Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Mengungkap misteri


__ADS_3

Hakam begitu mempercayai bahwa Rahel kekasihnya masih hidup hingga saat ini, karena dirinya sering bertemu dengan kekasihnya itu. Ia membantah ucapan Ibunya mengenai Rahel yang telah tiada, baginya Rahel masih tetaplah hidup dan selalu hidup disampingnya.


Meskipun mental anaknya sedikit trauma karena suatu kejadian yang menyebabkan kekasihnya itu meninggal, tetapi Hakam masih tetap menganggap bahwa Rahel masih hidup dan sering kali menemui dirinya.


Rahel tidak pernah meninggalkan dirinya disaat suka maupun duka, Hakam mampu melihat sosok Rahel, dan sering kali berbicara kepada Rahel yang menurut orang orang sekitarnya mengatakan bahwa Hakam sering kali berbicara sendiri.


"Dia mati karena Ibu!!!". Teriak Hakam.


Plakkk..


"Bunuh aku Bu, bunuh sekalian".


Dengan kerasnya Ibunya menampar dirinya ketika Hakam mangatakan hal itu kepada dirinya dengan berteriak dan mengalahkan apa yang telah dia lakukan sebelumnya.


"Apa yang kau katakan ha??". Tanya Ibunya sambil menjambak rambut Hakam.


"Aku berkata yang sebenarnya Ibu!! Ibulah penyebab dia mati, jika Ibu tidak membunuhnya, dia tidak akan mati meninggalkanku Ibu!!".


"Kau menuduh Ibumu ini ha? Sia sia Ibumu ini membesarkan dirimu sampai sebesar ini!! Jika kau menuduh Ibumu ini yang macam macam!!".


"Ibu aku tidak menuduh Ibu!! Aku berbicara karena aku tau segalanya, Ibu aku tidak ingin dirimu tersesat karena hal ini, Ibu aku mohon kembalikan adik kandung Rahel, kasihan dia, dia masih kecil Ibu!!".


Mendadak Hakam seperti pemuda yang tidak memiliki gangguan jiwa, perkataannya menjadi begitu jelas dan tegas, berbeda jauh dari biasanya.


Ibunya begitu terkejut karena belakang ini sikap anaknya seakan akan berbeda dari yang ia kenal selama ini, mungkin Hakam sudah sadar dari gilanya.


Dengan tiba tiba Nita ( Ibu Hakam ) meninggalkan kamar anaknya, ia sama sekali tidak memperdulikan perkataan dari anaknya mengenai adik kandung dari Rahel yang Hakam ketahui sedang disembunyikan oleh Ibunya.


****Kisah dimulai****


1 tahun yang lalu, Hakam mengajak seorang gadis untuk dikenalkan kepada orang tuanya, gadis itu tidak lain adalah Rahel.


Rahel adalah anak yatim piatu, Rahel memiliki seorang adik laki laki yang masih berusia 10 tahunan, sejak usianya menginjak 10 tahun ayahnya pergi meninggalkan untuk selama lamanya, disaat itu juga adiknya masih baru saja lahir.


Ayahnya mengalami kecelakaan yang cukup parah sehingga menyebabkan ayahnya meninggal ditempat kejadian, disaat itu juga adik kandungnya lahir.


Selama ini ibunyalah yang menjadi tulang punggung keluarga demi menyekolahkannya dan juga adiknya, akan tetapi semenjak ia menginjakkan kakinya diusia ke 17 tahun ibunya meninggalkan karena ibunya memiliki penyakit yang sulit disembuhkan apalagi kondisi ekonominya yang kurang mampu untuk mendapatkan pengobatan.


Sejak kepergian Ibunya ia begitu dekat dengan sosok lelaki yang usianya hampir 20 tahunan, lelaki itu selalu ada untuk Rahel disaat suka maupun duka keduanya selalu bersama.


Selama 3 tahun itu, mereka lalui dengan penuh cita, Rahel begitu mencintai sosok pemuda yang ia kenal itu, pemuda itu tidak lain adalah Hakam. Sekarang usia hakam menginjak umur ke 23, ia ingin sekali menikah dengan pujaan hatinya.


Akhirnya ia mengajak Rahel untuk bertemu dengan ibunya dan memperkenalkan Rahel kepada ibunya, awalnya ibunya begitu baik kepada Rahel, akan tetapi semenjak mengetahui bahwa Rahel adalah anak yatim piatu yang miskin membuat ibunya sangat tidak menyetujui anaknya menikah dengan gadis itu.


Dengan kesalnya Nita mendatangi rumah Rahel yang masih beralaskan tanah liat dan juga berdinding kayu itu dengan perasaan yang memanas.


"Aku akan memberimu uang yang kamu mau, asal kamu meninggalkan anakku, jangan pernah kembali lagi ketempat ini". Ucap Nita dengan marahnya dirumah Rahel sambil melempar beberapa uang kertas berwarna merah kewajah Rahel.


"Aku tidak butuh uang Tante!! Aku masih mampu untuk mencukupi kehidupanku sendiri, asal Tante tau, aku tidak pernah diajari oleh orang tuaku untuk meminta minta!! Aku juga akan pergi tanpa Tante suruh sekalipun".


"Baguslah jika kamu sudah menyadari kedudukanmu!! Kau bukan levelku".


"Permisi Tante".


Brakk...


Rahel dengan sakit hatinya menutup pintu rumahnya dengan keras dihadapan Nita, kakinya begitu lemasnya karena apa yang dilakukan oleh orang tua dari orang yang paling ia sayangi.


Akhirnya ia menjatuhkan dirinya dibalik pintu rumahnya, ia juga menyandarkan tubuhnya dipintu tersebut, ia bingung entah apa yang harus ia lakukan selanjutnya apakah ia akan meninggalkan rumah ini? Meninggalkan kenangan yang selama ini ia rangkai bersama keluarganya? Meninggalkan segalanya?.


Karena tiba tiba pintu tersebut ditutup dadi dalam, membuat Nita segera meninggalkan rumah tersebut, ia tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh Rahel yang terpenting baginya adalah Rahel menjauhi anak satu satunya itu.

__ADS_1


"Kak, kenapa Kakak menangis?". Tanya adiknya dengan polosnya.


"Kakak ngak papa kok Dek, Kakak hanya kelilipan saja, oh iya Adek sudah makan?". Tanya Rahel dengan memegang pundak adeknya.


"Sudah Kak, Kakak aja yang belum makan kan? Kakak makan dulu".


"Iya Dek, sebentar lagi kita akan pergi dari sini, Adek beres beres barang Adek dulu ya". Ada begitu banyak luka sayatan didalam hatinya, tetapi ia harus berpura pura tegar dihadapan adik laki lakinya itu.


"Kenapa tiba tiba Kak? Kita mau pergi kemana? Lagian ini kan rumah peninggalan Ayah dan Ibu, aku ngak mau pergi dari sini".


Adiknya tersebut memaksa untuk tetap tinggal ditempat itu, ia tidak ingin meninggalkan tempat tersebut biar bagaimanapun ia tumbuh dewasa ditempat itu.


"Adek!! Dengerin Kakak!! Kita harus pergi dari tempat ini secepatnya!!". Bentak Rahel kepada adiknya tersebut sambil berlinangan air mata, sebenarnya ia sendiri juga tidak ingin pergi dari tempat itu, tetapi tidak ada pilihan lain sehingga ia mau tidak mau harus pergi dari situ. "Tolong Adek mengerti ya? Kita akan pergi sebentar lagi".


"Kenapa Kakak membentakku seperti itu? Aku hanya tidak mau pergi dari tempat ini, ini adalah satu satunya peninggalan dari Ibu, apa Kakak sudah tidak sayang dengan Ibu?".


Rahel segera memeluk adik satu satunya itu, biar bagaimanapun adiknya tersebut adalah harta paling berharga miliknya, ia tidak mempunyai keluarga lain selain dirinya.


Rahel merasa begitu sangat bersalah karena telah membentak adiknya tersebut, selama ini ia tidak pernah berkata seperti itu kepada adiknya, tetapi karena emosinya ia sampai lupa berkata dengan kasar kepada adiknya.


"Maafin Kakak, Kakak tidak berdaya saat ini, maafin Kakak, Kakak salah, seharusnya kakak tidak mengenal pemuda itu Dek". Rahel mengeratkan pelukannya tersebut, ia begitu merasa bersalah kepada adiknya.


Tangis yang sejak tadi ia tahan, tiba tiba ia keluarkan begitu saja, seakan akan ia sudah tidak mampu menahannya lagi, airmata itu terus memberontak meminta untuk dilepaskan.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka telah selesai mengemasi barang barang mereka yang akan mereka bawa, mereka segera meninggalkan rumah yang begitu sangat berarti bagi keduanya.


Kenangan yang begitu berarti bagi mereka, perjuangan seorang ayah demi membangun rumah tersebut, entah mereka akan tinggal dimana selanjutnya karena mereka juga tidak memiliki tujuan yang tepat untuk mereka datangi.


"Kak, aku capek, sampai kapan kita harus berjalan terus? Sebenarnya kita mau kemana Kak?". Keluh dari adik laki lakinya itu.


"Sabar ya Dek, Kakak masih nyari kontrakan yang murah, kita istirahat disini dulu ya Dek".


Rahel mengajak adiknya untuk mendatangi musholla terdekat dari tempat itu, agar adiknya bisa beristirahat dan dirinya bisa beribadah ditempat itu, biar bagaimanapun ia tidak ingin kehilangan arah kiblatnya.


Adiknya segera beristirahat di koridor musholla itu, Rahel segera meninggalkan adiknya yang istirahat dengan damainya untuk menjalankan ibadahnya.


"Ya Allah tiada masalah yang lebih besar kecuali Engkau telah menyiapkan kebahagiaan yang besar, Engkau tidak akan menguji hamba-Mu diluar kesanggupannya, berikanlah ketabahan dan kesabaran kepada Hamba atas segalanya cobaan yang telah Engkau berikan, permudahkanlah jalan hamba untuk mencapai hidayah-Mu".


Selama Rahel berdoa dengan khusyuknya, tiba tiba terdengar suara keributan dari luar tempat dimana adiknya sedang tidur, Rahel segera melepaskan mukenanya dan bergegas mendatangi adiknya.


"Maaf Pak, Buk ada apa ya? Apa salah Adek saya?". Tanya Rahel sambil mencoba mendekati adiknya.


"Oh ini Adeknya Mbak? Bilangin sama Adeknya, musholla bukan tempat untuk tidur!! Sebaiknya pergi dari sini". Ucap seorang Bapak bapak kepada Rahel dengan kata kata yang sangat kasar.


"Iya Pak, kami minta maaf karena telah membuat keributan ditempat ini, kami akan segera pergi dari sini". Ucap Rahel sambil memeluk adiknya tersebut.


Rahel memeluk adiknya dengan eratnya, cobaan seperti apa lagi yang harus mereka hadapi selanjutnya, dalam diamnya Rahel meneteskan air matanya mendengar ucapan ucapan yang tidak seharusnya ia dengar.


"Maaf Bapak bapak, ada apa ini?". Tanya seseorang yang berpenampilan seperti seorang Ustadz.


"Begini Pak Ustadz, anak ini tidur sembarangan di musholla ini, mengotori lingkungan saja".


"Astaghfirullah hal azim, Pak, kita sebagai umat muslim jangan mengatakan hal seperti itu, Allah sangat membenci hal seperti itu".


"Maafkan kami Pak, kami tidak memiliki rumah, kami akan pergi sekarang". Jelas Rahel.


Rahel segera mengangkat tas yang ia bawa sebelumnya, dan membantu adiknya untuk berdiri dari tempat itu, dengan rintihan airmata ia berjalan menjauhi tempat tersebut.


"Kalian tidak punya rumah?". Tanya Ustadz itu sambil menghentikan langkah kakak beradik itu.


"Iya Pak, kami anak yatim piatu, sebenarnya kami sedang mencari kontrakan yang murah, karena berjalan cukup jauh kami beristirahat disini sebentar, maafkan kami".

__ADS_1


"Dek, bagaimana kalo kalian tinggal dirumah saya, rumah saja deket dari sini juga, sudah lama tidak di tinggali, nanti biaya sewanya bisa nyicil".


"Beneran Pak?". Tanya Rahel dengan kedua matanya berkaca kaca.


"Iya Dek, mari Bapak tunjukkan jalannya".


"Terima kasih Pak, atas kebaikan Bapak, semoga Allah membalasnya dengan berkali kali lipat".


"Aamiin ya Rabbal alamin".


Pak Ustadz tersebut segera mengajak Rahel dan adiknya menuju ketempat yang mereka maksud, rumah tersebut memang sengaja dikosongkan karena ingin dijual akan tetapi ketika melihat kakak beradik itu membuat dirinya menyerahkan rumah itu untuk mereka rawat.


Rahel begitu senang, mungkin ini adalah jawaban dari doa doanya meskipun proses yang ditempuh begitu berliku liku.


Sementara disatu sisi Hakam terus mencari kekasihnya tersebut karena beberapa hari belum pulang kerumah, para tetangganya juga tidak ada yang melihat kepergian dari Rahel dan adiknya.


"Kalo ngak salah beberapa hari yang lalu ada yang datang Mas kerumahnya".


"Siapa itu Bu? Kalo boleh tau ciri cirinya bagaimana? Apa dia keluarga jauh dari Rahel?". Tanya Hakam dengan antusias.


"Wanita usia 40 tabunan Nak, pakaiannya bagus, rambunya di sanggul dan ada tahilalat dipipinya, Ibu juga ngak tau siapa orang itu, dia marah marah sama Nak Rahel sambil ngelempar lempar uang gitu".


Hakam begitu terkejut ketika mendengar apa yang diceritakan oleh tetangga Rahel mengenai kejadian diwaktu itu.


Hakam sesegera mungkin mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompetnya, ia pun menunjukkan foto tersebut kepada si ibu ibu itu.


"Apa ini orangnya Bu?".


"Iya Nak, ini orangnya, Ibu sangat yakin kalo ini memang orang itu".


Hakam begitu terkejut dengan apa yang dikatakan orang tersebut, foto tersebut tidak lain adalah foto ibu kandungnya, bagaimana Hakam tidak terkejut karena orang yang dimaksud adalah Ibunya sendiri.


Hakam segera bergegas menuju rumahnya dengan amarah, biar bagaimanapun apa yang dilakukan oleh Ibunya sungguh sangat keterlaluan apalagi dengan anak yatim piatu yang telah ditinggal oleh keluarganya dan hidup berdua hanya dengan adiknya seorang telah diperlakukan seperti itu oleh Ibunya.


Berhari hari itu Hakam terus mencari keberadaan dari kekasihnya tetapi tak kunjung menemukannya juga setelah bersosialisasi dengan lingkungan sekitar tempat Rahel tinggal akhirnya ia mengetahui bahwa Ibunya adalah penyebab dari kepergian Rahel.


"Ibu!!... Ibu!!... Ibu!!... Ibu dimana!! Ibu!!". Hakam terus memanggil Ibunya dari kejauhan rumahnya.


"Ada apa Nak? Kenapa teriak teriak seperti itu!!".


"Apa yang Ibu lakukan kepada Rahel!!! Kenapa Rahel pergi dari rumahnya!!". Teriak Hakam.


"Ibu ngak ngapa ngapain, dia pergi dari rumah ya terserah dia, bukan urusan Ibu juga".


"Ibu tau kan, dia anak yatim piatu Bu!! Tidak memiliki saudara!! Kenapa Ibu lakukan itu kepada dia? Kalo Ibu memang tidak menyetujui hubungan kami, jangan lakukan hal seperti itu Bu!! Bagaimana kalo dia kenapa kenapa?".


Hakam langsung masuk kedalam rumahnya dan diikuti oleh ibunya dari belakang, Hakam dengan marahnya memasukkan pakaiannya kedalam tasnya ia ingin pergi untuk mencari dimana keberadaan dari kekasihnya itu.


"Nak kamu mau ngapain? Jangan tinggalkan Ibu". Nita segera menghentikan apa yang hendak dilakukan oleh Hakam anaknya.


"Aku akan mencari Rahel Bu, kalau sampai Rahel tidak ketemu aku tidak akan pulang!!".


"Hakam!!! Berhenti!!! Jangan tinggalin Ibu Nak!!".


Dengan amarahnya Hakam meninggalkan rumah tersebut dan mengabaikan Ibunya yang terus berteriak memanggil dirinya.


Hakam terus mencari keberadaan dari Rahel, biar bagaimanapun Rahel adalah seorang gadis yang lemah lembut dan dia adalah tulang punggung keluarganya, ia harus mencukupi kebutuhan dari adiknya.


Karena minimnya penghasilan yang ia dapatkan sehingga ia tidak mampu untuk menyekolahkan adiknya tersebut, uang hasil kerjanya hanya mampu dibuat makan tiap harinya.


****Terima kasih atas dukungannya****

__ADS_1


__ADS_2