
Nadhira benar benar sudah berubah, tidak seperti Nadhira yang ia kenal selama ini, Nadhira yang ia kenal sebelumnya begitu baik dan selalu bersikap lemah lembut dan menghormati orang lain yang lebih tua darinya tanpa memandang kedudukan dan status akan tetapi kali ini berbeda, dan hampir tidak Bi Ira kenali sebelumnya.
"Baik Nona" Ucap Bi Ira dengan berlinangan air mata.
Nadhira segera bergegas masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan keras, hatinya merasa begitu terluka ketika melihat Bi Ira menangis seperti itu didepannya sehingga dirinya tidak tahan jika harus berlama lama berhadapan dengan Bi Ira.
Disatu sisi Sena tertawa dengan puasnya ketika melihat sikap Nadhira yang benar benar telah hilang ingatan, sejak awal dirinya terus mendengarkan percakapan Nadhira dengan teman temannya dan bahkan mendengarkan percakapan antara Nadhira dengan Bi Ira, dan sekarang dirinya merasa begitu yakin bahwa Nadhira tengah masuk dalam perangkapnya itu.
"Benar benar pertunjukan yang luar biasa, ah sebentar lagi pasti akan lebih seru ketika gadis itu membunuh Ayahnya sendiri, hehe... Aku tidak perlu repot repot untuk mengotori tanganku". Sena tersenyum dengan liciknya ketika melihat Nadhira.
Setelah melihat Nadhira kembali masuk kedalam kamarnya, Sena segera bergegas menuju kekamarnya sendiri untuk melanjutkan bermalas malasannya, tiada hari yang menyenangkan baginya selain hari ini dimana Nadhira kembali dan melupakan segalanya.
Sudah berapa banyak hati yang Nadhira sakiti dalam satu hari ini, melihat Nadhira yang hilang ingatan dan berubah seperti itu membuat orang orang terdekatnya bersedih dan mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Nadhira akan bersikap sedemikian rupanya kepada mereka.
Setelah mengobrol dengan Nadhira, Bi Ira segera bergegas menuju kekamarnya dengan sedihnya, Nadhira tidak pernah mengatakan kepadanya seperti itu, bertahun tahun dirinya kerja ditempat itu akan tetapi baru kali ini Nadhira mengatakan hal seperti itu padanya entah kenapa Nadhira tiba tiba berubah.
Bi Ira langsung menjatuhkan dirinya dibalik pintu kamarnya karena sedihnya melihat Nadhira berubah dan berkata kasar kepadanya seperti itu.
"Lia hiks.. hiks.. hiks... Kenapa dia berubah seperti ini, aku bahkan sampai tidak mengenalinya saat ini, apa yang terjadi dengannya kenapa dia mengatakan hal seperti itu kepadaku hiks.. hiks.. hiks... Apa yang harus aku lakukan Lia, apakah aku harus menyerah dan pergi dari sini untuk saat ini? Tiada gunanya aku tetap bekerja disini disaat anakmu sudah tidak lagi membutuhkan diriku"
Bi Ira begitu sedih ketika mendengar ucapan Nadhira yang sangat menyakiti hatinya itu, akan tetapi dirinya sadar diri bahwa kedudukan mereka memang berbeda, Nadhira adalah anak orang kaya sementara dirinya hanyalah anak yatim piatu yang dibesarkan didalam panti asuhan dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dirumahnya.
"Begitu hinakah diriku dihadapan orang orang kaya seperti mereka, bahkan Nadhira sendiri sudah tidak lagi menganggapku ada, apakah aku harus pergi dari sini? Mungkin dengan kepergianku dari tempat ini Nadhira akan merasa sangat bahagia, Nadhira telah berubah tidak seperti yang Nadhira ku kenal dulu".
Air mata terus bercucuran dengan derasnya tanpa tau bagaimana caranya untuk menghentikannya, disatu sisi Nadhira pun sama, seketika itu juga hatinya merasa sakit bagaikan tersayat sayat sembilu, ketika melihat Bi Ira menangis didepannya seperti itu.
Nadhira menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang kamarnya dan mengunci pintu kamarnya dengan rapat rapat agar tidak ada seorangpun yang dapat masuk kedalam kamarnya tanpa izin darinya.
"Apa yang terjadi kepadaku, kenapa hatiku merasa sakit seperti ini, apa mungkin perkataanku itu sangat menyakitkan baginya, maafkan aku, maafkan aku" Guman Nadhira pelan.
Nadhira menatap kearah langit langit kamarnya dan sesekali air matanya jatuh dari pelupuk matanya, kesedihan seperti apa yang tengah ia rasakan hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya bukan orang lain.
"Nadhira bukan seperti ini orangnya, tapi takdirku ada digenggam tanganku sendiri bukan orang lain, aku tidak akan membiarkan orang yang berani menghancurkan keluagaku hidup bahagia! Tertawalah sepuasmu, kau akan menangis dengan kerasnya jika waktunya sudah tiba nantinya, permainan sudah dimulai".
Nadhira menghapus air matanya, tangis itu kini berganti dengan sebuah senyuman yang mengandung arti yang mendalam bagi siapa saya yang melihatnya saat ini.
*****
Keesokan paginya Sena mendatangi kamar Nadhira, karena kamar Nadhira yang terkunci dari dalam membuatnya harus mengetuk beberapa kali pintu kamar Nadhira sampai Nadhira membukakan pintu tersebut.
Tanpa disuruh untuk masuk kedalam kamar Nadhira, Sena langsung masuk dan menutup pintu kamar tersebut. Nadhira merasa aneh dengan sikap Sena yang seperti itu, ketika Nadhira mulai duduk disamping Sena, Sena memberikan sesuatu kepada Nadhira.
"Apa ini Ma?" Tanya Nadhira ketika melihat sebuah kertas yang dilipat dan didalamnya ada sebuah serbuk yang tidak Nadhira kenali.
"Ini adalah obat sakit perut, siapapun yang akan meminumnya akan merasa mules, berikan obat ini dengan diam diam kepada makanan yang akan dimakan oleh Papa tirimu itu, anggap saja ini sebagai permulaan" Ucap Sena.
"Ah... Aku mengerti Ma, tapi kenapa tidak pakai racun saja, biar orang itu cepat pergi dari dunia ini? Dan rasa sakit hatiku akan berkurang".
"Akan tidak seru jika dirinya mati begitu cepatnya, kita tidak akan menikmati kepuasan karena itu, akan tetapi jika dia mati dengan perlahan lahan itu akan menjadi hal yang mengasikkan, bukan begitu?".
"Mama benar, jika dia langsung mati, itu tidak akan menyenangkan untuk kita, baiklah aku akan melakukan sesuatu agar orang itu meminum obat ini, lihat saja nanti Ma" Ucap Nadhira dengan tersenyum tipis kepada Sena.
"Jangan sampai ada orang yang mengetahui rencana kita saat ini".
"Aku bukan anak kecil lagi Ma, akan ku pastikan orang itu akan segera meminumnya tanpa rasa curiga sedikitpun, ini hanya sebagai permulaan dan anggap saja ini adalah salam perkenalan dari diriku".
"Baguslah kalau begitu, lakukanlah tugasmu dengan baik, jangan sampai ada yang curiga dengan itu".
Sena segera bergegas meninggalkan kamar Nadhira, sementara Nadhira memandangi obat yang ada ditangannya saat ini dengan tersenyum licik ketika melihat obat tersebut dan berkata, "Permainan akan segera dimulai bersiap siaplah, kau akan merasakan semua yang pernah aku rasakan".
__ADS_1
Nadhira segera bergegas untuk membersihkan tubuhnya kekamar mandi setelah itu ia segera bergegas keluar dari kamarnya dengan membawa obat yang diberikan oleh Sena ditangan kirinya. Nadhira melihat bahwa Rendi dan Sena sudah berada diruang makan beserta seorang gadis disana.
Nadhira tidak mempedulikan itu ia segera bergegas kearah dapur dimana minuman mereka berada, Sena terus memperhatikan Nadhira yang sedang menuang obat itu dan mengingat ingat gelas yang mana yang Nadhira beri obat.
"Kamu ngapain disini Nona?" Tanya Bi Ira yang sontak membuat Nadhira terkejut.
"Kau! Tidak apa apa, cepat bawa minuman ini kemeja" Ucap Nadhira memerintah Bi Ira.
"Baik Nona" Jawab Bi Ira tanpa bertanya lagi.
Bi Ira segera mengangkat nampan yang berisikan minuman itu kearah meja makan dan menaruhnya didepan Sena, Sena segera mengangkat gelas yang seingatnya telah Nadhira beri obat itu dan memberikannya kepada Rendi.
Nadhira segera bergegas menuju meja makan tersebut untuk bergabung dengan yang lainnya, Nadhira memperhatikan gadis yang ada didepan meja itu sambil dirinya segera duduk didekat Rendi.
"Siapa gadis ini Pa?" Tanya Nadhira.
"Dia adalah Adik kamu Nak, namanya Amanda, apa kau juga melupakan hal itu?" Tanya Sena balik.
"Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia tidak mengenaliku? Mama dan Papa juga tidak memberitahukan apa apa kepadaku, apa yang terjadi dengan dirinya?" Tanya Amanda dengan keheranan.
"Sejak dia kembali kerumah ini, Nadhira mengalami hilang ingatan Nak, dia sama sekali tidak mengenali kita ataupun teman temannya".
"Hilang ingatan? Kenapa Mama baru memberitahukanku sekarang? Kan aku tidak tau".
"Kenapa aku baru melihatnya disini sekarang Ma? Kemarin dia kemana?" Tanya Nadhira karena dirinya baru kali ini melihat Amanda.
"Pantas saja kau tidak melihatnya Nak, dia berlibur dirumah Nenek, baru saja pulang pagi ini Nak" Jawab Rendi atas pertanyaan Nadhira.
"Kenapa harus begitu banyak nama orang yang harus aku hafal dan ingat, aku tidak bisa mengingat nama nama mereka dengan cepat" Keluh Nadhira.
"Tidak perlu buru buru untuk dapat mengingatnya Nak, setelah ingatanmu kembali kau akan mengingat semuanya dengan sendirinya" Ucap Rendi sambil tersenyum tipis kepada Nadhira.
Mereka memakan makanan itu dengan lahapnya, ketika Rendi selesai makan, Rendi segera menyambar sebuah gelas yang telah diberikan oleh Sena kepadanya, melihat itu membuat Sena tersenyum misterius sementara Nadhira menatap kearah Sena.
"Bagus, minumlah sampai habis" Batin Sena.
"Setelah ini kau akan mendapatkan kejutan yang tak terduga dariku, bersiap siaplah masuk dalam permainanku, Dhira kau sungguh menjadi pemain yang hebat kali ini, ini baru permulaan dariku" Batin Nadhira sambil tersenyum menatap kearah Sena.
Rendi mulai meminum minuman itu, melihat itu Sena ikut serta meminum minumannya begitupun dengan Nadhira. Melihat Sena dan Nadhira yang saling menatap dan tersenyum aneh membuat Amanda tidak habis pikir dengan apa yang keduanya lakukan saat ini dan sejak kapan Mamanya akrab dengan saudara tirinya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Nadhira tiba tiba hilang ingatan setelah sekian lama menghilang, dan Mama kenapa sekarang begitu akrab dengan dirinya seperti itu" Batin Amanda.
Rendi memutuskan untuk kembali masuk kekamarnya karena hari ini adalah hari libur sehingga Rendi tidak berangkat ke kantornya, sementara itu Sena segera menyusul Rendi. Dimeja makan saat ini hanya tersisa Nadhira dan Amanda saja, Amanda terus memakan makanan yang ada dipiringnya dan sesekali dirinya melirik kearah Nadhira yang sedang memakan makanannya dengan senyum yang mencurigakan.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa ada yang lucu ha?" Tanya Amanda kepada Nadhira dengan nada yang sangat ketusnya.
"Bukan urusanmu, sebaiknya habiskan saja nasimu dan kembalilah kekamarmu setelah itu, jangan pernah ikut campur dengan urusanku" Jawab Nadhira tidak kalah ketusnya dari Amanda sambil tetap mempertahankan senyumnya.
"Kau berani memerintahku seperti itu Ha?".
"Kenapa? Bukankah aku Kakakmu disini? Kau sebagai Adik seharusnya lebih patuh lagi dengan ucapanku".
"Kau ya!!" Ucap Amanda sambil menuding kearah Nadhira.
"Apa? Apa kau mau aku mengadukan semua yang kamu lakukan saat ini kepada Mama dan Papa?" Ucap Nadhira sambil melototi Amanda.
"Dasar tukang ngadu!".
"Terserah kau mau bilang apa, aku ingatkan sekali lagi kepadamu, Jangan pernah mencampuri urusanku! Atau kau akan menyesali nantinya karena berurusan dengan diriku!".
__ADS_1
Tanpa basa basi Nadhira segera meninggalkan Amanda yang masih kebingungan dengan sikap Nadhira, tidak biasanya Nadhira akan membalas ucapannya dengan sedemikian rupanya. Amanda hanya bisa mengepalkan tangannya ketika melihat Nadhira melangkah pergi dari tempat itu.
"Lihat saja nanti, siapa yang akan menyesal!".
Disatu sisi Rendi sedang duduk di ranjang kamarnya dengan laptopnya yang sudah berada didepannya, sambil memeriksa berkas berkas yang penting dengan fokusnya, sementara Sena duduk didekat ranjang sambil memperhatikan kondisi Rendi. Setelah sekian lama tidak ada perubahan sama sekali yang dialami oleh Rendi dan obat itu mungkin tidak berpengaruh kepada dirinya.
"Kenapa tidak ada perubahan sama sekali, aku ingat betul dimana anak itu memasukkan obatnya, tapi kenapa tidak ada reaksi untuknya" Batin Sena menjerit ketika obat itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap Rendi.
Sena merasa sangat sebal kali ini karena obat yang telah diminum oleh Rendi tidak membuat Rendi mulas ataupun sakit perut, ditengah tengah kekesalannya itu seketika Sena merasa sangat mulas dan berkali kali dirinya harus membuang gas karena rasa mulasnya dan dirinya segera bergegas menuju ketoilet untuk menunaikan hasratnya.
Sena merasa begitu mulas saat ini sehingga dirinya harus bolak balik keluar masuk kamar mandi, Rendi yang melihat itu hanya menatapnya sekilas saja dan langsung kembali fokus kepada leptopnya.
"Kamu kenapa Dek?" Tanya Rendi yang melihat Sena terbaring disampingnya setelah sekian lama bolak balik kekamar mandi.
"Ngak apa apa Mas, hanya merasa mulas saja".
"Kamu tadi makan apa? Kenapa bisa begitu?".
"Ngak tau Mas, kan aku makan makanan yang sama seperti apa yang kau makan".
"Minum obat saja gih, pusing tau lihat kamu bolak balik mulu".
"Iya iya".
Sena segera bergegas keluar dari kamarnya dan memanggil Bi Ira dengan kerasnya, tak beberapa lama kemudian Bi Ira segera menghadap kearahnya, Sena menyuruh Bi Ira untuk membelikan obat sakit perut di apotek terdekat dari tempat mereka tinggal.
Nadhira yang berada diruang keluarga sambil membaca novel ditangannya tiba tiba mendengar suara Sena yang berteriak memanggil Bi Ira dan menyuruhnya membelikan obat hanya bisa tersenyum dan bangkit untuk menemui Sena.
"Bagaimana Ma? Apa orang itu tengah menderita saat ini?" Tanya Nadhira dengan antusias.
"Kau!!" Ucap Sena dengan geramnya sambil menuding kearah Nadhira, akan tetapi seketika dirinya teringat bahwa Nadhira saat ini adalah pihaknya sendiri sehingga Sena hanya bisa meghela nafasnya. "Semua gagal!!".
"Gagal? Bagaimana bisa Ma? Aku telah memasukkan obat itu kedalam minumannya kenapa bisa terjadi kegagalan seperti itu, Mama juga telah melihatnya sendiri kan kalau aku sudah memasukkan obat itu kedalam minuman Papa?" Ucap Nadhira dengan terkejutnya mendengar ucapan Sena.
"Kau memang telah memasukkan obat itu, tapi kau memasukkannya kedalam minumamku!".
"Apa? Mama juga sih kenapa langsung minum minuman itu, kenapa ngak bertanya dulu kepadaku?".
"Kenapa tidak memberitahuku tentang minuman itu sebelumnya!".
"Ku kira Mama sudah mengetahuinya sendiri, lagian pembantu itu yang membuatku terkejut dan belum sempat untuk memberitahu Mama, terus sekarang bagaimana?".
Ketika hendak menjawab ucapan dari Nadhira tiba tiba perut Sena kembali mulas dan dirinya bergegas pergi dari tempat itu menuju kekamar mandi lagi, Nadhira hanya menghela nafas dan kembali duduk dikursi ruang keluarga dan melanjutkan kembali aktivitas sebelumnya.
Setelah selesai membeli obat untuk Sena, Bi Ira langsung memberikannya kepada Sena yang baru saja keluar dari kamar mandi, Sena segera mengambil obat itu dan meneguknya. Setelah itu Sena segera bergegas menuju kekamar Amanda yang tidak jauh dari tempat dimana Nadhira tengah membaringkan tubuhnya dan membaca novel yang ada ditangannya saat ini.
"Ada apa Ma?" Tanya Amanda ketika melihat Sena masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamar Amanda.
"Awasi setiap pergerakan dari Nadhira" Ucap Sena lirih karena takut Nadhira mendengarnya karena kamar Amanda tidak kedap suara seperti kamar Nadhira sehingga dirinya harus berhati hati.
"Kenapa dengan anak itu?".
"Mama merasa curiga dengan dirinya, awasi saja dia jangan banyak bertanya lagi!".
"Iya iya Ma".
Setelah itu Amanda menyuruh Sena untuk segera keluar dari kamarnya karena Amanda ingin mengistirahatkan tubuhnya kali ini, dirinya merasa sangat lelah karena telah melakukan perjalanan yang cukup jauh pagi ini.
...Jangan lupa like, Comen, dan dukungannya 🥰...
__ADS_1
...Terima kasih ...