
Begitu berat bagi Rifki untuk meninggalkan Nadhira untuk beberapa tahun kedepannya, dirinya juga telah mempersiapkan segala hal untuk Nadhira, mulai dari memerintahkan Raka untuk menjaga Nadhira dan juga memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi Nadhira dengan baik tanpa diketahui oleh Nadhira.
"Ibu tiri Nadhira tidak pantas untuk disebut sebagai seorang Ibu bahkan disebut sebagai seorang manusia saja tidak akan pantas, seandainya aku bisa mengulang waktu dulu mungkin aku akan merasa begitu bahagia ketika aku hidup masih bersama dengan orang tuaku". Ucap Raka sambil membayangkan masa masa dirinya masih hidup dahulu kala.
"Kau benar Hantu kecil, aku juga merindukan orang tuaku, mungkin aku juga akan merasakan apa yang seorang anak rasakan". Jawab Nimas membenarkan ucapan Raka.
"Emang kau pernah bercanda gurau dengan orang tuamu? Kau sendiri bahkan tidak tau wajahnya sama sekali".
"Emang kau pikir aku tidak punya orang tua begitu ha? Apakah aku keluar dari pohon pisang maksudmu begitu ha? Enak saja kau bilang begitu".
"Mungkin, aku tidak tau kau lahir darimana? Bisa jadi kan memang benar kau lahir dari pohon pisang atau pohon beringin sekaligus".
"Ku buat perhitungan denganmu Hantu kecil".
Rifki sama sekali tidak mempedulikan kedua mahluk astral itu, tak beberapa lama kemudian pandangan Rifki tertuju kepada pakaian yang telah mengingatkan Nadhira tengang masalalu keluarganya itu, Rifki memandangi pakaian itu dengan begitu lama.
"Jika kamu tidak mau pakaian ini, ya sudah jangan dipaksakan, apa perlu aku meminta mereka untuk mengganti pakaian ini dengan pakaian yang lainnya Dhira?". Tanya Rifki kepada Nadhira.
"Tidak usah Rif, aku hanya tiba tiba teringat dengan Mama saja". Ucap Nadhira sambil menghapus air matanya yang ada dipelupuk matanya.
Rifki menepuk tangannya untuk menyuruh pelayan toko tersebut segera mendatanginya, dengan sesegera mungkin pelayan toko tersebut segera bergegas menuju ketempat dimana Nadhira dan Rifki sedang terduduk saat ini.
"Maafkan saya Mbak, karena telah mengingatkan Mbak tentang masalalu keluarga Mbak". Ucap pelayan itu dengan ketakutannya.
Pelayan itu merasa bersalah karena telah mengingatkan pembelinya tentang masalalu sang pembeli, dirinya begitu takut mendapatkan teguran dari atasanya karena kesalahan yang terjadi dihari ini.
Nadhira yang melihat kegelisahan sang pelayan toko itu, membuat Nadhira berusaha untuk tersenyum kembali, dirinya tidak mungkin meminta kepada pelayan itu untuk mengganti pakaian yang telah dipilihkan olehnya itu.
"Tidak apa apa, ini juga bukan salah Mbak kok, ini salahku karena tidak melihat lihat terlebih dulu sebelumnya". Jawab Nadhira.
"Kami akan menggantinya Mbak". Ucap pelayan itu.
"Tidak usah, aku suka kok dengan modelnya, hanya saja ini mengingatkanku kepada Mamaku, aku akan merasakan bahwa Mama kembali hadir dalam kehidupanku kok Mbak".
"Baiklah Mbak kalau begitu".
"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu? Baju ini telah mengingatkanmu dengan masalalu keluargamu bukankah kau begitu sangat membenci Tante Sena?". Tanya Rifki sekali lagi untuk memastikan keputusan yang telah diambil oleh Nadhira.
"Iya Rif, mungkin hanya dengan pakaian ini, aku dapat mengingat apapun tentang Mama, aku tidak ingin melupakan Mama".
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku tidak bisa berbuat apa apa, apa kau tidak ingin mencobanya terlebih dahulu Dhira? Mungkin saja ukurannya atau apanya yang tidak cocok sebelum membelinya". Saran Rifki kepada Nadhira.
Nadhira hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu para pelayan toko itu segera mengantarkan Nadhira ketempat berganti pakaian, Nadhira segera masuk kedalam ruangan itu, Nadhira memandangi gaun berwarna pink itu dengan perasaan yang campur aduk didalam hatinya, Nadhira berada didalam ruangan itu cukup lama dan akhirnya dirinya keluar dengan sosok yang berbeda.
Dengan pakaian itu, Nadhira terlihat begitu anggun dan lemah lembut, wajah cantiknya menambah indah pakaian yang telah melekat dalam tubuhnya itu, Rifki hampir terpana karena pesona yang ditimbulkan oleh Nadhira akan tetapi seketika itu juga, Rifki mengalihkan pandangannya dari wajah Nadhira.
"Kau begitu cantik Dhira, warna itu sangat cocok dikulitmu, mereka telah memilihkan pakaian yang sesuai untuk dirimu". Ucap Rifki sambil menundukkan kepalanya dan memberi komentar kepada Nadhira.
"Tapi kenapa kau sama sekali tidak menatapku saat ini? Apakah kau berbohong kepadaku? Sebenarnya aku tidak pantas untuk memakai pakaian ini?".
"Aku tidak berbohong Dhira, setelah memilikimu seutuhnya nanti, aku akan berani menatap wajahmu, untuk saat ini, aku takut jika hasratku mampu untuk menguasai diriku". Ucap Rifki.
Biar bagaimanapun Rifki adalah seorang laki laki normal yang memiliki hasratnya sendiri, apalagi ketika melihat Nadhira dengan cantiknya yang membuat hasrat untuk memiliki Nadhira begitu tinggi sehingga menyebabkan Rifki tidak berani untuk menatap Nadhira terlalu lama dengan pakaian itu.
"Jika seperti itu aku tidak akan pernah memakai pakaian ini lagi sebelum kita bersatu seutuhnya nanti aku juga takut jika orang lain juga melihatku dengan pakaian ini". Ucap Nadhira sambil melangkah untuk masuk kembali keruangan dimana dirinya tadi berganti pakaian.
__ADS_1
Rifk menatap kepergian Nadhira dari tempat itu, Rifki tersenyum kearah Nadhira akan tetapi didalam hatinya ia menangis ketika mendengar ucapan dari Nadhira yang membuatnya begitu sedih.
"Entah apakah aku akan bisa bersatu dengan dirimu atau tidak, semoga tawamu tidak akan pernah luntur dari wajahmu Dhira, aku berharap bahwa tawa itu akan terus terlihat diwajahmu, jangan biarkan orang lain merebutnya Dhira, aku tau ini akan terasa begitu berat bagimu, tapi aku yakin kau mampu untuk menghadapinya Dhira". Batin Rifki menjerit.
"Rif, aku tidak tau akhirnya akan seperti apa, yang aku tau aku begitu bahagia jika berada didekatmu seperti ini, jika memang benar kita tidak ditakdirkan untuk bersama, maka aku ingin melihatmu bahagia". Batin Nadhira sambil melangkah pergi.
Rifki merasa begitu sedih karena teringat tentang ucapan Ayahnya bahwa dirinya dan Nadhira tidak akan pernah bisa bersama selama adanya permata iblis dan keris pusaka xingsi didalam tubuh mereka masing masing.
Sementara disatu sisi, Nimas dan Raka memandangi keduanya dengan diamnya dari kejauhan, Nimas dan Raka mampu mendengar suara hati mereka berdua sehingga mereka dapat merasakan apa yang keduanya rasakan saat ini.
"Heh, Ratu iblis, apa kau tidak memiliki cara apapun untuk mengeluarkan permata itu dari gadis itu, kasihan Rifki dia pasti merasa sedih saat ini". Tegur Raka kepada Nimas yang ada disampingnya.
"Hah heh hah heh, kau itu bawahanku, aku adalah Ratumu, bisa ngak sih bersikap lebih sopan dikit kepadaku hantu kecil?". Jawab Nimas dengan ketusnya.
"Ratu sih Ratu, bagaimana bisa ada Ratu yang sama sekali tidak tau bagaimana caranya untuk mengeluarkan permata itu? Kau sama sekali tidak bisa berbuat apa apa". Sindir Raka kepada Nimas.
"Emang kau pikir mudah mengeluarkan permata itu hah? jika kau bisa maka lakukanlah, tapi jangan sampai permata itu hancur atau tidak nyawa gadis itu yang akan menjadi taruhannya". Jawab Nimas dengan entengnya kepada Raka.
"*Eleh Ratu iblis saja tidak tau cara untuk mengeluarkannya, bagaimana bisa hantu kecil sepertiku tau bagaimana cara mengeluarkan hah?".
"Kalau begitu diam saja, aku masih berusaha untuk meminta bantuan kepada Pangeran Kian, mungkin saja jiwanya mampu untuk menolong gadis itu".
"Lakukanlah semaumu itu, lalu bagaimana bisa kau disebut sebagai Ratu iblis? Padahal jika dilihat lihat kau lebih cocok untuk jadi kuntilanak putih".
"Enak saja kau bicara seperti itu, mau ku musnahkan jiwamu ha? Agar kau tidak bisa bergentayangan lagi, kalau itu maumu maka aku akan menurutinya dengan senang hati".
"Tidak tidak, kau itu dikit dikit mengancamku dengan hal seperti itu, apa kau tidak merasa kasihan dengan anak kecil sepertiku sebelumnya".
"Untuk apa aku kasihan denganmu? Kau sendiri tidak bisa untuk dikasihani, untung saja aku masih sabar denganmu karena memilikikan pemuda itu, kalau tidak mungkin aku sudah melenyapkan dirimu*". Ucap Nimas sambil menunjuk kearah Rifki.
Jika Nimas muncul bersamaan dengan Raka maka terjadilah pertengkaran antara keduanya, keduanya sama sama tidak ada yang mau mengalah, biar bagaimanapun Raka telah menyelamatkan nyawa Rifki dan berbuat baik kepada Nadhira sehingga Nimas masih memiliki belas kasih kepadanya.
"Mbak, tolong carikan pakaian yang lainnya". Ucap Rifki kepada pelayan toko itu.
"Model pakaian seperti apa yang Tuan inginkan?". Tanya pelayan toko itu.
"Yang sederhana saja Mbak, tapi yang bagus".
"Baik, saya akan ambilkan dulu Tuan".
Tak beberapa lama kemudian pelayan toko tersebut membawa beberapa pakaian yang terlihat begitu sederhana dan menaruhnya dihadapan Rifki yang tengah duduk disebuah kursi yang ada ditoko tersebut.
"Yang ini model sederhana Tuan, tidak terlalu mencolok dan warnanya begitu sesuai dengan segala jenis warna kulit, kalau yang ini bahannya paling bagus dan dingin jika dipakai". Ucap pelayan itu sambil memperkenalkan satu persatu pakaian yang ada diatas meja itu.
Setelah berganti pakaian, Nadhira segera duduk disamping Rifki yang tengah memilih pakaian untuk Nadhira saat ini, Nadhira hanya menurut dengan Rifki entah pakaian seperti apakah yang akan dipilihkan oleh Rifki kepadanya saat ini.
"Bagaimana kalau yang ini Dhira?". Tanya Rifki sambil menunjukkan sebuah baju polos yang berwarna kecoklatan kepada Nadhira.
"Terserah kamu saja Rif". Jawab Nadhira.
"Pilih yang ini apa yang ini, atau yang ini, apa kamu mau yang itu, jangan jawab terserah karena terserah tidak ada disini". Tanya Rifki sambil mengangkat baju baju itu satu persatu dihadapan Nadhira.
"Yang menurutmu bagus saja Rif, aku ngak bisa milih milih kalau soal yang beginian".
"Baiklah kalau begitu, yang ini bagaimana?". Ucap Rifki sambil mengangkat pakaian berwarna biru dengan motif sederhana.
__ADS_1
"Iya".
"Atau kamu mau yang ini, ini apa ini?". Tanya Rifki yang lagi lagi mengangkat baju berwarna biru dan hijau secara bersamaan.
"Yang menurutmu bagus saja".
"Bagaimana kalau beli semuanya?".
"Untuk apa mengumpulkan banyak baju, nanti kalau ngak terpakai kan sayang uangnya lah".
"Kau benar kali ini Dhira, baiklah yang warna hijau saja, hijau melambangkan kesuburan dan kedamaian ketika dilihat".
"Iya".
Rifki menyuruh Nadhira untuk kembali mencobanya, beberapa pakaian telah dicoba oleh Nadhira dan akhirnya Nadhira menemukan satu satunya pakaian yang terlihat sesuai dengan dirinya itu.
Setelah keduanya selesai memilih pakaian masing masing, keduanya segera bergegas keluar dari toko itu, keduanya segera disambut oleh Susi, Bayu, dan yang lainnya ditempat itu, sebelumnya Rifki telah memberitahu kepada mereka bahwa Rifki akan pergi mengajak Nadhira kepantai akan tetapi mereka tidak mau kalah juga, dan akhirnya mereka menyusul keduanya kepantai itu juga.
"Ciee... Belanja nih ya orangnya". Ucap Susi yang menyambut Rifki dan Nadhira.
"Kalian juga disini?". Tanya Nadhira yang terkejut dengan kehadian teman temannya.
"Kenapa tidak? Bukankah Tuan Muda telah mengajak kita kepantai?". Tanya Susi sambil melirik kearah dimana Rifki berada saat ini.
"Benarkah, asik kita kepantai bersama sama kali ini Si, aku belum pernah bermain kepantai sebelumnya seperti ini". Ucap Nadhira dengan semangatnya.
"Jadi ini adalah pertama kalinya kamu main kepantai?". Tanya Susi yang tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Nadhira.
"Iya, kenapa kamu terlihat seakan akan tidak percaya dengan ucapanku seperti itu? Apakah ekspresi wajahku terlihat bahwa aku sedang berbohong saat ini". Ucap Nadhira dengan seriusnya.
"Bukan seperti itu Dhira, beruntunglah kau bisa datang kemari apalagi dengan Tuan Muda itu". Ucap Susi sambil menunjuk kearah Rifki menggunakan mulutnya.
Nadhira dan Susi kelihatannya begitu semangat untuk bermain dipantai, meskipun Susi sering main kepantai akan tetapi dirinya tidak pernah bosan untuk menatap keindahan dari pantai yang menurutnya tidak akan pernah membuat bosan ketika ditatap.
Ketika adanya kehadiran Susi diantara mereka, Susi selalu membuat keramaian ditempat itu, karena mulutnya yang tidak mampu dikondisikan sehingga kadang kala hal itu membuat Rifki sambil mengelus dadanya karena melihat sikap Susi.
"Kalau tau begini tadi aku ngak usah ngajak kalian saja". Ucap Rifki yang mengalihkan pandangannya.
"Terserahmu, yang penting aku bisa bersenang senang dipantai wek". Ucap Susi sambil menjulurkan lidahnya kepada Rifki.
"Sudah jangan ganggu mereka berdua, sebelum Tuan Muda ini begitu marah kepadamu, bisa bisa kau diusir dari sini". Ucap Bayu sambil membayangkan ketika dirinya diusir oleh Rifki dari pantai yang indah itu.
"Kenapa kau jadi begitu takut dengan orang ini hem? Apa yang kau takutkan dari dia, biarpun dia sudah menjadi Tuan Muda tapi dia tetaplah Rifki, kenapa harus takut dengan dirinya itu?". Ucap Susi sambil menunjuk kearah Rifki.
Cletak...
Sebuah jitakan meluncur begitu mulus kepada kepala Susi, seperti biasa pelakunya tidak lain adalah Rifki itu sendiri, yang terlihat begitu menikmati ketika menjitak kepala Susi.
"Bisa diam ngak sih? Atau perlu aku beri kain dan mengikatnya dengan erat untuk menutup mulutmu itu agar tidak berisik lagi seperti ini?".
"Auhh... Sakit tau, kau pikir ini apa ha?". Keluh Susi.
"Itu bolah voli tau Sus". Jawab Rifki tanpa rasa bersalah sedikitpun itu.
"Enak saja kau bilang, ngak ada gantinya tau dipasaran".
__ADS_1
Rifki seakan akan tidak merasa bersalah karena telah menjitak Susi, melihat itu membuat teman temannya dan juga anak buahnya tertawa lepas ketika melihat wajah Susi yang terlihat begitu sebalnya kepada perlakuan Rifki kepadanya.
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...