
Nadhira berjalan menuju ketendanya diikuti oleh Rifki dari belakangnya, Rifki tidak mau terjadi sesuatu kepada Nadhira, sesampainya ditendanya Nadhira segera menghentikan langkahnya dan menoleh kearah dimana Rifki berada.
Rifki tersenyum kepadanya, dan menyuruh Nadhira untuk masuk kedalam tendanya untuk istirahat, Nadhira segera menuruti ucapan Rifki dan masuk kedalam tendanya sementara Rifki berjalan menuju ke api unggun untuk menghangatkan tubuhnya karena malam ini udara dihutan terlihat sedikit dingin daripada sebelumnya.
Tak beberapa lama kemudian Nadhira kembali keluar dari tendanya karena dirinya tidak bisa tidur, jaket milik Rifki masih melekat ditubuhnya saat ini, Nadhira berjalan menuju ketempat dimana Rifki berada.
Dikejauhan dapat Nadhira lihat bahwa Rifki tengah terduduk seorang diri didepan perapian, dengan menjulurkan kedua tangannya didepan perapian seakan akan dirinya kedinginan malam itu.
"Kenapa kamu belum tidur?". Tanya Nadhira sambil berjalan mendekat kearah dimana Rifki berada.
Rifki menoleh kearah asal suara tersebut dan melihat Nadhira sudah ada dibelakangnya dan memasangkan kembali jaket miliknya kepada dirinya.
"Kamu sendiri kenapa kesini? Bukannya tadi aku sudah menyuruhmu untuk tidur?".
"Aku ngak bisa tidur, aku sudah mencoba untuk memejamkan mata tapi aku tidak bisa tidur juga".
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Sampai sampai kamu ngak bisa tidur seperti ini, apa kamu lapar?".
"Aku bingung kenapa aku bisa dalam posisi seperti ini, disatu sisi banyak yang menginginkan permata yang ada ditubuhku, dan disisi lain aku akan mati jika terjadi sesuatu dengan permata ini".
"Aku akan mencari cara agar dirimu terbebas dari permata itu, aku tidak akan menyerah untuk hal itu". Ucap Rifki sambil mengusap kepala Nadhira dengan pelannya.
"Aku dengar keris xingsi mampu mengalahkan permata, jika terjadi sesuatu dengan permata ini nyawaku juga ikut melayang, setelah kamu menemukan keris tersebut apa yang harus kamu lakukan selanjutnya?".
"Aku ngak tau, mungkin kita akan segera mengetahuinya, kau ingat seseorang yang berhasil kita tangkap kemarin? Mungkin dia mengetahui sesuatu tentang permata itu".
Nadhira mengangguk kepada Rifki, banyak sekali beban yang ia pikirkan akan tetapi dirinya tidak mampu mengatakan apapun kepada Rifki, hubungannya dengan Papanya mulai membaik belakangan ini akan tetapi Nadhira hanya takut bahwa hubungannya dengan Papanya akan kembali memburuk setelah Nadhira mengetahui kebenarannya tentang apa yang dikatakan oleh Rahel kepadanya.
Setelah berbincang bincang cukup lama dengan Rifki, Nadhira memutuskan untuk kembali ketendanya karena dirinya sudah mengantuk, Rifki juga memutuskan untuk tidur didepan perapian sambil menjaga penghuni perkemahan tersebut.
*****
Keesokan paginya acara perkemahan sudah selesai, seluruh peserta maupun panitia segera membereskan barang barang mereka, sebenarnya sudah dijadwalkan untuk hari ini mereka akan melakukan jelajah mengelilingi tempat itu akan tetapi kejadian kemarin malam membuat Bapak Ibu guru memutuskan untuk pulang lebih awal daripada jadwal yang sudah ditentukan.
Rifki hanya bisa mengiyakan hal itu, dirinya sendiri juga tidak ingin kejadian kemarin malam terulang lagi hari ini, sehingga membuatnya menyetujui bahwa mereka akan pulang hari ini.
Mereka semua membereskan barang barang mereka masing masing begitupun dengan Nadhira dan Rifki yang tengah sibuk memasukkan barang barang yang mereka bawa ke tasnya masing masing, setelah membongkar tenda mereka segera membereskan tempat tersebut.
Mulai dari mengangkuti sampah yang telah mereka buat, membersihkan bekas api unggun, dan juga membongkar bilik yang telah mereka buat sebelumnya.
Dari kejauhan dapat Nadhira lihat bahwa Rifki sedang berusaha untuk menata isi tasnya agar barang barang yang ia bawa sebelumnya dapat masuk kedalam tas tersebut sementara Nadhira sudah selesai menata tasnya.
Nadhira segera mendekat kearah dimana Rifki berada, orang orang yang ada ditempat itu seakan akan sudah biasa melihat Nadhira dan Rifki yang terus berduaan, para gadis yang melihat itu hanya bisa merasa heran karena sosok Rifki berubah dari yang mereka lihat kemarin malam.
Karena khodam yang Rifki miliki keluar membuat dirinya seakan akan terlihat begitu berkarisma dan aura yang ia keluarkan mampu memikat siapa saja yang melihatnya, akan tetapi kali ini Rifki sudah mengendalikan khodamnya dan juga mengendarai aura yang terpancar dari wajahnya.
Rifki tidak ingin adanya seseorang yang tiba tiba menaruh hati kepadanya akan tetapi dirinya tidak akan mampu untuk membalas perasaan mereka mereka sehingga Rifki takut para gadis itu akan nekat melakukan segala cara agar Rifki terpikat oleh rayuan mereka.
Sangat bahaya bila memiliki wajah yang tampan dan mempesona sehingga siapa saja yang melihatnya tidak mampu mengalihan pandangannya dari orang tersebut, hal itu akan menimbulkan rasa iri hati dilingkungan sekitar yang mampu berujung pada kebencian yang mendalam.
Resiko terbesar bagi seseorang yang memiliki wajah tampan maupun cantik adalah tidak akan mampu membedakan antara cinta yang tulus dan cinta yang hanya modus, mampu menimbulkan rasa iri dengki dihati seseorang yang merasa dirinya tersaingi oleh kita, dan juga menimbulkan banyak masalah karena banyak orang yang akan merebutkannya.
Hal apapun yang akan kita lakukan akan banyak yang memandangnya apalagi sampai mencari tahu atau scroll media sosial kita, seakan akan tidak akan pernah bisa terlepas dari pantauan orang orang yang menjatuhkan hatinya kepada kita.
Begitupun sebaliknya, sangat menguntungkan bagi mereka yang memiliki wajah yang pas pasan, mereka akan mampu bergerak sesuai dengan keinginan mereka tanpa merasa sedang diawasi, mudah membedakan mana cinta sejati dan cinta yang hanya ilusi, mereka yang memiliki wajah pas pasan akan bebas melakukan apapun yang mereka inginkan tanpa harus membuat orang iri dengan ketampanan mereka.
"Rif, mau ku bantu bereskan?". Tanya Nadhira sambil menawarkan bantuan kepada Rifki.
"Emang kamu bisa?". Tanya Rifki dengan keheranan.
"Bisa, sini biar aku saja". Ucap Nadhira sambil meraih tas yang ada ditangan Rifki.
__ADS_1
Nadhira menata baju Rifki dengan benar dan rapi sehingga semua barang barangnya seperti senter, perlengkapan mandi, sandal, dan lain lainnya dapat masuk kedalam tas tersebut.
Tanpa sengaja Nadhira menyentuh sebuah kantong plastik yang ada disaku tas Rifki, Nadhira mengeluarkan kantong tersebut dari saku tas milik Rifki.
"Apa ini?". Tanya Nadhira sambil berusaha mengambil kantong plastik tersebut.
"Bukan apa apa". Rifki segera mengambil kembali tasnya dan memasukkan kantong plastik itu kembali ke saku tasnya dengan senyuman yang begitu canggung.
"Apa yang kau sembunyikan dariku?". Tanya Nadhira sambil memincingkan sebelah matanya.
"Ngak ada, ini barang cowok, cewek ngak boleh melihatnya". Ucap Rifki memberi alasan.
"Kenapa aku tadi merasakan barang itu adalah manik manik? Beneran itu barang cowok? Coba aku lihat, sini berikan".
Dengan terpaksa Rifki memberikan kantong plastik itu kepada Nadhira, Nadhira segera menerimanya dengan senang hati dan segera membuka kantong plastik tersebut.
Nadhira terkejut dengan apa yang ia lihat didalamnya, bagaimana bisa ini disebut barang cowok, sementara didalamnya terdapat sebuah gelang yang dibuat dari manik manik yang begitu indah berwarna biru dan keemasan.
Ketika melihat Nadhira sudah melihat apa yang ada didalam kantong plastik itu, Rifki hanya bisa memejamkan matanya sambil menunggu Nadhira mengatakan sesuatu.
"Bagaimana kamu bisa memiliki gelang yang begitu indah ini? Kenapa tadi kamu bilang ini adalah barang milik cowok yang tidak boleh dilihat oleh cewek? Apa kamu sengaja menyembunyikan ini dariku? Apa kamu akan memberikan ini kepada cewekmu Rif?". Tanya Nadhira yang beruntut sehingga tidak bisa memberikan waktu untuk Rifki menjelaskannya.
"Iya itu untuk seorang cewek". Jawab Rifki sambil mengalihkan pandangannya.
"Benarkah? Siapa cewek itu? Kenapa kamu tidak memperkenalkannya kepadaku?". Tanya Nadhira dengan nada yang seakan akan kecewa kepada Rifki.
"Kalau aku memperkenalkannya kepadamu, apa kamu mau berkenalan dengannya?".
"Kenapa tidak mau? Aku juga berhak mengetahuinya, tipe wanita seperti apa yang kamu sukai itu, Kenapa aku tidak mau berkenalan?". Jawab Nadhira seakan akan menahan sedihnya karena Rifki telah menemukan sosok yang sesuai dengan tipenya itu.
"Dia cantik secantik senja disore hari, baik hati seperti seorang bidadari surga yang turun kebumi, selalu ada buat aku seakan akan seperti udara yang berhembusan dan tidak akan meninggalkanku, sehingga membuatku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari dirinya walaupun hanya sesaat".
"Apa menurutmu aku kurang cantik? Kurang baik?".
"Ya sudah, lebih baik aku mundur saja".
Nadhira memundurkan tubuhnya dari hadapan Rifki, akan tetapi Rifki segera memegang tangan dan menatap kearah Nadhira dengan tatapan yang begitu lekat, Rifki mengambil gelang tersebut dari tangan Nadhira dengan tangan yang satunya.
"Kenapa mundur?". Tanya Rifki dengan senyuman yang mencurigakan.
"Dia lebih sempurna dariku, kamu lebih cocok dengannya daripda aku kan?".
"Iya, sangat sempurna, dan aku ingin memasangkan gelang ini ditangannya yang halus itu".
Nadhira berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Rifki dari tangannya, semakin lama mendengar pujian Rifki kepada wanita lain membuat dirinya semakin marah dan kecewa, hal itu dapat Rifki ketahui dari ekspresi wajah Nadhira.
"Lepaskan aku!". Ucap Nadhira sambil memandang kearah Rifki.
"Tidak mau".
"Kalau ngak aku akan teriak sekarang".
"Kamu mau aku dipukuli oleh mereka karena teriakanmu?".
"Biarkan saja, biar kamu tau rasa".
"Yakin kamu mau lihat aku dipukuli oleh mereka? Sampai babak belur? Tapi aku tidak rela mereka memukulku, aku lebih rela kamu yang memukulku daripada mereka".
"Aku ngak peduli".
"Kalau begitu, teriaklah biar mereka segera memukuliku, bukanlah itu tujuanmu?".
__ADS_1
Nadhira berada dalam dilema kali ini, ia tidak ingin membuat Rifki dipukuli oleh seluruh orang yang ada ditempat itu, akan tetapi dirinya juga tidak mampu mendengarkan ucapan Rifki yang terus memuji gadis lain dihadapannya.
Meskipun kini Rifki dan Nadhira adalah sahabat sejati, akan tetapi Nadhira sangat nyaman berada didekat Rifki, karena bagi Nadhira Rifki adalah lelaki terbaik untuknya, apabila Nadhira boleh egois Nadhira tidak akan membiarkan siapapun mendekati Rifki.
Akan tetapi dirinya tidak akan mampu melakukan hal itu kepada Rifki, biar bagaimanapun Rifki berhak untuk memilih siapapun yang akan menjadi pasangannya nanti, dan Nadhira tidak akan bisa menghentikan hal itu jua.
"Apa kamu cemburu Dhira?". Tanya Rifki dengan tersenyum tipis kearah Nadhira.
"Ngak".
"Kenapa kamu tidak bertanya tentang siapa gadis yang aku maksud itu?".
"Ngak perlu, ngak penting juga bagiku".
"Yakin nih?".
"Iya".
Tanpa melepaskan pegangan tangannya dari tangan Nadhira, Rifki segera memasukkan gelang tersebut ke pergelangan tangan Nadhira, gelang biru tersebut terlihat begitu indah ketika melekat dengan tangan Nadhira.
Nadhira merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rifki saat ini, Rifki bilang bahwa gelang itu akan diberikan kepada gadis yang ia cintai, akan tetapi gelang tersebut malah terpasang dipergelangan tangannya.
"Kelihatan indah ditanganmu, nampaknya pilihanku tidak salah lagi".
"Maksudmu apa? Aku ngak ngerti".
"Kau tau, tidak ada gadis lain yang begitu berarti bagiku kecuali dirimu Dhira, setelah lulus sekolah aku akan pergi keluar negeri dalam waktu yang sangat lama untuk melanjutkan kuliahku atas permintaan dari Kakekku sebelumnya, jika saat itu tiba, tunggulah kedatanganku".
"Kau akan pergi meninggalkanku sendirian?". Tanya Nadhira dengan nada yang terlihat begitu sedih setelah mengetahui bahwa Rifki akan pergi meninggalkannya dalam waktu yang sangat lama.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan melupakanmu ataupun meninggalkanmu lagi setelah pulang ketanah air, sebenarnya aku ingin memberikan gelang ini disaat aku akan pergi, akan tetapi kamu buru buru mengetahuinya".
"Aku tidak bisa jauh darimu Rif, meskipun itu hanya sesaat saja".
"Aku juga begitu, untuk hari hari selanjutnya kita akan mengukir sebuah kisah yang tidak akan pernah kamu lupakan, sampai tiba waktunya kita akan berpisah".
Sebenarnya Rifki tidak tega jika harus meninggalkan Nadhira akan tetapi dirinya juga harus melanjutkan pendidikannya demi menjadi pemimpin perusahaan yang baik selanjutnya, sesuai dengan harapan yang diberikan oleh Kakeknya kepadanya sebelum Kakeknya pergi meninggalkannya.
Rifki tidak ingin meninggalkan Nadhira disaat seperti ini, apalagi didalam tubuh Nadhira masih terdapat sebuah permata yang akan menjadi ancaman baginya jika permata itu sampai direbut secara paksa dari dalam tubuhnya.
Akan tetapi Rifki tidak memiliki pilihan lain yang dapat ia ambil selanjutnya, biar bagaimanapun pendidikan itu penting untuk dirinya juga nantinya, Kakeknya telah memilihkan kampus terbaik di dunia untuk Rifki mengejar pendidikannya.
Rifki tidak ingin mengecewakan harapan Kakeknya ataupun meninggalkan Nadhira seorang diri, ini adalah pilihan yang terberat bagi Rifki, disatu sisi ada Kakeknya disisi lain ada Nadhira, gadis yang ia sayangi itu.
"Kamu janji akan pulang secepatnya?". Tanya Nadhira.
"Iya Dhira, setelah aku sukses aku akan mendatangi Papamu untuk meminta restu darinya, dan kita akan hidup bersama sama seterusnya".
"Aku sangat menantikan hari itu tiba, aku akan menunggu kedatanganmu kembali, aku pasti akan sangat merindukanmu nantinya". Ucap Nadhira tanpa dirinya sadari air mata yang ada dipelupuk matanya tiba tiba menetes kepipinya.
"Sudah jangan nangis lagi". Ucap Rifki sambil mengusap air mata Nadhira yang telah menetes dipipi. "Kita akan segera meninggalkan tempat ini, apa barang barangmu sudah selesai dirapikan?".
"Sudah". Jawab Nadhira tanpa mengalihkan pandangannya kearah Rifki.
"Senyumnya mana? Apa kamu mau menikah sekarang juga? Tapi aku belum cukup umur untuk menikah saat ini, umurku saja masin 18 tahun".
"Bercandamu ngak lucu Rif, aku juga ngak mau menikah diusia semuda ini".
"Ya sudah jangan sedih begitu dong, senyumlah".
Dengan paksaan Nadhira menampakkan sebuah senyuman kepada Rifki sesuai dengan permintaan Rifki, Rifki membalas senyuman itu dengan begitu tulusnya.
__ADS_1
*Terima kasih atas dukungannya*