja sebelumnya sehingga ia terlalu bersemangat untuk memilih makanan tersebut.


"Kau terlalu bersemangat Tuan Muda, lihatlah bagaimana nasip anak buahmu itu yang harus memikirkan bagaimana cara untuk membawanya pulang". Ejek Nadhira kepada Rifki.


Rifki tertawa mendengar ejekan dari Nadhira tersebut, memang dirinya begitu bersemangat ketika melihat ada banyaknya cemilan yang sangat enak untuk dinikmati didalam toko tersebut sehingga ia tidak terfokus pada jumlah barang yang sudah ia beli.


Rifki begitu menikmati hal ini, karena sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal ini, entah mengapa hari ini ia berinisiatif untuk mengajak Nadhira untuk berbelanja, kesedihan karena kepergian kakeknya kini perlahan mulai mereda karena bahagianya ia dalam berbelanja.


Ini adalah hari pertama bagi Rifki untuk belanja, sehingga ketika ia melihat banyaknya makanan membuatnya bersemangat sekali untuk membelinya, tanpa ia sadari bahwa makanann yang ia beli begitu banyaknya, Rifki juga memikirkan bagaimana caranya makanan itu dapat masuk kedalam mobilnya.


"Oh soal itu, bapak ngak usah khawatir, anak buah saya akan ambil kemari setelah ini".


"Gitu ya mas, ya sudah kalo begitu, soalnya kami takut masnya tidak bisa membawanya".


"Bisa kok pak".


Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk keluar dari toko tersebut, ia juga memberi pertanda kepada anak buahnya untuk mengambil belanjanya ditoko tersebut.


Melihat Rifki memberikan tanda kepada mereka, mereka segera bergegas untuk masuk kedalam toko tersebut, keduanya juga merasa begitu terkejutnya melihat isi toko yang hampir kosong tersebut, keduanya segera mendekat kearah pemilik toko tersebut.


"Permisi pak, saya mau mengambil belanjaan pemuda yang tadi". Ucap Reno.


Pemilik toko itu melihat kearah dimana Reno beras dan melihatnya secara teliti mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut ia lihat tanpa terkecuali sedikitpun.


"Oh apakah masnya adalah anak buah dari mas yang tadi belanja kemari?".


"Iya pak, itu bos saya".

__ADS_1


"Kalo begitu, itu mas belanjaannya sudah saya kemas". Ucap pemilik toko sambil menunjuk kearah tumpukan kardus.


Keduanya segera menoleh kearah yang ditunjukkan oleh pemilik toko tersebut, mereka bergitu terkejut mengenai apa yang dibeli oleh Rifki, ternyata tumpukan yang mereka lihat pertama kali adalah cemilan yang telah dibeli oleh Tuan Mudanya.


Reno hanya menggelengkan kepalanya menanggapi hal itu, sementara supirnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia bingung harus bagaimana caranya membawa barang belanjaan tersebut.


"Bagaimana membawanya mas?". Tanya sang supir kepada Reno.


"Masukkan saja kebagasi sampai penuh, nanti sisanya taruh dikursi belakang saja".


Reno memberi arahan kepada supir tersebut, pemilik toko dan karyawan tidak tinggal diam begitu saja, mereka juga ikut membantu untuk mengangkat belanjaan tersebut dan menaruhnya kedalam mobil dengan susah payahnya.


Sementara Rifki mengajak Nadhira untuk masuk kedalam mobilnya, setelah itu Rifki melangkah kesebuah toko yang agak jauh dari tempat sebelumnya, Nadhira memperhatikan kemana Rifki pergi melalui kaca mobil tersebut.


Tak beberapa lama kemudian Reno dan sang supir datang menghampiri Nadhira setelah selesai mengangkat barang belanjaan Rifki, Reno terkejut ketika melihat Nadhira sendirian didalam mobil tersebut.


"Kemana Tuan Muda?". Tanya Reno.


"Ngak tau, tadi aku lihat dia masuk kedalam toko yang ada disana". Nadhira menunjuk kesebuah toko dimana Rifki masuk.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya Rifki keluar dari toko tersebut, ia segera bergegas mendatangi mobilnya, setelah sampai ia segera naik kedalam mobil.


Pandangan yang pertama kali ia lihat adalah tumpukan makanan ringan yang sudah berada didalam kursi mobil dibagian belakang, hari ini Rifki begitu bersemangat untuk belanja sehingga ia tidak memperkirakan akan jadi seperti ini pada akhirnya, Rifki hanya bisa tertawa melihat hal itu.


"Kamu dari mana?". Tanya Nadhira.


"Merasa tertarik aja dengan apa yang dijual di toko itu". Jawab Rifki.


"Emang apa yang dijual?".


"Oh,, kenapa ngak dibungkus sekalian? Buat pajangan dikamar?".


"Kasihan kalo cuma buat pajangan, dia kan cewek".


"Kau kira aku apa!!! Apa aku bukan cewek? Sehingga kau mau aku jadi pajangan dimarkas?".


Nadhira mencubit pinggang Rifki dengan gemesnya, sementara Rifki hanya meringis kesakitan dan juga geli karena cubitan yang diberikan oleh Nadhira tersebut.


Rifki menyuruh supirnya untuk segera menjalankan mobilnya menuju kemarkas, diperjalanan keduanya tidak bisa menghentikan tawa mereka, karena Rifki terus menggoda Nadhira sementara Nadhira terus melontarkan cubitan kepada Rifki.


"Sudah Nadhira, nanti kalo aku ngak doyan makan tanggung jawab lo". Ucap Rifki tertawa kearah Nadhira karena pinggangnya yang terus dicubiti oleh Nadhira.


"Biarin, biar tambah kurus".


"Ya Tuhan selamatkanlah diriku ini, kasihanilah diriku".


"Rifki". Ucap Nadhira dengan bibir yang dimajukan.


Rifki tertawa melihat wajah imutnya Nadhira, sementara Reno dan supir tersebut hanya bisa pasrah mendengar candaan keduanya yang membuat mobil tersebut cukup ramai.


Mobil itu terus melaju kemarkas milik Rifki dengan begitu cepatnya sehingga mereka sampai dengan cepat kemarkas tersebut, Nadhira dan Rifki segera turun dari mobil tersebut, Rifki menyuruh anak buahnya yang lainnya untuk membantu Reno mengangkati bahan belanjaannya.


Setelah kedatangan Rifki kemarkas tersebut, Bayu segera menyambut mereka, dan mengajak Nadhira untuk kehalaman belakang lebih tepatnya ketempat biasanya Nadhira akan berkumpul dengan sahabatnya dimarkas, sementara Rifki memilih untuk kekamarnya dan mengganti bajunya.

__ADS_1


Dihalaman belakang Vano dan Nova sedang berbincang bincang, setelah kedatangan Nadhira ketempat itu membuat Nova izin undur diri dari tempat tersebut, kini tersisa tiga orang digazebo tersebut.


"Nadhira kamu pulang sekolah langsung dibawa kesini?". Tanya Vano yang melihat Nadhira masih mengenakan seragam sekolah.


"Iya Van, aku kan diculik oleh bosmu". Sahut Nadhira dengan cepatnya.


Vano menggaruk kepalanya yang tidak gatal menanggapi ucapan Nadhira, sementara Bayu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Vano yang seperti tidak mengenali siapa bosnya tersebut.


Tak beberapa lama Rifki datang ketempat itu sambil membawakan beberapa cemilan ditangannya dan diikuti oleh Reno yang berada dibelakangnya sambil membawakan minuman dingin dan beberapa gelas diatas nampan.


"Lah kemana Susi bay?". Tanya Rifki kepada Bayu.


"Ngak tau, katanya pulang sekolah mau kesini, tapi sampek sekarang belum datang juga". Jawab Bayu sambil melihat jam ditangannya yang menunjukkan pukul 4 sore.


"Mungkin ada jam tambahan kali Bay". Sahut Nadhira.


"Mungkin bisa jadi itu Dhir".


Kelimanya mulai bercanda gurau bersama, seperti sebuah keluarga besar yang tengah berkumpul bersama, tak beberapa lama kemudian datanglah seseorang yang tiba tiba mendatangi Rifki ditempat itu, orang itu tidak lain adalah Siswono pelatih umum di gengcobra atau lebih tepatnya melatih anak anak sebelum masuk kegeng tersebut.


"Selamat Tuan Muda karena sudah menjadi ketua sekaligus pemimpin". Ucap Siswono


"Terima kasih Pak, oh iya ada apa ya Pak? kenapa Bapak tiba tiba kemari". Jawab Rifki.


"Ada yang ingin saya bicarakan Tuan Muda, ini hal yang penting".


"Kalo begitu ayo keruangan saya sekarang".


Rifki segera melangkahkan kakinya untuk menjauhi gazebo tersebut dan berjalan menuju keruang kerja milik kakeknya sebelumnya dan kini sudah menjadi ruangan milik Rifki.


Siswono mengikuti Rifki dari belakang, melihat Rifki yang tergesa gesa seperti itu membuat Nadhira dan Bayu saling berpandangan satu sama lainnya, hal penting apakah yang akan dibicarakan oleh pelatih tersebut.


Rifki segera masuk kedalam ruangan tersebut dan duduk dimeja yang pernah kakeknya duduki sebelumnya, sementara Siswono duduk berhadapan dengan Rifki sekarang.


"Ada apa pak?".


"Kemarin pada waktu latihan sore ada yang datang ketempat latihan Tuan Muda, ia mencari tau mengenai Tuan Besar dengan seriusnya".


"Lalu apa Pak Sis menjawabnya dengan benar mengenai kakek?". Tanya Rifki sambil berdiri dihadapan Siswono.


"Tidak Tuan Muda, saya tidak berani, saya hanya bilang kalo saya tidak mengenal Aryabima, saya kemari hanya ingin memberitahukan hal ini kepada Tuan Muda, mungkin saja Tuan Muda mengenal orang tersebut".


Siswono terus menceritakan kejadian sore itu kepada Rifki, ia juga mengatakan bagaimana ciri ciri orang tersebut, Rifki terus mengingat ingat orang yang memiliki ciri ciri tersebut tetapi Rifki sama sekali tidak pernah melihat orang itu.


Menurut cerita yang disampaikan oleh siswono kepadanya orang itu bertanya tanya mengenai keluarga Aryabima dan dimana keluarga tersebut, tetapi Siswono sama sekali tidak menjawabnya karena ia juga takut kalau orang yang mendatanginya adalah orang yang ingin berniat jahat kepada pimpinannya.


Sebelumnya Aryabima tidak pernah menceritakan mengenai orang tersebut kepada Rifki membuat Rifki bertanya tanya kenapa orang itu bertanya mengenai kakeknya kepada pelatih umum tersebut, apa hubungan orang itu dengan kakeknya sehingga orang itu terus bertanya kepada pelatih umum tentang kakeknya kenapa tidak langsung bertanya kepada kakeknya saja.


"Tidak, saya tidak mengenalnya, lain kali jika ada yang menanyakan hal tersebut lagi jangan beritahu apa apa kepada dia, lalu apakah dia juga mengetahui markas ini?".


"Sepertinya tidak Tuan Muda, tapi saya tidak yakin bahwa selamanya orang itu tidak akan mengetahui tempat ini, cepat atau lambat mereka pasti akan mengetahuinya".


Rifki terdiam beberapa saat mengenai apa yang dikatakan oleh Siswono sebelumnya, ia memikirkan bagaimana caranya agar markasnya tidak mudah diketahui oleh orang luar, Rifki menduga bahwa hal tersebut berkaitan dengan kepergian dari kakek dan juga papanya.

__ADS_1


Setelah menyampaikan hal tersebut Siswono segera pamit dan pergi dari markas tersebut, Rifki kembali memikirkan siapa orang tersebut apa hubungannya dengan keluarganya, Rifki teringat dengan perkataan kakeknya bahwa ia harus lebih giat untuk berlatih ilmu beladiri agar mampu melindungi dirinya dan juga keluarganya.


__ADS_2