
Tidak sembarangan orang dapat memainkan tongkat yang dapat memanjang dengan sendirinya tersebut, jika tidak berhati hati maka tangan mereka yang akan terluka dengan dalamnya, karena ketajaman disetiap ujung yang ada tongkat besi tersebut yang dapat memendek menjadi seukuran genggaman tangan tersebut.
Bukan hanya tajam akan tetapi tongkat tersebut akan dapat melukai penggunanya jika tidak berhati hati, tongkat seperti itu lebih berbahaya daripada pisau ketika digunakan karena kecepatan yang ditimbulkan dari perubahan panjang tongkat besi tersebut begitu cepat dan tidak bisa disesuaikan dengan kecepatan mata untuk melihat.
Tongkatnya memang kuat untuk memukul, tetapi mampu rusak jika ditarik dengan paksa, bahkan mampu melukai sebuah tangan tanpa dirasakan oleh penggunanya, akan tetapi setelah mereka mengetahui tangan mereka terluka barulah terasa perihnya luka tersebut.
Awal pertama kali Nadhira menggunakan tongkat tersebut, jari Nadhira sempat terluka karena tersayat oleh tahamnya ujung tongkat tersebut dan mengeluarkan begitu banyak darah segar dari lukanya itu, akan tetapi hal itu tidak menghalangi untuk terus berlatih menggunakan tongkat tersebut hingga dirinya mampu mengendalikan tangannya agar tidak terkena dengan tajamnya ujung tongkat tersebut.
Rifki terus membimbingnya agar bisa menggunakan tongkat tersebut dengan baik dan benar sehingga saat ini Nadhira sudah terbiasa dengan tongkat tersebut sehingga ia bisa dengan mudah memakainya meskipun disaat terdesak sekalipun.
Karena seringnya berlatih untuk memanjangkan maupun memendekkan tongkat tersebut sehingga membuat Nadhira sudah terbiasa dengan tongkat yang tiba tiba memanjang itu, dan Nadhira dengan mudah mengendalikannya agar tidak melukai jarinya lagi.
"Dhira jika bermain dengan senjata tongkat kamu harus memeganginya dengan erat, agar tidak mudah terlepas dari tanganmu jika musuh menyerang tiba tiba kearah dirimu". Ucap Rifki sambil memainkan tongkatnya kearah Nadhira.
"Iya Rif, apa seperti ini caranya untuk memeganginya?". Tanya Nadhira kepada Rifki sambil mengeratkan pegangan tangannya kepada tongkat besi tersebut.
"Bisa dicoba".
Rifki mencoba untuk mengayunkan tongkat yang ada ditangannya kearah Nadhira, untuk menguji kekuatan tangan Nadhira dalam memegangi tongkat besi tersebut, akan tetapi pegangan tangan Nadhira sedikit kurang erat sehingga tongkat yang ada ditangan Nadhira hampir terlepas dari tangannya.
"Bagaimana Dhira? Bukankah pegangan tanganmu masih kurang lebih erat lagi?". Tanya Rifki kepada Nadhira disela sela pertarungan itu.
"Baiklah, akan aku eratkan lagi".
Nadhira menambahkan kekuatannya untuk memegangi tongkat tersebut dengan eratnya, sehingga membuat Rifki merasa takjub karena ayunan tongkatnya mampu ditahan oleh Nadhira tanpa adanya sela Nadhira kehilangan kendali dari tongkat tersebut.
"Bagaimana Rif?". Tanya Nadhira yang merasa senang karena tongkat yang ada ditangannya sama sekali tidak goyah.
"Bagus Dhira, akan tetapi seranganmu masih kurang cepat lagi, jika dilihat lihat masih ada cela untuk musuhmu menyerangmu".
Nadhira menganggukkan kepala setiap kali Rifki memberikan komentar kepadanya mengenai bagaimana caranya dirinya untuk memainkan tongkat tersebut, dengan bimbingan Rifki selama ini membuat dirinya semakin pandai dalam menggunakan senjata berupa tongkat yang dapat memanjang setiap saat itu.
Nadhira menambahkan kecepatan gerakannya dengan semaksimal mungkin sesuai dengan ucapan Rifki kepadanya, hal itu membuat Rifki tersenyum kepada Nadhira karena Nadhira berhasil menutupi cela serangan yang tadinya begitu jelas.
"Kau belajar terlalu cepat Nadhira". Puji Rifki kepada Nadhira.
"Kau adalah guru beladiri terbaik Rif". Nadhira juga ikut memuji Rifki karena Rifki berhasil membimbing Nadhira untuk belajar beladiri.
"Tapi ingat, pengetahuan yang aku berikan kali ini jangan sampai kamu lupakan ketika berhadapan dengan orang yang tidak mengenal ampun seperti begal yang ada dijalanan".
Setelah sekian lama berlatih menggunakan tongkat akhirnya keduanya berhenti untuk berlatih, keduanya berjalan menuju gasebo yang ada dihalaman belakang tersebut untuk mengistirahatkan otot otot mereka yang menegang karena selesai berlatih.
"Setelah berlatih cukup berat, usahakan untuk minum air putih bukan minum es karena disaat otot otot belum kembali normal minum es mampu membuat otot menjadi kaku dan peredaran darah akan terhambat dan mampu melemahkan detak jantung". Ucap Rifki kepada Nadhira.
Kandung kemih terletak tepat di depan usus halus. Saat kamu terlalu banyak mengonsumsi air es, suhu usus halus akan menjadi lebih dingin. Akibatnya, kandung kemih akan lebih sulit dalam menahan rasa ingin buang air kecil. Namun, bukan di situ letak bahayanya.
Terlalu sering buar air kecil membuat tubuh akan kehilangan potasium dan sodium dalam jumlah yang cukup banyak. Agar tidak terjadi, tambahkan sedikit garam pada air mineral yang kamu minum untuk menjaga keseimbangan elektrolit yang terbuang saat kamu berolahraga.
Tubuh akan lebih sulit menyerap air es selepas berolahraga. Akibatnya, air akan lebih cepat melewati lambung dan menuju usus halus agar penyerapannya lebih maksimal. Padahal, tubuh membutuhkan banyak cairan untuk mengurangi risiko dehidrasi. Sulitnya tubuh menyerap air es justru membuat kamu semakin haus dan risiko terjadinya dehidrasi pun semakin meningkat.
__ADS_1
Dampak minum es setelah olahraga yang paling terasa adalah kepala yang tiba-tiba menjadi pusing, Ini disebabkan karena saraf pusat tubuh yang tidak siap untuk menerima perubahan suhu yang mendadak dan jika kamu tetap ingin mengonsumsi air es setelah berolahraga, sebaiknya berikan jeda selama beberapa menit hingga suhu tubuh kamu kembali normal.
Kepala pusing ini juga bisa terjadi akibat menyempitnya pembuluh darah karena gangguan metabolisme ketika kamu minum air es setelah berolahraga. Pada akhirnya, aliran darah ke seluruh tubuh tidak akan maksimal, termasuk ke otak, sehingga memicu terjadinya sakit kepala.
Perut buncit bukan karena seseorang banyak makan. Kondisi ini ternyata juga bisa terjadi akibat mengonsumsi air es secara berlebihan. Saat selesai olahraga, air es yang kamu minum akan mengalami proses penghangatan oleh bantalan lemak yang terdapat di perut. Bantalan lemak ini diperoleh dari makanan yang kamu konsumsi. Semakin sering kamu minum air es, maka tubuh akan memerlukan bantalan lemak lebih banyak untuk menetralkan suhu tubuh.
Studi menunjukkan bahwa terlalu banyak minum air es akan memengaruhi kinerja saraf vagus dalam mengontrol berbagai aktivitas yang terjadi tanpa disadari, seperti denyut jantung. Semakin banyak konsumsi air es, maka pengaruhnya terhadap melemahnya detak jantung akan semakin terasa.
Nadhira mengangguk kepada Rifki, oleh sebab itu Rifki lebih sering mengonsumsi air putih biasa setelah berolahraga agar detak jantungnya tetap normal dan tubuhnya semakin bugar.
"Setelah cukup istirahatnya kita akan pergi kepelatihan Gengcobra Dhira". Ucap Rifki kepada Nadhira sambil meminum air yang ada dimeja tersebut.
"Baiklah, setelah stamina kembali vit lagi".
Nadhira dan Rifki segera melanjutkan pembicaraan mereka sampai keduanya benar benar merasa rileks kembali dan siap untuk pergi melanjutkan kegiatan mereka untuk mendatangi tempat dimana pelatihan Gengcobra berada.
"Sepertinya istirahat kita sudah lama, ayo pergi ke pelatihan Gengcobra sekarang, Dhira". Ajak Rifki kepada Nadhira sambil menarik tangan Nadhira untuk berdiri dan bergegas pergi dari tempat itu.
Nadhira hanya bisa pasrah ditarik oleh Rifki, sehingga dirinya hanya diam sambil mengikuti Rifki dari belakang, Nadhira menatap kearah Rifki dengan lekat lekat seakan akan dirinya tidak akan pernah melihat sosok yang ada didepannya lagi.
Sejak kepergian Mamanya untuk selama lamanya dan perubahan sikap yang diberikan oleh Papanya hal itu membuat Nadhira lebih dekat dengan Rifki karena Rifki selalu ada untuk Nadhira, apalagi ketika kedatangan Sena dalam kehidupannya dan membakar seluruh kenangannya dengan Mamanya.
Rifki segera melajukan sepedah motornya pergi dari tempat itu bersama dengan Nadhira yang ada digoncangannya itu.
Tak beberapa lama kemudian, Nadhira dan Rifki sampailah disebuah bangunan yang cukup sederhana seperti bangunan lama akan tetapi masih mampu memancarkan keindahannya dan bunga bunga yang ada ditempat itu menambahkan suasana kenyamanan untuk seseorang yang datang pertama kali ketempat itu.
"Rumah siapa ini Rif?". Tanya Nadhira dengan keheranan.
"Ini bukan rumah Nadhira, lebih tepatnya ini adalah markas pelatihan Gengcobra, tidak ada yang mengetahuinya selama ini, mungkin ini baru pertama kalinya kamu datang kesini". Ucap Rifki kepada Nadhira yang terlihat takjub dengan bunga bunga yang ada ditempat itu.
"Benarkah? Lalu kenapa banyak sekali bunga ditempat ini, dan begitu terawat seperti ini?".
Nadhira sama sekali tidak mempercayai bahwa ini adalah markas dari pelatihan Gengcobra, pelatihan Gengcobra biasanya terletak dilapangan yang jaraknya masih 1 kilo meteran dari markas pelatihan Gengcobra tersebut sehingga Nadhira sangat tidak mempercayai bahwa ini adalah markasnya.
"Markas ini sedikit terbuka dari yang lainnya Dhira, karena biasanya siswa baru akan mendaftarkan diri untuk berlatih ditempat ini, jadi aku menempatkan beberapa orang untuk merawatnya agar terlihat begitu menarik". Jelas Rifki.
"Lalu kenapa pas waktu aku ikut berlatih disana tidak mendaftarkan diri ditempat ini juga? Kamu juga tidak pernah mengajakku kemari".
"Apa perlu untuk mendaftarkan diri ditempat ini Dhira? sementara pemilik tempat ini adalah aku sendiri saat ini, bukankah dulu kamu juga bertemu dengan Kakekku dan berlatih dibawa bimbingannya cukup lama?". Tanya Rifki balik.
"Iya juga sih, tapi kenapa aku tidak didaftarkan disini sebelumnya?".
"Lalu apa maumu sekarang Dhira? Mau aku daftarkan lagi menjadi peserta disini? Kalo begitu ayo, biar aku antarkan kamu untuk mendaftar, dan menjadi siswa dasar ditempat ini".
"Bukan begitu Rifki".
"Lalu?".
"Ngak jadi".
__ADS_1
Nadhira mengira bahwa setiap anak yang mendaftar ketempat ini akan menjadi bagian Gengcobra nantinya setelah mereka benar benar menguasai ilmu beladiri, akan tetapi kenyataannya berbeda jauh dari dugaan Nadhira bahwa untuk masuk kedalam Gengcobra tersebut begitu sulit meskipun itu adalah siswa yang berlatih dipelatihan.
Bukan hanya diuji dengan kemampuan beladiri mereka saja, melainkan diuji juga tentang kesetiaan mereka terhadap suatu organisasi, kejujuran mereka dalam mengambil tindakan, kebaikan mereka terhadap sesama dan masih banyak lagi ujian ujian yang harus mereka lewati untuk masuk kedalam Gengcobra yang dipimpin oleh Rifki.
"Ya sudah ayo masuk, aku mau melakukan sesuatu didalam dengan para pelatih". Ajak Rifki.
"Baiklah ayo".
Rifki menggandeng tangan Nadhira untuk masuk kedalam bangunan itu, kedatangan Rifki yang tiba tiba ketempat itu membuat beberapa orang yang ada didalamnya begitu terkejut dan tidak mempercayai bahwa Rifki benar benar ada dihadapan mereka saat ini.
"Tuan Muda anda datang kemari?". Tanya seseorang dari dalam bangunan tersebut dan langsung menghampiri Rifki dan Nadhira.
"Iya Pak, ada yang ingin aku bicarakan secara pribadi dengan Bapak ditempat ini". Jawab Rifki.
"Kalo begitu mari masuk Tuan Muda".
Orang tersebut segera menyuruh Rifki dan Nadhira untuk masuk kedalam markas tersebut, dan mengajak keduanya untuk masuk kedalam ruangan pribadi milik orang itu, diperjalanan menuju keruangan pribadi itu, beberapa orang yang lewat ditempat itu memberikan hormatnya kepada Rifki.
Tak beberapa lama kemudian ketiganya masuk kedalam ruangan yang cukup besar daripada yang ada didalam bangunan tersebut, ruangan itu adalah milik dari pelatih tertinggi dari tempat itu, orang itu segera menyuruh Rifki dan Nadhira duduk di sofa yang ada ruangan tersebut dan menyuguhkan sebuah minuman kepada keduanya.
"Apa yang ingin Tuan Muda sampaikan kepada saya?". Tanya orang itu.
"Bagaimana dengan perkembangan dari pelatihan ditempat ini Pak Siswono? Apakah ada kendala". Tanya Rifki tanpa basa basi.
"Tidak Tuan Muda, pelatihan disini berjalan dengan lancarnya karena bimbingan dari Tuan Reno, dan banyaknya anak yang ingin mengikuti pelatihan ini membuat beberapa pelatih ditempat ini sedikit kesulitan untuk melatih mereka".
"Baguslah kalau begitu, aku akan memerintahkan Vano juga bergabung untuk melatih mereka ditempat ini, oh iya Pak, apa siswa yang bernama Fajar selalu aktif untuk berlatih disini?".
"Iya Tuan Muda, dan sekarang dia masih berada dilapangan untuk berlatih saat ini, apa Tuan Muda berniat untuk membawanya menuju kemarkas Gengcobra dan bergabung dengan yang lainnya?".
"Iya, aku ingin mengujinya sendiri, berikan aku dan Nadhira pakaian siswa dasar sekarang juga". Perintah Rifki kepada orang yang dipanggil Pak Siswono tersebut.
"Baik Tuan Muda".
Siswono adalah pelatih tertinggi ditempat itu, kedudukannya paling tinggi daripada yang lainnya sehingga Siswono begitu dihormati ditempat itu layaknya seorang pemilik tempat tersebut, akan tetapi jika dibandingkan dengan Rifki Siswono bukanlah apa apa ditempat itu.
Siswono segera pergi dari tempat itu setelah mendapatkan perintah dari Rifki untuk membawakannya sebuah pakaian siswa dasar yang ada dipelatihan itu.
"Apa kamu berniat untuk bermain main dengannya sekarang Rif? Sehingga kamu begitu bersemangat untuk mengujinya". Tanya Nadhira kepada Rifki.
"Kau benar Dhira, inilah alasanku kenapa mengajakmu ketempat ini, kita akan menguji banyak peserta yang hadir ditempat ini, yang layak untuk masuk kedalam Gengcobra".
"Boleh juga, kita akan datang dengan pakaian siswa baru disana, seperti dirimu waktu itu kan, yang tiba tiba menantang siswa tingkat tinggi dipelatihan itu". Ucap Nadhira dengan bersemangat.
Rifki tersenyum membayangkan waktu dulu ketika dirinya datang terlambat dalam latihan dan akhirnya menerima hukuman dari pelatih sesuai dengan keinginannya sendiri karena dirinya telat dalam mengikuti pelatihan yang bertujuan untuk menguji.
Rifki tidak menyangka bahwa Nadhira akan memiliki ingatan tajam tentang kejadian waktu itu yang membuat Rifki harus bertarung dengan siswa tingkat tinggi ditempat itu, akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena Kakeknya memanggilnya tiba tiba dengan mengirimkan salah satu anak yang berusia 17 tahunan untuk memanggilnya waktu itu.
Dan tak beberapa lama kemudian datanglah seorang lelaki paruh baya ketempat itu, lelaki itu mengajak Rifki untuk pergi dari lapangan tempat mereka berlatih dalam waktu yang cukup lama.
__ADS_1
......*Terima kasih atas dukungannya*......