Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Apa yang disembunyikan dariku


__ADS_3

Pasangan yang memiliki hobi yang sama memang begitu indah dan serasi jika dilihat, akan tetapi pasangan itu memiliki resiko tersendiri seperti Nadhira dan Rifki yang sama sama menyukai hal yang berbau perkelahian tetapi bukan kekerasan.


Reflek yang mereka miliki begitu sangat beresiko jika tidak adanya kefokusan dalam hal tersebut, seperti yang Rifki lakukan, jika Nadhira tidak mampu menahan serangan itu mungkin dirinya akan terbanting karena reflek yang dimiliki oleh Rifki.


Dalam ilmu beladiri reflek adalah hal yang terpenting yang harus dimiliki oleh setiap orang yang belajar ilmu beladiri, mereka harus siap dengan segala serangan yang akan mereka terima dengan tiba tiba ataupun mendadak.


Bukan tanpa resiko seseorang belajar ilmu beladiri, belajar ilmu beladiri bukanlah hal yang mudah, bukan hanya soal serang dan menyerang yang diajarkan, tetapi juga kekuatan dan kelenturan tubuh ketika menerima serangan mendadak begitupun dengan reflek yang terus dilatih.


Apalah daya orang yang mampu beladiri akan tetapi reflek yang dimilikinya begitu lamban, mereka akan mudah mendapatkan serangan yang tiba tiba sehingga mereka tidak akan bisa menghindarinya.


Begitupun sebaliknya orang yang tidak pandai dalam beladiri jika memiliki reflek yang tinggi dan cepat, mereka akan dengan mudah mengalahkan musuhnya dan menghindar dari serangan yang tiba tiba terarah kepadanya.


Apalagi ilmu gendam yang harus diwaspadai oleh setiap orang, karena itu menyangkut dengan hal hal semacam hipnotis, pelaku akan menepuk pundak sang korban beberapa kali sampai si korban mampu masuk kedalam hipnotisnya sehingga korban menyerahkan semua barang miliknya yang ia punya kepada pelaku.


Gendam begitu sangat dikenal didalam dunia beladiri ataupun dunia persilatan, bukan hanya orang yang mampu beladiri saja yang dapat terkena gendam, akan tetapi kebanyakan dari mereka adalah masyarakat biasa yang tidak mampu untuk beladiri maupun silat.


Biasanya gendam digunakan oleh orang orang untuk mengambil harta milik orang lain tanpa memiliki resiko yang tinggi, seperti maling ataupun copet yang dapat menjadi mangsa warga bila mereka kepergok sedang beraksi.


Akan tetapi kebanyakan dari orang yang menggunakan gendam selalu berhubungan dengan hal hal gaib, mereka akan melakukan perjanjian dengan mahluk gaib agar mereka dapat melancarkan aksinya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Bukan hanya dijalanan saja mereka akan beraksi tetapi beberapa berita yang menyebar dikalangan masyarakat mengatakan bahwa mereka juga beraksi dirumah rumah warga, mereka akan menyamar menjadi seles, pengamen, ataupun peminta minta.


Lebih amannya ketika kalian berada dirumah sendirian kalau ada orang yang tiba tiba datang kerumah dan tidak dikenali, sebaiknya jangan biarkan mereka masuk ataupun jangan kehilangan fokus kalian ketika berhadapan dengan mereka.


Seperti yang dilakukan oleh Rifki meskipun dirinya terfokuskan kepada si penjual martabak akan tetapi ketika bahunya tiba tiba dipegang seseorang bukan salah Rifki karena memberikan reflek kepada orang tersebut.


Rifki hanya berjaga jaga, bagaimana jikalau orang itu bukanlah Nadhira melainkan sosok orang lain yang ingin berniat jahat kepada dirinya dimalam hari seperti ini.


Sementara reflek yang akan dilakukannya terlambat ia gerakkan, hal itu dapat membahayakan dirinya juga, karena memiliki reflek yang begitu rendah.


Dikejauhan terlihat sosok penjual jus dan salad tersebut diam diam memperhatikan pergerakan keduanya, ia begitu terkejut melihat keduanya berkelahi dengan tiba tiba.


"Apa yang mereka lakukan? Keduanya seperti orang yang pandai beladiri, untung saja aku tidak membuat masalah kepada keduanya". Guman Mbak mbak penjual jus dan salad buah tersebut.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya pesanan Rifki telah selesai dibuat, setelah membayarnya Rifki segera mengajak Nadhira kembali ketempat kedai penjual jus buah dan salad buah untuk mengambil pesanan mereka.


Rifki menata beberapa kantong plastik yang isinya salad buah disepedahnya, dan menyuruh Nadhira untuk membawakan martabak manis yang telah ia beli sebelumnya.


"Boleh diminum ngak?". Tanya Nadhira ketika menerima jus yang dipesan oleh Rifki.


"Terserah". Jawab Rifki tanpa menoleh.


"Boleh atau ngak sih?".


"Ter.. Se.. Rah". Ucap Rifki seperti sedang mengeja kata.


"Jawab lah,, iya atau tidak!!". Tanya Nadhira sekali lagi sambil terlihat begitu cemberut.


Nadhira diam membisu menunggu jawaban dari Rifki, Rifki sama sekali tidak mempedulikan, justru dirinya sibuk dengan minumannya, sesekali ia melihat wajah cemberut Nadhira yang begitu lucu baginya.


"Enak ngak kalo dijawab seperti itu? Lain kali kalo ditanya jawabnya jangan terserah lagi". Ucap Rifki memperingatkan kepada Nadhira.


"Iya iya... ".


"Anak pintar". Rifki mengusap kepala Nadhira sambil tersenyum mendengar jawaban Nadhira yang begitu pasrahnya.


"Jadi gimana? Boleh diminum kan?".


"Boleh Nadhira, siapa juga sih yang ngelarang untuk minum, orang aku belikan untuk Nadhira itu buat diminum bukan untuk dilihatin doang".


Nadhira tersenyum kepada Rifki dan segera meminumnya, karena ia merasa begitu haus setelah banyak berdebat dengan Rifki dan berkelahi dengannya juga malam ini.


Rifki segera menghabiskan minumannya tersebut setalah itu ia mengajak Nadhira untuk pulang, karena suasana sudah larut malam.


"Ya sudah ayo aku antar pulang, ini hampir pukul setengah 10 malam, nanti papamu khawatir lagi". Ucap Rifki sambil melihat kearah jam tangannya.


"Siap".


Rifki segera menyalakan sepeda motornya, sementara Nadhira segera naik kesepedah motor tersebut sambil meminum jus buah yang ada ditangannya disepanjang perjalanan pulang.

__ADS_1


Nadhira menikmati perjalanan tersebut sampai dirumahnya, dinginnya malam menyelimuti keduanya, ketika keduanya sampai dirumah Nadhira, jam menunjukkan pukul tepat 10 malam.


Sesampainya di rumah Nadhira, Rifki segera mengeluarkan dua wadah salad buah yang ia beli tadi dan ia berikan kepada Nadhira.


"Ini buat Nadhira". Sambil menunjukkan kearah salad tersebut. "Lalu yang ditangan Dhira itu buat Bi Ira dan Om Rendi biar ngak marah kalo Dhira pulang malam".


"Ini sama saja menyogok Rifki, nanti masuk penjara gimana?". Tanya Nadhira dengan serius.


"Ngak apa apa, daripada masuk ke kandang harimau kan? yang ada kita mati duluan sebelum keluar kan".


"Ya mending tidur dirumah sambil memakan cemilan".


"Itu mah kamu Dhira, pantes aja tubuhmu kelihatan gemuk, orang kamunya aja suka nyemil tanpa henti".


"Ngawurr". Nadhira sangat tidak terima ketika dirinya diejek gemuk oleh Rifki.


Entah mengapa perempuan lebih sensitif ketika menyangkut berat badannya apalagi postur tubuhnya, ketika dibilang gemuk sedikit rasanya seperti sedikit terasa sakit dan ingin sekali memukul orang yang telah mengatakan gemuk kepadanya.


"Terserah kau saja, oh iya terima kasih ya, sudah mengajakku jalan jalan malam ini, makasih juga sudah dibelikan seperti ini". Ucap Nadhira sambil mengangkat kantong plastik dimasing masing tangannya.


"Iya, buruan masuk".


"Ngak ikut masuk juga?".


"Ngak Dhira, sudah malam, emang kamu mau digerebek warga kalo ketahuan seorang gadis membawa masuk lelaki kedalam rumahnya sebelum ada hubungan pernikahan, emang kamu mau begitu?". Tanya Rifki sambil menggoda Nadhira.


"Ngakkk.... mau ku tabok?".


"Eh... busyet dah, kenapa tiba tiba suka kekerasan?".


"Sudah sudah, pergi sana, sudah malam".


"Iya".


Dengan susah payah Nadhira melambaikan tangannya kepada Rifki karena kedua tangannya dipenuhi kantong plastik, ia pun segera masuk membuka pintu rumahnya, setelah melihat kepergian Rifki Nadhira juga mulai masuk kedalam rumahnya menutup pintu rumahnya dan juga menguncinya dari dalam.


Nampaknya rumahnya sudah sepi, seperti seluruh keluarga tengah tertidur malam ini, Nadhira segera bergegas menuju kemeja makanan dan menaruh martabak tersebut diatas meja, setelah itu ia menaruh salad buahnya dikulkas.


"Bu, ini untuk Ibu, dari Rifki, Rifki bilang suruh Ibu cepat memakannya mumpung masih hangat kalo dingin nanti sudah beda rasanya". Ucap Nadhira sambil menyodorkan sebungkus martabak manis itu kepada ibu angkatnya.


"Terimakasih Nak, sampaikan juga terima kasih Ibu kepadanya ya Nak". Dengan senang hati Bi Ira menerima bungkusan itu.


"Iya Bu, apa Papa sudah tidur Bu?".


"Tuan sedang menunggu Nak Dhira pulang sedari tadi, mungkin sekarang diruang kerjanya".


"Iya sudah Bu, aku mau menemui Papa dulu".


Nadhira segera bergegas menuju ketempat kerja ayahnya sambil membawakan sebungkus martabak manis untuk Papanya, sesampainya ditempat itu Nadhira dapat melihat Papanya sedang menatap kearah laptopnya dengan begitu fokusnya.


"Papa jam segini kok masih belum tidur? Ini sudah malam Pa". Tegur Nadhira ketika melihat Papanya melihat kearah laptop begitu lama.


Ketika mendengar suara Nadhira, Rendi segera menutup laptopnya sebelum Nadhira membacanya, Nadhira tidak memperhatikan itu, ia segera duduk disamping Papanya dan menyodorkan sebungkus martabak manis kepada Papanya.


"Ngak apa apa Nak, kapan kamu pulang?".


"Barusan Pa".


"Ya sudah, buruan tidur udah malam".


"Tapi Papa juga harus tidur, jaga kesehatan papa juga".


"Iya Nak, sebentar lagi Papa juga istirahat kok".


"Iya sudah kalo begitu Pa".


Nadhira segera bergegas menuju ke kamarnya untuk istirahat, sesampainya dikamar Nadhira berpikir keras tentang apa yang disembunyikan oleh Papanya dari dirinya.


"Argghhhh... Terlalu banyak rahasia yang disembunyikan dariku". Teriak Nadhira didalam kamarnya tanpa mampu didengar dari luar.

__ADS_1


"Semua akan terbongkar pada saatnya Dhira, mulai sekarang siapkan mentalmu". Ucap Nimas memperingatkan kepada Nadhira.


"Maksudmu apa!! Apa kau juga sudah mengetahui semuanya??". Nadhira berbicara entah menghadap kearah mana.


"Aku bukanlah Tuhan yang Maha Mengetahui segalanya, aku hanya menebak bahwa ini ada hubungannya dengan kematian Mamamu".


"APA!!!". Nadhira meremas ujung bajunya, perasaannya mendadak menjadi begitu sedih karena ini berhubungan dengan kematian Mamanya.


Sampai saat ini juga, Nadhira masih belum mengetahui tentang kematian Mamanya, meskipun kejadian itu sudah bertahun tahun yang lalu tetapi dirinya sama sekali tidak mengetahuinya.


Nadhira berjalan menuju kearah mejanya dan membuka laci meja tersebut, nampak foto Mamanya terpajang didalam laci tersebut, Nadhira memandangi foto tersebut dengan perasaan yang begitu rapuhnya.


"Mama, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, beri tahu aku Ma".


Dengan berlinangan air mata, Nadhira mencurahkan isi hati kepada foto Mamanya tersebut, beberapa tetes air mata berjatuhan mengenai kaca bingkai foto tersebut.


*****


Setelah mengantar Nadhira pulang, Rifki tidak langsung kembali kemarkasnya melainkan segera melajukan motornya menuju ketempat yang begitu asing baginya dan belum pernah ia datangi sebelumnya.


Rifki memarkir sepedah motornya sembarangan dibahwa rimbunnya pepohonan dimalam hari yang begitu gelap tersebut.


Rifki masuk kesebuah hutan dan berjalan seorang diri ditengah tengah kegelapan malam, jika dilihat dengan mata biasa Rifki sedang berjalan sendirian tetapi jika dilihat dengan indra keenam maka mereka akan melihat bahwa ada seorang wanita yang membimbingnya untuk berjalan.


Rifki berhenti disebuah pohon yang cukup besar dengan pandangan yang begitu tajam tanpa berkedip sedikitpun, pandangan terarah kepada pohon beringin tersebut.


"Jadi disinilah dirimu dikubur?". Tanya Rifki dan dibalas anggukan kepala oleh perempuan tersebut.


"Aku akan memerintahkan kepada anak buahku untuk menguburkan dirimu dengan layak, setelah satu keluarga itu menyadari apa yang telah mereka lakukan kepada dirimu". Ucap Rifki sekali lagi.


Rifki segera bergegas pergi dari tempat itu dan melajukan motornya menjauh dari tempat itu menuju kemarkasnya, ia begitu sangat kelelahan hari ini bukan hanya fisiknya saja melainkan juga rohnya pun ikut kelelahan.


Setelah sampai dimarkas ia melihat anak buahnya yang tengah bertugas dimalam hari sedang berkeliling dimarkas tersebut, mereka segera menyambut Rifki ketika melihat Rifki datang.


"Apa Pak Bram sudah tidur?". Tanya Rifki kepada anak buahnya tersebut.


"Belum Tuan Muda, dia sedang berada dihalam belakang".


Tanpa kata kata Rifki segera meninggalkan anak buahnya tersebut, Rifki segera bergegas menuju kehalaman belakang markasnya untuk menemui sosok yang ia cari.


Bram yang melihat Rifki mendekat kearahnya segera berdiri dari tempat duduknya dan bergegas menuju kehadapan Rifki saat ini.


"Ada apa Tuan Muda?". Tanya Bram kepada Rifki.


"Aku ingin Bapak mencari tau mengenai kematian dari seorang gadis, dan mengumpulkan bukti bukti tersebut sesegera mungkin".


"Siapa gadis itu Tuan Muda? Apa hubungannya dengan Tuan Muda saat ini?".


"Gadis itu bukan siapa siapa, tetapi arwahnya meminta tolong kepadaku karena ketidakadilan yang ia dapatkan, selama dia masih hidup".


"Baik Tuan Muda, saya akan berusaha untuk mendapatkan bukti bukti tersebut secepatnya".


Ucapan tersebut hanya diangguki oleh Rifki, setelah itu Rifki segera bergegas menuju kekamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya, karena sudah larut malam dan besoknya Rifki harus berangkat kesekolah sehingga membuat dirinya harus mengembalikan staminanya.


*****


Beberapa hari kemudian...


Ditengah malam yang sunyi seperti biasa Ibu Hakam akan terbangun tiba tiba ketika ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh tubuhnya.


Meskipun ia tertidur didalam dekapan hangat dari suaminya, akan tetapi dirinya mampu merasakan sesuatu yang menganjal dalam tidurnya.


"Ada apa Bu?". Tanya suaminya ketika merasakan pergerakan dari istrinya.


"Ngak papa Pak".


Sang suami kembali tidur dengan pulasnya, ia sama sekali tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya yang terpenting adalah tidur karena keesokkan harinya ia harus kembali bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya.


Dikejauhan dari tempat tidur, Ibu Hakam tiba tiba mendengar suara jeritan yang begitu memilukan suara itu sama persis dengan suara yang dikeluarkan oleh Rahel diwaktu itu.

__ADS_1


Mendengar itu membuat bulu kuduk wanita itu berdiri dan merinding ketakutan, tubuhnya seakan akan mengigil kedinginan, dapat suaminya rasakan bahwa istrinya tersebut sedang ketakutan karenanya.


__ADS_2