
Tak beberapa lama kemudian cairan kental berwarna merah keluar dari mulut Panji dan meneteskan diujung bibirnya, cairan itu sangat berbau dan keluar begitu banyak sehingga tabib itu merasa sangat kerepotan dan khawatir karena darah yang terus keluar dari mulut pasiennya itu.
Karena racun tersebut sudah tercampur dengan darahnya sehingga ketika racun itu dikeluarkan maka sebagian darahnya ikut keluar bersamaan dengan keluarnya racun yang ada didalam tubuhnya.
Seiring dengan keluarnya darah itu, suhu tubuh Panji mulai kembali normal dan rasa mengigilnya mulai perlahan lahan menghilang, hal itu membuat Panji kembali merasa tenang dan jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Tabib itu kembali memeriksa denyut jantung Panji dan merasakan bahwa denyut jantungnya mulai kembali seperti semula, suatu keajaiban bagi dirinya karena dapat melewati masa kritisnya.
"Bagaimana keadaan Panji? Kenapa dirinya mengeluarkan darah begitu banyak seperti itu?". Tanya Ayah Indah kepada tabib.
Pertanyaan itu seketika membuat Indah menoleh kearah Panji, ia tidak mengetahui bahwa Panji tengah mengeluarkan darah begitu banyak dari mulutnya karena dirinya merasa sangat nyaman ketika berada didekapan hangat Ayahnya.
"Ini bukan hanya darah biasa Pak, tapi ini juga adalah racun yang telah tercampur dengan darahnya, setelah mengeluarkannya maka kondisinya akan membaik setelahnya, kita hanya perlu menunggu dirinya sadar dari pingsannya". Ucap tabib itu merasa lega.
"Apakah Panji akan baik baik saja?". Tanya Indah dengan kedua matanya tengah berbinar binar.
"Iya Nak, kita hanya perlu menunggu dirinya sadar terlebih dahulu, aku akan membuatkan resep obat untuknya ketika dirinya sudah siuman nanti". Ucap tabib itu kepada Indah.
Tabib itu segera bergegas pergi dari rumah Indah menuju kerumahnya untuk membuatkan obat obatan herbal untuk Panji, agar Panji dapat sembuh lebih cepat daripada dugaannya, hal yang dialami oleh Panji diluar batas kenormalan, karena obat obatan sama sekali tidak bekerja kepadanya.
Indah duduk disamping tubuh Panji yang terbaring tidak berdaya itu, dengan perlahan lahan Indah membersihkan wajah Panji yang termuntahkan darah itu, Panji yang tidak sadarkan diri terlihat seakan akan kedamaian tengah terpancarkan dari wajahnya.
"Ayah, sampai kapan Panji akan tertidur seperti ini". Ucap Indah dengan nada sedihnya.
"Tenanglah Nak, asalkan dirinya masih bisa bernafas dengan baik kau tidak perlu terlalu merasa cemas dengan dirinya, Panji adalah orang yang kuat, dia tidak akan mudah menyerah dalam hal seperti ini, sekarang biarkan dia istirahat".
"Aku tidak mau pergi dari sini sebelum Panji sadar Ayah, aku ingin menemaninya disini".
"Nak, kau sendiri masih terlihat begitu lemas, kau juga harus banyak banyak istirahat setelah digigit oleh ular itu".
"Aku tidak bisa istirahat dengan tenang Ayah, sebelumnya memastikan bahwa Panji sudah membaik dan sadarkan diri".
"Tidurlah Nak, nanti jika Panji sudah sadar aku akan membangunkan dirimu".
"Ngak mau Ayah, aku masih ingin bersama Panji disini, aku tidak mau pergi meninggalkannya lagi".
Keesokan paginya, Panji tak kunjung sadarkan diri jua, Indah beserta keluarganya merasa panik karena Panji tak kunjung sadar meskipun sudah banyak obat obatan yang diberikan oleh seorang tabib kepadanya akan tetapi obat obatan itu sama sekali tidak bekerja padanya lebih tepatnya tidak ada efek yang terjadi kepada tubuhnya itu.
Tak beberapa lama kemudian, Panji mulai menampakkan gerakan gerakan dalam tubuhnya dan mengernyitkan dahinya pertanda ia akan terbangun sebentar lagi.
Panji memegangi kepalanya dengan eratnya, seakan akan dirinya begitu sangat pusingnya, ketika ia membuka matanya ia menemukan dirinya yang tengah berbalut dengan selimut yang cukup tebal dan banyak sementara disisinya terdapat Indah yang tengah duduk bersandar disebuah kursi sambil memejamkan matanya.
"Sejak kapan aku tidak sadarkan diri? Dimana aku? Kenapa bisa ada Indah disini?". Guman Panji pelan dan masih nampak begitu lemah.
Panji memandangi sekelilingnya yang terasa cukup asing baginya, karena dirinya belum pernah sama sekali berada ditempat itu apalagi disebelahnya terdapat Indah yang sedang tertidur dengan pulas.
"Apakah aku berada dirumahnya?".
Tiba tiba terdengar suara langkah kaki mendekat kearah kamar tersebut, seseorang telah membuka pintu kamar tersebut dengan pelannya, orang itu begitu terkejut dan merasa senang ketika mengetahui bahwa Panji sudah sadarkan diri.
"Nak, kau sudah sadar?".
Tiba tiba terdengar suara seorang laki laki yang terdengar seperti serak basah, suara tersebut tengah membangunkan Indah dari tidur lelapnya, ketika Indah terbangun ia melihat Panji yang sudah siuman dan bergegas untuk membantunya duduk.
"Bagaimana keadaanmu Panji?". Tanya Indah dengan rasa khawatirnya kepada Panji.
"Aku tidak apa apa, jangan terlalu menghawatirkannya diriku, aku akan baik baik saja".
Panji merasakan sedikit nyeri didadanya akan tetapi dia tetap menahannya agar ekspresi wajahnya tidak menampakkan bahwa dirinya sedang kesakitan ketika dihadapan Indah beserta dengan keluarganya.
__ADS_1
"Nak, sebaiknya biarkan Panji istirahat terlebih dahulu, ambilkan dia makan dan minum". Ucap Ayahnya kepada Indah ketika tanpa sengaja sekilas melihat wajah Panji.
"Tapi Yah". Ucap Indah yang merasa ragu untuk meninggalkan Panji kali ini, ia hanya ingin bersama dengan Panji untuk saat ini.
"Dia akan baik baik saja, Ayah akan menjaganya".
"Baik Ayah".
Indah segera bergegas pergi dari tempat itu untuk melaksanakan perintah dari Ayahnya itu, tanpa berpikir panjang dirinya segera meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Ayahnya yang masih berada didalam kamar tersebut segera mendekat kearah Panji yang tengah bersandar diatas ranjang tersebut, Panji hanya bisa menunduk kepalanya dihadapan lelaki itu.
"Maafkan diriku yang telah merepotkan Paman". Ucap Panji dengan pasrahnya.
"Kenapa kau minta maaf Nak? Justru dirikulah yang harus berterima kasih kepadamu karena telah menolong anakku satu satunya dari gigitan ular".
"Sudah kewajibanku untuk menolongnya Paman, seperti janji yang pernah aku ucapkan kepadanya dulu ketika kita masih kecil".
"Istirahatlah Nak, apakah masih ada yang sakit didalam tubuhmu?".
"Aku tidak apa apa Paman".
Ucap Panji sambil berusaha untuk berdiri dari tempatnya terbaring sebelumnya, Ayah Indah begitu terkejut ketika melihat apa yang akan dilakukan oleh Panji tersebut yang memaksakan diri untuk bangkit.
"Kau mau kemana Nak?".
"Aku harus pergi secepatnya dari sini Paman, aku tidak ingin keluarga kalian akan bernasib sama seperti apa yang dialami oleh keluargaku nantinya, aku tidak tau kebencian seperti apa yang orang itu miliki, beberapa bulan yang lalu, orang itu tengah bersekutu dengan para iblis untuk dapat mengalahkan diriku".
"Tapi dirimu masih terluka Nak, sebaiknya kau obati lukamu terlebih dulu disini, sampai kau benar benar sembuh Nak, Paman tidak mencegahmu untuk pergi dari sini, tapi Paman berharap kau bisa sembuh sebelumnya meninggalkan tempat ini".
"Aku tidak apa apa Paman, racun ini tidak akan bisa membunuhku, aku masih bisa bertahan untuk beberapa bulan kedepannya, jadi Paman tidak perlu begitu mencemaskan diriku untuk saat ini".
"Ini bukanlah racun ular biasa Paman ......"
Panji menjelaskan kepada Ayah Indah bahwa racun ular yang ada ditubuhnya bukanlah racun ular biasa, melainkan racun dari siluman ular yang cukup berbahaya bagi seorang ahli ilmu gaib dan sebagainya apalagi terhadap manusia biasa, meskipun Panji memiliki khodam pelindung sekalipun tidak akan mampu untuk mencegah racun yang tengah mengalir itu keseluruhan tubuhnya.
Khodam Panji hanya mampu menahan penyebarannya untuk beberapa bulan, selebihnya ia hanya bisa menyerahkan apapun yang akan terjadi kepadanya, kepada sang pencipta alam semesta.
Bagi Panji, hidup dan matinya bukanlah masalah bagi dirinya, jika nyawanya diambil untuk saat ini, dirinya tidak akan pernah menyesalinya, kapanpun nyawanya akan diambil oleh sang pencipta dirinya sudahlah siap untuk menghadapi hal itu.
Ular itu adalah hasil dari permohonan seseorang kepada bangsa jin untuk mencelakakan seseorang yang ingin dia singkirkan, orang itu sangat mengetahui bahwa Panji sedang dekat dengan seorang wanita, wanita itu tidak lain adalah Indah.
Ia sengaja mengirimkan ular itu untuk mendatangi Indah, ia sangat mengenal bahwa Panji akan datang untuk menyelamatkan sosok wanita yang sangat berarti baginya itu.
"Aku harus pergi Paman, sebelum kehadiran diriku disisi Indah semakin dalam, dan akan melukai hatinya ketika aku telah tiada nanti". Ucap Panji sambil menahan rasa sakit didadanya.
Panji sangat tidak tega untuk membuat Indah bersedih karenanya, ia tidak ingin melihat Indah bersedih ketika kepergiannya untuk selama lamanya karena racun yang ada didalam tubuhnya itu.
"Apakah tidak ada cara lain untuk menawarkan racun itu Nak? Jika ada, katakanlah kepada Paman, Paman akan berusaha untuk mendapatkan penawar dari racun itu".
"Terima kasih atas niat baik Paman, aku tidak ingin merepotkan Paman hanya karena masalah yang aku hadapi saat ini".
"Kau sama sekali tidak merepotkan Paman, Paman yang menawarkan bantuan, itu artinya Paman siap untuk direpotkan olehmu".
"Aku harus pergi Paman".
Panji berdiri dari duduknya dihadapan Ayah Indah sambil memegangi dadanya yang terasa sedikit nyeri itu, Panji tidak ingin berlama lama ditempat itu karena dirinya tidak ingin merepotkan keluarga Indah.
"Kau mau kemana?".
__ADS_1
Ketika Panji hendak melewati pintu, dirinya berpapasan dengan Indah yang tengah membawa nampan yang berisikan makanan beserta minuman yang telah ia siapkan untuk Panji.
Melihat Panji yang tengah keluar dari kamar tersebut membuat Indah bertanya kepadanya dengan nada yang begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Panji saat ini.
"Panji kau mau kemana?". Tanya Indah lagi ketika tidak mendapatkan jawaban dari Panji.
"Aku masih ada urusan diluar sana".
"Urusan apa? Apakah urusan itu jauh lebih penting daripada nyawamu sendiri?".
"Karena ini adalah kewajibanku, kewajibanku lebih penting daripada nyawaku sendiri, untuk apa jika aku masih memiliki nyawa akan tetapi aku mengabaikan kewajiban yang seharusnya aku emban itu".
"Panji kamu tidak boleh pergi dari sini, dirimu bahkan baru saja sadarkan diri, kenapa kamu harus buru buru pergi dari sini seperti ini?".
"Maafkan aku dan terima kasih atas pertolonganmu".
Tanpa menoleh kearah Indah, Panji segera melewati tubuh Indah begitu saja, Indah menatap kepergian Panji dengan diam seribu bahasa, dirinya begitu sedih ketika Panji sama sekali tidak mempedulikan larangannya itu.
"Panji tunggu!". Teriak Indah memanggil Panji.
Panji sama sekali tidak merespon panggilan tersebut, Panji terus berlalu meninggalkan rumah tersebut, Ayah Indah hanya bisa pasrah dengan keputusan yang telah diambil oleh Panji.
Panji tidak tau sampai kapan dirinya akan mampu bertahan dari racun yang ada didalam tubuhnya itu, ia tidak ingin membuat Indah menangis ketika Indah mengetahui tentang apa yang terjadi kepadanya saat ini, ia juga tidak ingin Indah menangis karena kepergiannya untuk selama lamanya itu.
"Panji! Aku mencintaimu".
Teriakan Indah kali ini tiba tiba menghentikan langkah kaki Panji, terlihat sebuah tetesan air mata berada dipelupuk mata Panji, dirinya begitu berat untuk meninggalkan Indah, akan tetapi dirinya harus melakukan itu agar Indah tidak mengetahui tentang apa yang terjadi kepadanya saat ini.
"Aku harap Nona melupakan perasaan itu, kita berdua memang tidak akan pernah ditakdirkan untuk bersama, sebaiknya Nona lupakanlah diriku". Ucap Panji tanpa menoleh kearah Indah.
"Apa kau tidak mencintaiku lagi? Apakah ada seseorang yang telah mengisi hatimu saat kau pergi sebelumnya? Kenapa kau begitu jahat kepadaku".
"Maafkan aku, kau harus belajar untuk melupakan diriku secepatnya, aku sendiri tidak tau kapan ajalku akan tiba nantinya, keris ini hanya mampu menetralkan racun beberapa bulan saja, akan tetapi tidak mampu untuk menghilangkannya". Batin Panji.
Langkah Panji begitu berat untuk meninggalkan Indah, akan tetapi dirinya harus melakukan ini agar tidak membuat Indah bersedih terlalu dalam saat mengetahui bahwa dirinya sudah tiada nantinya.
"Kau benar, memang telah ada sosok wanita yang hadir dalam hidupku, dan aku begitu sangat mencintainya, aku tidak ingin dirinya terluka karena diriku, kau sudah mengetahuinya sendiri bahwa aku bukanlah orang yang baik seperti apa yang kau kenal selama ini, apa kau telah menyesal kenal dengan diriku?". Ucap Panji yang seakan akan dibuat lebih tegas daripada sebelumnya.
"Apa yang kau katakan itu Panji?".
"Apa yang kau dengar itu benar adanya Nak". Sela Ayah dari Indah.
Ada sedikit luka didalam hatinya ketika ia mengiyakan apa yang dikatakan oleh seorang pemuda kepada anak gadisnya sehingga anak gadisnya begitu terluka karena ucapan tersebut.
Ia tidak ada pilihan lain selain mengiyakannya, karena biar bagaimanapun dirinya juga tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan nyawa Panji.
Tiba tiba datanglah Ayah Indah mendatangi keduanya, ia sangat paham dengan posisi yang sedang dialami oleh Panji sehingga dirinya mengiyakan apa yang sudah dikatakan oleh Panji sebelumnya.
Panji tersenyum tipis kearah Ayah Indah ketika mendengar jawaban tersebut, tidak ada hal yang lain yang bisa ia lakukan sekarang selain pasrah dengan takdir yang ia miliki saat ini.
Hal itu berlawanan dengan Indah, ucapan Ayahnya seketika menciptakan sebuah gelombang yang cukup besar didalam hatinya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ayahnya akan mengatakan hal yang sangat menyakitkan bagi dirinya.
"Bagaimana bisa itu terjadi?". Ucap Indah yang sama sekali tidak mempercayai apa yang ia dengar saat ini.
"Panji telah menceritakan semuanya kepada Ayah Nak, bahwa dirinya telah menemukan pasangan hidupnya, dan kita tidak bisa menghentikan kepergiannya".
"Itu tidak mungkin Ayah, bagaimana bisa hal itu terjadi".
"Kita tidak akan tau takdir akan seperti apa pada akhirnya, kita hanya bisa menjalaninya dengan ikhlas". Ucap Panji kepada Indah.
__ADS_1
......Jangan lupa like dan dukungannya......