Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kepanti asuhan


__ADS_3

Ditengah tengah perjalanan perut Fika berbunyi cukup keras, membuat Nadhira tersenyum canggung karenanya, karena marahnya ia sampai melupakan bahwa Fika sedang kelaparan. Nadhira meminta kepada pengemudi becak untuk menghentikannya ketika melihat warung makan, jalanan disitu cukup sepi sehingga membuatnya sulit menemukan warung.


"ah maaf dek, kakak lupa, gara gara yang tadi kakak lupa membelikanmu makanan".


"ngak papa kok kak, itu juga bukan salah kakak".


"iya udah, pak tolong berhenti ya pak kalau ada warung atau apalah, untuk mengganjal perut". ucapnya kepada pengemudi becak.


"iya neng".


Tak beberapa lama kemudian ketiganya berhenti disebuah warung makan yang cukup sederhana, karena hanya warung itu yang berhasil mereka temukan, mereka segera turun untuk mengisi perut Fika. Didalam warung itu, Nadhira dan bi Ira hanya memesan teh hangat saja, Nadhira memesan beberapa jenis lauk dan sayur yang dijual oleh sang pemilik warung.


Tak beberapa lama kemudian makanan yang Nadhira pesan datang juga, tanpa basa basi Fika segera menyantapnya dengan lahap, Nadhira yang melihat itu hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah.


"Dek, makannya pelan pelan, hati hati tersedak".


Fika hanya menanggapi ucapan Nadhira dengan tersenyum, karena baginya makanan yang ia makan saat ini adalah makanan terlezat yang pernah ia makan sebelumnya, bagaimana tidak karena sedari kecil ia memakan makanan bekas orang.


"Enak dek?".


Bi Ira yang menyaksikan ***** makan dari Fika hanya menggelengkan kepalanya, bagaimana ada orang setega tantenya yang membiarkan anak kecil dan polos seperti Fika terlantar dijalanan. Apalagi ketika ia mendengar cerita dari Nadhira tentang Fika yang diusir keluar oleh tantenya dari warung, membuat bi Ira ingin memukul orang tersebut dengan kerasnya.


"Enak banget kak"


"Kamu suka?".


"Suka banget kak, ini makanan terenak yang pernah aku rasakan"


"Adek ngak perlu khawatir soal makan mulai sekarang, ibu panti tidak akan membiarkan adek kelaparan, kakak akan sering berkunjung kepanti dan membawakan adek makanan yang adek suka, mau?"


"Mau banget kak, kakak janji ya".


"Iya, asal adek jadi anak yang baik, rajin, dan penurut pada ibu panti".

__ADS_1


Dengan sigap Fika segera mengangguk-angguk kepalanya kepada Nadhira, ia begitu senang karena bisa bertemu seseorang yang seperti Nadhira. kalau bukan karenanya mungkin hari ini ia tidak akan bisa makan seenak ini, Nadhira juga berpesan kepadanya untuk tidak pernah membenci tantenya, meskipun dia jahat tetapi dia adalah keluarganya yang ia miliki.


Bi Ira tertawa melihat tingkah laku anak anak yang ada didepannya, baginya kedua anak itu begitu menggemaskan. Yang satu memiliki sikap dewasa dan tegas, sedangkan yang satunya begitu polosnya. Bi Ira merasa begitu beruntung dapat menjadi ibu angkat dari anak yang ada dihadapannya, mungkin jika ibunya masih hidup, pasti ia begitu bahagia memiliki anak seperti Nadhira, fikirnya.


Ia bahkan malu pada dirinya sendiri yang selalu mengeluh tentang segala hal, sementara anak yang dihadapannya tidak pernah mengeluh meskipun mereka hidup penuh cobaan dan rintangan. Ia tidak pernah mendengar Nadhira mengeluh tentang segala hal, ia melakukan semuanya dengan senang hati.


Nadhira selalu bersikap baik kepada semua orang, meskipun ia tidak diperlakukan dengan baik oleh beberapa orang yang begitu dekat dengannya. Bahkan ayah kandungnya tidak mempedulikannya entah ia hidup ataupun mati, bagi ayahnya itu sama saja.


Sebenarnya tanpa bi Ira ketahui bahwa Nadhira sering menangis dikamarnya seorang diri ketika malam tiba untuk mencurahkan semua isi hatinya dan emosinya, sehingga ketika ia terbangun semuanya akan terlihat baik baik saja dan tanpa sepengetahuan orang lain Nadhira adalah gadis yang begitu rapuh yang pura pura tegar dihadapan semuanya.


Setelah selesai makan mereka melanjutkan perjalanan menuju kearah panti asuhan, panti itu terletak dibawa kaki gunung yang berjarak sekitar 15km dari rumah Nadhira. Sesampainya disana mereka disambut dengan hangat oleh ibu panti asuhan tersebut, Nadhira memandangi gunung yang ada didekat panti asuhan itu.


"Mama mendaki terlalu tinggi sampai diriku tidak bisa menggapainya, dan sampai sekarang belum juga turun, apakah mama sudah betah disana". Ucapnya dengan lirih.


"Ada apa nak?". Tanya bi Ira ketika sekilas mendengarkan ucapan Nadhira.


Nadhira menunjuk kearah puncak gunung yang dapat ia lihat dengan jelas tanpa tertutup oleh pepohonan yang ada didekatnya. "Disanalah mamaku mendaki kepuncaknya sampai sampai diriku sangat sulit untuk meraihnya".


"aamiin bu, semua orang bilang mama sudah tiada, tetapi aku tidak percaya akan hal itu, bagiku mama akan selalu hidup dihatiku, mama bilang kepadaku ketika didalam mimpiku, ia akan kembali disaat yang tepat, dan kami akan kembali bersama, aku sangat menantikan hari itu bu".


"Jika itu yang Nadhira yakini maka jangan pernah goyah hanya karena ucapan orang, biarkan mereka melakukan apa yang diinginkannya, dan kita juga mempunyai keinginan untuk mengapainya".


"Iya bu"


"itu baru Nadhira yang ibu kenal, ayo masuk". Ajak bi Ira.


Nadhira menangguk kepada bi Ira, ada setitik airmata dikelopak matanya, Nadhira segera mengusapnya agar tiada yang tau bahwa dirinya bersedih. Semua anak panti berkumpul diruang keluarga, bersama dengan Nadhira dan juga yang lainnya.


"Kakak kakak, aku sudah bisa membaca lo". Ucap seorang anak kecil yang berusia 6 tahunan mendatangi Nadhira.


"Wah benar kah? Hebat sekali, coba sini kakak dengar".


Anak itu menarik tangan Nadhira menuju kekamarnya, disana ia mengeluarkan sebuah buku yang cukup usang tetapi masih terawat. Anak itu membukanya dan membacanya secara perlahan, Nadhira mengusap kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


Anak itu pergi berlarian bersama saudara saudaranya, Nadhira hanya menatapnya dalam diam. Tiba tiba bi Ira berdiri disampingnya, Nadhira hanya menolehnya sesaat dan kembali memfokuskan kepada anak itu.


"Apakah aku terlalu egois, jika menginginkan keluargaku kembali seperti dahulu? Ketika aku melihat mereka begitu bahagia seperti ini tanpa kehadiran orang tua mereka, aku begitu malu, mereka mampu melaluinya dengan gembira sedangkan diriku, sudah dewasa masih saja cengeng".


"Nadhira tidak cengeng kok, anak ibu dia orangnya sangat tegar dan kuat, ibu yakin Nadhira mampu melaluinya, Allah tidak akan menguji seuatu kaum kecuali tanpa kesanggupannya".


"Terima kasih ya bu selalu ada buatku"


"Sudah kewajiban seorang ibu yang selalu menemani anaknya".


Nadhira memeluk ibu angkatnya dengan erat, seakan akan takut kehilangannya, ia tidak ingin kehilangan sosok seorang ibu lagi untuk yang kedua kalinya. Baginya sudah cukup kehilangan satu ibu, ia tidak ingin kehilangan sosok seorang ibu yang lainnya.


"Kakak aku juga mau dipeluk!".


"Kakak aku juga".


Nadhira melepaskan pelukannya dan berjongkok didepan kedua anak panti tersebut yang usianya berkisar 4 tahunan, Nadhira tersenyum kepada keduanya, keduanya lalu memeluk Nadhira dengan erat, suara tawa terdengar dari bibir mereka.


Fika hanya mampu menatap dalam diam, ia tidak ingin mendekat dengan orang orang yang baru ia kenalnya, ia teringat apa yang tantenya ucapkan bahwa penyakit kulitnya bisa menular, ia takut menulari semua anak panti yang ada.


Ketika ia menundukkan kepalanya, ia melihat sepasang sepatu sedang berada dihadapannya, ketika ia menoleh keatas ia menemukan bahwa Nadhira sudah ada didepannya dan tersenyum kepadanya.


"Kenapa tidak bermain dengan yang lainnya?". Tanya Nadhira.


"Aku ...".


"Jangan fikirkan apa yang dikatakan orang lain, belum tentu itu benar".


"Iya kak".


Nadhira menarik tangan Fika dan mengajaknya untuk bergabung dengan yang lainnya, mereka bermain dengan bahagianya.


Hingga waktunya untuk berpisah, Nadhira berpamitan kepada anak anak panti dan juga ibu panti, ia tidak lupa berpamitan kepada Fika, ia berharap Fika akan betah tinggal dipanti tersebut. Bi Ira juga melakukan hal yang sama, ia memberikan sebuah amplop kepada ibu panti, melihat hal itu Nadhira ikut memberikan uang jajan untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2