
Melihat gadis itu ketakutan membuat Panji tanpa sadar tengah tersenyum kearah gadis itu karena gadis itu begitu lucu menurut Panji, ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan gadis ini, gadis yang sedari tadi ia suruh untuk segera pulang dan dengan beraninya menolak perintah itu sekarang tengah bersembunyi dibalik punggungnya dengan rasa ketakutan.
"Apa kau takut Nona?". Tanya Panji.
Pertanyaan itu seketika menyadarkan tentang apa yang dilakukan oleh Indah saat ini, ia merasa sangat malu dengan apa yang dia lakukan, ia segera menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya karena menahan rasa malu.
"Tidak". Jawab Indah dengan cepatnya.
"Lalu kenapa kau menutup wajahmu?".
"Tidak apa apa, jangan menatapku seperti itu".
"Maafkan aku Nona, karena telah berani menatap wajahmu". Ucap Panji sambil menundukkan kepalanya dihadapan Indah.
"Tidak apa apa, jangan diulangi lagi".
"Sebaiknya Nona kembali kerumah, aku akan mencari tau tentang keberadaan dari binatang buas itu". Saran Panji kepada Indah.
"Lalu bagaimana jika dirimu yang terluka nantinya?". Tanpa sadar Indah mengatakan hal itu kepada Panji.
"Nona tidak perlu menghawatirkan apa pun yang akan terjadi kepadaku nantinya, karena Allah selalu bersamaku dan melindungiku".
Panji berbicara kepada Indah dengan menundukkan kepalanya, Panji merasa sangat bersalah karena telah berani menatap wajah gadis yang ada dihadapannya saat ini dengan cukup lama.
"Kenapa kau menundukkan kepalamu?". Tanya Indah.
"Karena aku tidak berhak untuk menatap wajahmu terlalu lama, aku bukanlah mahrammu, sebaiknya dirimu segera kembali kerumahmu untuk saat ini".
"Lalu bagaimana dengan Adikku?".
"Ini menyangkut hal gaib, kau sebaiknya tidak ikut campur dalam hal ini, aku tidak ingin ada penduduk didesa ini yang akan dalam bahaya malam ini".
"Aku tidak mau kembali sebelum Adikku ditemukan".
"Jika itu keinginanmu, aku permisi dulu".
Panji segera bergegas untuk meninggalkan tempat itu menuju kesumber suara dimana suara serigala itu berasal, akan tetapi langkahnya segera berhenti ketika merasakan seseorang menarik bajunya kembali, ketika Panji menoleh gadis itu segera melepaskan pegangan tangannya.
"Ada apa lagi Nona?". Tanya Panji kepada Indah.
"Kenapa kamu malah meninggalkanku ditempat seperti ini sendirian?". Tanya Indah dengan nada sedikit kesal.
"Aku tidak mau Nona dalam bahaya yang akan menyulitkan diriku karena mengikutiku menuju kesumber suara, karena itu akan lebih berbahaya daripada ditempat ini". Ucap Panji sambil menundukkan kepalanya takut untuk melihat wajah gadis itu lagi.
"Lalu bagaimana kalau tiba tiba ditempat ini ada binatang buas yang menyeramkan itu dan kau meninggalkanku sendirian disini?".
"Mereka tidak akan datang kemari, jadi Nona tidak perlu takut dengan hal itu".
"Bagaimana bisa kau tau bahwa mereka tidak akan datang kemari?".
Serigala itu hanya mengaung diluar desa itu, karena mereka tidak mampu untuk memasuki desa ini karena adanya kekuatan Panji yang terpancarkan memenuhi keseluruhan pelosok desa itu sehingga kawanan serigala itu enggan untuk masuk kedalam desa.
Energi yang dipancarkan oleh Panji adalah energi yang paling ditakuti dibangsa gaib, karena energi itu berasal dari keris pusaka xingsi yang kekuatannya luar biasa dibangsa alam gaib.
Berbeda jauh dengan energi yang dipancarkan oleh Nimas, yang mampu membuah para mahluk gaib tunduk kepadanya hal itulah yang membuatnya disebut sebagai Ratu dari para iblis.
"Ada banyak hal yang tidak seharus kau ketahui tentang diriku Nona". Ucap Panji kepada gadis itu.
__ADS_1
"Baiklah baiklah, tapi tolong bawa aku bersamamu, aku takut sendirian disini, apa kau tega meninggalkan seorang gadis sendirian ditempat seperti ini?".
"Sebaiknya aku antarkan dirimu pulang terlebih dahulu Nona baru melanjutkan perjalananku nantinya, tolong bertahu alamat rumahmu kepadaku aku akan mengatarkan dirimu pulang".
"Tidak!! Aku mau ikut denganmu mengatasi para mahluk menyeramkan itu".
"Tetapi perjalananku cukup berbahaya Nona, nanti kau bisa celaka karena ikut dengan diriku".
Panji tidak mungkin bisa membawa gadis itu ikut bersamanya dalam mengatasi para mahluk gaib itu, atau mahluk itu mungkin akan mencelakai gadis itu jika ikut bersamanya nantinya.
"Tapi bagaimana dengan Adikku? Aku juga harus bertanggung jawab mengenai dirinya".
"Kau sangat keras kepala sekali Nona, bagaimana jika dirimulah yang dalam bahaya sebenarnya bukan Adikmu, bagaimana kau bisa mengatasinya?".
"Aku tidak takut menghadapi apapun, aku yakin kau pasti akan melindungiku nantinya bukan begitu? Kau adalah orang paling misterius yang pernah aku temui selama ini, kepedulianmu sama sekali tidak kau tunjukkan didepan semua orang".
"Bagaimana bisa kau seyakin itu Nona? Bagaimana kalau keyakinanmu itu berbeda jauh dari anganmu? Dan aku tidak datang untuk melindungimu melainkan membunuhmu, kita baru dua kali bertemu bagaimana kau bisa seyakin itu dengan sikapku?".
"Kau tidak akan bisa membunuhku bukan? orang sebaik dirimu tidak akan melakukan hal seperti itu bukan? Karena setiap orang yang aku temui selama ini mereka sangat berbeda jauh dari dirimu yang misterius dan dingin itu, aku yakin kau bukanlah orang jahat meskipun dengan sikap dinginmu itu".
Selama mengenal Panji, Indah tidak pernah melihat Panji tersenyum ataupun bercanda gurau dengan semua orang, bahkan Panji tidak pernah mengobrol dengan seseorang kecuali obrolannya begitu penting.
Karakter Panji yang dingin dan tidak mudah tertarik dengan seorang wanita membuat Indah kagum kepadanya meskipun Indah belum mengenali sosok seperti apa Panji tersebut.
Dari obrolan keduanya beberapa saat yang lalu, membuat Indah semakin yakin bahwa pemuda yang ada dihadapannya saat ini adalah pemuda yang baik hati meskipun harinya sedingin es batu.
"Apa hal yang membuatmu seyakin itu kepadaku? Kau bahkan tidak mengenaliku sama sekali Nona".
"Aku tau itu, kau memang tidak pernah memperkenalkan dirimu kepadaku selama ini, tapi apakah aku boleh mengenalmu?".
Panji bergegas membalikkan badan dari Indah, ia tidak ingin berlama lamaan ditempat itu apalagi sampai berdua duaan seperti saat ini, Panji tidak ada pilihan lain selain meninggal Indah ditempat itu akan tetapi Indah terus memaksa untuk ikut dengan Panji.
"Apa kau tega meninggalkanku disini sendirian?". Tanya Indah dengan nada sedihnya ketika melihat Panji membalikkan badannya membelakangi Indah.
"Baiklah kau bisa ikut denganku, tapi dengan satu syarat". Ucap Panji dengan pasrahnya.
Panji tidak bisa melihat seorang wanita yang bernada sedih kepadanya meskipun itu hanyalah sebuah hal yang sepele baginya, melihat sikap Indah membuat Panji teringat kembali dengan adik angkatnya yang sering manja kepadanya.
"Apa itu?". Tanya Indah dengan antusias dan kembali dengan semangat yang membara.
Tanpa berkata apa apa kepada Indah, Panji segera membuka ikatan tali yang saat ini sedang melilit ditangan kanan kirinya dan mengikatkannya menjadi satu tali yang cukup panjang, dengan menundukkan kepalanya Panji mengikatkan ujung dari tali tersebut kepergelangan tangan Indah dengan berhati hati agar tidak sampai menyentuh kulit Indah.
Setelah itu, Panji memegangi dengan erat ujung tali tersebut yang berlawanan dari ujung tali yang digunakannya untuk mengikat pergelangan tangan Indah karena ia tidak ingin menyentuh seseorang yang bukan mahramnya.
"Jangan lepaskan tali ini, dan ketika berjalan nanti jangan terlalu dekat denganku, berilah jarak minimal 1 meter dariku". Ucap Panji dengan membelakangi Indah dan bersiap untuk melangkah.
"Kenapa syaratnya sangat sulit seperti ini? Bagaimana kalau ada binatang buas yang tiba tiba menyerangku dari belakang? Apa kau tega melihatku dimakan oleh mereka?". Keluh Indah dengan syarat yang diberikan oleh Panji kepadanya.
"Jika kau tidak menginginkannya sebaiknya pulanglah kerumahmu, aku sama sekali tidak keberatan tentang hal itu". Ucap Panji yang mendengar keluhan Indah.
"Tidak tidak aku hanya asal bicara saja, aku mau kok dengan syarat ini, meskipun diikat seperti ini aku juga aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, asalkan aku bersamamu terus juga ngak masalah, ah maksudku aku bisa ikut mencari Adikku aku tidak akan mempermasalahkannya, ini hanya hal yang kecil saja". Ucap Indah dengan cepatnya.
Panji mengabaikan ucapan dari Indah dan dengan perlahan lahan Panji melangkah menuju ketempat dimana suara serigala itu berasal, semakin dirinya mendekat kearah itu semakin jelas kekuatan hitam yang ia rasakan ditempat itu, kekuatan itu seketika membuat Indah merasa sangat takut sehingga tanpa sadar dirinya mendekat kearah Panji.
"Apa yang kau lakukan? Bukankah kita telah sepakat untuk memberi jarak minimal 1 meter dengan kain panjang ini?". Tanya Panji yang merasakan jarak keduanya semakin dekat dan hal itu membuat Panji segera bergegas menjauh.
"Ah maaf, aku hanya merasa merinding tiba tiba ditempat ini". Ucap Indah.
__ADS_1
"Kecilkan suaramu itu, mahluk halus itu sedang berkumpul saat ini".
"Benarkah? Bagaimana kau tau tentang hal itu lagi?". Bisik Indah kepada Panji.
"Ada banyak hal yang tidak seharusnya kau ketahui dariku Nona".
"Iya ya ya... Aku tau itu, kau memang orangnya sangat tertutup dari yang lain, oh iya sebenarnya dimana kedua orang tuamu tinggal? Dan dimana kau berasal?". Tanya Indah dengan sangat penasarannya mengenai kehidupan Panji.
"Apa yang terjadi dengan kedua orang tuamu?". Tanya Indah lagi ketika melihat kediaman dari Panji, Panji seakan akan membisu seribu bahasa jika hal yang ditanyakan oleh Indah adalah mengenai kedua orang tuanya.
Panji tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Indah, ia terus melanjutkan perjalanan menuju ketempat dimana suara itu berasal sebelumnya, tanpa memperdulikan sosok Indah yang ada dibelakangnya saat ini.
Apa yang dilakukan oleh Panji seketika menciptakan wajah cemberut diwajah Indah, dan berusaha untuk menyesuaikan langkah Panji yang menurutnya cukup tergesa gesa itu, akan tetapi ketika keduanya sudah mendekat ketempat dimana tujuan keduanya, Panji segera memelankan laju jalannya.
"Bisa pelan sedikit ngak sih? Apa kau marah denganku karena pertanyaanku tadi? Aku tidak tau apa yang sudah terjadi kepada orang tuamu, aku minta maaf karena menanyakan hal seperti itu". Tanya Indah yang terus berusaha untuk menyesuaikan langkahnya.
"Lupakan saja". Jawab Panji singkat dan tanpa menoleh sedikitpun.
"Tapi aku benar benar minta maaf, baiklah aku akan diam". Putus Indah ketika lirikan Panji singkat.
Panji juga telah mengendalikan auranya yang sedari tadi terpancarkan ketika Indah terus berbicara kepadanya karena ia tidak ingin ada binatang buas gaib yang mendekat kearah keduanya sehingga para binatang buas itu tidak ada yang berani mendekat kearah keduanya karena energi yang terpancar dari pusaka xingsi yang mampu membuat mereka ketakutan untuk mendekat.
Panji dan Indah bersembunyi dibalik semak semak untuk melihat apa yang tengah terjadi didepan, nampak beberapa orang tengah berdiri dengan tegak dan juga diikuti oleh para mahluk gaib yang berwujud seperti siluman serigala yang hanya dapat dilihat oleh Panji seorang.
Indah hanya dapat melihat beberapa orang itu tengah berdiri dan juga beberapa anak kecil yang tengah diikat dengan erat dibelakang mereka, Indah menemukan bahwa Adiknya berada dibarisan anak anak yang diikat saat ini.
Ketika melihat Indah yang hampir saja membuka mulutnya untuk berteriak, Panji segera mentotoknya atau mengunci sarafnya agar Indah menghentikan apa yang akan diperbuat olehnya, seketika tubuh Indah tidak mampu untuk digerakkan seperti membeku seketika dan juga mulutnya yang tidak mampu mengeluarkan suara.
"Maafkan aku, aku harus melakukan ini kepadamu agar dirimu tidak membuat keributan dan akan menyebabkan dirimu celaka ditempat ini tanpa sepengetahuanku, aku harus mengatasi mereka secepatnya". Bisik Panji kepada Indah.
Panji mengintai tempat itu dengan seksama dan berusaha untuk mengukur kekuatan mereka sebelum dirinya bisa menghadapi mereka, Panji mengetahui bahwa kekuatan dari siluman itu cukup kuat daripada siluman yang sering ia lawan selama ini akan tetapi Panji yakin dapat mengalahkannya.
"Sepertinya aura misterius itu sudah menghilang dari desa". Ucap seseorang yang berdiri paling depan memimpin mereka.
Aura misterius yang dimaksud oleh orang itu adalah aura yang tadinya dikeluarkan oleh keris pusaka xingsi dari dalam tubuh Panji yang saat ini sudah dikendalikan olehnya.
"Benar Tuan, apa yang harus kita lakukan selanjutnya, apakah kita akan masuk kedalam desa itu saat ini?". Tanya seseorang yang berada disamping pemimpin.
"Tunggu beberapa saat lagi, sampai pemilik dari aura itu benar benar sudah pergi dari desa, kita harus menangkap anak anak itu untuk dijadikan tumbal agar pemimpin kita semakin kuat".
"Baik Tuan".
Panji mendengar seksama apa yang mereka katakan dan apa yang akan mereka lakukan kepada anak anak yang tidak berdosa itu, sekarang dirinya mengetahui bahwa anak anak itu akan dijadikan sebagai tumbal untuk mendapatkan kekuatan yang telah dijanjikan oleh bangsa gaib.
"Pemilik aura itu tidak akan keluar dari desa ini sebelum kalian menjadi sasaran utamanya". Ucap Panji sambil tersenyum yang cukup menakutkan. "Jadi mereka melakukan ini untuk mendapatkan kekuatan dari bangsa gaib, siapa sebenarnya dalang dibalik penumbalan itu?". Guman Panji pelan.
Indah yang tidak mampu menggerakkan tubuhnya hanya bisa melotot mendengar ucapan mereka karena hanya kedua matanyalah yang dapat ia digerakkan karena Panji telah mengunci sarafnya.
Apalagi ketika dirinya menatap kearah Panji yang sedang menampakkan senyuman yang begitu menakutkan, membuat dirinya sampai menelan ludahnya sendiri karena begitu terkejutnya ketika melihat wajah Panji yang seperti itu.
"Siapa pria ini sebenarnya, kenapa senyuman begitu menakutkan, mungkinkah aku mengenal orang yang salah! Ibu... Tolong anakmu ini! Ayah... Selamatkanlah aku". Batin Indah menjerit.
"Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi, aku harus menghentikannya sebelum banyak nyawa anak yang melayang untuk dijadikan tumbal oleh orang orang itu". Guman Panji pelan.
Perlahan lahan Panji meninggalkan Indah dari tempat itu yang masih dalam keadaan dikunci sarafnya oleh Panji, sebelum Panji meninggalkan Indah ditempat itu dirinya sudah memberikan pagar gaib kepada tubuh Indah agar tidak ada bangsa jin yang mampu mendekat kearah gadis itu.
...Jangan lupa jempolnya...
__ADS_1