
Panji sesegera mungkin mengeluarkan kekuatan dari keris pusaka xingsi tersebut untuk dapat melacak keberadaan dari istri tercintanya, meskipun kemampuan tidak sama seperti sebelumnya karena adanya racun yang masih bersarang didalam tubuhnya akan tetapi Panji tidak menyerah untuk mengetahui keberadaan dari istrinya.
"Bawa aku untuk menemui istriku sekarang". Ucap Panji dengan memejamkan matanya.
Sebuah cahaya keluar dari dalam tubuh Panji, cahaya tersebut segera bergegas menjauh dari Panji untuk menunjukkan jalan menuju ketempat dimana Indah berada saat ini kepada Panji, Panji dengan sesegera mungkin mengejar cahaya tersebut.
Indah kini tengah berada dipelarian seorang diri, Indah berlari sambil memegangi perutnya yang terasa sakit dan juga kepalanya yang terasa nyeri dan pusing akibat benturan yang sangat keras tersebut.
"Nona kemana lagi kau akan berlari? Apakah kakimu tidak lelah jika terus berlari seperti itu?". Tanya orang orang itu dengan santainya kepada Indah.
Indah sudah tidak mampu lagi untuk berlari dengan kencangnya sehingga orang orang itu dapat mengejar Indah dengan santainya seakan akan perempuan itu tidak akan mampu untuk membuat mereka kelelahan dan itu bahkan belum disebut dengan pemanasan bagi mereka.
Tiba tiba Indah terjatuh dalam berlarinya karena kakinya terkena sebuah ranting pohon yang menjalar keluar dari tanah sehingga membuatnya terjatuh begitu saja, Indah merasakan perutnya yang terasa begitu sakitnya karena terjatuh dalam keadaan sedang hamil.
"Bertahanlah Nak, kau adalah anak yang kuat, Ayahmu pasti akan segera menolong kita Nak, hiks.. hiks.. hiks..". Ucap Indah sambil menahan rasa sakit yang ada didalam perutnya.
"Hahaha... Panggilah suamimu itu Nona, dia tidak akan menolongmu saat ini, karena dia adalah seorang pengecut". Lelaki itu tertawa ketika melihat Indah yang mulai kesakitan.
Orang itu mencoba untuk memegang tangan Indah yang bertaburkan dengan tanah, orang itu memegangi tangan Indah dengan kerasnya sementara Indah terus memberontak untuk dilepaskan oleh orang tersebut.
"Lepaskan aku! Atau suamiku akan memotong tanganmu yang lancang itu! Lepaskan aku! Kau tidak pantas untuk memegangnya!". Teriak Indah dan terus berusaha untuk melepaskan pegangan tangan itu dari tangannya yang terlihat pucat karena eratnya pegangan tangan tersebut.
"Suamimu? Dia tidak akan datang kemari Nona! Haha... Bagaimana bisa seorang pengecut datang kemari sekarang?". Tanya orang itu dengan senyuman kemenangan.
"Dia akan datang kemari! Dia tidak akan membiarkan diriku terluka! Dia akan memotong tanganmu itu hiks.. hiks.. Lepaskan aku!". Indah merasa yakin bahwa Panji akan segera menemukan dirinya.
"Panggil dia sekarang! Dia tidak akan bisa menolongmu saat ini!".
Sringgg....
Tiba tiba terdengar suara pedang entah darimana asalnya, seketika itu juga tangan yang memegangi Indah dengan eratnya tiba tiba terputus karena ayunan pedang tersebut.
"Sesuai keinginanmu Tuan putriku". Ucap orang yang telah mengayun sebuah pedang ke lengan orang yang tadinya memegangi pergelangan tangan Indah dengan begitu eratnya.
"Arghhh....". Teriak orang itu saat mengetahui bahwa tangannya sudah terputus karena perbuatan seseorang kepadanya saat itu.
Indah segera berlari kearah orang yang sudah memotong tangan orang yang dengan paksanya memegangi tangan Indah dengan eratnya itu.
Indah bersembunyi dibalik punggung orang yang tidak lain adalah Panji suaminya, Indah terlihat begitu ketakutan saat ini, akan tetapi setelah kedatangan Panji ketempat itu membuat Indah merasa lega.
Setiap orang yang ada disitu kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Panji saat ini, Panji terlihat begitu marah kepada mereka semua sedangkan mereka tidak mengetahui pastinya mengapa orang yang baru saja datang itu marah kepada mereka.
"Wahai pendekar pengelana, kenapa kau selalu menghalangi tujuan kami? Sedangkan kami tidak pernah mengusik atau menganggu hidupmu sebelumnya". Ucap seseorang disamping orang yang terputus tangannya kepada Panji yang tengah berdiri membelakangi wanita itu.
Mereka mengenali sosok Panji adalah seorang pendekar pengelana tanpa mengetahui jati dirinya sesungguhnya sehingga mereka begitu terkejut atas kedatangan dari Panji ketempat itu saat ini.
Mereka tidak menyangka bahwa pendekar pengelana yang selama ini mereka kenal tengah berada dihadapan mereka setelah sekian lama tidak mendengar kabarnya karena beberapa bulan terakhir telah dikabarkan bahwa pendekar pengelana tidak lagi muncul didunia ini akan tetapi kabar itu nyatanya salah justru saat ini mereka berhadapan dengan pendekar pengelana tanpa ampun itu.
Jika Panji menyebutkan namanya saat ini, mereka tidak akan ada yang mempercayai bahwa pendekar pengelana itu adalah Panji itu sendiri orang yang mereka cari selama ini untuk dibunuh.
"Kau telah mencelakai wanita ini, itu artinya kau siap mati ditanganku sekarang juga". Ucap Panji kepada mereka semua yang berada ditempat itu.
__ADS_1
Panji mengatakan hal itu dengan seriusnya, dirinya tidak akan pernah membiarkan orang yang telah mencelakai Indah akan selamat dari kemarahannya itu, dan Panji akan melakukan segala cara agar orang yang membuat masalah dengannya tidak akan pernah selamat.
"Apa hubungannya kau dengan wanita itu? Wanita itu bahkan sudah mempunyai suami, kau tidak akan bisa mendapatkan wanita itu dengan mudahnya bukan? Bagaimana kalau kita menikmati wanita itu terlebih dahulu? Kau pasti akan merasa puas nantinya". Bujuk salah satu dari mereka.
Jleb
"Akh...".
Setelah orang itu menyelesaikan kata katanya, sebuah pisau kecil melesat begitu cepat dan langsung menembus jantungnya sehingga orang itu langsung meninggal dengan cepatnya.
Tanpa banyak bicara Panji segera melemparkan sebuah pisau kecil hanya dengan beberapa gerak tangan saja tanpa diketahui banyak orang kepada orang itu karena perkataannya yang ingin melecehkan istri tercintanya.
"Sebelum kau melakukan itu, maka langkahi dulu mayatku". Ucap Panji dengan dinginnya.
Indah sangat terkejut dengan kematian dari orang yang ada dihadapan keduanya saat itu, dirinya juga bahkan tidak melihat bagaimana cara suaminya itu menggerakkan tangannya untuk melemparkan pisau kecil itu kepada salah satu dari mereka.
"Apa yang kau lakukan kepada teman kami? Kenapa kau begitu keji kepada kami?".
"Bukankah itu menyenangkan? Tadinya bukanlah kalian sangat menyukai hal seperti ini? Sehingga kalian membuat wanita ini terlihat begitu ketakutan dan sampai meneteskan darahnya".
"Kenapa kau membunuh teman kami!!". Ucap salah satu dari mereka yang tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Panji kepada teman mereka.
"Bukanlah aku adalah orang yang kalian cari selama ini? Yang ingin kalian bunuh sebelumnya? Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang suami dan imam untuk istriku, jika kalian ingin mencelakakannya maka kalian tengah berurusan dengan diriku". Tanya Panji dengan tatapan yang begitu dingin.
Ucapan Panji itu seketika membuat mereka semua mundur beberapa langkah kebelakang, mereka tidak menyangka bahwa Panji yang mereka cari selama ini adalah sosok seorang pendekar pengelana yang begitu kejam dan gila akan pembantaian itu.
"Jadi kau adalah Panji?".
Sringg....
Setelah Panji mengakui namanya, Panji menyayat leher orang yang paling dekat dengan dirinya, dengan rasa kemarahan yang sudah memuncak hingga membuat orang paling dekat dengan dirinya mati begitu saja tanpa melakukan perlawanan.
"Siapa yang membuat masalah denganku, jangan harap dapat kembali hidup hidup". Ucap Panji dengan lantangnya kepada orang orang itu.
Indah merasa begitu ketakutan melihat sosok Panji yang berbeda daripada sebelumnya, selama ini Indah tidak pernah melihat Panji yang begitu marah seperti ini, dalam diamnya dia sudah mampu membunuh dua orang dengan sekejap saja.
Orang orang itu terlihat ketakutan kepada ancaman Panji, mereka telah salah menerima sebuah tugas untuk membunuh seseorang dan ternyata orang itu adalah Panji itu sendiri.
"Siapa yang telah melukaimu dirimu Indah? Katakan kepadaku sekarang juga, hukuman apa yang pantas untuk mereka dapatkan saat ini?". Ucap Panji yang sedang terlihat begitu marahnya dengan tatapan yang mengintimidasi kepada orang orang yang tadinya mengejar Indah dan membuat Indah terluka.
Panji mengenggam erat pedang yang bersimbah darah tersebut yang ada ditangannya, sudah lama dirinya tidak pernah membantai orang sehingga kali ini dirinya tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh mereka karena mereka telah mencelakai orang yang paling ia sayangi saat ini.
Melihat Panji yang mengenggam erat pedang tersebut membuat mereka yang melihat segera mundur beberapa langkah dan mengeluarkan senjata mereka dengan ketakutan ketika melihat kemarahan yang ada diwajah Panji, Panji melepaskan energi keris pusaka xingsi tersebut sehingga aura yang terpancarkan dari wajahnya terlihat begitu menakutkan.
Melihat darah yang menetes dari lengan seseorang yang telah Panji potong sebelumnya membuat hasrat ingin membunuh didalam tubuh Panji mulai bangkit, Panji begitu sangat menginginkan nyawa dari mereka semua tanpa rasa ampun sedikipun.
"Mereka semua telah menyakitiku Mas hiks.. hiks.. hiks.., mereka semua menginginkan anak kita keguguran, jangan pernah mengampuni mereka mas hiks.. hiks.. hiks... Berikan hukuman yang pantas untuk mereka Mas". Tangis Indah pecah seketika dibalik punggung suaminya yang sedang ia pegang erat itu.
"Ucapan istriku adalah perintah bagiku". Panji segera mengangkat pedang yang ada ditangannya dan diarahkan kepada musuh musuhnya.
Para musuhnya segera memasang siaga dihadapan Panji, mereka tidak mengetahui sosok seperti apa Panji itu, mereka hanya mendapatkan perintah dari seseorang untuk membunuhnya akan tetapi setelah menyadari bahwa orang yang dimaksud adalah orang yang pernah membunuh banyak orang yang sangat kuat selama mengembara membuat nyali mereka menciut dihadapan Panji.
__ADS_1
Indah mengenggam erat baju Panji dengan ketakutan karena melihat sosok yang berbeda dari Panji, apalagi sekarang dirinya berada ditengah tengah pertarungan yang berdarah darah, sosok Panji sebelumnya adalah sosok seorang pembunuh yang berhati dingin seperti saat ini.
"Jangan pernah lepaskan peganganmu Indah". Ucap Panji kepada Indah yang tengah berada dibelakangnya saat ini.
"Serang dia!!". Perintah pemimpin dari mereka untuk segera menyerang kearah Panji.
Panji segera mengangkat senjatanya, ketika orang orang itu memulai menyerang kearah Panji, Panji dengan sesegera mungkin menyerang orang yang paling dekat dengan dirinya agar orang itu tidak mampu untuk melukai Indah.
Pertarungan itu terjadi begitu sengitnya, seorang pembunuh berantai bertarung melawan pembunuh bayaran, pembunuh bayaran itu bergitu kewalahan untuk melawan Panji karena perbedaan kekuatan dan juga ketegaannya.
Sringg... Trang.. tring...
Suara senjata yang mulai berbenturan mulai terdengar dari ditempat itu, karena tempat itu adalah sebuah hutan sehingga tidak ada yang mendengar perkelahian itu terjadi, tak beberapa lama kemudian akhirnya Panji mampu menghabisi setengah dari mereka dalam waktu yang sangat singkat.
"Kalian telah salah mencari masalah denganku, kalian hanya akan mengantarkan nyawa kalian sendiri". Ucap Panji dengan dinginnya.
Tempat itu kini menjadi lautan darah karena pertarungan itu, pedang yang ada ditangan Panji dan juga tangannya kini bersimbah darah, darah yang jelas bukan miliknya melainkan darah musuh musuhnya yang telah mati ditangannya.
Dari sekian banyak orang yang telah mengepung rumah Panji, kini hanya tersisa lima orang dari mereka dan yang lainnya sudah habis ditangan Panji sendiri, sesuai perintah dari Indah, untuk tidak mengampuni mereka yang telah membuat dirinya kesakitan.
Orang orang yang tersisa itu kini sudah mengalami luka sayatan yang cukup banyak disekujur tubuhnya karena luka sayatan pedang yang ada ditangan Panji, pedang yang tadinya bersih kini berubah menjadi merah karena darah dan sebagian sudah mengering dan berubah menjadi hitam.
Sementara Panji mengalami luka sayatan yang cukup dalam ditangan kirinya karena melindungi Indah dari incaran orang orang itu, mereka mengincar Indah karena Indah adalah kelemahan satu satunya dari Panji sehingga mereka fokus untuk mencelakainya.
Meskipun Panji terluka karena sebuah sayatan yang dalam, hal itu sama sekali tidak membuatnya menyerah atau bahkan membuatnya gentar untuk tetap berdiri melindungi istri tercintanya.
"Jangan berbangga diri kau! Kau telah membunuh teman teman kami! Kami tidak akan tinggal diam". Ucap salah satu dari kelima orang itu kepada Panji.
"Kami akan membalaskan dendam kami kepadamu saat ini juga Panji!". Ucap yang lainnya.
"Kami akan membunuh kalian!".
Kelima orang itu mengucapkan kata kata yang mampu membuat Indah semakin ketakutan, Panji dapat merasakan istrinya yang sedang ketakutan karena Indah memegangi baju Panji dengan begitu eratnya dan seakan akan takut untuk melepaskannya.
"Jangan takut sayang, aku akan menjagamu dengan sepenuh hidupku". Ucap Panji menenangkan Indah.
"Aku takut kau kenapa kenapa". Ucap Indah dengan lirihnya kepada Panji.
"Tenanglah, aku tidak akan kenapa kenapa selama kau ada bersamaku".
Begitu banyak kata kata menyakitkan yang diucapkan oleh kelima orang itu kepada Panji dan Indah, dan banyak kalimat kalimat yang buruk mereka ucapkan untuk anak yang belum lahir itu.
Hal itu membuat Indah memejamkan matanya dan berusaha untuk menutup telinganya agar kata kata tersebut tidak mampu didengar olehnya, Indah tidak ingin anak yang belum lahir tersebut sudah terkena kata kata buruk dari beberapa orang yang sama sekali tidak mereka kenal sebelumnya.
"Keluarkanlah kemampuan yang kalian bisa sekarang juga saat ini, sebelum kalian semua tidak akan mampu menunjukkannya lagi nantinya". Panji masih tetap bernada dingin kepada mereka.
"Kau begitu sombong Panji! Aku akan segera menghancurkan kesombonganmu itu". Ucap salah satu orang yang paling kuat diantara kelimanya.
"Memang bukankah itu tujuan kalian? Kenapa aku harus terkejut dengan perkataan itu?". Tanya Panji dengan senyum yang mencurigakan.
Mendengar ancaman ancaman itu membuat Panji hanya mampu tertawa, meskipun dalam tawanya Panji merasakan kesedihan yang mendalam karena bukan merekalah yang menjadi ancaman untuk Panji, Panji dapat mengetahui bahwa mereka adalah suruhan dari Danuarta untuk membunuh mereka.
__ADS_1
......Jangan lupa like dan dukungannya 🥰......