
Nadhira dan juga yang lainnya segera melanjutkan makan mereka, didalam rumah itu terasa begitu hangat dan nyaman untuk Nadhira meskipun diluar sana hujan sedang turun dengan rintik rintik sehingga menambah kenyamanan setiap orang yang ada didalam rumah mereka masing masing.
Setelah selesai makan dan minum, mereka kembali melanjutkan obrolan mereka sebelum tidur, setelah selesai makan dilarang untuk tidur terlebih dahulu karena akan mempengaruhi kesehatan tubuh manusia jika melakukan hal itu.
Nadhira melihat kearah jam dinding yang tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini, jam dinding itu masih menunjukkan pukul 9 malam, jika itu dirumahnya maka saat ini masih terlihat begitu ramai sementara didesa ini jam 9 malam sudah tidak ada orang yang terjaga dalam tidurnya.
"Ini foto Ratih Bu?" Tanya Nadhira ketika dirinya tidak sengaja melihat sebuah foto yang tertempel ditembok tempat dia duduk saat ini.
"Iya dia adalah Ratih, itu waktu dia masih berusia 4 tahun, seandainya sekarang dia masih hidup mungkin dia sudah tumbuh dewasa, mungkin saat ini dia sudah berusia 9 tahun".
"Cantik ya Bu anaknya, Bu Ning yang tenang ya, aku akan membantu Bu Ning menemukan putrimu itu dan akan membawanya kembali kemari".
"Aku sangat berterima kasih denganmu karena kau sudah memiliki niat seperti itu, tapi aku berharap kau dan teman temanmu itu mewurungkan niatmu itu".
Nampak sekali tekat Nadhira terlihat begitu kokoh dan tak seorangpun yang dapat untuk merobohkan tekat tersebut, apapun yang dikatakan oleh Ningsih memang begitu sangat menakutkan akan tetapi hal itu tidak membuat Nadhira menyerah begitu saja dan membatalkan niatnya untuk dapat mengetahui tentang kejadian yang dialami oleh Mamanya.
"Istirahatlah, besok pagi kau akan melanjutkan perjalanan bukan? Apa ngak sebaiknya kamu batalkan saja rencana untuk datang kemakam itu?" Tanya Ningsih yang terus mencoba untuk merubah tekat dari Nadhira.
"Aku harus melihatnya Bu Ning, anda tenang saja aku pasti akan baik baik saja kok, lagian misteri itu sama sekali tidak masuk akal untuk dijelaskan dengan logika, bagaimana seseorang bisa bisa menghilang dengan tiba tiba seperti itu".
"Memang hal itu tidak bisa dijelaskan dengan akal pikiran manusia Mbak, karena ini berhubungan dengan mahluk gaib".
"Saya sudah terbiasa dengan hal itu Bu, anda tenang saja, meskipun saya tidak bisa kembali nantinya, saya tidak merasa rugi karena saya telah berusaha sebisa mungkin untuk mengungkap misteri didesa ini".
"Jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku hanya bisa berdoa semoga kau dan temanmu itu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa".
"Itu sudah lebih dari cukup bagiku Bu, doa anda sangat kami butuhkan nantinya, karena dengan berbekalan doa, insya Allah kami akan mampu untuk melewati segala rintangan yang ada didepan, karena hanya Allah yang mampu untuk menolong kami disaat kami sedang kesulitan"
"Semoga kau dan temanmu itu selalu dalam lindungan-Nya dan keluar dari makam itu dengan keadaan sehat wal afiat tanpa kekurangan sedikitpun itu, jangan lupa terus mengucapkan doa doa agar kau dilindungi oleh sang pencipta alam semesta".
"Aamiin, doakan ya Bu, semoga desa ini juga segera terbebas dari pengaruh makam itu".
"Aamiin".
Nadhira dan Ningsih segera masuk kedalam kamar, Nadhira tidur disebelah Ningsih karena memang kamar yang ada dirumah tersebut sudah penuh oleh keluarga Ningsih sehingga ia mengajak Nadhira untuk tidur bersampingan dengannya.
Sementara disatu sisi, Pak Mun dan Theo sedang duduk berdua disebuah kursi yang ada diwarung tersebut, keduanya nampak begitu bosan ketika harus tetap berada ditempat yang sama semalaman itu dan keduanya sangat menghawatirkan tentang Nadhira yang sekarang bersama dengan Ningsih.
"Apa Pak Mun ngak lapar?" Tanya Theo yang merasa perutnya berbunyi meminta untuk diisi.
Theo merasa malu untuk mengakuinya bahwa perutnya kini tengah terasa lapar karena baru tadi sore sudah diisi dan sekarang meminta untuk diisi lagi, akan tetapi seketika pertanyaan itu membuat Pak Mun tertawa.
"Hehe... Kau sudah lapar lagi rupanya, belum juga ada setengah hari sudah lapar saja".
"Entahlah Pak, mungkin hawanya yang dingin seperti ini membuatku cepat lapar".
"Ya sudah tuh ada mie instan, rebus saja buat makan, besok aja bayarnya kalau orangnya udah kesini"
"Apa Pak Mun ngak lapar juga?".
"Sedikit sih, tapi ngak terlalu lapar juga".
"Kalau begitu Pak Mun yang masak saja, nanti kita makan bersama sama".
"Kau ini memerintah atau bagaimana? Seharusnya yang muda yang menjalankan perintah, jadi kau yang masak, karena kau lebih muda dariku".
__ADS_1
"Pak, Pak Mun tau sendirikan kalau aku tidak bisa masak, aku hanya bisa bermain dengan senjata saja bukan peralatan dapur seperti itu".
"Ya sudah biar aku yang masak, kau diam saja disini".
"Syiap Pak" Ucap Theo dengan senyum kemenangan.
Pak Mun segera bangkit dari duduknya dan mulai memasukkan air kedalam sebuah panci yang sudah tertata rapi ditempat itu, ia juga tidak lupa untuk menyalakan api kompor gas tersebut, Theo memperhatikan setiap pergerakan yang dilakukan oleh Pak Mun dengan teliti dan ia ingin belajar bagaimana caranya menggunakan kompor gas.
Theo tidak pernah memasak sebelumnya apalagi hanya sekedar masuk kedalam dapur, Theo bahkan tidak pernah menyentuh peralatan dapur sehingga dirinya tidak mengetahui setiap fungsi dari peralatan dapur yang ada dimarkasnya ataupun dirumahnya.
Tak beberapa lama kemudian mie instan itu telah siap untuk dihidangkan, Pak Mun segera menyodorkan semangkuk mie kuah kepada Theo, Theo menerima itu dengan semangatnya karena dirinya yang merasa sangat kelaparan saat ini.
Udara malam ini terasa begitu dingin sehingga mengugah selera makannya, tidak biasanya dirinya akan merasa seperti yang ia rasakan didesa tersebut, sehingga Theo merasa bahwa kali ini berbeda daripada sebelum sebelumnya.
"Pak Mun hebat ya bisa masak" Puji Theo.
"Halah ini mah cuma buat mie instan saja, siapa juga sih yang ngak bisa kecuali dirimu".
"Pak Mun tau saja kalau aku memang tidak bisa masak, meskipun hanya masak mie instan saja"
"Belajarlah, kau nantinya juga akan berkeluarga, bagaimana kalau istrimu sakit dan perutmu merasa lapar, tapi tidak ada yang jualan disekitar rumahmu, maka kau harus bisa masak".
"Iya iya Pak, nanti deh aku belajar masaknya, lagian aku juga tidak kekurangan uang".
"Memang kau tau sampai kapan uangmu itu bisa dipertahankan? Tidak selamanya apa yang kita punya akan tetap menjadi milik kita sepenuhnya, aku dulu juga sepertimu hidup dengan berlimpah harta tapi sejak ayahku bangkrut semuanya berubah, hidup itu seperti roda yang selalu berputar, dan tidak akan selamanya orang itu tetap akan diatas dengan serba kemewahan, kadang kala mereka akan dijatuhkan agar mereka tau bahwa harta tidak akan selamanya ada bersama dengan kita, jika kau hanya mengejar kemewahan dunia saja kau akan lupa dengan indahnya syurga".
"Iya Pak Mun saya mengerti, terima kasih atas nasehat yang telah Bapak berikan kepadaku"
"Coba aku tanya kepadamu, dan jawablah dengan jujur, jika kau diberi dua pilihan pekerjaan dengan yang satu gaji yang sangat besar akan tetapi dirimu tersiksa dan tidak bisa menikmati masa masa bersama keluarga ataukah gaji yang pas untuk kebutuhan hidupmu tapi kau begitu sangat menikmati pekerjaan itu dan bisa berbahagia bersama keluarga, kau pilih yang mana?".
"Nah kau tau sendiri kan, tidak semua orang yang berhutang kepada kita akan membayarnya, mereka pasti akan mengatakan begitu banyak alasan karena tidak bisa membayarnya akan tetapi disatu sisi mereka menghambur hamburkan uangnya untuk membeli hal hal yang tidak penting dan lupa akan hutangnya, kau tau lebih susah menagih hutang daripada mencari uang".
"Iya Pak saya paham, saya akan lebih berhati hati kedepannya, sepertinya menjadi orang yang baik itu mudah sekali untuk dimanfaatkan, mungkin kita perlu sedikit jahat dan pura pura tidak peduli".
"Menjadi orang baik itu tidak salah, biarkan saja orang lain menilai apapun tentang dirimu, kau tidak perlu bersedih karena mereka memberi nilai jelek tentang dirimu, karena penilaian mereka itu tidak penting untuk akhiratmu, yang terpenting adalah jati dirimu sendiri dan seberapa dekatnya dirimu kepada Tuhan-Mu yang telah menciptakan dirimu".
"Aku terlalu buruk dihadapan Allah dan juga dihadapan semua orang yang telah mengenalku selama ini, aku bukan orang baik dan jauh dari kata baik, aku adalah seorang pemabuk dan pendosa yang begitu hina"
"Tidak peduli apapun yang orang lain katakan tentang dirimu, percayalah itu sama sekali tidak penting untuk dirimu, bangkitlah dan buktikan kepada mereka bahwa kau lebih baik daripada mereka, bukan hanya didunia tapi juga diakhirat, jika orang lain mengatakan hal yang buruk tentang dirimu katakan kepada dirimu sendiri bahwa kau mampu membuktikan bahwa kau lebih baik daripada mereka, mereka hanya mampu melihat satu sisi darimu saja tapi mereka belum tentu bisa sebaik dirimu disisi yang lainnya"
"Hanya Pak Mun yang bisa mengatakan bahwa diriku ini adalah orang baik meskipun Pak Mun tidak mengetahui sepenuhnya tentang diriku ini, bahkan Nadhira sendiri belum pernah mengatakan hal seperti itu, aku merasa terharu dengan apa yang Pak Mun katakan".
"Kau adalah orang baik Theo meskipun kau telah salah untuk memilih jalanmu, tapi kasih sayang Allah begitu besar, bahkan disaat kau sakit sekalipun dosa dosamu diangkat oleh-Nya, kau memang bukan orang baik tapi Allah maha pengampun mintalah kepada-Nya dengan sepenuh hati, tangan yang menadah dihadapan Allah tidak akan kembali dengan keadaan kosong".
"Dosaku terlalu banyak Pak, apa mungkin Allah akan memberiku maaf?"
Theo mengingat kembali tentang kesalahan kesalahan yang pernah ia lakukan selama ini, terlalu banyak kesalahan yang pernah ia lakukan mulai dari mabuk mabukan, menindas yang terlemah, dan bahkan berbuat onar dijalanan.
Theo merasa begitu malu untuk mengakui masalalunya yang begitu buruk itu, akankah dirinya mampu untuk mengubahnya agar menjadi lebih baik, tapi hati dan pikirannya tidak mampu untuk bekerja sama, hatinya menyuruhnya untuk berbuat baik akan tetapi pikirannya menyuruhnya untuk melakukan apapun yang membuatnya bahagia.
Theo hanya mampu berdiam diri dan sesekali mengangguk mendengar ucapan dari Pak Mun sebelumnya, Pak Mun mengatakan bahwa dulunya dirinya hidup dengan baik karena keluarganya tergolong dengan keluarga yang mampu dan hampir mendekati kaya raya akan tetapi karena kekalahan sebuah tender sehingga membuat keluarga jatuh miskin dan dirinya harus bekerja sebagai sopir pribadi dirumah Nadhira.
Semasa dirinya remaja dirinya sama sekali tidak pernah belajar dengan benar dan selalu menghambur hamburkan uang milik Ayahnya, sehingga pada waktu dirinya kuliah, ia sama sekali tidak pernah masuk kuliah dan lebih parahnya dirinya berbohong kepada orang tuanya.
Dia tidak kuliah melainkan memakai uang kuliahnya itu untuk berfoya foya dengan teman temannya, setelah keluarganya jatuh miskin akhirnya dirinya sadar bahwa harta tidak selamanya menjadi milik keluarganya dan juga dirinya.
__ADS_1
Sejak saat itu Ayahnya sering sakit sakitan dan hal itu membuat Pak Mun harus mencari pekerjaan demi menghidupi Ayah dan Ibunya, akan tetapi tidak ada perusahaan yang mau menerima dirinya itu karena nilai rapornya selalu buruk bukan hanya nilai ujian akan tetapi juga nilai sikapnya.
"Allah itu maha pengampun, meskipun dosamu sebanyak air yang ada dibumi maupun sebanyak udara yang mengelilingi bumi, Allah pasti akan mengampuninya ketika kau benar benar ingin bertaubat dan meminta ampunan dari-Nya".
"Iya Pak"
"Ya sudah buruan makan, sebelum mienya dingin keburu ngak enak, kalau masih hangat begini paling enak untuk dinikmati kalau sedang hujan seperti ini".
"Sepertinya aku harus belajar banyak deh dari Pak Mun, aku terlihat seperti bukan apa apa dihadapan Pak Mun yang hebat dalam agama".
"Sebenarnya kita sama, hanya saja aku yang belajar terlebih dulu daripada dirimu, usia kita juga tidak jauh berbeda hanya beda satu taun".
"Apa? Pak Mun pikir aku sudah setua Bapak? Haloo.. lebih tuaan Bapak kali" Ucap Theo yang sedikit tidak terima jika dikatakan tua.
"Bukan tua, kau bahkan jauh lebih tua dari pada diriku ini, aku kan masih umur 15 tahunan, kata Ibuku waktu dulu tapi".
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
Theo tersedak kuah mie instan itu karena perkataan Pak Mun yang mengatakan bahwa dirinya sendiri masih berumur 15 tahun yang bahkan lebih muda dariada dirinya yang saat ini menginjak usia 19 tahun sama seperti Nadhira.
"Nih minum dulu, baru juga dibilangin begitu sudah kesedak aja kau" Ucap Pak Mun sambil menyodorkan segelas air putih kepada Theo.
Theo segera menerima gelas tersebut dan segera meminumnya agar menghilang nyeri tersedak itu, tersedak air putih saja sudah terasa sakit apalagi kuah mie instan yang terasa pedas dan panas itu.
"Pak Mun ngaco deh, mana ada usia manusia tidak bertambah setiap tahunnya, kalaupun usianya masih sama seperti dahulu mungkin dirinya sudah dikubur didalam tanah".
"His... Iya in aja kenapa sih, biar aku makin senang".
"Iya ya deh, Pak Mun masih seperti umur 15 tahunan, lanjut makan deh Pak, kasihan mienya kalau didiamin seperti ini terus nanti dia malah merajuk".
"Didiemin aja udah dingin apalagi digituin".
"Digituin maksud Pak Mun apa sih? Saya kan masih polos Pak, jadi belum mengerti apa apa soal digituin yang Bapak maksud itu, aku malah ngak ngerti apa apa Pak".
"Kau ini anak kecil masih bau kencur, belum waktunya tau soal soal seperti itu".
"Sudah ku bilang kan kalau Bapak ini itu jauh jauh jauh jauh jauh jauh lebih tua daripada diriku, mungkin umurku itu tiga kali lipatnya umur Pak Mun deh, soalnya kan Pak Mun lebih berpengalaman daripada diriku ini".
"Jauh banget bedanya, kau yang salah hitung kali".
"Idih.. kenapa juga aku harus hitung umur Pak Mun sih, nilai matematikaku aja jelek masak iya harus belajar matematika disini dengan keadaan seperti ini, itu kan ngak lucu Pak".
Theo dan Pak Mun lalu melanjutkan makan mereka dalam diam, Theo lebih memilih untuk diam agar dirinya tidak tersedak lagi karena hal itu terasa begitu sakit baginya apalagi tersedak oleh kuah seperti yang ia alami baru saja itu.
Setelah selesai makan, mereka duduk duduk sebentar untuk menunggu mie tersebut berjalan kearah lambung mereka agar tidak menciptakan sebuah nyeri diuluh hati nantinya.
"Tolong! Tolong!"
Ketika keduanya sedang bersantai tiba tiba terdengar suara seseorang meminta tolong dari luar bangunan yang mereka tempati itu, mendengar hal itu keduanya segera bangkit dari duduknya dan hendak melangkah keluar dari bangunan itu.
"Sepertinya ada yang berteriak minta tolong deh Pak, sebaiknya kita tolong Pak, kasihan".
"Kau benar, kok suaranya kayak ngeri gitu ya, apa mungkin telah terjadi sesuatu dengan orang itu?"
"Iya Pak, ayo kita tolong!".
__ADS_1
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya terhadap karya ini 🥰 Terima kasih ...