
Nimas memperhatikan setiap pergerakan dari Nadhira dan dia menduga bahwa emosi Nadhira seperti sedang tidak stabil, dan dirinya dapat menebak bahwa saat ini Nadhira sedang mengalami pms sehingga dia begitu galak untuk dapat disinggung untuk saat ini.
Nadhira hanya bisa diam saja mendengar pertanyaan dari Nimas itu, ia juga tidak tau kenapa rasanya ia ingin sekali marah karena tidak bisa keluar dari rumahnya tanpa seizin dari Omanya, ia hanya ingin bertemu dengan anggota Gengcobra untuk menanyakan keadaan Rifki yang membuatnya merasa tidak tenang.
Nadhira terus berusaha untuk dapat memikirkan sesuatu yang dapat membawanya untuk keluar dari rumah itu sehingga dapat menemui anggota Gengcobra yang sedang berpatroli dijalanan, Nadhira yakin bahwa mereka sedang berpatroli untuk saat ini.
Nyatanya sudah begitu banyak cara yang telah ia lakukan untuk keluar dari rumah itu mulai dari keluar dengan diam diam dari cendela kamarnya menggunakan kain yang panjang sebagai medianya, keluar dari pintu belakang dan hendak memanjat pagar, dan masih banyak lagi akan tetapi Sarah dengan begitu mudah untuk dapat menghalanginya.
"Kenapa Oma terus saja menghalangiku untuk keluar rumah sih" Keluh Nadhira.
"Sudah ku bilang sebelumnya kan? Sebaiknya kau meminta bantuan Theo saja, itu pasti akan jauh lebih mudah daripada melakukan hal seperti ini".
"Apa kau yakin Oma bakal mengizinkan kami untuk keluar nantinya? Bagaimana kalau Oma masih tetap pada pendiriannya itu? Kasihankan Theo harus repot repot untuk datang kemari".
"Lebih baik mencoba walaupun akhirnya bakalan gagal, daripada tidak mencobanya sama sekali, siapa tau percobaan itu akan berhasil bukan? Dan kau sendiri yang akan menikmatinya nanti".
"Tidak, mana mungkin aku mengajaknya untuk bertemu dengan anggota Gengcobra dan menanyakan keadaan Rifki bersama dengan dirinya, kau tau sendiri kan kalau Theo tidak suka aku membahas soal Rifki didepannya?"
"Iya juga sih, lalu bagaimana dong?".
"Mungkin dengan membujuk Oma".
Nadhira terus memikirkan kata kata apa yang tepat untuk membujuk Omanya itu, hingga tak beberapa lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar Nadhira dengan perlahan lahan.
Tok tok tok
"Siapa? Masuk saja, ngak dikunci kok" Jawab Nadhira dengan ketusnya.
Nadhira membiarkan orang tersebut masuk kedalam kamarnya tanpa menoleh sedikitpun kepada siapa yang datang, yang datang adalah Sarah dan ia segera duduk sebelah Nadhira.
"Apa kau marah dengan Oma Dhira?" Tanya Sarah dengan lembutnya kepada Nadhira.
"Oma" Mendengar suara itu adalah suara Sarah membuat Nadhira segera menoleh kepadanya dengan semangatnya.
"Kenapa kau sangat ingin keluar?" Tanya Sarah sekali lagi kepada Nadhira.
"Aku hanya ingin bertemu dengan teman lamaku Oma, apa Oma mengizinkan diriku untuk bertemu dengan mereka?".
"Baiklah Oma akan mengizinkannya".
"Oma serius?" Tanya Nadhira dengan memancarkan senyum yang begitu lebar kepada Sarah.
"Tapi dengan syarat Pak Mun harus ikut bersamamu, dan cepatlah kembali setelah itu, berjanjilah kepada Oma kau akan kembali dengan keadaan tanpa lecet sedikitpun karena Oma tidak menginginkan hal itu".
"Baik Oma, Dhira pasti akan baik baik saja, terima kasih Oma, sayang Oma" Ucap Nadhira dengan senangnya dan langsung memeluk tubuh Omanya.
Nadhira segera bersiap siap untuk keluar dari rumahnya itu, ia begitu senang karena akhirnya Omanya mengizinkan untuk keluar rumah dengan sendirinya, setelah itu Nadhira segera bergegas mendatangi Pak Mun yang saat ini sudah berada dihalaman depan dengan mobil yang sudah terparkir rapi disana.
"Ayo berangkat Pak Mun" Ucap Nadhira dan langsung masuk kedalam mobilnya.
"Siap Non"
Pak Mun segera bergegas masuk kedalam mobil itu dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah tersebut, Nadhira begitu senang saat ini karena akhirnya dia bisa jalan jalan keluar juga setelah sekian lama berusaha untuk dapat keluar dengan mudah dari rumah itu.
"Kita mau kemana Non?".
"Kedanau yang dekat dengan rumahku dulu Pak".
"Kedanau? Emang Non Dhira mau ngapain kesana? Jangan jangan Non Dhira .....".
"Ya pura pura jadi putri duyung lah Pak, emang mau ngapain lagi kesana?".
"Non Dhira bisa saja bercandanya, emang ngak takut ditangkap manusia apa Non?".
"Manusia seperti apa yang bisa menangkapku Pak? Paling tidak mereka akan babak belur karena pukulanku nantinya".
__ADS_1
"Iya Bapak tau kalau pukulan Non Dhira itu begitu kuat, tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Non Dhira disana? Kata Non Dhira danau itu kan begitu sepi dan sangat rimbun semak semaknya"
"Disanalah aku sering bermain dengan teman temanku waktu dulu Pak, kita tumbuh dan besar bersama sama disana, aku hanya ingin mengenang mereka saja, mungkin perasaanku akan tenang jika berada disana".
"Non yang sabar ya, kalau mereka ada waktu pasti akan mengajak Non untuk berkumpul kembali seperti dulu, mungkin sekarang mereka sedang sibuk dengan dunianya masing masing".
"Pak Mun benar".
Mobil itu melaju dengan cepatnya menuju kearah yang telah ditunjukkan oleh Nadhira, hingga mobil itu berhenti disebuah tepi jalanan yang sedikit jauh dari tempat danau itu berada, Nadhira segera turun dari mobilnya diikuti oleh Pak Mun dibelakangnya.
"Pak Mun tetap disini saja, aku mau kesana sendiri".
"Tapi Non, Nyonya besar memerintahkan diriku untuk tetap berada disebelah Non Dhira".
"Aku bisa jaga diri kok Pak, Pak Mun tidak perlu secemas itu kepadaku"
"Tapi Non ....".
"Tetap tunggulah aku didalam mobil, aku akan kembali dengan sendirinya setelah pikiranku merasa sedikit tenang".
"Baiklah Non, hati hati disana".
Pak Mun tidak bisa membantah ucapan Nadhira karena Nadhira memiliki watak yang tidak suka untuk dibantah, sehingga ia hanya mengikuti saja apa kemauan dari Nadhira, Nadhira segera meninggalkan Pak Mun dan bergegas menuju ketepi danau tempat dimana dia dan teman temannya sering berkumpul.
Nadhira kini berada ditepi danau yang indah itu dan duduk dibawah pohon yang terdapat sebuah batu besar tempat dimana dirinya sering bercanda gurau dengan teman temannya, nampak sekali kalau danau itu begitu terawat sekarang entah siapa yang telah membersihkan selama ini.
Nadhira merasa damai berada ditempat itu, ia berharap bahwa ada salah satu anggota Gengcobra yang datang ketempat itu, selama diperjalanan ia sama sekali tidak menemukan keberadaan dari anggota Gengcobra sehingga ia memutuskan untuk pergi kedanau ini saja.
Plakk....
Sebuah tamparan mendarat dengan mulus dipipi kiri Nadhira tanpa ada yang menghalangi, tamparan itu begitu keras sehingga membuat Nadhira mengeluarkan darah diujung bibirnya, dan pelakunya adalah Amanda yang tak sengaja melihat Nadhira datang kearah danau.
Nadhira terlalu fokus kepada gelombang air yang ada di danau itu sehingga ia tidak menyadari kedatangan Amanda dengan tiba tiba ketempat itu, Nadhira memegangi pipinya yang kebas dengan eratnya karena tamparan keras dari Amanda.
"Untuk apa kau datang kemari!" Bentak Amanda dengan amarahnya.
Amanda tidak terima dengan jawaban dari Nadhira sehingga ia menggerakkan tangannya lagi untuk menampar pipi Nadhira akan tetapi Nadhira dengan sigap menangkis tangan tersebut hingga membuat Amanda menggeram kesakitan.
Amanda begitu terkejut dan tidak menyangka bahwa Nadhira akan melawannya seperti ini hingga membuat pergelangan tangannya kesakitan, tidak seperti biasanya Nadhira akan bersikap lembut kepadanya meskipun Amanda melakukan sesuatu kepada Nadhira yang dapat menyakiti Nadhira.
"Akh... Jauhi Papa! Jangan pernah sekali kali kau menemui Papa lagi! Atau aku akan melakukan suatu kepadamu hingga kau menyesali tindakanmu itu"
"Hanya melawan dirimu aku sama sekali tidak pernah takut, anak seorang pembunuh seperti dirimu itu, tidak pantas untuk diampuni dan dikasih hati, sama seperti Ibumu yang pembunuh itu kau pun memiliki hati yang begitu licik, dasar anak pembunuh!"
"Mamaku bukanlah seorang pembunuh! Aku tidak terima jika kau mengatakan bahwa Mamaku adalah pembunuh Dhira!".
"Kalau bukan pembunuh, mungkin saja pelac*r adalah sebutan yang cocok untuk Ibumu itu".
Amanda segera menyerang Nadhira dengan asal asalan dan membabi buta serangannya itu karena ia sama sekali tidak bisa beladiri sehingga dengan mudahnya Nadhira yang ahli beladiri mampu menghindari serangan itu dan justru dengan mudah menyerang balik kearah Amanda.
Amanda terus saja berusaha untuk dapat melukai Nadhira akan tetapi ia sama sekali tidak mampu untuk melanjutkan itu karena kelincahan yang dimiliki oleh Nadhira saat ini, sehingga membuat Amanda semakin marah kepada Nadhira.
"Mamamu adalah seorang pembunuh!" Ucapan Nadhira berkali kali yang membuat Amanda merasa darahnya mendidih karena ucapan itu.
"Tidakkkkkk!! Aaaaaa".
Amanda tidak terima jika Sena dikatakan pembunuh oleh Nadhira, dan memang kenyataannya Sena telah membunuh Lia dan juga Dwija yang saat itu pernah menjadi orang yang paling dicintainya apalagi Sena hendak membunuh Rendi dengan menggunakan racun yang sangat mematikan dan berhasil untuk digagalkan oleh Nadhira sendiri.
Setelah mengetahui bahwa Sena lah yang menjadi penyebab dibalik kematian dari Mamanya, hal itu membuat Nadhira tidak lagi bersikap lembut kepada Amanda dan justru akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Amanda kepadanya.
Amanda tak henti hentinya berusaha untuk melukai Nadhira akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa melakukan itu hingga akhirnya ia terjatuh keatas rerumputan dengan begitu kerasnya hingga ia mampu bangkit dengan waktu yang cukup lama.
Bhukk...
"Sudah ku bilang sejak dulu bukan, jangan pernah bermain main dengan diriku Manda, aku bisa saja melukai dirimu dengan mudah jika aku mau, atau bisa saja aku membunuhmu jika aku ingin".
__ADS_1
"Ilmu gaib apa yang kau gunakan! Kenapa tanganmu begitu keras seperti itu?" Tanya Amanda yang melihat bahwa beberapa bagian lengannya yang terkena tangkisan Nadhira sudah memburu.
"Ilmu gaib? Aku bukanlah Mamamu yang pandai menggunakan ilmu gaib untuk menyakiti orang lain".
Amanda berusaha lagi untuk dapat menyakiti Nadhira akan tetapi kekuatannya berbeda jauh dari Nadhira sehingga membuat dirinya beberapa kali harus terjauh diatas tanah dengan sangat kerasnya, akan tetapi dirinya sama sekali tidak mau menyerah dihadapan Nadhira seperti ini.
Amanda terus saja berusaha bangkit, ia tidak ingin kalah dari Nadhira yang ahli dalam beladiri itu, meskipun seluruh tubuhnya kini terasa begitu sakit dan nyeri karena bantingan yang dilakukan oleh Nadhira kepadanya.
"Aku tidak akan memaafkanmu Dhira, Aaaa....".
Amanda dengan sekuat tenaga melemparkan sebuah pasir kearah wajah Nadhira, Nadhira termundur beberapa langkah ketika pasir pasir itu mulai mengenai selaput mata indahnya itu, hal itu membuat Nadhira tidak mampu membuka matanya dengan mudahnya.
"Akh... Kau curang Manda!"
Nadhira begitu sangat kesakitan ketika butiran butiran pasir itu masuk kedalam matanya, hal itu membuat Nadhira tidak mampu melihat dengan mudah karena rasa perih yang ia rasakan diarea matanya saat ini.
"Ini bukanlah pertandingan yang harus berbuat adil".
"Dasar licik! Seperti Ibumu itu".
"Diam kau Dhira!".
Hal itu membuat sebuah kesempatan yang sangat besar untuk Amanda, Amanda tidak ingin melewatkan kesempatan itu dengan mudahnya dan ia segera bangkit dari jatuhnya dan segera menendang perut Nadhira hal itu membuat Nadhira terjatuh karena yang ditendang oleh Amanda adalah bagian perut yang pernah dioperasi untuk diambil ginjalnya beberapa bulan yang lalu.
Tendangan bebas dari Amanda itu membuat luka jahitan yang belum sepenuhnya sembuh itu kini terasa sangat nyeri dan juga karena tendangan yang mengenai perutnya membuat Nadhira merasa sangat ingin muntah.
Nadhira memegangi perutnya yang sakit dengan sangat eratnya dan berharap bahwa rasa sakit itu tidak menyebabkan kerusakan pada organ tubuhnya, Nadhira terbaring diatas rerumputan yang hijau dan subur itu dengan penuh kesakitan.
Melihat Nadhira yang kesakitan seperti itu seketika membuat Amanda tertawa dengan kerasnya karena merasa bahagia bisa melukai Nadhira, ia tidak tau bahwa tendangannya itu telah melukai luka jahitan Nadhira sehingga ia berpikir bahwa tendangannya itu begitu hebat hingga mampu membuat Nadhira terbaring dengan kesakitan yang mendalam.
"Hahaha.... Apa itu sakit Dhira? Ternyata untuk bisa mengalahkanmu itu sangat mudah seperti ini, kena sekali tendang saja sudah meraung raung kesakitan seperti itu, apalagi kalau kau terkena puluhan tendangan paling sudah mati dengan sangat mudahnya, ah tidak, mungkin cukup dua kali saja, hahah..." Ucap Amanda dengan bangganya.
Amanda segera menggerakkan tangannya untuk mencekik leher Nadhira, Nadhira yang tidak mampu untuk membuka matanya tiba tiba merasakan sebuah tangan telah melingkar di lehernya dan mencekiknya dengan sangat eratnya.
Uhuk... Uhuk...
Nadhira terbatuk batuk karena cekikan Amanda yang begitu kuat saat ini, bukan hanya mencekik dengan satu tangan saja Amanda justru mencekik leher Nadhira dengan kedua tangannya sekaligus, hal itu membuat Nadhira kesusahan untuk bernafas.
"Lebih baik kau mati saja Dhira! Kau sudah tidak lagi pantas untuk hidup didunia ini! Aku akan membuatmu untuk segera menyusul Mamamu itu, kau seharusnya berterima kasih kepadaku karena telah mengirim dirimu untuk bertemu dengan Mamamu itu".
Nadhira mengenggam erat tangan Amanda dan mencoba untuk menjauhkannya dari lehernya, Nadhira berharap rasa nyeri yang ada diperutnya segera menghilang dan dirinya terbebas dari cekikan Amanda saat ini.
"Le.. pas.. kan Man.. da"
"Matilah kau Dhira! Kau telah menghancurkan keluargaku Dhira, kau membuat Mamaku dipenjara karena dirimu! Aku tidak akan mengampunimu dan membiarkan dirimu hidup lagi".
Nadhira sedikit kesulitan untuk berbicara karena cekikan yang diberi oleh Amanda kepadanya, meskipun begitu Nadhira terus berusaha untuk melepaskan diri dari hal itu meskipun perutnya begitu sakit akibat tendangan Amanda yang mengenai bekas luka operasinya.
"Didanau yang indah dan sangat tenang ini, aku sangat iklas untuk kehilangan nyawaku untuk selama lamanya karena sudah tidak ada lagi yang harus aku pertahanan didunia yang begitu kejam ini, jika ini adalah akhir dari kisahku, aku berharap dapat bertemu kembali dengan dirimu Rifki, aku akan menunggu kedatanganmu disyurga nanti, ku harap kau hidup dengan bahagia walaupun tanpa kehadiran diriku disisimu, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku" Batin Nadhira.
Nadhira terus berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Amanda dari lehernya itu meskipun dengan sudah payahnya, ia tidak boleh menyerah begitu saja meskipun pada akhirnya dirinya akan mati ditempat itu nantinya.
"Kau telah berebut kasih sayang Papa dariku! Aku akan merebutnya kembali setelah menghabisimu Dhira!".
Wajah Nadhira nampak terlihat begitu pucat dengan penuh keringat yang membasahinya, Nadhira tidak bisa berbuat apa apa karena rasa sakit yang tengah ia rasakan saat ini, bukan hanya kedua matanya, lehernya saja akan tetapi juga perutnya karena tendangan yang diterimanya dari Amanda.
Nadhira mulai meneteskan air matanya, dan air mata itu mengalir dengan derasnya dengan membawa butiran butiran pasir ikut bersama dengan derasnya air mata yang mengalir itu, hal itu membuat perih yang ada dimata Nadhira perlahan lahan mulai membaik dan Nadhira mampu untuk membuka kedua matanya sedikit.
Pernafasan Nadhira mulai melambat karena eratnya cekikikan yang diberikan oleh Amanda kepadanya, Amanda memang telah berniat untuk membunuh Nadhira karena ia berpikir bahwa Nadhira telah menghancurkan keluarga bahagianya.
"Ya Allah ini sangat menyakitkan" Batin Nadhira.
Keringat Nadhira mulai bercucuran dengan derasnya, tubuhnya seakan akan begitu dingin, rasa sakit diperutnya semakin menjadi.
Ketika Nadhira datang ketempat itu, Amanda tidak sengaja melihat kedatangan Nadhira ketika dirinya ingin pergi jalan jalan, hal itu membuat Amanda segera mengikuti Nadhira tanpa sepengetahuan dari Nadhira.
__ADS_1
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...